seseorang yang terdampak negatif dari ai / foto: Magnific/yanalya
Kita menggunakannya untuk mencari informasi, menulis, belajar, menerjemahkan bahasa, membuat ide, menyelesaikan pekerjaan, bahkan membicarakan masalah pribadi. Dalam banyak situasi, AI memang sangat membantu. Ia dapat menghemat waktu, memberikan alternatif pemikiran, dan membuat pekerjaan yang sebelumnya terasa rumit menjadi lebih mudah.
Namun, ada satu pertanyaan yang semakin penting:
Apa yang terjadi jika kita mulai terlalu bergantung pada AI?
Masalahnya bukan semata-mata berapa jam seseorang menggunakan AI dalam sehari. Yang lebih penting adalah bagaimana AI mengubah cara seseorang berpikir, mengambil keputusan, menghadapi ketidakpastian, berhubungan dengan orang lain, dan mempercayai dirinya sendiri.
Penelitian mengenai dampak psikologis AI masih berkembang. Karena itu, kita tidak bisa mengatakan bahwa penggunaan AI otomatis membuat seseorang menjadi malas, kehilangan kemampuan berpikir, atau mengalami masalah mental. Bukti ilmiahnya belum sesederhana itu.
Namun, sejumlah penelitian mulai menunjukkan adanya pola yang patut diperhatikan. Sebuah scoping review terbaru mengenai dampak buruk chatbot berbasis large language model menemukan perhatian khusus terhadap cognitive overreliance—ketergantungan berlebihan pada AI untuk tugas-tugas kognitif—serta ketergantungan emosional pada chatbot. Beberapa penelitian eksperimental juga menemukan penurunan performa pada tugas tertentu setelah penggunaan AI, meskipun bukti mengenai dampak jangka panjang terhadap kemampuan berpikir kritis masih belum konsisten.
Jadi, mungkin masalah sebenarnya bukan:
"Apakah AI berbahaya?"
Melainkan:
"Apakah cara saya menggunakan AI mulai mengambil alih kemampuan yang seharusnya tetap saya gunakan sendiri?"
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (10/10), jika kamu mulai merasakan tujuh tanda berikut, mungkin sudah waktunya mengevaluasi kembali hubunganmu dengan AI.
1. Kamu Mulai Merasa Tidak Bisa Berpikir Sebelum Bertanya kepada AI
Bayangkan sebuah situasi sederhana.
Kamu mendapatkan sebuah pertanyaan.
Dulu, mungkin kamu akan mencoba memikirkannya selama beberapa menit. Kamu mencari jawaban dari ingatan, menyusun kemungkinan, mempertimbangkan berbagai sudut pandang, lalu baru mencari informasi jika memang diperlukan.
Sekarang, respons pertamamu mungkin berbeda.
Buka AI.
Belum mencoba berpikir sendiri, kamu sudah mengetik:
"Menurut kamu, apa jawabannya?"
Atau:
"Tolong pikirkan ini untuk saya."
Sekilas, hal tersebut terasa efisien.
Dan memang demikian.
AI bisa menjadi alat untuk cognitive offloading, yaitu memindahkan sebagian beban mental dari pikiran kita ke sebuah alat eksternal.
Manusia sebenarnya sudah melakukan ini sejak lama.
Kita menggunakan kalkulator untuk menghitung, kalender untuk mengingat jadwal, GPS untuk menentukan arah, dan mesin pencari untuk menemukan informasi.
Masalah muncul ketika alat bantu berubah menjadi pengganti proses berpikir.
Jika setiap kali menghadapi masalah kamu langsung menyerahkan proses berpikir kepada AI, otak mendapatkan lebih sedikit kesempatan untuk melakukan pekerjaan tersebut sendiri.
Dalam psikologi kognitif, kemampuan tidak hanya terbentuk karena kita mengetahui jawaban. Kemampuan juga berkembang karena kita berlatih menghadapi proses menuju jawaban.
Ada perbedaan besar antara:
"Saya menggunakan AI untuk membantu berpikir."
dan
"Saya menggunakan AI agar saya tidak perlu berpikir."
Keduanya mungkin terlihat sama dari luar.
Tetapi secara psikologis, kebiasaan yang terbentuk bisa sangat berbeda.
Penelitian terhadap pekerja pengetahuan menemukan bahwa tingkat kepercayaan yang lebih tinggi terhadap AI berkaitan dengan lebih sedikit usaha yang dirasakan untuk melakukan critical thinking, sementara keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri berkaitan dengan keterlibatan berpikir kritis yang lebih besar.
Coba tanyakan kepada dirimu:
Ketika AI tidak tersedia, apakah saya masih tahu bagaimana memulai sebuah masalah?
Jika jawabannya mulai menjadi "tidak", mungkin AI sudah bergeser dari alat bantu menjadi semacam tongkat kognitif.
Dan seperti tongkat yang terlalu sering digunakan ketika sebenarnya seseorang masih mampu berjalan sendiri, bantuan yang berlebihan dapat mengurangi kesempatan untuk melatih kemampuan yang sebenarnya masih bisa dikembangkan.
2. Kamu Mulai Meragukan Jawabanmu Sendiri Sebelum Meragukan Jawaban AI
Ini mungkin salah satu tanda yang paling halus.
Kamu punya sebuah pendapat.
Kamu membaca sesuatu.
Kamu bahkan merasa yakin.
Kemudian kamu bertanya kepada AI.
AI memberikan jawaban yang berbeda.
Tiba-tiba kamu berpikir:
"Mungkin saya yang salah."
Padahal belum tentu.
AI memiliki kemampuan luar biasa dalam menghasilkan teks yang terdengar masuk akal. Jawabannya dapat tersusun rapi, percaya diri, dan meyakinkan.
Tetapi terdengar yakin tidak sama dengan benar.
Salah satu risiko psikologis yang muncul dalam penggunaan AI adalah kecenderungan manusia untuk memberikan kepercayaan berlebihan kepada sistem yang dianggap cerdas.
Penelitian mengenai atribusi mental terhadap large language model menunjukkan bahwa sebagian pengguna dapat memperlakukan AI seolah-olah sistem tersebut memiliki keadaan mental seperti manusia.
Ini penting karena manusia secara alami menggunakan berbagai isyarat sosial untuk menentukan apakah kita harus mempercayai seseorang.
Bahasa yang hangat.
Kalimat yang terstruktur.
Respons yang cepat.
Kemampuan mengingat konteks.
Kemampuan memberikan penjelasan panjang.
Semua itu dapat membuat sebuah sistem terasa lebih "mengerti" daripada yang sebenarnya.
Akibatnya, kita bisa mengalami pembalikan posisi:
Dulu kita menggunakan AI untuk memeriksa pikiran kita.
Sekarang kita menggunakan pikiran kita untuk memeriksa apakah kita sesuai dengan AI.
Jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus, rasa percaya terhadap kemampuan sendiri dapat ikut terpengaruh.
Kamu mungkin mulai berpikir:
"Saya harus memastikan dulu kepada AI sebelum mempercayai penilaian saya sendiri."
Padahal dalam banyak situasi, yang dibutuhkan bukan jawaban AI, melainkan kemampuanmu sendiri untuk menilai.
3. Kamu Kesulitan Mengambil Keputusan Tanpa Meminta Validasi AI
Ini lebih dalam daripada sekadar mencari informasi.
Misalnya kamu ingin mengirim pesan kepada seseorang.
Kamu sudah tahu apa yang ingin kamu katakan.
Tetapi sebelum mengirimnya, kamu bertanya:
"Apakah pesan ini terdengar terlalu kasar?"
Kemudian:
"Bagaimana kalau dia salah paham?"
Lalu:
"Menurut kamu, saya sebaiknya membalas atau tidak?"
Dan akhirnya:
"Kalau kamu berada di posisi saya, apa yang akan kamu lakukan?"
AI memberikan jawaban.
Kamu merasa lebih tenang.
Tetapi beberapa jam kemudian kamu kembali bertanya.
"Menurut kamu, saya benar-benar mengambil keputusan yang tepat?"
Di sinilah sesuatu yang menarik dapat terjadi.
AI awalnya digunakan untuk memperoleh perspektif.
Namun perlahan berubah menjadi sumber validasi.
Kamu tidak lagi sekadar bertanya:
"Apa pilihan saya?"
Tetapi:
"Apakah pilihan saya benar menurut AI?"
Dalam psikologi, manusia memang memiliki kebutuhan untuk mengurangi ketidakpastian. Ketika kita merasa tidak yakin, kita mencari informasi, nasihat, atau reassurance.
AI sangat mudah memenuhi kebutuhan tersebut karena tersedia hampir setiap saat.
Masalahnya, jika setiap ketidakpastian langsung dihilangkan melalui AI, kita mungkin kehilangan kesempatan untuk belajar bahwa:
ketidakpastian adalah sesuatu yang sebenarnya bisa kita toleransi.
Tidak semua keputusan memiliki jawaban yang sempurna.
Tidak semua pesan harus dianalisis.
Tidak semua hubungan membutuhkan interpretasi.
Dan tidak semua kesalahan harus dicegah.
Kadang-kadang, kemampuan psikologis yang penting justru adalah kemampuan untuk berkata:
"Saya tidak tahu. Tapi saya akan memutuskan berdasarkan pertimbangan saya sendiri."
4. Kamu Lebih Nyaman Curhat kepada AI Daripada kepada Manusia
Ini merupakan tanda yang semakin relevan di era chatbot.
AI tidak menghakimi.
Tidak terlihat bosan.
Tidak memotong pembicaraan.
Tidak menunjukkan ekspresi wajah yang membuat kita malu.
Dan yang paling penting:
AI selalu tersedia.
Ketika seseorang sedang kesepian atau kesulitan membuka diri kepada manusia, berbicara dengan chatbot bisa terasa jauh lebih mudah.
Dan penggunaan seperti ini tidak selalu buruk.
Bahkan American Psychological Association memperingatkan bahwa chatbot AI memang dapat memberikan dukungan tertentu, tetapi tidak seharusnya menggantikan tenaga profesional kesehatan mental atau hubungan manusia.
Masalah mulai muncul ketika AI menjadi satu-satunya tempat seseorang merasa aman untuk berbicara.
Bayangkan seseorang yang mulai berpikir:
"Saya tidak perlu menceritakan ini kepada teman saya. Saya bisa bicara dengan AI."
Lalu:
"Manusia terlalu rumit. AI lebih mengerti saya."
Kemudian:
"Saya lebih nyaman dengan AI daripada dengan orang lain."
Jika pola ini semakin kuat, ada risiko bahwa AI tidak lagi berfungsi sebagai alat tambahan, tetapi mulai menggantikan interaksi sosial yang sebenarnya.
APA juga memperingatkan tentang potensi hubungan yang tidak sehat dan ketergantungan emosional terhadap chatbot. Salah satu faktor yang berperan adalah anthropomorphism, yaitu kecenderungan manusia memberikan sifat-sifat manusia kepada sesuatu yang sebenarnya bukan manusia.
AI dapat terdengar empatik.
Tetapi terdengar empatik tidak berarti AI mengalami empati seperti manusia.
AI dapat mengatakan:
"Saya mengerti bagaimana perasaanmu."
Namun kita perlu mengingat bahwa kalimat tersebut dihasilkan oleh sistem AI, bukan pengalaman emosional manusia.
Perbedaan itu penting.
5. Kamu Mulai Kehilangan Kesabaran terhadap Proses yang Lambat
AI mengubah ekspektasi kita terhadap kecepatan.
Kita bertanya.
Dalam hitungan detik, muncul jawaban.
Kita meminta ide.
Muncul puluhan ide.
Kita ingin tulisan.
Muncul beberapa paragraf.
Kita ingin ringkasan.
Muncul versi singkat.
Lama-kelamaan, otak kita dapat terbiasa dengan pola:
masalah → pertanyaan → jawaban.
Padahal kehidupan nyata tidak bekerja seperti itu.
Belajar membutuhkan waktu.
Membaca membutuhkan waktu.
Membangun hubungan membutuhkan waktu.
Memahami seseorang membutuhkan waktu.
Menjadi ahli membutuhkan waktu.
Membentuk pendapat membutuhkan pengalaman.
Bahkan kreativitas sering kali membutuhkan periode ketika kita merasa bingung, bosan, atau belum tahu jawabannya.
Jika setiap kali menghadapi kebuntuan kita langsung meminta AI menyelesaikannya, kita mungkin kehilangan toleransi terhadap fase yang sebenarnya penting dalam proses belajar.
Kamu mungkin mulai merasa:
"Kenapa saya harus membaca semuanya kalau AI bisa merangkumnya?"
"Kenapa saya harus mencari ide sendiri kalau AI bisa memberikan 20 ide?"
"Kenapa saya harus menulis draf pertama kalau AI bisa membuatkannya?"
Efisiensi memang meningkat.
Tetapi pertanyaannya adalah:
Apa yang hilang dari proses tersebut?
Karena dalam banyak kasus, nilai dari sebuah aktivitas bukan hanya hasil akhirnya.
Nilainya juga ada pada proses mental yang terjadi selama kita mengerjakannya.
6. Kamu Mulai Menggunakan AI untuk Menghindari Perasaan Tidak Nyaman
Ini mungkin tanda yang paling psikologis.
Manusia sering menggunakan berbagai strategi untuk menghindari ketidaknyamanan.
Ketika cemas, kita mencari kepastian.
Ketika bingung, kita mencari jawaban.
Ketika takut salah, kita mencari validasi.
Ketika kesepian, kita mencari teman.
Ketika tidak percaya diri, kita meminta orang lain menilai.
AI dapat memenuhi hampir semua kebutuhan tersebut dengan sangat cepat.
Karena itu, seseorang bisa tanpa sadar menggunakan AI sebagai cara untuk mengatur emosi.
Sedang cemas?
Tanya AI.
Sedang sedih?
Curhat kepada AI.
Bingung?
Tanya AI.
Takut mengambil keputusan?
Minta AI memutuskan.
Merasa tidak cukup baik?
Minta AI meyakinkan.
Sekali lagi, menggunakan AI dalam kondisi seperti ini tidak otomatis bermasalah.
Yang perlu diperhatikan adalah pola ketergantungannya.
Jika setiap kali muncul emosi tidak nyaman kamu langsung berusaha menghilangkannya melalui AI, kamu mungkin semakin jarang belajar menghadapi emosi tersebut secara mandiri.
Padahal kemampuan mengelola emosi bukan berarti tidak pernah merasa cemas atau sedih.
Kemampuan regulasi emosi juga berarti:
mampu berada bersama perasaan yang tidak nyaman tanpa harus langsung melarikan diri darinya.
Ada perbedaan antara:
"Saya sedang cemas. Saya akan menggunakan AI untuk membantu memahami apa yang sedang terjadi."
dan:
"Saya tidak tahan merasa cemas. Saya harus bertanya kepada AI sampai saya mendapatkan jawaban yang membuat saya tenang."
Yang kedua berpotensi menjadi pola reassurance-seeking.
Dan reassurance yang terus-menerus justru dapat mempertahankan kebutuhan akan reassurance berikutnya.
7. Kamu Merasa AI Lebih Mengerti Dirimu Daripada Dirimu Sendiri
Ini adalah tanda yang paling perlu diperhatikan.
Kamu mulai mengatakan:
"AI benar-benar memahami saya."
Atau:
"AI tahu pola saya."
Atau bahkan:
"Saya tidak tahu harus bagaimana kalau tidak bertanya kepada AI."
Mengapa hal ini bisa terjadi?
Karena chatbot dapat memberikan respons yang sangat personal.
Ia bisa menggunakan informasi dari percakapan sebelumnya, menyesuaikan gaya bahasa, mengingat konteks tertentu, dan merespons dengan cara yang terasa relevan.
Pengalaman tersebut dapat menciptakan ilusi kedekatan.
Penelitian dan tinjauan terbaru memang menunjukkan bahwa hubungan emosional dan ketergantungan terhadap chatbot merupakan area yang perlu mendapat perhatian lebih serius.
Namun ada perbedaan fundamental:
AI mengenali pola dari informasi yang kamu berikan.
Manusia mengenalmu melalui hubungan, pengalaman bersama, observasi, dan kehidupan nyata.
AI dapat membantu kamu memikirkan dirimu.
Tetapi sebaiknya AI tidak menjadi satu-satunya cermin yang kamu gunakan untuk memahami siapa dirimu.
Karena jika seluruh penilaian tentang dirimu berasal dari satu sistem, perspektifmu dapat menjadi terlalu sempit.
Bahkan penelitian tentang interaksi manusia-AI menunjukkan bahwa umpan balik dari AI dapat memengaruhi penilaian emosional dan sosial manusia, dan dalam eksperimen tertentu interaksi tersebut bahkan dapat memperkuat bias.
Artinya, AI bukan hanya alat yang kita gunakan.
AI juga dapat menjadi lingkungan yang memengaruhi cara kita berpikir.
Jadi, Apakah Kamu Harus Berhenti Menggunakan AI?
Tidak.
Justru kesimpulan yang terlalu sederhana seperti itu juga tidak tepat.
AI memiliki banyak manfaat.
Dalam pendidikan, AI dapat membantu memberikan umpan balik dan mendukung proses belajar. Salah satu penelitian tahun 2025, misalnya, menemukan bahwa jenis umpan balik tertentu dari chatbot dapat meningkatkan aspek transfer belajar dan sensitivitas metakognitif pada mahasiswa.
Artinya, AI dapat digunakan dengan cara yang memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikannya.
Masalahnya bukan keberadaan AI.
Masalahnya adalah pola penggunaan.
Ada perbedaan besar antara:
AI sebagai alat
dan
AI sebagai pengganti kemampuan manusia.
Cara Menggunakan AI Tanpa Membiarkannya Mengambil Alih Pikiranmu
Ada beberapa kebiasaan sederhana yang dapat membantu.
1. Berpikir dulu sebelum bertanya
Sebelum membuka AI, berikan dirimu waktu beberapa menit untuk menjawab sendiri.
Tulis:
apa yang saya ketahui?
apa yang belum saya ketahui?
apa dugaan saya?
apa yang mungkin saya lewatkan?
Setelah itu, gunakan AI untuk menguji pemikiranmu.
Bukan menggantikannya.
2. Minta AI mengkritik pemikiranmu, bukan selalu memberikan jawaban
Daripada berkata:
"Berikan saya jawabannya."
cobalah:
"Ini cara saya berpikir. Apa kelemahannya?"
Atau:
"Apa asumsi yang mungkin salah dari argumen saya?"
Dengan begitu, AI dapat berfungsi sebagai partner evaluasi.
Kamu tetap menjadi orang yang berpikir.
3. Jangan menyerahkan keputusan pribadi sepenuhnya kepada AI
AI dapat membantu membuat daftar pertimbangan.
Tetapi keputusan mengenai hubungan, karier, keluarga, nilai hidup, dan pilihan pribadi tetap membutuhkan konteks manusia.
Tanyakan kepada AI:
"Apa yang mungkin belum saya pertimbangkan?"
bukan:
"Kamu yang putuskan untuk saya."
4. Pertahankan hubungan dengan manusia
Jika kamu menyadari bahwa kamu lebih sering berbicara dengan AI daripada manusia, berhenti sejenak.
Hubungi teman.
Berbicara dengan keluarga.
Bertemu seseorang.
Bergabung dengan komunitas.
Atau sekadar melakukan aktivitas bersama orang lain.
AI seharusnya memperluas kehidupan sosialmu, bukan secara perlahan menggantikannya.
5. Biasakan diri menghadapi kebuntuan
Tidak semua masalah harus diselesaikan dalam hitungan detik.
Kadang-kadang biarkan dirimu bingung.
Biarkan ide buruk muncul.
Biarkan tulisan pertama jelek.
Biarkan dirimu tidak tahu.
Karena kemampuan berpikir tidak hanya dibangun ketika kita menemukan jawaban.
Kemampuan berpikir juga dibangun ketika kita bertahan cukup lama di tengah ketidaktahuan untuk menemukan jawaban sendiri.
Pertanyaan yang Mungkin Lebih Penting daripada "Berapa Lama Saya Menggunakan AI?"
Banyak orang bertanya:
"Berapa jam sehari menggunakan AI yang masih aman?"
Padahal mungkin pertanyaan yang lebih berguna adalah:
"Apa yang saya lakukan sebelum menggunakan AI?"
"Apa yang saya lakukan setelah mendapatkan jawaban AI?"
"Apakah saya masih memeriksa jawabannya?"
"Apakah saya masih bisa berpikir tanpa AI?"
"Apakah saya masih nyaman mengambil keputusan sendiri?"
"Apakah saya masih mencari manusia ketika membutuhkan hubungan emosional?"
"Apakah AI memperluas kemampuan saya atau menggantikannya?"
Pertanyaan-pertanyaan ini jauh lebih informatif daripada sekadar menghitung jumlah jam.
Seseorang bisa menggunakan AI selama beberapa jam setiap hari dan tetap menggunakannya secara sehat sebagai alat produktivitas.
Sebaliknya, seseorang mungkin hanya menggunakan AI selama 30 menit sehari tetapi sudah menjadikannya sumber validasi utama dalam setiap keputusan pribadi.
Jadi yang penting bukan hanya frekuensi.
Melainkan fungsi AI dalam hidupmu.
AI Seharusnya Membuatmu Lebih Mampu, Bukan Lebih Tidak Berdaya
Teknologi terbaik bukan teknologi yang membuat manusia tidak perlu melakukan apa-apa.
Teknologi terbaik adalah teknologi yang memungkinkan manusia melakukan lebih banyak hal dengan kemampuan yang tetap berkembang.
Bayangkan dua orang menggunakan AI.
Orang pertama berkata:
"AI, kerjakan semuanya."
Orang kedua berkata:
"Ini pemikiran saya. Bantu saya menemukan kelemahannya."
Orang pertama secara perlahan menyerahkan proses.
Orang kedua menggunakan AI untuk memperkuat proses.
Keduanya sama-sama menggunakan teknologi.
Tetapi hubungan psikologis mereka dengan teknologi tersebut berbeda.
Dan mungkin di situlah inti persoalannya.
AI tidak harus menjadi musuh manusia.
Namun kita juga tidak boleh begitu kagum terhadap kecerdasannya sampai lupa mempertahankan kecerdasan kita sendiri.
Penutup: Jangan Sampai Kemudahan Membuatmu Kehilangan Kemampuan
Jika kamu merasakan tujuh tanda tadi, jangan langsung panik.
Itu bukan berarti kamu "rusak" karena AI.
Itu juga bukan berarti kemampuan berpikirmu sudah hilang.
Tanda-tanda tersebut lebih baik dipandang sebagai sinyal untuk mengevaluasi kebiasaan.
Tanyakan kepada dirimu:
Apakah saya menggunakan AI karena memang membantu?
Atau:
Apakah saya menggunakan AI karena saya sudah tidak nyaman berpikir, memutuskan, menunggu, atau menghadapi sesuatu sendirian?
Perbedaannya sangat penting.
Riset mengenai AI dan psikologi masih berkembang cepat. Bukti yang ada menunjukkan potensi manfaat sekaligus risiko, dan beberapa temuan mengenai kemampuan berpikir kritis masih belum konsisten. Karena itu, kita sebaiknya menghindari klaim ekstrem bahwa AI pasti merusak otak atau bahwa AI pasti aman bagi semua orang.
Namun satu prinsip tampaknya cukup masuk akal:
Jangan biarkan alat yang dirancang untuk membantu pikiran berubah menjadi pengganti pikiran itu sendiri.
Gunakan AI untuk belajar.
Gunakan AI untuk mendapatkan perspektif.
Gunakan AI untuk menemukan kemungkinan yang belum terpikirkan.
Gunakan AI untuk menguji argumenmu.
Tetapi tetap sisakan ruang untuk melakukan sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya didelegasikan:
berpikir sendiri, merasakan sendiri, memutuskan sendiri, berhubungan dengan manusia lain, dan belajar dari kesalahanmu sendiri.
Karena pada akhirnya, tujuan teknologi bukan membuat kita semakin bergantung padanya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Malaga vs Espanyol: Los Periquitos Bidik Poin, Tuan Rumah Terpuruk
Prediksi Skor Arema FC vs Bhayangkara FC: Berpeluang Imbang di Kanjuruhan
Prediksi Skor Persipura vs RANS Nusantara: Produktivitas Gol Jadi Pembeda
Prediksi Skor Isenmulang Kalteng vs Persebaya di Super League, Green Force Berpeluang Curi Tiga Poin
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Susunan Pemain Persik vs Madura United: Reina Siapkan Strategi Terbaik
Prediksi Skor Persik Kediri vs Madura United: Laskar Sape Kerap Punya Kans Menang di Brawijaya!
Suahasil Buka Suara soal Pembagian Tugas Tiga Wamenkeu, Ini Fokusnya!
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Emil Audero Incar Poin di Kandang
Adhyaksa FC Bekasi Vs PSGC Ciamis: Misi Bangkit Tuan Rumah

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022