
Viggo Mortensen and Mahershala Ali in Green Book (2018) (Dok. IMDb)
JawaPos.com - Green Book adalah film biografi drama komedi Amerika Serikat yang dirilis pada tahun 2018. Film ini disutradarai oleh Peter Farrelly dan diproduseri oleh Jim Burke, Charles B. Wessler, Brian Hayes Currie, Peter Farrelly, serta Nick Vallelonga.
Pemeran utamanya adalah Viggo Mortensen, Mahershala Ali, dan Linda Cardellini, dengan durasi 130 menit dan pendapatan kotor mencapai lebih dari 321 juta dolar AS.
Cerita dimulai pada tahun 1962 ketika Frank Vallelonga, atau Tony Lip, seorang petugas keamanan klub malam keturunan Italia-Amerika, direkrut menjadi sopir sekaligus pengawal Don Shirley, seorang pianis jazz kulit hitam yang sangat berbakat.
Tugas mereka adalah menjalani tur musik ke daerah Deep South Amerika Serikat, tempat segregasi rasial masih sangat kuat.
Judul film ini diambil dari buku panduan The Negro Motorist Green Book yang diterbitkan khusus untuk memberikan informasi tentang hotel, restoran, dan tempat aman bagi warga Afrika-Amerika selama perjalanan di wilayah selatan AS.
Panduan ini menjadi sahabat tak terpisahkan Don dan Tony sepanjang tur mereka menghindari ketidakadilan rasial.
Viggo Mortensen memerankan Tony Lip dengan sangat meyakinkan sebagai sosok kasar, spontan, namun berhati besar.
Sebelum ikut tur dengan Don Shirley, Tony kehilangan pekerjaan karena tutupnya klub malam tempat ia bertugas. Kepribadiannya yang blak-blakan sering menimbulkan gesekan, tetapi juga menjadi sumber kekuatan dan loyalitas dalam menghadapi kesulitan sepanjang perjalanan.
Sementara itu, Mahershala Ali membawa karakter Don Shirley ke layar dengan ketenangan dan kedalaman emosional.
Don adalah musisi jenius yang menjalani hidup dalam kesunyian, terisolasi oleh aturan rasial meski karyanya mendapat pujian internasional. Konflik batin dan tekanan sosial membayangi setiap langkahnya, membuat ia enggan membuka diri kepada orang lain pada awal perjalanan.
Pada minggu-minggu awal tur, perbedaan gaya hidup dan pandangan hidup mereka kerap memicu ketegangan.
Don yang teratur dan berhati-hati sangat kontras dengan sifat Tony yang ceroboh dan penuh candaan kasar. Meski demikian, Tony terus menjadi pelindung setia ketika Don mendapat perlakuan diskriminatif dari warga lokal berkulit putih.
Rintangan itu muncul ketika restoran menolak melayani Don dan hotel tidak mengizinkan tamu kulit hitam menginap.
Tony kerap menentang aturan tak tertulis itu dengan sikap frontal, memaksakan Don untuk diperlakukan layak. Adegan-adegan ini menunjukkan betapa sistem segregasi mengekang kebebasan dan memerlukan keberanian untuk menentangnya.
Seiring waktu, Tony mulai merasakan pahitnya diskriminasi yang dialami Don. Ia belajar melihat dunia dari sudut pandang Don dan menyadari pentingnya empati. Setiap penolakan dan hinaan semakin mempererat ikatan keduanya, membentuk dasar persahabatan yang tumbuh di tengah ketidakadilan.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
