Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 18 Oktober 2026 | 02.43 WIB

Bertahan atau Berpisah? Memahami Ketidakpastian Komitmen dalam Hubungan

gambar ilustrasi dari magnific

JawaPos.com - Menjalani hubungan romantis tidak selalu berarti seseorang merasa yakin untuk terus bersama pasangannya.

Dalam beberapa situasi, seseorang bisa mencintai pasangannya, tetapi tetap mempertanyakan masa depan hubungan tersebut.

Keraguan ini dikenal sebagai commitment uncertainty atau ketidakpastian komitmen, yaitu kondisi ketika seseorang tidak yakin dengan keinginannya untuk bertahan, melanjutkan hubungan, atau terus berinvestasi secara emosional.

Dikutip dari artikel Psychology Today, ketidakpastian komitmen dapat muncul sejak awal hubungan atau berkembang setelah pasangan mengalami peristiwa penting.

Keraguan juga bisa tumbuh secara perlahan ketika kedekatan emosional dan keterlibatan dalam hubungan mulai berkurang.

Kondisi ini berbeda dari ketidakpastian saat pendekatan, karena terjadi ketika pasangan sudah memiliki kesepakatan mengenai status hubungan mereka.

Salah satu penyebabnya adalah perbedaan antara keinginan untuk bertahan dan faktor yang membuat seseorang merasa harus tetap bersama.

Dalam psikologi hubungan, keduanya dikenal sebagai dedication commitment dan constraint commitment. Komitmen berdasarkan keinginan muncul ketika seseorang memang ingin membangun masa depan bersama pasangannya.

Sementara itu, komitmen karena keterikatan situasional dapat dipengaruhi oleh anak, kondisi finansial, kehidupan yang telah dibangun bersama, atau tekanan sosial.

Seseorang bisa saja tetap bertahan karena faktor-faktor tersebut meskipun keinginannya untuk melanjutkan hubungan mulai melemah.

Faktor psikologis lain yang turut berperan adalah pola keterikatan atau attachment. Orang dengan kecemasan keterikatan (attachment anxiety) mungkin sering mengkhawatirkan apakah dirinya cukup berharga bagi pasangan atau takut ditinggalkan.

Sebaliknya, seseorang dengan kecenderungan menghindari kedekatan (attachment avoidance) bisa merasa tidak nyaman ketika hubungan menuntut keintiman dan ketergantungan emosional. Kedua pola ini dapat berkaitan dengan keraguan terhadap komitmen, meskipun tidak otomatis menentukan keberhasilan atau kegagalan sebuah hubungan.

Keraguan juga dapat bertahan karena pasangan menghindari pembicaraan yang sulit. Ada orang yang menunda keputusan karena takut menyakiti pasangan, menghadapi perubahan finansial, atau kehilangan kehidupan yang sudah dibangun bersama.

Di sisi lain, konflik yang tidak terselesaikan dapat membuat seseorang berpikir bahwa ia baru akan berkomitmen sepenuhnya setelah hubungan membaik.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore