Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 18 Oktober 2026 | 17.31 WIB

6 Alasan Mengapa Kita Sering Melakukan Screenshot tetapi Jarang Melihatnya Lagi Menurut Psikologi

seseorang yang sering melakukan screenshot. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Pernahkah Anda membuka galeri foto di ponsel lalu menemukan ratusan, bahkan ribuan, tangkapan layar yang sebenarnya sudah tidak pernah dilihat lagi?


Ada screenshot percakapan yang dulu terasa penting. Ada foto produk yang ingin dibeli. Ada informasi dari media sosial yang dianggap menarik. Ada kutipan yang ingin dibaca kembali. Ada jadwal, alamat, resep, rekomendasi film, hingga meme yang terasa terlalu sayang untuk dilewatkan.

Namun, beberapa hari atau minggu kemudian, semuanya hanya menjadi bagian dari tumpukan gambar yang memenuhi penyimpanan ponsel.

Fenomena ini sangat umum. Kita sering merasa perlu menyimpan sesuatu dengan melakukan screenshot, tetapi pada akhirnya jarang kembali membuka atau menggunakannya.

Sekilas, perilaku tersebut terlihat seperti kebiasaan digital yang sederhana. Namun jika dilihat dari perspektif psikologi, ada beberapa alasan mengapa kita begitu mudah menekan tombol screenshot meskipun belum tentu benar-benar membutuhkan informasi tersebut di masa depan.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (17/10), terdapat enam alasan yang mungkin menjelaskannya.

1. Screenshot memberi kita rasa bahwa informasi sudah "aman"

Salah satu alasan paling sederhana adalah karena screenshot memberikan rasa aman.

Ketika menemukan informasi yang menurut kita penting, otak sering kali tidak ingin mengambil risiko kehilangan informasi tersebut. Kita mungkin berpikir:

"Nanti saya baca lagi."

"Siapa tahu saya membutuhkan ini."

"Lebih baik disimpan dulu."

Screenshot kemudian menjadi semacam tindakan pengamanan.

Masalahnya, menyimpan informasi tidak sama dengan benar-benar memproses atau menggunakannya.

Kita mungkin merasa lebih tenang setelah mengambil screenshot karena informasi tersebut secara fisik sudah "ada" di ponsel. Perasaan kehilangan kesempatan pun berkurang.

Dalam psikologi, kecenderungan mempertahankan sesuatu karena khawatir akan kehilangan kesempatan dapat berkaitan dengan loss aversion, yaitu kecenderungan manusia untuk merasakan kehilangan sebagai sesuatu yang lebih kuat dibandingkan keuntungan yang setara.

Bayangkan Anda sedang melihat tips kesehatan yang menarik di media sosial. Anda sebenarnya belum tentu akan membacanya lagi. Tetapi ada pikiran kecil:

"Kalau saya tidak screenshot sekarang, mungkin nanti saya tidak bisa menemukannya lagi."

Akhirnya, screenshot pun dibuat.

Setelah itu, muncul perasaan lega.

Informasinya sudah aman.

Tetapi rasa aman tersebut justru dapat membuat kita tidak merasa perlu segera memprosesnya.

Akibatnya, screenshot masuk ke galeri dan perlahan terlupakan.

Screenshot sebagai "kotak penyimpanan mental"

Secara psikologis, screenshot juga dapat berfungsi seperti perpanjangan dari memori kita.

Daripada mengingat informasi, kita menyerahkan tugas tersebut kepada perangkat.

Kita tidak perlu menghafal nomor telepon, alamat, daftar rekomendasi, atau isi percakapan. Cukup simpan screenshot.

Dengan begitu, ponsel menjadi semacam "memori eksternal".

Namun, semakin banyak hal yang kita simpan, semakin sulit pula bagi kita untuk mengingat apa saja yang sebenarnya pernah disimpan.

Ironisnya, screenshot yang dibuat untuk membantu ingatan justru dapat menjadi sesuatu yang akhirnya kita lupakan.

2. Kita sering melakukan screenshot karena takut kehilangan informasi atau kesempatan

Alasan kedua berkaitan dengan FOMO (fear of missing out), yaitu rasa takut ketinggalan sesuatu.

FOMO tidak selalu berkaitan dengan tren atau kehidupan sosial. Dalam dunia digital, FOMO juga dapat muncul dalam bentuk informasi.

Ketika melihat sesuatu yang menarik, kita mungkin merasa bahwa kesempatan untuk mendapatkannya hanya datang sekali.

Misalnya:

harga produk sedang murah,

ada rekomendasi tempat wisata,

seseorang membagikan tips yang berguna,

muncul informasi beasiswa,

ada lowongan pekerjaan,

terdapat resep makanan menarik,

seseorang mengirim pesan penting,

atau kita menemukan artikel yang ingin dibaca.

Daripada kehilangan informasi tersebut, kita mengambil screenshot.

Persoalannya, rasa takut kehilangan sering kali lebih kuat daripada niat nyata untuk menggunakan informasi tersebut.

Kita tidak selalu bertanya:

"Kapan saya akan menggunakan ini?"

Kita lebih sering berpikir:

"Bagaimana kalau nanti saya membutuhkannya?"

Perbedaan kecil ini sangat penting.

Kalimat kedua membuat hampir semua informasi terlihat layak disimpan.

Akhirnya, galeri ponsel berubah menjadi gudang kemungkinan.

Ada banyak hal yang mungkin berguna, tetapi hanya sedikit yang benar-benar digunakan.

"Nanti" adalah kata yang sangat mudah dipercaya

Screenshot juga berkaitan dengan kebiasaan menunda.

Kita mungkin tidak ingin membaca sesuatu sekarang karena sedang sibuk. Maka screenshot menjadi janji kecil kepada diri sendiri:

"Nanti saya lihat."

Masalahnya, "nanti" tidak memiliki jadwal yang jelas.

Besok datang dengan kesibukan baru. Minggu berikutnya ada informasi baru yang lebih menarik. Setelah beberapa waktu, screenshot lama tertutup oleh screenshot baru.

Pada akhirnya, kita bahkan lupa mengapa gambar tersebut disimpan.

3. Screenshot menciptakan ilusi bahwa kita sudah melakukan sesuatu

Ini adalah salah satu alasan yang paling menarik.

Kadang-kadang, mengambil screenshot membuat kita merasa sudah mengambil langkah nyata terhadap sebuah informasi, padahal sebenarnya kita belum melakukan apa-apa selain menyimpannya.

Misalnya, kita menemukan artikel tentang olahraga.

Kita screenshot.

Kemudian merasa:

"Oke, nanti saya baca."

Atau menemukan informasi tentang kursus online.

Kita screenshot.

"Nanti saya daftar."

Atau menemukan lowongan pekerjaan.

"Nanti saya kirim lamaran."

Screenshot memberikan sensasi bahwa kita sudah melakukan sebuah tindakan.

Padahal ada perbedaan besar antara menyimpan informasi dan mengambil tindakan berdasarkan informasi tersebut.

Dalam konteks ini, screenshot dapat menjadi bentuk pseudo-action—tindakan yang terasa produktif tetapi belum tentu menghasilkan kemajuan nyata.

Menyimpan terasa lebih mudah daripada memutuskan

Mengapa screenshot begitu menggoda?

Karena screenshot membutuhkan usaha yang sangat kecil.

Kita tidak perlu:

membaca seluruh artikel,

membuat catatan,

mengambil keputusan,

mengorganisasi informasi,

mendaftar sesuatu,

membeli produk,

atau mengubah kebiasaan.

Kita cukup menekan beberapa tombol.

Selesai.

Otak mendapatkan kepuasan karena merasa sudah melakukan sesuatu.

Padahal tugas sebenarnya belum dimulai.

Itulah sebabnya kita bisa memiliki ratusan screenshot tentang produktivitas tanpa benar-benar menjadi lebih produktif.

Kita bisa menyimpan puluhan resep tanpa pernah memasaknya.

Kita bisa menyimpan banyak rekomendasi buku tanpa pernah membacanya.

Dan kita bisa menyimpan berbagai tips olahraga tanpa pernah menjalankannya.

4. Kita melebihkan kemampuan diri sendiri untuk mengingat dan mengelola informasi di masa depan

Alasan berikutnya berkaitan dengan cara manusia memandang dirinya sendiri di masa depan.

Saat membuat screenshot, kita sering membayangkan versi diri kita beberapa hari kemudian sebagai seseorang yang akan lebih teratur, lebih senggang, dan lebih rajin.

"Besok saya baca."

"Nanti malam saya rapikan."

"Weekend saya cek lagi."

Namun, diri kita di masa depan ternyata masih menghadapi masalah yang sama: waktu terbatas, banyak informasi baru, dan perhatian yang mudah berpindah.

Inilah salah satu bentuk planning fallacy, yaitu kecenderungan manusia memperkirakan bahwa sesuatu di masa depan akan berjalan lebih mudah, cepat, atau teratur daripada kenyataannya.

Kita terlalu optimistis terhadap kemampuan diri kita di masa depan.

"Future self" yang terlalu ideal

Bayangkan Anda sedang melihat sebuah artikel panjang.

Anda sedang sibuk, sehingga tidak membacanya.

"Saya screenshot dulu. Nanti malam saya baca."

Malam tiba.

Anda lelah.

Kemudian berkata:

"Besok saja."

Besoknya, pekerjaan menumpuk.

Lalu screenshot tersebut tertunda lagi.

Seminggu kemudian, Anda sudah lupa konteksnya.

Yang menarik, pola ini bukan berarti kita malas secara sederhana.

Masalahnya adalah kita sering membuat keputusan berdasarkan kondisi psikologis saat ini dengan asumsi bahwa diri kita di masa depan akan memiliki waktu, energi, dan motivasi yang lebih besar.

Padahal belum tentu.

5. Informasi yang disimpan terlalu banyak membuat perhatian kita semakin terbagi

Ada paradoks dalam menyimpan informasi:

Semakin banyak yang kita simpan, semakin sulit menemukan kembali sesuatu yang benar-benar penting.

Satu screenshot mungkin sangat berguna.

Sepuluh screenshot masih mudah dikelola.

Seratus screenshot mulai membingungkan.

Ribuan screenshot dapat berubah menjadi semacam arsip digital yang sulit dijelajahi.

Ini berkaitan dengan keterbatasan perhatian dan kapasitas kognitif manusia.

Otak kita tidak dirancang untuk memberikan perhatian yang sama kepada semua informasi.

Ketika terlalu banyak pilihan tersedia, kita harus mengeluarkan energi mental untuk menentukan mana yang penting.

Bayangkan Anda memiliki folder berisi 1.000 screenshot.

Anda tiba-tiba membutuhkan informasi tentang sebuah restoran yang pernah Anda simpan.

Pertanyaannya:

"Screenshot yang mana?"

Anda mulai menggulir galeri.

Kemudian menemukan screenshot lain.

"Oh, ini juga dulu mau saya lihat."

Lalu menemukan screenshot berikutnya.

Akhirnya, aktivitas mencari satu informasi berubah menjadi perjalanan panjang menyusuri masa lalu digital.

Terlalu banyak pilihan juga bisa membuat kita tidak melakukan apa-apa

Dalam psikologi, terlalu banyak pilihan dapat menyebabkan seseorang kesulitan mengambil keputusan.

Hal yang sama dapat terjadi pada screenshot.

Jika hanya ada lima gambar, kemungkinan kita akan membukanya kembali.

Jika ada 2.000 gambar, kita mungkin merasa:

"Ah, nanti saja cari."

Dengan kata lain, masalahnya bukan hanya jumlah informasi.

Masalahnya adalah biaya mental untuk menemukan kembali informasi tersebut.

6. Setelah screenshot dibuat, perhatian kita sudah berpindah ke hal lain

Alasan terakhir mungkin yang paling sederhana: manusia mudah kehilangan perhatian.

Media digital dirancang dengan aliran informasi yang sangat cepat.

Kita melihat satu konten.

Kemudian menggeser layar.

Muncul konten baru.

Kita screenshot sesuatu.

Lalu beberapa detik kemudian melihat hal lain.

Informasi yang baru saja kita simpan sudah kehilangan sebagian besar perhatian kita.

Ini berbeda dengan membaca buku atau mencatat informasi secara manual. Dalam aktivitas yang lebih lambat, kita cenderung memberikan waktu lebih banyak untuk memahami dan mengingat.

Screenshot justru memungkinkan kita melakukan "penyimpanan cepat".

Karena prosesnya cepat, kita dapat menyimpan sesuatu bahkan sebelum memutuskan apakah informasi tersebut benar-benar penting.

Dari "menarik" menjadi "tidak relevan"

Sesuatu yang menarik pada pukul 10 pagi belum tentu menarik pada pukul 10 malam.

Begitu juga dengan informasi.

Saat melihat sebuah meme, kutipan, atau tips di media sosial, kita mungkin merasa:

"Ini bagus banget."

Lalu screenshot.

Namun beberapa jam kemudian, emosi yang muncul ketika pertama kali melihatnya sudah hilang.

Informasi tersebut tidak lagi terasa relevan.

Akibatnya, screenshot hanya menjadi artefak dari perhatian kita di masa lalu.

Jadi, apakah kebiasaan screenshot itu buruk?

Tidak.

Screenshot sebenarnya merupakan alat yang sangat berguna.

Masalahnya muncul ketika screenshot berubah dari alat untuk membantu mengelola informasi menjadi tempat menimbun informasi.

Ada perbedaan antara menyimpan sesuatu karena benar-benar memiliki rencana untuk menggunakannya dan menyimpan sesuatu hanya karena takut kehilangannya.

Jika hampir setiap informasi terasa harus disimpan, mungkin masalahnya bukan kurangnya kapasitas penyimpanan ponsel.

Mungkin kita perlu belajar menentukan:

Apa yang benar-benar penting?

Apa yang hanya menarik untuk sesaat?

Apa yang benar-benar akan saya gunakan?

Cara Mengurangi Screenshot yang Tidak Pernah Dilihat Lagi

Kita tidak harus berhenti melakukan screenshot.

Yang lebih berguna adalah membuat sedikit aturan untuk diri sendiri.

1. Tanyakan: "Saya akan melakukan apa dengan ini?"

Sebelum screenshot, coba tanyakan:

"Apa tindakan saya setelah menyimpan ini?"

Jika tidak ada jawaban yang jelas, mungkin informasi tersebut sebenarnya tidak perlu disimpan.

Misalnya:

"Saya akan menggunakan alamat ini besok."

Itu jelas.

Namun:

"Siapa tahu nanti berguna."

Itu jauh lebih samar.

2. Bedakan informasi untuk "nanti" dan informasi untuk "tidak pernah"

Kata "nanti" bisa menjadi jebakan.

Jika sesuatu benar-benar penting, berikan tanggal atau tindakan yang jelas.

Bukan:

"Nanti saya baca."

Tetapi:

"Malam ini pukul 20.00 saya baca."

Bukan:

"Nanti saya beli."

Tetapi:

"Besok saya cek harga dan putuskan apakah membeli."

Dengan begitu, screenshot tidak hanya menjadi tempat penyimpanan, tetapi bagian dari rencana.

3. Gunakan sistem selain galeri

Jika sebuah informasi memang penting, jangan hanya mengandalkan screenshot.

Misalnya:

masukkan tugas ke aplikasi pengingat,

simpan artikel ke aplikasi baca nanti,

masukkan alamat ke catatan,

bookmark halaman yang ingin dikunjungi kembali,

atau buat catatan singkat tentang mengapa informasi tersebut penting.

Screenshot sebaiknya menjadi alat bantu, bukan satu-satunya sistem pengelolaan informasi.

4. Bersihkan screenshot secara berkala

Tidak perlu menunggu sampai galeri penuh.

Luangkan beberapa menit setiap minggu untuk menghapus screenshot yang sudah tidak relevan.

Anda dapat menggunakan tiga kategori sederhana:

Penting — simpan.

Akan digunakan — pindahkan ke sistem yang tepat.

Sudah tidak relevan — hapus.

Dengan cara ini, galeri tidak berubah menjadi gudang digital tanpa akhir.

Pada akhirnya, masalahnya bukan pada screenshot

Menariknya, fenomena screenshot sebenarnya menunjukkan sesuatu yang lebih luas tentang manusia di era digital.

Kita hidup dalam lingkungan yang menghasilkan informasi jauh lebih cepat daripada kemampuan kita untuk memprosesnya.

Kita terus melihat sesuatu yang menarik, berguna, lucu, menginspirasi, atau penting.

Lalu kita menyimpannya.

Screenshot memberi kita perasaan bahwa kita berhasil "mengamankan" informasi tersebut.

Tetapi menyimpan informasi bukan berarti kita akan mengingatnya.

Dan memiliki akses terhadap informasi bukan berarti kita akan menggunakannya.

Itulah sebabnya galeri ponsel kita bisa penuh dengan berbagai hal yang pernah terasa penting, tetapi sekarang bahkan kita tidak ingat mengapa kita menyimpannya.

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan:

"Bagaimana caranya menyimpan lebih banyak informasi?"

Melainkan:

"Bagaimana caranya memilih informasi yang benar-benar layak kita perhatikan?"

Karena di era ketika hampir semua hal bisa disimpan, kemampuan untuk memilih apa yang tidak perlu disimpan justru menjadi keterampilan yang semakin berharga.

Screenshot bukan masalah.

Yang perlu kita waspadai adalah ketika tindakan menyimpan memberi kita rasa produktif, sementara tindakan yang sebenarnya—membaca, memahami, memutuskan, dan melakukan—tidak pernah terjadi.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore