Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 9 Oktober 2026 | 23.33 WIB

6 Alasan Mengapa Sebuah Hobi Tidak Memerlukan Misi agar Bermakna Menurut Psikologi

seseorang yang bahagia dengan hobinya. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Di zaman ketika hampir segala sesuatu harus memiliki tujuan, hobi pun sering diperlakukan seperti sebuah proyek.


Membaca harus membuat kita lebih pintar.
Berlari harus membuat tubuh lebih sehat.
Memotret harus menghasilkan portofolio.
Bermain musik harus berkembang menjadi kemampuan yang bisa dipertontonkan.
Memasak harus menghasilkan konten.
Bahkan kegiatan sederhana seperti merawat tanaman kadang dianggap belum cukup berarti jika tidak menghasilkan sesuatu.

Tanpa disadari, kita membawa logika produktivitas ke dalam hampir seluruh bagian kehidupan.

Kita bertanya, “Apa manfaatnya?”
“Apa tujuan akhirnya?”
“Kamu ingin menjadi apa dari hobi itu?”
“Kalau tidak menghasilkan uang, buat apa dilakukan?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut terdengar masuk akal. Namun dari sudut pandang psikologi, ada sesuatu yang perlu kita pertanyakan kembali: apakah segala sesuatu yang bermakna memang harus memiliki misi?

Jawabannya tidak selalu.

Sebuah hobi tidak harus membawa kita menuju pencapaian tertentu agar memiliki arti. Ia bisa bermakna justru karena memberikan pengalaman yang berharga pada saat kita menjalaninya.

Dalam psikologi, pengalaman manusia tidak selalu dinilai berdasarkan hasil akhirnya. Ada aktivitas yang bernilai karena membantu kita merasa hidup, hadir, bebas, terhubung, dan menjadi diri sendiri.

Dilansir dari Psychology Today pada JUmat (9/10), terdapat enam alasan mengapa sebuah hobi tidak memerlukan misi agar bermakna.

1. Karena manusia membutuhkan aktivitas yang dilakukan demi aktivitas itu sendiri

Tidak semua aktivitas manusia harus bersifat instrumental.

Ada aktivitas yang dilakukan karena kita menginginkan hasil tertentu. Kita bekerja untuk mendapatkan penghasilan. Kita belajar untuk memahami sesuatu. Kita berolahraga untuk menjaga kesehatan.

Namun ada pula aktivitas yang dilakukan karena prosesnya sendiri terasa menyenangkan.

Inilah salah satu karakteristik penting dari hobi.

Seseorang mungkin memainkan gitar selama satu jam tanpa ingin menjadi musisi. Seseorang mungkin melukis tanpa berniat menjual lukisannya. Seseorang mungkin membaca novel tanpa ingin mendapatkan sertifikat, gelar, atau pengetahuan yang bisa dimasukkan ke dalam CV.

Dan itu tidak membuat aktivitas tersebut sia-sia.

Dalam psikologi motivasi, aktivitas yang dilakukan karena ketertarikan dan kepuasan internal berkaitan dengan konsep motivasi intrinsik. Kita melakukan sesuatu bukan terutama karena hadiah eksternal, melainkan karena kegiatan tersebut memberikan pengalaman yang menyenangkan atau memuaskan.

Justru di sinilah sebuah hobi dapat memiliki nilai yang sangat besar.

Bayangkan seseorang yang setiap akhir pekan pergi memancing. Ia tidak menjual ikan. Ia tidak mengikuti kompetisi. Ia bahkan tidak memiliki target untuk menjadi pemancing profesional.

Ketika ditanya, “Apa tujuan akhirnya?”

Ia mungkin hanya menjawab:

“Tidak ada. Saya menikmatinya.”

Jawaban tersebut sering dianggap kurang ambisius.

Padahal secara psikologis, menikmati sesuatu adalah pengalaman manusia yang sah.

Tidak semua aktivitas harus menjadi kendaraan menuju tempat lain. Beberapa aktivitas memang layak dijalani sebagai tempat untuk berhenti sejenak.

Maka, ketika sebuah hobi tidak memiliki misi besar, bukan berarti hobi itu tidak memiliki nilai.

Nilainya mungkin terletak pada pengalaman yang terjadi ketika kita melakukannya.

2. Karena hobi dapat memenuhi kebutuhan psikologis tanpa harus menghasilkan pencapaian

Salah satu cara memahami mengapa hobi penting adalah melihatnya dari kebutuhan psikologis dasar manusia.

Teori Self-Determination Theory yang dikembangkan oleh Edward Deci dan Richard Ryan menekankan tiga kebutuhan psikologis penting: autonomy, competence, dan relatedness.

Autonomy berkaitan dengan perasaan bahwa kita memiliki pilihan dan kendali atas tindakan kita.

Competence berkaitan dengan perasaan bahwa kita mampu melakukan sesuatu dan mengalami perkembangan.

Relatedness berkaitan dengan kebutuhan untuk merasa terhubung dengan orang lain.

Menariknya, sebuah hobi dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut tanpa harus memiliki misi besar.

Misalnya, seseorang suka menggambar.

Ia memilih sendiri apa yang ingin digambar. Tidak ada atasan yang menentukan. Tidak ada target perusahaan. Tidak ada kewajiban untuk menghasilkan karya tertentu.

Di situ terdapat autonomy.

Kemudian, setelah beberapa bulan, ia menyadari bahwa garisnya semakin baik, perspektifnya semakin akurat, atau ia mulai memahami warna.

Di situ terdapat competence.

Jika ia menggambar bersama komunitas atau berbagi karya dengan teman-temannya, ia juga bisa memperoleh relatedness.

Semua itu bisa terjadi meskipun ia tidak pernah bercita-cita menjadi seniman profesional.

Ini penting karena kehidupan sehari-hari sering kali sudah dipenuhi tuntutan eksternal.

Kita harus bekerja.
Kita harus memenuhi tenggat waktu.
Kita harus menjawab pesan.
Kita harus memenuhi ekspektasi keluarga.
Kita harus mencapai target tertentu.

Hobi memberikan ruang yang berbeda.

Di sana kita bisa berkata:

“Saya melakukan ini karena saya memilihnya.”

Dan pengalaman memiliki pilihan itu sendiri dapat menjadi sesuatu yang sangat menyehatkan secara psikologis.

3. Karena tidak semua makna harus berbentuk “tujuan hidup”

Kita sering menyamakan makna dengan misi.

Seolah-olah sesuatu baru bermakna jika memiliki tujuan besar.

Misalnya:

“Fotografi saya bermakna karena saya ingin mengubah dunia.”

“Menulis saya bermakna karena saya ingin menginspirasi banyak orang.”

“Bersepeda saya bermakna karena saya ingin menjadi atlet.”

Tujuan-tujuan tersebut tentu sah.

Namun psikologi eksistensial menunjukkan bahwa makna dalam kehidupan manusia dapat muncul melalui berbagai bentuk. Makna tidak selalu harus berupa proyek besar atau misi yang ingin dicapai di masa depan.

Makna juga dapat muncul dari pengalaman yang kita jalani saat ini.

Secangkir kopi bersama teman dapat bermakna meskipun tidak menghasilkan pencapaian apa pun.

Mendengarkan musik favorit setelah hari yang panjang dapat bermakna meskipun tidak membuat kita menjadi orang yang lebih produktif.

Berjalan kaki sambil memperhatikan pepohonan dapat bermakna meskipun tidak membawa kita menuju sebuah tujuan besar.

Begitu pula dengan hobi.

Seorang yang suka berkebun mungkin tidak sedang berusaha menjadi petani.

Ia hanya menikmati melihat sesuatu tumbuh.

Seorang yang suka memasak mungkin tidak ingin membuka restoran.

Ia hanya menikmati proses memotong bahan, mencoba resep, dan mencicipi hasilnya.

Seorang yang suka membaca novel mungkin tidak sedang berusaha meningkatkan kecerdasannya.

Ia hanya ingin masuk ke dunia cerita selama beberapa jam.

Semua pengalaman tersebut tetap bisa memiliki makna.

Dengan kata lain:

Makna tidak selalu berada di garis finish. Kadang-kadang makna justru berada di sepanjang perjalanan.

4. Karena hobi memberi ruang untuk menjadi diri sendiri tanpa tuntutan performa

Salah satu masalah dalam kehidupan modern adalah kita terlalu sering menilai diri berdasarkan performa.

Berapa banyak yang kita hasilkan?

Seberapa cepat kita berkembang?

Berapa banyak uang yang kita dapatkan?

Seberapa tinggi pencapaian kita?

Berapa banyak orang yang mengakui kemampuan kita?

Pertanyaan seperti itu memang memiliki tempat dalam pekerjaan dan kehidupan profesional. Tetapi jika dibawa ke semua area kehidupan, kita dapat kehilangan kemampuan untuk melakukan sesuatu hanya karena kita menyukainya.

Hobi dapat menjadi ruang untuk melepaskan diri dari tuntutan tersebut.

Bayangkan seseorang yang bekerja sepanjang hari dalam lingkungan yang sangat kompetitif.

Di kantor, setiap keputusan dinilai.

Setiap pekerjaan memiliki target.

Setiap hasil dibandingkan.

Kemudian pada malam hari ia memainkan piano sendirian.

Ia memainkan lagu yang sama berkali-kali.

Tidak ada penonton.

Tidak ada penilaian.

Tidak ada target.

Tidak ada orang yang mengatakan apakah permainannya cukup bagus.

Dalam beberapa hal, justru di situlah kebebasannya.

Ia tidak perlu menjadi “versi terbaik” dirinya.

Ia hanya perlu hadir.

Psikologisnya tidak sedang bekerja untuk membuktikan sesuatu.

Ia sedang menikmati sesuatu.

Dan pengalaman seperti ini dapat membantu menciptakan keseimbangan antara diri yang berfungsi dan diri yang mengalami.

Kita bukan hanya manusia yang bekerja.

Kita juga manusia yang merasakan, menikmati, penasaran, bermain, dan beristirahat.

Sebuah hobi yang tidak memiliki misi dapat mengingatkan kita pada bagian diri tersebut.

5. Karena memaksa hobi memiliki tujuan dapat menghilangkan kesenangan dari hobi itu sendiri

Ada ironi yang menarik dalam kehidupan modern.

Kita ingin memiliki lebih banyak hal yang kita sukai.

Namun ketika menemukan sesuatu yang kita sukai, kita segera mengubahnya menjadi proyek.

Suka menulis?

“Kenapa tidak bikin buku?”

Suka memasak?

“Kenapa tidak buka bisnis?”

Suka olahraga?

“Kenapa tidak ikut kompetisi?”

Suka fotografi?

“Kenapa tidak jadi fotografer profesional?”

Suka membaca?

“Kenapa tidak membuat konten tentang buku?”

Pada awalnya, saran tersebut mungkin terdengar positif.

Namun ada kemungkinan bahwa sesuatu yang awalnya dilakukan karena menyenangkan menjadi terasa seperti kewajiban.

Ini dapat terjadi ketika motivasi intrinsik perlahan digantikan oleh tekanan eksternal.

Bayangkan seseorang yang awalnya senang menggambar.

Ia menggambar karena penasaran.

Kemudian ia mulai mengunggah semua gambarnya ke media sosial.

Setelah beberapa waktu, ia mulai memperhatikan jumlah likes.

Ia mulai membandingkan dirinya dengan ilustrator lain.

Ia mulai berpikir tentang algoritma.

Ia mulai merasa harus mengunggah secara rutin.

Kemudian muncul sponsor.

Ia harus memenuhi permintaan klien.

Pada titik tertentu, aktivitas yang awalnya memberikan kebebasan mulai terasa seperti pekerjaan.

Tentu saja tidak semua orang akan mengalami hal tersebut. Hobi bisa berkembang menjadi profesi dan tetap menyenangkan.

Masalahnya bukan pada menghasilkan uang atau memiliki tujuan.

Masalahnya adalah ketika tujuan tersebut menghilangkan alasan awal mengapa kita mencintai aktivitas itu.

Karena itu, ada nilai dalam mempertahankan beberapa aktivitas tetap kecil, pribadi, dan bebas dari tuntutan pencapaian.

Tidak semua hal yang kita cintai harus dimonetisasi.

Tidak semua kemampuan harus dipamerkan.

Tidak semua kesenangan harus diubah menjadi prestasi.

6. Karena hidup yang bermakna tidak selalu sama dengan hidup yang produktif

Mungkin ini alasan yang paling penting.

Kita hidup dalam budaya yang sering menghubungkan nilai diri dengan produktivitas.

Hari yang produktif dianggap sebagai hari yang baik.

Hari yang tidak menghasilkan sesuatu dianggap kurang bernilai.

Akibatnya, kita mulai bertanya kepada hampir semua kegiatan:

“Ini berguna untuk apa?”

Namun kehidupan manusia lebih luas daripada produktivitas.

Jika nilai sebuah aktivitas hanya diukur dari hasil ekonominya, maka banyak pengalaman manusia akan terlihat tidak penting.

Memeluk orang yang kita cintai tidak menghasilkan produk.

Tertawa bersama teman tidak meningkatkan GDP pribadi.

Mendengarkan musik tidak selalu meningkatkan kompetensi profesional.

Melihat matahari terbenam tidak menambah daftar pencapaian.

Tidur siang tidak menghasilkan sesuatu.

Tetapi kita tidak harus menyimpulkan bahwa semua itu tidak bermakna.

Manusia bukan mesin produksi.

Kita membutuhkan pengalaman yang membuat hidup terasa sebagai kehidupan, bukan sekadar rangkaian tugas yang harus diselesaikan.

Hobi dapat menjadi salah satu ruang tersebut.

Ia mungkin tidak mengubah dunia.

Ia mungkin tidak menghasilkan uang.

Ia mungkin tidak meningkatkan status sosial.

Tetapi ia bisa membuat seseorang merasa:

“Ini adalah sesuatu yang saya lakukan karena saya menyukainya.”

Dan terkadang, itu sudah cukup.

Hobi Tidak Harus Menjawab Pertanyaan “Untuk Apa?”

Ada pertanyaan yang sangat sering muncul ketika seseorang bercerita tentang hobinya:

“Untuk apa?”

Pertanyaan tersebut sebenarnya mengandung asumsi bahwa setiap aktivitas harus memiliki kegunaan.

Namun kita bisa menggantinya dengan pertanyaan lain:

“Apa yang kamu rasakan ketika melakukannya?”

Pertanyaan kedua membuka perspektif yang berbeda.

Mungkin seseorang merasa tenang ketika melukis.

Mungkin ia merasa bebas ketika bersepeda.

Mungkin ia merasa penasaran ketika membaca.

Mungkin ia merasa hidup ketika bermain musik.

Mungkin ia merasa terhubung dengan masa kecilnya ketika mengoleksi sesuatu.

Mungkin ia menikmati perasaan sederhana ketika berhasil memasak makanan yang enak.

Tidak semuanya perlu diterjemahkan menjadi misi.

Ada pengalaman yang nilainya tidak terletak pada apa yang dihasilkannya, melainkan pada bagaimana pengalaman tersebut membuat kita menjalani hidup.

Bukan Berarti Hobi Tidak Boleh Memiliki Tujuan

Penting untuk membedakan antara mengatakan “hobi tidak memerlukan misi” dan “hobi tidak boleh memiliki misi.”

Keduanya berbeda.

Jika seseorang ingin menjadikan hobinya sebagai pekerjaan, itu sah.

Jika seorang pelari ingin mengikuti maraton, itu sah.

Jika seorang fotografer ingin membuat pameran, itu sah.

Jika seorang pemain gitar ingin tampil di depan publik, itu juga sah.

Tujuan dapat memberikan struktur, motivasi, dan arah.

Masalahnya muncul ketika kita menganggap bahwa tujuan adalah syarat agar sebuah hobi dianggap berharga.

Padahal tidak.

Ada orang yang ingin menjadi ahli dalam hobinya.

Ada orang yang hanya ingin menikmatinya.

Keduanya sama-sama valid.

Bahkan seseorang bisa memiliki hobi yang memiliki tujuan dan hobi lain yang sama sekali tidak memiliki tujuan.

Ia bisa berlari untuk mengejar prestasi pada hari Sabtu dan berkebun tanpa target pada hari Minggu.

Ia bisa belajar bahasa asing untuk kebutuhan pekerjaan dan bermain gitar hanya karena menyukai suaranya.

Manusia tidak harus memilih antara produktif dan tidak produktif.

Kita membutuhkan keduanya.

Hobi sebagai Ruang untuk “Tidak Harus Menjadi Apa-Apa”

Mungkin salah satu hadiah terbesar dari sebuah hobi adalah kesempatan untuk melakukan sesuatu tanpa harus menjadi seseorang.

Ketika bekerja, kita mungkin memiliki jabatan.

Ketika belajar, kita mungkin memiliki nilai.

Ketika menjalankan bisnis, kita memiliki target.

Tetapi ketika menjalankan hobi, kita bisa sekadar menjadi manusia yang sedang melakukan sesuatu yang disukai.

Tidak harus menjadi ahli.

Tidak harus menjadi terkenal.

Tidak harus menghasilkan uang.

Tidak harus lebih baik dari orang lain.

Tidak harus memiliki masa depan yang jelas.

Cukup menikmati.

Dalam dunia yang terus mendorong kita untuk bergerak menuju sesuatu, kemampuan untuk menikmati sesuatu tanpa harus menjadikannya proyek merupakan bentuk kebebasan tersendiri.

Karena pada akhirnya, kehidupan bukan hanya tentang apa yang berhasil kita capai, tetapi juga tentang apa yang sempat kita rasakan ketika menjalani hidup tersebut.

Penutup: Tidak Semua yang Bermakna Harus Menjadi Misi

Sebuah hobi tidak perlu menyelamatkan dunia agar bermakna.

Tidak perlu menghasilkan uang.

Tidak perlu menjadi profesi.

Tidak perlu menghasilkan prestasi.

Tidak perlu memiliki tujuan lima tahun.

Tidak perlu menjadi sesuatu yang bisa kita banggakan di depan orang lain.

Kadang-kadang sebuah hobi bermakna karena selama beberapa jam kita merasa tenang.

Kadang karena kita merasa bebas.

Kadang karena kita menemukan rasa ingin tahu.

Kadang karena kita bertemu orang lain.

Kadang karena kita kembali terhubung dengan bagian diri yang lama hilang.

Dan kadang, alasannya jauh lebih sederhana:

kita menikmatinya.

Dalam psikologi, pengalaman seperti itu bukan sesuatu yang remeh.

Manusia membutuhkan ruang untuk memilih, menikmati, berkembang, terhubung, dan mengalami kehidupan secara langsung.

Karena itu, tidak semua yang kita lakukan harus memiliki misi.

Ada hal-hal yang boleh tetap menjadi sekadar kesenangan.

Ada hal-hal yang boleh dilakukan tanpa alasan besar.

Ada aktivitas yang tidak perlu membawa kita ke mana-mana.

Kita boleh membaca buku tanpa menjadi lebih pintar.

Kita boleh berjalan tanpa mengejar target.

Kita boleh memotret tanpa menjadi fotografer.

Kita boleh memasak tanpa membuka restoran.

Kita boleh memainkan gitar tanpa menjadi musisi.

Dan kita boleh memiliki hobi hanya karena:

“Saya suka melakukannya.”

Mungkin justru di tengah kehidupan yang terus menuntut kita untuk menghasilkan sesuatu, kemampuan untuk melakukan sesuatu tanpa harus menghasilkan apa-apa adalah salah satu bentuk kesehatan psikologis yang sering kita lupakan.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore