
Demon Slayer, anime yang menguncangkan bioskop berbagai negara dengan perilisannya. (Soapcentral.com)
JawaPos.com - Fenomena global anime Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba terus membuktikan bahwa budaya pop Jepang bukan hanya konsumsi lokal, melainkan kekuatan budaya yang mampu menembus batas negara dan bahasa.
Dengan visual memukau, narasi emosional, dan nilai-nilai tradisional yang dikemas modern, Demon Slayer menjelma menjadi simbol kebangkitan anime sebagai produk budaya global.
Film terbaru dari waralaba ini, Infinity Castle, mencetak rekor box office di Jepang dengan pendapatan lebih dari ¥25 miliar hanya dalam 31 hari, melampaui film legendaris seperti Howl’s Moving Castle, Princess Mononoke, bahkan Titanic.
Tak hanya di Jepang, film ini juga mendominasi layar lebar di Asia Tenggara, Taiwan, dan Hong Kong, serta mencatat penjualan tiket awal yang tinggi di Amerika Serikat.
Studio Ufotable, yang berada di balik produksi Demon Slayer, dikenal karena kualitas animasi yang luar biasa. Setiap adegan pertarungan Tanjiro dan struktur labirin Infinity Castle dirancang seolah-olah untuk layar IMAX.
“Animasi kami bukan sekadar bagus, tapi revolusioner,” ujar salah satu produser Ufotable dalam wawancara dengan SoapCentral.
Mereka menambahkan bahwa sistem profit-sharing yang diterapkan memungkinkan reinvestasi ke kualitas produksi dan kondisi kerja yang lebih sehat bagi para animator.
Takahiro Sakurai, pengisi suara karakter Giyu Tomioka, juga menyoroti dampak lintas budaya dari anime ini. Dalam wawancara dengan Hindustan Times, ia mengungkapkan kekagumannya terhadap sinema India, khususnya aktor legendaris Rajinikanth.
“Saya rasa saya tidak akan mampu mengisi suara untuknya. Ia punya kehadiran yang sangat kuat dan suara yang dalam,” ujarnya, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Sakurai juga mengenang bagaimana film India Muthu menjadi fenomena di Jepang pada akhir 1990-an, membuka jalan bagi pertukaran budaya yang kini dilanjutkan oleh Demon Slayer.
Menurut analisis dari Japan Nakama, kekuatan utama Demon Slayer terletak pada kemampuannya menggabungkan elemen tradisional Jepang, seperti periode Taisho, ritual pengusiran iblis, dan nilai kekeluargaan, dengan narasi modern yang penuh emosi dan aksi. Hal ini membuat anime ini tidak hanya relevan bagi penonton muda, tetapi juga menyentuh hati lintas generasi.
Dengan kemungkinan masuk nominasi Oscar 2026 untuk kategori Best Animated Feature, Demon Slayer berpotensi menjadi anime shonen pertama yang diakui secara prestisius oleh industri film Barat. Jika berhasil, ini akan menjadi tonggak sejarah baru, melampaui pencapaian anime legendaris seperti Naruto, One Piece, dan Bleach.
Efek Demon Slayer bukan sekadar tren tontonan. Ia adalah bukti bahwa budaya pop Jepang mampu menyihir dunia, menyatukan emosi, estetika, dan tradisi dalam satu paket yang tak bisa diabaikan. Sebuah pelajaran bahwa cerita yang diceritakan dari hati bisa menembus batas apa pun, bahkan Hollywood. (*)

Prediksi Skor Arema FC vs DPMM FC di Piala Presiden 2026! Momentum Singo Edan Lolos ke Semifinal
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Prediksi Skor Persib Bandung vs Tampines Rovers di Piala Presiden 2026! Maung Bandung Bisa Sapu Bersih Laga
Laporkan Malik Bawazier, Suami Endah Fitrianingsih Jadikan CCTV Bukti Perzinaan
Pelapor Perzinaan Malik Bawazier Dicecar 28 Pertanyaan di Polda Metro Jaya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Iran Ubah Strategi Perang, Teheran Kini Sengaja Paksa AS Masuk ke Konflik Lebih Besar
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Staf KPK dari Kepolisian Jadi tersangka Kasus Pemalang, Diduga Peras Bupati Anom
10 Ribu Massa PSHT Gelar Aksi di Surabaya Imbas Konflik DC dan Petugas Valet
