Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 10 Oktober 2026 | 04.29 WIB

6 Alasan Tak Terduga Orang Lebih Suka Membaca Buku Fiksi daripada Nonfiksi Menurut Psikologi

seseorang yang membaca buku fiksi. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Ada orang yang merasa membaca buku nonfiksi adalah cara terbaik untuk menghabiskan waktu. Mereka menikmati buku tentang sejarah, bisnis, psikologi, sains, pengembangan diri, atau biografi karena merasa selalu mendapatkan sesuatu yang bisa dipelajari.


Namun, ada juga orang yang justru jauh lebih tertarik pada buku fiksi.

Novel, cerita pendek, fantasi, misteri, drama, hingga kisah romantis terasa lebih menarik bagi mereka. Bahkan ketika sedang memiliki banyak hal yang harus dipelajari, mereka tetap memilih membuka novel daripada buku yang dianggap "lebih berguna".

Sekilas, pilihan ini mungkin terlihat sederhana. Seseorang menyukai cerita, sementara orang lain menyukai fakta.

Tetapi dari sudut pandang psikologi, preferensi terhadap fiksi ternyata bisa berkaitan dengan kebutuhan emosional, cara seseorang memproses pengalaman, keinginan untuk memahami manusia, hingga cara otak mencari stimulasi.

Menariknya, orang yang lebih suka membaca fiksi tidak selalu berarti malas belajar atau tidak menyukai informasi.

Justru sebaliknya, mereka mungkin sedang mencari jenis pembelajaran yang berbeda.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (9/10), terdapat enam alasan yang cukup menarik dan mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

1. Fiksi Memberikan "Tempat Aman" untuk Memahami Emosi

Salah satu alasan seseorang menyukai fiksi adalah karena cerita memberikan ruang yang relatif aman untuk berhadapan dengan emosi yang kompleks.

Dalam kehidupan nyata, menghadapi kesedihan, kehilangan, konflik, pengkhianatan, kecemasan, atau rasa cinta yang rumit bisa terasa melelahkan.

Namun ketika emosi tersebut muncul melalui tokoh dalam sebuah novel, pembaca dapat mengamatinya dari jarak tertentu.

Ia bisa menyaksikan seseorang kehilangan orang yang dicintai tanpa harus mengalami kehilangan tersebut secara langsung.

Ia bisa mengikuti karakter yang sedang menghadapi kegagalan tanpa harus mempertaruhkan kehidupannya sendiri.

Ia bisa memahami rasa takut, kemarahan, kecemburuan, atau kesepian melalui pengalaman tokoh lain.

Inilah salah satu kekuatan psikologis cerita.

Fiksi memungkinkan seseorang menjelajahi pengalaman manusia tanpa harus selalu menjadi pelaku utama di dalamnya.

Misalnya, seseorang yang sedang mengalami masa sulit mungkin membaca novel tentang karakter yang juga sedang kehilangan arah hidup. Tanpa sadar, pembaca bisa menemukan kata-kata untuk menggambarkan perasaannya sendiri.

"Sepertinya aku juga merasakan hal yang sama."

Kalimat semacam itu bisa menjadi pengalaman yang sangat melegakan.

Bukan karena novel memberikan solusi langsung, melainkan karena pembaca merasa dipahami.

Dalam psikologi, pengalaman merasa dipahami memiliki nilai emosional yang besar. Terkadang manusia tidak membutuhkan nasihat terlebih dahulu. Mereka hanya membutuhkan pengalaman bahwa apa yang mereka rasakan ternyata juga pernah dirasakan manusia lain.

Karena itu, bagi sebagian orang, membaca fiksi bukan sekadar hiburan.

Fiksi dapat menjadi semacam ruang untuk mengenali dan memproses emosi.

2. Mereka Mungkin Lebih Tertarik pada Manusia daripada Informasi

Ini alasan yang sering tidak disadari.

Sebagian orang sebenarnya bukan tidak suka belajar.

Mereka hanya lebih tertarik pada manusia yang berada di balik sebuah informasi.

Buku nonfiksi sering menyajikan fakta, konsep, teori, data, atau penjelasan.

Sementara fiksi menghadirkan manusia dengan segala kontradiksinya.

Ada tokoh yang baik tetapi melakukan kesalahan.

Ada tokoh yang terlihat kuat tetapi sebenarnya rapuh.

Ada orang yang mencintai seseorang tetapi tidak mampu mengatakannya.

Ada karakter yang membuat keputusan buruk meskipun mengetahui konsekuensinya.

Bagi pembaca tertentu, kompleksitas seperti ini jauh lebih menarik daripada sekumpulan fakta.

Mereka ingin tahu:

Mengapa seseorang bertindak seperti itu?

Apa yang sebenarnya dipikirkan tokoh tersebut?

Mengapa seseorang bisa mencintai sekaligus menyakiti?

Mengapa seseorang yang terlihat percaya diri ternyata sangat takut ditolak?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini berhubungan dengan rasa ingin memahami pikiran dan perilaku manusia.

Itulah sebabnya seseorang yang sangat menyukai novel belum tentu kurang intelektual dibandingkan seseorang yang menyukai buku nonfiksi.

Bisa jadi objek keingintahuannya memang berbeda.

Orang pertama tertarik pada sistem, fakta, dan konsep.

Orang kedua tertarik pada manusia, hubungan, emosi, dan kemungkinan kehidupan.

Keduanya sama-sama menunjukkan rasa ingin tahu, hanya melalui jalur yang berbeda.

3. Fiksi Membebaskan Otak dari Tekanan untuk "Harus Produktif"

Ada fenomena yang cukup umum dalam kehidupan modern: bahkan waktu istirahat pun sering dianggap harus menghasilkan sesuatu.

Membaca buku pengembangan diri dianggap produktif.

Membaca buku bisnis dianggap produktif.

Membaca buku tentang investasi dianggap produktif.

Mempelajari keterampilan baru dianggap produktif.

Namun membaca novel?

Sebagian orang bahkan merasa perlu membenarkan aktivitas tersebut.

"Kan cuma baca cerita."

Padahal, kebutuhan manusia tidak hanya berkaitan dengan produktivitas.

Manusia juga membutuhkan aktivitas yang memberikan pemulihan psikologis.

Setelah menjalani hari yang penuh tuntutan, membaca buku nonfiksi terkadang terasa seperti melanjutkan pekerjaan dalam bentuk lain.

Ada konsep baru yang harus dipahami.

Ada informasi yang harus diingat.

Ada gagasan yang harus diterapkan.

Ada target yang mungkin ingin dicapai setelah membaca.

Novel sering memberikan pengalaman yang berbeda.

Pembaca tidak selalu dituntut untuk menghasilkan sesuatu.

Ia cukup mengikuti cerita.

Satu halaman membawa ke halaman berikutnya.

Tidak perlu mencatat.

Tidak harus membuat rangkuman.

Tidak perlu langsung menerapkan apa yang dibaca.

Cukup berada di dalam cerita.

Bagi sebagian orang, inilah bentuk istirahat mental yang mereka butuhkan.

Menariknya, kemampuan untuk melakukan aktivitas tanpa terus-menerus menuntut hasil juga dapat menjadi bagian penting dari keseimbangan psikologis.

Karena itu, seseorang mungkin memilih novel setelah hari yang panjang bukan karena ia tidak peduli terhadap perkembangan dirinya.

Justru mungkin karena dirinya sedang membutuhkan istirahat dari tuntutan untuk terus berkembang.

4. Mereka Menikmati Pengalaman "Masuk ke Dunia Lain"

Pernahkah Anda membaca sebuah novel sampai lupa waktu?

Awalnya hanya ingin membaca beberapa halaman.

Tiba-tiba satu jam berlalu.

Anda masih duduk di tempat yang sama, tetapi pikiran terasa seperti berada di tempat lain.

Inilah salah satu pengalaman yang sering disebut sebagai transportation dalam psikologi narasi, yaitu keadaan ketika perhatian seseorang begitu terserap oleh cerita sehingga secara mental ia merasa "masuk" ke dalam dunia yang diceritakan.

Fiksi memiliki kemampuan yang sangat kuat untuk menciptakan pengalaman semacam ini.

Pembaca dapat berada di kota yang belum pernah dikunjungi.

Mengikuti kehidupan seseorang yang tidak pernah benar-benar ada.

Mengalami dunia masa depan.

Berjalan bersama tokoh di zaman sejarah.

Atau bahkan memasuki dunia yang sepenuhnya mustahil.

Dan justru di situlah daya tariknya.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia berhadapan dengan batasan.

Ada pekerjaan.

Ada kewajiban.

Ada aturan sosial.

Ada keterbatasan waktu.

Ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan mudah.

Fiksi menawarkan kemungkinan.

Di dalam cerita, seseorang dapat membayangkan kehidupan yang sangat berbeda dari kehidupannya sekarang.

Hal ini bukan berarti ia ingin melarikan diri dari kenyataan.

Sering kali, manusia memang membutuhkan kesempatan untuk membayangkan kemungkinan lain.

Kita membayangkan "bagaimana jika?"

Bagaimana jika saya hidup di zaman lain?

Bagaimana jika saya memilih jalan yang berbeda?

Bagaimana jika dunia bekerja dengan aturan yang berbeda?

Bagaimana jika saya memiliki keberanian seperti tokoh tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini dapat memperluas imajinasi.

Jadi, ketika seseorang terlihat "terlalu suka" membaca novel, mungkin sebenarnya ia sedang menikmati salah satu kemampuan paling khas manusia: kemampuan untuk membayangkan kehidupan yang berbeda dari kehidupan yang sedang dijalani.

5. Fiksi Memberikan Pengalaman Sosial Tanpa Risiko Sosial yang Besar

Manusia adalah makhluk sosial.

Namun interaksi sosial tidak selalu mudah.

Berbicara dengan orang lain membutuhkan energi.

Membangun hubungan membutuhkan keberanian.

Menghadapi konflik bisa melelahkan.

Bahkan memahami perasaan seseorang secara langsung kadang-kadang membutuhkan usaha mental yang besar.

Fiksi memberikan cara alternatif untuk mengalami hubungan antarmanusia.

Pembaca dapat mengamati persahabatan, keluarga, percintaan, konflik, pengkhianatan, rekonsiliasi, dan kehilangan tanpa harus secara langsung terlibat di dalamnya.

Ia dapat mempelajari bagaimana karakter berkomunikasi.

Ia dapat melihat akibat dari sebuah keputusan.

Ia dapat memahami perspektif seseorang yang berbeda dari dirinya.

Misalnya, sebuah novel mungkin menceritakan seorang tokoh yang sulit mempercayai orang lain karena pengalaman masa lalu.

Pembaca mungkin tidak pernah mengalami situasi yang sama.

Tetapi dengan mengikuti perjalanan tokoh tersebut, ia mendapatkan kesempatan untuk memahami bagaimana pengalaman tertentu dapat memengaruhi perilaku seseorang.

Dalam konteks tertentu, cerita dapat menjadi semacam simulasi sosial.

Pembaca menyaksikan berbagai kemungkinan tindakan dan konsekuensinya.

Ia belajar bahwa manusia jarang sesederhana "baik" atau "jahat".

Seseorang bisa melakukan sesuatu yang buruk karena ketakutan.

Seseorang bisa bersikap kasar karena sedang terluka.

Seseorang bisa mencintai tetapi tetap membuat keputusan yang salah.

Kehidupan manusia memang penuh kontradiksi.

Dan fiksi memungkinkan kita mempelajari kontradiksi tersebut dengan cara yang relatif aman.

6. Mereka Tidak Hanya Membaca Cerita—Mereka Sedang Mencari Makna

Ini mungkin alasan yang paling dalam.

Pada akhirnya, banyak cerita yang menarik bukan karena peristiwa yang terjadi, tetapi karena pertanyaan yang ditinggalkannya.

Apa arti kehilangan?

Apakah seseorang bisa berubah?

Apa yang membuat seseorang menjadi dirinya sendiri?

Apakah cinta selalu berarti memiliki?

Apakah manusia benar-benar bebas menentukan pilihannya?

Apakah seseorang dapat menebus kesalahan masa lalu?

Pertanyaan seperti ini tidak selalu memiliki jawaban sederhana.

Dan justru karena itulah fiksi bisa terasa begitu kuat.

Buku nonfiksi biasanya berusaha menjelaskan bagaimana sesuatu bekerja.

Fiksi sering kali mengajak kita mengalami sebuah pertanyaan.

Perbedaannya sangat halus tetapi penting.

Nonfiksi mungkin menjelaskan konsep tentang kesepian.

Novel bisa membuat kita merasakan kesepian melalui kehidupan seorang karakter.

Nonfiksi dapat membahas tentang kehilangan.

Novel dapat membuat kita mengikuti seseorang yang hidupnya berubah setelah kehilangan orang yang dicintainya.

Nonfiksi dapat menjelaskan konflik manusia.

Fiksi memungkinkan kita melihat konflik tersebut dari sudut pandang orang-orang yang terlibat.

Dengan kata lain, fiksi tidak selalu memberikan jawaban.

Kadang-kadang ia justru memberikan pertanyaan yang lebih baik.

Dan bagi sebagian orang, proses mencari pertanyaan tersebut jauh lebih menarik daripada mendapatkan jawaban yang sudah tersedia.

Jadi, Apakah Orang yang Suka Fiksi Lebih Imajinatif?

Belum tentu.

Ini penting untuk digarisbawahi.

Preferensi membaca tidak dapat digunakan sebagai alat sederhana untuk menentukan apakah seseorang lebih cerdas, lebih kreatif, lebih emosional, atau lebih introvert.

Seseorang bisa sangat menyukai fiksi sekaligus menikmati buku nonfiksi.

Seseorang juga bisa membaca novel hanya karena ingin bersantai.

Ada pula orang yang memilih fiksi karena menyukai bahasa, karakter, plot, humor, atau sekadar ingin menikmati cerita.

Jadi, tidak perlu memberikan label psikologis yang terlalu besar hanya berdasarkan genre buku favorit seseorang.

Namun, secara umum, preferensi terhadap fiksi dapat memberi gambaran tentang jenis pengalaman mental yang sedang dicari seseorang.

Mungkin ia ingin memahami manusia.

Mungkin ia ingin merasakan emosi tertentu.

Mungkin ia membutuhkan pelarian sementara dari tekanan kehidupan.

Mungkin ia menikmati imajinasi.

Atau mungkin ia hanya menemukan kebahagiaan sederhana ketika sebuah cerita berhasil membuatnya lupa waktu.

Fiksi Bukan Lawan dari Pengetahuan

Ada anggapan bahwa membaca nonfiksi lebih "berguna" daripada membaca fiksi.

Padahal, keduanya menawarkan bentuk pengalaman yang berbeda.

Nonfiksi dapat membantu kita memahami dunia melalui informasi, konsep, bukti, dan penjelasan.

Fiksi dapat membantu kita memahami manusia melalui pengalaman, perspektif, emosi, konflik, dan imajinasi.

Keduanya memiliki nilai.

Bahkan seseorang tidak harus memilih salah satu.

Kita bisa membaca buku tentang psikologi pada pagi hari dan novel pada malam hari.

Kita bisa mempelajari sejarah dari buku nonfiksi, lalu memahami sisi manusia dari sejarah tersebut melalui novel.

Kita bisa belajar tentang hubungan manusia secara teoritis, lalu melihat bagaimana konsep tersebut muncul dalam kehidupan karakter fiksi.

Pada akhirnya, membaca bukan hanya tentang seberapa banyak informasi yang berhasil kita kumpulkan.

Membaca juga tentang apa yang terjadi pada diri kita selama membaca.

Ada buku yang membuat kita lebih tahu.

Ada buku yang membuat kita lebih tenang.

Ada buku yang membuat kita mempertanyakan sesuatu.

Ada buku yang membuat kita memahami orang lain.

Dan ada buku yang membuat kita merasa tidak sendirian.

Mungkin itulah sebabnya sebagian orang selalu kembali kepada fiksi.

Bukan karena mereka ingin menghindari kenyataan.

Melainkan karena terkadang, melalui cerita yang tidak nyata, mereka justru menemukan cara yang lebih dalam untuk memahami kenyataan.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore