
Warga meneriakkan slogan dalam sebuah aksi unjuk rasa di Teheran, Iran. Foto: (Al Jazeera)
JawaPos.com — Usulan perdamaian terbaru dari Iran kembali membuka ruang diplomasi yang masih penuh ketidakpastian dalam hubungan dengan Amerika Serikat (AS).
Teheran mengajukan proposal 14 poin sebagai respons atas kebuntuan negosiasi yang berlangsung sejak gencatan senjata 8 April, dengan fokus pada penyelesaian menyeluruh konflik dalam waktu 30 hari, termasuk jaminan keamanan, pencabutan sanksi, hingga pengaturan isu strategis Selat Hormuz dan program nuklir.
Dalam dinamika yang masih sangat fluktuatif, ketegangan di kawasan Teluk Arab tetap dipengaruhi oleh aktivitas militer dan kontrol jalur laut di Selat Hormuz.
Dilansir dari Al Jazeera, Senin (4/5/2026), proposal 14 poin Iran dikirim melalui perantara Pakistan sebagai respons atas rancangan perdamaian 9 poin yang sebelumnya diajukan Washington. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa ia masih menelaah usulan tersebut, namun meragukan peluang tercapainya kesepakatan final.
Trump menegaskan bahwa setiap kesepakatan damai harus menjawab dua isu utama, yakni pembatasan program nuklir Iran dan penghentian blokade yang berkaitan dengan Selat Hormuz. Kedua isu tersebut disebut sebagai “garis merah” yang tidak dapat dinegosiasikan secara longgar oleh Amerika Serikat.
Sementara itu, dalam laporan Al Jazeera, proposal Iran yang disebut sebagai paket 14 poin memuat rangkaian tuntutan utama yang berfokus pada penghentian total konflik dalam jangka waktu 30 hari, bukan sekadar perpanjangan gencatan senjata. Teheran meminta jaminan keamanan dari serangan lanjutan, penarikan pasukan Amerika Serikat dari wilayah sekitar Iran, serta pencabutan seluruh sanksi ekonomi. Selain itu, Iran juga menuntut pengembalian aset negara yang dibekukan bernilai miliaran dolar AS, kompensasi atas kerugian perang, serta pengaturan mekanisme baru terkait navigasi di Selat Hormuz.
Di sisi lain, Iran tetap menegaskan haknya sebagai penandatangan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) untuk melakukan pengayaan uranium. Namun, posisi ini berseberangan dengan sikap Washington yang menolak keras segala bentuk pengembangan kapasitas nuklir Iran. Ketegangan juga diperparah oleh tuntutan Iran agar ada jaminan tertulis terhadap tidak adanya serangan dari Amerika Serikat maupun Israel di masa depan.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menegaskan bahwa tanggung jawab kini berada di tangan Washington. Ia menyatakan, “Sekarang giliran Amerika Serikat memilih jalur diplomasi atau melanjutkan pendekatan konfrontatif.”
Sementara itu, Trump tetap membuka kemungkinan tindakan militer apabila Iran dianggap melanggar kesepakatan atau memperburuk situasi. Ia juga menuduh bahwa Iran berada dalam tekanan berat akibat dampak konflik berkepanjangan dan pembatasan ekonomi yang diberlakukan.
Namun, sejumlah pengamat menilai bahwa perbedaan kedua pihak tidak sepenuhnya tidak dapat dijembatani. Paul Musgrave dari Georgetown University menilai adanya sedikit pelunakan posisi Iran, terutama terkait isu blokade Selat Hormuz. Sementara itu, Kenneth Katzman dari Soufan Center menyebut hambatan utama bukan semata pada aspek teknis nuklir, melainkan pada krisis kepercayaan yang mendalam antara kedua pihak.

Prediksi Skor Korea Selatan vs Republik Ceko di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Bisa Pecahkan Rekor
Prediksi Skor Kanada vs Bosnia dan Herzegovina di Piala Dunia 2026: Alphonso Davies Diragukan Tampil!
Prediksi Skor Meksiko vs Afrika Selatan Grup A Piala Dunia 2026: El Tri Diunggulkan Menang di Laga Pembuka!
Beredar Kabar Komedian Bolot Meninggal Dunia, Begini Faktanya
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Prediksi Duel Seru Korea Selatan vs Ceko, Son Heung-min Jadi Kunci!
Prediksi Susunan Pemain Korsel vs Republik Ceko: Son Heung-min Tegaskan Siap Bantu Taegeuk Warrior Menang!
Daftar Pemain Amerika Serikat dan Paraguay di Grup D Piala Dunia 2026
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Prediksi Kanada vs Bosnia di Piala Dunia 2026: Tuan Rumah Dibayangi Ancaman Kuda Hitam dari Eropa
