Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 18 Oktober 2026 | 22.18 WIB

6 Alasan Mengapa Sebagian Orang Tidak Pernah Bisa Berhenti Merindukan Rumah Menurut Psikologi

seseorang yang tidak bisa berhenti merindukan rumah. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Ada orang yang bisa pergi jauh dari rumah dan dengan cepat terbiasa dengan kehidupan barunya. Mereka menikmati tempat baru, membangun pertemanan baru, dan perlahan menjadikan lingkungan baru sebagai bagian dari hidup mereka.


Namun, ada juga orang yang meskipun sudah bertahun-tahun tinggal jauh dari rumah, tetap memiliki perasaan yang sulit dijelaskan: rindu.

Bukan sekadar rindu pada sebuah bangunan, kamar tidur, halaman, atau lingkungan tempat mereka dibesarkan. Mereka merindukan suara tertentu, aroma masakan, percakapan sederhana, suasana pagi, suara seseorang yang mereka cintai, bahkan rutinitas kecil yang dulu terasa biasa saja.

Menariknya, kerinduan seperti ini tidak selalu hilang hanya karena seseorang sudah dewasa, mandiri, atau tinggal jauh dari rumah selama bertahun-tahun.

Dalam psikologi, rumah bukan sekadar tempat fisik. Rumah sering berkaitan dengan rasa aman, keterikatan emosional, identitas, kenangan, dan pengalaman hidup seseorang.

Itulah sebabnya sebagian orang seolah tidak pernah benar-benar berhenti merindukan rumah.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (17/10), terdapat enam alasan yang dapat menjelaskannya.

1. Rumah sering menjadi simbol rasa aman

Salah satu alasan seseorang terus merindukan rumah adalah karena rumah mungkin menjadi tempat pertama di mana ia belajar tentang rasa aman.

Ketika seseorang masih kecil, dunia terasa besar dan sulit dipahami. Banyak hal berada di luar kendalinya. Rumah, terutama jika di dalamnya terdapat hubungan yang hangat dan stabil, menjadi tempat untuk kembali ketika dunia terasa terlalu berat.

Di rumah, seseorang mungkin tidak perlu menjelaskan terlalu banyak tentang dirinya.

Ia bisa menjadi dirinya sendiri.

Ketika lelah, ada tempat untuk beristirahat. Ketika takut, ada seseorang yang mungkin memberikan perlindungan. Ketika gagal, ada ruang untuk pulih.

Pengalaman semacam ini dapat membentuk hubungan emosional yang kuat antara seseorang dan rumahnya.

Karena itu, ketika dewasa dan hidup jauh dari rumah, yang sebenarnya dirindukan mungkin bukan hanya tempatnya.

Yang dirindukan adalah perasaan yang muncul ketika berada di sana.

Perasaan seperti "aku aman di sini", "aku tidak harus selalu kuat", atau "aku diterima apa adanya".

Inilah yang membuat kerinduan terhadap rumah terkadang muncul justru ketika seseorang sedang menghadapi tekanan.

Saat pekerjaan melelahkan, hubungan tidak berjalan baik, hidup terasa tidak pasti, atau seseorang merasa sendirian, pikirannya dapat kembali kepada tempat yang diasosiasikan dengan keamanan.

Rumah kemudian menjadi semacam "tempat emosional" untuk kembali, bahkan ketika secara fisik seseorang tidak mungkin pulang.

2. Kenangan masa kecil membuat rumah terasa lebih istimewa daripada kenyataan

Ada alasan lain yang cukup kuat: manusia tidak mengingat masa lalu secara netral.

Ingatan kita berkaitan erat dengan emosi.

Sebuah tempat dapat terasa sangat berarti karena tempat tersebut menyimpan banyak pengalaman emosional. Kamar lama mungkin sebenarnya sederhana. Jalan di depan rumah mungkin tidak istimewa. Bahkan makanan yang dulu dianggap biasa mungkin tidak terasa luar biasa bagi orang lain.

Tetapi bagi seseorang yang memiliki ikatan emosional dengan tempat tersebut, semuanya dapat memiliki makna yang jauh lebih besar.

Mengapa?

Karena otak tidak hanya menyimpan fakta tentang sebuah tempat. Ia juga menghubungkan tempat itu dengan pengalaman, orang, emosi, dan periode tertentu dalam kehidupan.

Misalnya, seseorang mencium aroma masakan tertentu dan tiba-tiba teringat masa kecilnya.

Mendengar lagu lama membuatnya teringat perjalanan bersama keluarga.

Melihat sebuah rumah dengan desain tertentu membuatnya mengingat sore-sore ketika masih kecil.

Hal-hal kecil seperti itu dapat menjadi pemicu nostalgia.

Nostalgia sendiri bukan sekadar mengingat masa lalu. Ia dapat membuat masa lalu terasa dekat kembali secara emosional.

Itulah sebabnya seseorang bisa merindukan rumah bahkan ketika ia tahu bahwa kehidupan di sana dahulu tidak selalu sempurna.

Ada kecenderungan untuk mengingat bagian-bagian tertentu yang memiliki nilai emosional kuat.

Maka, terkadang seseorang sebenarnya tidak sedang merindukan rumah sebagaimana adanya sekarang.

Ia sedang merindukan versi kehidupan yang pernah ia jalani di rumah tersebut.

Ia merindukan dirinya yang dulu.

Merindukan orang-orang yang dulu masih ada.

Merindukan waktu ketika hidup terasa lebih sederhana.

3. Rumah menjadi bagian dari identitas seseorang

Tempat kita tumbuh sering kali ikut membentuk siapa diri kita.

Cara berbicara, kebiasaan, nilai-nilai, cara memandang keluarga, makanan yang disukai, tradisi, bahkan cara seseorang memahami dirinya sendiri dapat dipengaruhi oleh lingkungan tempat ia dibesarkan.

Karena itu, meninggalkan rumah terkadang terasa seperti meninggalkan sebagian dari diri sendiri.

Seseorang mungkin berhasil membangun kehidupan baru di kota lain. Ia memiliki pekerjaan, teman, pasangan, dan rutinitas baru.

Tetapi ada bagian dari dirinya yang tetap terhubung dengan tempat asal.

Inilah salah satu alasan mengapa orang yang sudah lama tinggal di tempat lain masih dapat merasa sangat emosional ketika kembali ke kampung halaman.

Begitu melihat jalan yang familiar, mendengar bahasa atau logat yang biasa digunakan, mencium aroma makanan tertentu, atau bertemu orang-orang dari masa lalu, identitas lama itu seolah muncul kembali.

Ia tidak hanya berkata dalam hati, "Aku ingat tempat ini."

Kadang perasaan yang muncul jauh lebih dalam:

"Ini bagian dari diriku."

Rumah menjadi semacam titik asal dari cerita hidup seseorang.

Maka ketika seseorang jauh dari rumah, ia mungkin merasakan kerinduan karena secara emosional ia masih terhubung dengan bagian dari dirinya yang terbentuk di sana.

4. Hubungan dengan orang-orang di rumah sering lebih kuat daripada keterikatan pada tempatnya

Ketika seseorang mengatakan, "Aku rindu rumah," belum tentu yang ia rindukan adalah rumah secara fisik.

Sering kali, yang dirindukan adalah orang-orang yang membuat rumah tersebut terasa seperti rumah.

Orang tua.

Saudara.

Kakek dan nenek.

Teman masa kecil.

Pasangan.

Anak.

Atau bahkan hewan peliharaan yang dulu selalu menunggu di depan pintu.

Dalam psikologi, hubungan manusia memiliki peran besar terhadap kesejahteraan emosional. Kita membutuhkan koneksi, rasa memiliki, dan hubungan yang memberikan dukungan.

Karena itu, rumah dapat menjadi simbol dari hubungan-hubungan tersebut.

Bayangkan seseorang yang tinggal di kota besar dengan pekerjaan yang bagus tetapi jarang memiliki waktu untuk berbicara dengan orang lain secara mendalam.

Ia mungkin dikelilingi banyak orang setiap hari, tetapi tetap merasa sendirian.

Dalam kondisi seperti itu, ingatannya bisa kembali kepada rumah.

Bukan karena rumah tersebut memiliki sesuatu yang istimewa secara fisik, tetapi karena di sanalah ia pernah merasa benar-benar dikenal.

Ada perbedaan antara "dikelilingi orang" dan "merasa memiliki seseorang".

Rumah bagi sebagian orang merupakan tempat di mana ia tidak perlu terus-menerus membuktikan nilai dirinya.

Ia cukup hadir, dan keberadaannya sudah berarti.

Itulah yang terkadang paling dirindukan.

5. Kehidupan dewasa membuat kita menyadari bahwa waktu tidak dapat diulang

Semakin dewasa, seseorang biasanya semakin sadar bahwa banyak hal yang dahulu dianggap biasa ternyata tidak akan berlangsung selamanya.

Orang tua bertambah tua.

Anak-anak tumbuh.

Teman-teman berpindah kota.

Rumah mungkin direnovasi atau dijual.

Kamar masa kecil bisa berubah menjadi ruangan lain.

Orang-orang yang dahulu selalu tersedia mungkin mulai sibuk dengan kehidupannya masing-masing.

Kesadaran tentang perubahan inilah yang dapat membuat kerinduan menjadi semakin kuat.

Ketika masih kecil, seseorang mungkin berpikir bahwa rumah akan selalu sama.

Ia mengira bahwa kapan pun ia pulang, semuanya akan kembali seperti dulu.

Tetapi ketika dewasa, ia mulai memahami bahwa waktu terus bergerak.

Dan terkadang, ketika seseorang pulang, ia menemukan bahwa rumahnya masih ada tetapi suasananya sudah berbeda.

Orang-orangnya berubah.

Dirinya sendiri juga berubah.

Momen inilah yang bisa membuat seseorang merindukan bukan hanya rumah, tetapi masa yang sudah tidak mungkin kembali.

Ada kesedihan kecil dalam kerinduan semacam ini.

Kita sadar bahwa kita dapat kembali ke tempatnya, tetapi tidak selalu dapat kembali ke waktunya.

Kita bisa duduk di ruang tamu yang sama, tetapi tidak bisa mengembalikan percakapan seperti sepuluh atau dua puluh tahun lalu.

Kita bisa melewati jalan yang sama, tetapi tidak bisa menjadi diri kita yang dulu.

Karena itu, semakin dewasa, kerinduan terhadap rumah terkadang justru menjadi lebih dalam.

Bukan karena seseorang semakin lemah.

Melainkan karena ia semakin memahami nilai dari sesuatu yang dulu dianggap biasa.

6. Rumah memberikan rasa "memiliki" yang sulit ditemukan di tempat lain

Ada kebutuhan psikologis yang sangat manusiawi: kebutuhan untuk merasa memiliki dan menjadi bagian dari sesuatu.

Ketika seseorang berpindah ke lingkungan baru, ia harus membangun semuanya kembali.

Pertemanan baru.

Rutinitas baru.

Lingkungan baru.

Reputasi baru.

Bahkan cara seseorang memperkenalkan dirinya pun mungkin berubah.

Pada awalnya, semua terasa menarik.

Namun setelah bertahun-tahun, proses beradaptasi bisa melelahkan.

Di rumah, seseorang mungkin tidak perlu memulai dari nol.

Orang-orang sudah mengenalnya.

Lingkungannya sudah familiar.

Ia tahu di mana membeli makanan favorit.

Ia tahu jalan-jalan kecil di sekitar rumah.

Ia tahu suara lingkungan pada pagi dan malam hari.

Hal-hal yang tampaknya sederhana itu memberikan rasa kontinuitas.

Ada perasaan, "Aku tahu tempat ini, dan tempat ini tahu aku."

Sebaliknya, hidup di tempat baru kadang membuat seseorang merasa seperti orang luar.

Tidak selalu karena orang lain menolaknya.

Kadang hanya karena belum ada sejarah yang cukup panjang.

Rasa memiliki membutuhkan waktu.

Dan ketika seseorang sedang mengalami masa sulit, ia mungkin semakin merindukan tempat di mana ia tidak perlu menjelaskan siapa dirinya.

Jadi, apakah tidak bisa berhenti merindukan rumah berarti seseorang belum dewasa?

Tidak.

Merindukan rumah bukan tanda bahwa seseorang gagal beradaptasi.

Seseorang dapat mencintai kehidupan barunya sekaligus tetap merindukan tempat asalnya.

Keduanya tidak bertentangan.

Kita bisa bahagia di tempat baru dan tetap merasa hangat ketika mengingat rumah.

Kita bisa mandiri dan tetap membutuhkan keluarga.

Kita bisa tumbuh dewasa tanpa harus memutus hubungan emosional dengan masa lalu.

Bahkan, kerinduan terhadap rumah terkadang menunjukkan bahwa seseorang memiliki hubungan emosional yang kuat terhadap pengalaman hidupnya.

Yang perlu diperhatikan adalah ketika kerinduan tersebut menjadi begitu kuat sampai menghambat kehidupan sehari-hari.

Jika seseorang terus-menerus merasa tidak mampu hidup di tempat baru, menarik diri dari kehidupan sosial, mengalami kecemasan berat, atau merasa sangat tertekan karena jauh dari rumah, mungkin ada persoalan emosional yang lebih dalam yang perlu diperhatikan.

Dalam situasi seperti itu, berbicara dengan psikolog atau profesional kesehatan mental dapat membantu seseorang memahami apa sebenarnya yang sedang dirindukan.

Sebab terkadang kita mengatakan, "Aku rindu rumah."

Padahal yang sebenarnya ingin kita katakan adalah:

"Aku rindu merasa aman."

"Aku rindu merasa dipahami."

"Aku rindu orang-orang yang mengenalku."

"Aku rindu diriku yang dulu."

Atau mungkin,

"Aku hanya ingin sebentar berhenti menjadi orang dewasa dan merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja."

Pada akhirnya, rumah bukan hanya tempat

Mungkin itulah alasan mengapa sebagian orang tidak pernah benar-benar berhenti merindukan rumah.

Karena rumah tidak selalu berupa bangunan.

Rumah bisa berupa suara seseorang yang memanggil nama kita.

Bisa berupa meja makan tempat keluarga berkumpul.

Bisa berupa kamar kecil tempat kita pernah menangis sendirian.

Bisa berupa aroma makanan yang mengingatkan kita pada masa kecil.

Bisa berupa jalan yang pernah kita lewati setiap hari.

Bisa juga berupa perasaan bahwa untuk sekali saja, kita tidak perlu menjadi siapa-siapa selain diri sendiri.

Dan mungkin, ketika kita semakin dewasa, kita akhirnya memahami sesuatu yang dulu tidak kita sadari:

Yang paling kita rindukan dari rumah bukan selalu tempatnya.

Kita merindukan perasaan yang pernah kita miliki ketika berada di sana.

Perasaan aman.

Perasaan diterima.

Perasaan memiliki.

Dan perasaan bahwa, di suatu tempat di dunia ini, ada ruang di mana kita boleh pulang tanpa harus menjelaskan terlalu banyak.

Mungkin itulah sebabnya, sejauh apa pun seseorang pergi, sebagian dari dirinya akan selalu memiliki jalan untuk kembali.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore