Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 1 Oktober 2026 | 02.44 WIB

NASA Pantau Kebakaran Gambut Indonesia, Asap Selimuti Kalimantan hingga Malaysia

Citra satelit NASA menunjukkan kepulan asap tebal dari kebakaran gambut di Indonesia menyelimuti Kalimantan hingga Malaysia (24/7 Wall St.) - Image

Citra satelit NASA menunjukkan kepulan asap tebal dari kebakaran gambut di Indonesia menyelimuti Kalimantan hingga Malaysia (24/7 Wall St.)

JawaPos.com - Kebakaran lahan dan hutan kembali melanda Indonesia saat kekeringan yang meluas membuat lahan gambut semakin rentan terbakar. Citra satelit NASA pada 1 September 2026 memperlihatkan asap tebal menutupi sebagian wilayah Indonesia dan Malaysia, dengan titik panas tersebar di Kalimantan. Api tidak hanya menyala di permukaan, tetapi juga membara di bawah tanah.

Kondisi ini membuat kebakaran gambut lebih sulit ditangani daripada kebakaran vegetasi biasa. NASA mencatat kebakaran gambut diperkirakan menghasilkan tiga kali lebih banyak partikulat halus, lima kali sulfur dioksida, tiga kali karbon organik, serta dua kali metana dan karbon monoksida dibandingkan kebakaran hutan tropis lainnya.

Dilansir dari NASA Science, Rabu (30/9/2026), aktivitas kebakaran di Indonesia terpantau melalui instrumen MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) pada satelit Aqua NASA. Sensor ini mendeteksi anomali panas yang ditandai titik merah pada citra satelit sebagai indikasi kebakaran, meski satu kejadian dapat menghasilkan beberapa titik deteksi.

Indonesia menjadi salah satu wilayah yang rentan karena memiliki sekitar 36 persen lahan gambut tropis dunia. Saat gambut mengering akibat kekurangan hujan, api lebih mudah menyebar dan merambat ke bawah permukaan. Kondisi kering itu sudah terlihat sejak awal Agustus. Sekitar 90 persen wilayah Indonesia menerima sedikit atau bahkan tidak mendapat hujan, menurut data badan meteorologi Indonesia yang dikutip NASA.

Situasi ini diperkuat oleh El Niño yang menurut National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), badan kelautan dan atmosfer Amerika Serikat, mulai muncul dan menguat pada Agustus. Pada periode yang sama, fase positif Indian Ocean Dipole (IOD), yaitu pola perubahan suhu permukaan laut di Samudra Hindia yang dapat memengaruhi curah hujan Indonesia, turut membuat kondisi lebih kering.

Robert Field, peneliti Columbia University, mengatakan, "Indonesia baru sekitar tiga minggu memasuki musim kebakaran, tetapi aktivitas kebakaran meningkat tajam, mirip dengan 2015." Menurutnya, "El Niño yang kuat membuat musim kemarau semakin kering di wilayah rawan kebakaran dan memperparah pembakaran, persis seperti yang kami perkirakan."

Risiko itu mengingatkan pada 2015, ketika kebakaran berlangsung lebih dari tiga bulan dan melepaskan 1,75 miliar ton setara gas rumah kaca, lebih banyak daripada emisi Jepang dalam setahun. Hingga 2 September 2026, kebakaran tahun ini diperkirakan menghasilkan emisi sekitar 10 persen dari angka 2015.

Field memperingatkan, "Kebakaran permukaan tidak terlalu mengkhawatirkan, tetapi ketika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti." Menurutnya, api dapat terus membakar hingga hujan turun pada Oktober atau November.

Untuk mengikuti perkembangan kebakaran, pemerintah Indonesia menggunakan pemantauan hotspot berbasis satelit, termasuk data dari NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20.

Editor: Candra Mega Sari
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore