Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 12 Oktober 2026 | 03.44 WIB

6 Tanda Seseorang Tidak Tulus, Dia Lebih Tertarik pada Hartamu Menurut Psikologi

Ilustrasi pria yang mungkin tidak tulus dan lebih tertarik pada harta. (Freepik/karlyukav) - Image

Ilustrasi pria yang mungkin tidak tulus dan lebih tertarik pada harta. (Freepik/karlyukav)

JawaPos.com - Ketulusan dalam hubungan tidak selalu mudah untuk dikenali, terutama ketika seseorang pandai menunjukkan perhatian, memberikan pujian, atau bersikap romantis.

Pada awal hubungan, perilaku seseorang bisa terasa meyakinkan. Namun seiring waktu, kamu mungkin mulai menyadari bahwa perhatian yang diberikan lebih sering muncul ketika ada keuntungan yang bisa diperoleh, khususnya keuntungan finansial.

Seseorang yang tertarik pada hartamu belum tentu selalu meminta uang secara langsung. Ketertarikan itu juga dapat terlihat dari kebiasaannya mengharapkan kamu membayar berbagai kebutuhan, memanfaatkan rasa kasihan, atau menunjukkan perubahan sikap ketika kamu tidak lagi bisa memenuhi keinginannya.

Dalam hubungan yang sehat, dukungan finansial seharusnya dibicarakan secara terbuka dan tidak dijadikan alat untuk menekan salah satu pihak.

Ya, penting untuk memahami bahwa kondisi ekonomi seseorang tidak otomatis menentukan ketulusan atau karakter mereka.

Namun, hal yang perlu diperhatikan adalah pola perilaku, keseimbangan dalam hubungan, kejujuran, serta cara seseorang menghormati batasanmu.

Dilansir dari Your Tango, berikut enam tanda seseorang mungkin lebih tertarik pada hartamu daripada membangun hubungan yang tulus, ditinjau melalui pola perilaku dan dinamika psikologis dalam hubungan.

1. Dia Sering Meminta Uang, tetapi Jarang Menunjukkan Usaha untuk Mandiri

Salah satu tanda yang patut diperhatikan adalah ketika seseorang berulang kali meminta uang atau bantuan finansial, tetapi tidak menunjukkan upaya yang seimbang untuk mengatasi masalahnya sendiri. Pada awalnya, permintaan tersebut mungkin terdengar wajar karena setiap orang bisa menghadapi keadaan darurat, kehilangan pekerjaan, atau kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Namun, situasinya menjadi berbeda ketika permintaan terus berulang dan kamu perlahan-lahan merasa bertanggung jawab atas seluruh kebutuhan finansialnya.

Dalam perspektif psikologi hubungan, persoalan utamanya bukan semata-mata siapa yang memiliki lebih banyak uang, melainkan apakah bantuan diberikan secara sukarela atau muncul karena tekanan. Hubungan yang sehat memungkinkan kedua pihak saling mendukung tanpa menjadikan salah satunya sebagai sumber dana yang wajib selalu tersedia. Ketika bantuan finansial berubah menjadi tuntutan sepihak, keseimbangan hubungan dapat terganggu.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore