Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21.35 WIB

Indonesia Memerah dalam Pantauan Satelit NASA, Begini Dampak Karbon Monoksida bagi Tubuh

Ilustrasi citra satelit NASA terhadap tingkat polusi Karbon Monoksida di Indonesia/eyes.nasa.gov - Image

Ilustrasi citra satelit NASA terhadap tingkat polusi Karbon Monoksida di Indonesia/eyes.nasa.gov

JawaPos.com - Gambar tersebut memperlihatkan citra satelit NASA yang menunjukkan sebaran gas Karbon Monoksida (Carbon Monoxide) di atmosfer dengan wilayah Indonesia yang tampak didominasi oleh warna merah pekat.

Anda dapat melihat pemantauan satelit NASA ini melalui situs eyes.nasa.gov. Data tersebut menunjukkan rata-rata sebaran Karbon Monoksida yang dicatat selama tiga hari, yakni pada tanggal 14-16 Oktober 2026,  di ketinggian 5,5 km di atas atmosfer. 

Berdasarkan informasi dari laman spatialhighlights yang dikutip pada (16/10), warna oranye dan merah pada peta tersebut menunjukkan konsentrasi karbon monoksida yang relatif lebih tinggi, sementara itu, warna biru dan ungu menunjukkan konsentrasi yang lebih rendah.

Selanjutnya, gambar tersebut memperlihatkan sebaran Karbon Monoksida yang relatif tinggi di atmosfer.

Salah satu sumber dari gas ini diketahui berasal dari karhutla. Karbon Monoksida (CO) adalah gas yang tidak berwarna, tidak berasa, tidak mengiritasi dan tidak berbau.Gas ini dihasilkan melalui pembakaran gas, minyak, petrol, bahan bakar padat atau kayu. Terbentuknya gas CO ini berasal dari kebakaran, tungku, pemanas, oven dan mesin.

Berdasarkan informasi resmi dari laman pom.go.id  Batas paparan karbon monoksida yang diperbolehkan oleh OSHA (Occupational Safety and Health Administration) adalah 35 ppm untuk waktu 8 jam/hari kerja.Kadar yang dianggap langsung berbahaya terhadap kehidupan atau kesehatan adalah 1500 ppm (0,15%).Paparan dari 1000 ppm (0,1%) selama beberapa menit dapat menyebabkan 50% kejenuhan dari karboksi hemoglobin dan dapat berakibat fatal.  

Paparan gas CO dapat menimbulkan dampak yang serius saat gas terhirup dalam jumlah berbahaya. Gas CO kerap disebut sebagai “silent killer” karena tidak berwarna dan berbau, sehingga keberadaannya sulit dikenali. 

Gas ini kemudian dapat masuk ke dalam aliran darah dan mengganggu fungsi organ tubuh. Berdasarkan informasi dari laman keslan.kemkes.go.id berikut beberapa dampak paparan gas CO yang dapat berpengaruh pada kondisi tubuh. 

Gejala keracunan gas CO dapat ditandai dengan beberapa keluhan seperti pusing, mual, muntah, lelah, lesi pada kulit, berkeringat banyak, pyrexia, pernapasan meningkat, tekanan darah tinggi, kebingungan, gangguan penglihatan, konvulsi, hipotensi, detak jantung lebih tepat, myocardial, dan  ischemia. 

Karbon Monoksida lebih mudah diserap  oleh darah dibandingkan dengan  oksigen. Gas CO akan berikatan bersama darah dan membentuk Karboksihemoglobin, kondisi ini mengurangi kemampuan darah dalam mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Akibatnya, organ penting termasuk otak dan jantung dapat mengalami kekurangan oksigen sehingga fungsi-fungsinya akan terganggu. 

Editor: Hanny Suwindari
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore