seseorang yang kehilangan arah hidup. (magnific)
Kita tahu bahwa kita harus bergerak, tetapi tidak tahu harus ke mana.
Orang-orang di sekitar tampak memiliki tujuan. Ada yang sedang membangun karier, menikah, membeli rumah, memulai bisnis, melanjutkan pendidikan, atau mengejar sesuatu yang mereka yakini sebagai masa depan. Sementara kita justru bertanya-tanya:
“Sebenarnya aku sedang menuju ke mana?”
Pertanyaan itu bisa terasa semakin berat ketika kita sudah berusaha, tetapi hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Pekerjaan tidak memberikan kepuasan. Hubungan berubah. Rencana yang dulu diyakini ternyata tidak lagi relevan. Bahkan sesuatu yang dulu membuat kita bersemangat kini terasa biasa saja.
Pada titik tertentu, kita mungkin merasa seperti kehilangan peta.
Namun, menurut psikologi, kehilangan arah tidak selalu berarti kamu gagal dalam hidup. Terkadang, kehilangan arah merupakan tanda bahwa cara lama dalam menjalani hidup sudah tidak lagi sesuai dengan keadaanmu sekarang.
Dan mungkin, masalahnya bukan karena kamu tidak memiliki tujuan.
Mungkin kamu sedang berada dalam fase ketika peta lama sudah tidak bisa digunakan, sementara peta baru belum selesai dibuat.
Lalu apa yang harus dilakukan?
Dilansir dari Psychology TOday pada Kamis (8/10), terdapat tujuh hal yang bisa kamu lakukan ketika merasa tidak memiliki peta dan kehilangan arah hidup.
1. Berhenti Memaksa Diri untuk Segera Menemukan Jawaban
Salah satu kesalahan yang sering kita lakukan ketika kehilangan arah adalah mencoba memaksa diri untuk segera mendapatkan jawaban.
Kita bertanya:
“Aku harus melakukan apa?”
“Apa tujuan hidupku?”
“Karier apa yang cocok untukku?”
“Aku sebenarnya ingin menjadi siapa?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang penting. Namun ketika kondisi psikologis kita sedang penuh tekanan, mencari jawaban besar justru bisa membuat pikiran semakin buntu.
Otak manusia tidak selalu bekerja dengan baik ketika berada dalam kondisi stres dan tekanan yang tinggi. Ketika kita merasa harus segera menentukan seluruh masa depan, keputusan kecil pun bisa terasa seperti keputusan yang menentukan seluruh hidup.
Padahal, hidup jarang bekerja seperti itu.
Kamu tidak harus mengetahui seluruh jalan untuk bisa mengambil langkah berikutnya.
Bayangkan kamu sedang berada di jalan yang berkabut.
Kamu tidak dapat melihat sepuluh kilometer ke depan. Tetapi kamu mungkin masih bisa melihat beberapa meter di depanmu.
Dalam kondisi seperti itu, tujuanmu bukan menemukan seluruh jalan.
Tujuanmu adalah menemukan langkah berikutnya yang cukup aman untuk dilakukan.
Secara psikologis, ini berkaitan dengan kemampuan untuk mentoleransi ketidakpastian.
Kita sering menginginkan kepastian sebelum bergerak. Padahal, dalam banyak situasi kehidupan, kepastian justru muncul setelah kita mulai bergerak.
Jadi, daripada bertanya:
“Apa yang harus aku lakukan dengan hidupku?”
Cobalah mengubah pertanyaannya menjadi:
“Apa satu hal kecil yang masuk akal untuk kulakukan minggu ini?”
Perubahan pertanyaan ini terlihat sederhana, tetapi dapat mengurangi beban mental.
Kamu tidak perlu menemukan seluruh jawaban.
Kamu hanya perlu menemukan langkah berikutnya.
2. Kembali ke Hal-Hal Dasar yang Bisa Kamu Kendalikan
Ketika seseorang kehilangan arah, hidup sering terasa seperti sesuatu yang berada di luar kendalinya.
Masa depan tidak jelas.
Karier tidak pasti.
Hubungan tidak pasti.
Keuangan mungkin tidak stabil.
Pendapat orang lain sulit dikendalikan.
Dan semakin banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan, semakin besar kemungkinan kita merasa tidak berdaya.
Dalam psikologi, perasaan mampu memengaruhi hasil melalui tindakan sendiri berkaitan dengan konsep self-efficacy.
Self-efficacy bukan berarti percaya bahwa kita bisa melakukan segala sesuatu.
Lebih sederhana dari itu.
Self-efficacy adalah keyakinan bahwa:
“Aku mungkin tidak bisa mengendalikan semuanya, tetapi aku masih bisa melakukan sesuatu.”
Ketika hidup terasa kacau, jangan langsung mencoba memperbaiki semuanya sekaligus.
Mulailah dari hal-hal yang berada dalam lingkaran kendalimu.
Misalnya:
jam tidur,
makanan yang kamu konsumsi,
aktivitas fisik,
pekerjaan yang harus diselesaikan,
kamar yang bisa dirapikan,
orang yang bisa kamu hubungi,
waktu yang kamu gunakan untuk media sosial,
kebiasaan yang ingin kamu bangun.
Hal-hal tersebut mungkin terlihat terlalu sederhana.
Tetapi justru di situlah kekuatannya.
Ketika hidup terasa tidak terkendali, melakukan sesuatu yang kecil dan konkret dapat memberikan pengalaman:
“Ternyata masih ada bagian hidupku yang bisa aku atur.”
Dan pengalaman kecil seperti itu dapat menjadi awal dari rasa mampu yang lebih besar.
Kamu tidak harus mengendalikan seluruh hidupmu.
Cukup mulai dengan mengendalikan hari ini.
3. Jangan Menunggu Motivasi untuk Bergerak
Banyak orang berpikir bahwa mereka harus menemukan motivasi terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu.
Mereka berkata:
“Kalau sudah tahu tujuan hidupku, aku akan mulai.”
“Kalau sudah semangat, aku akan berolahraga.”
“Kalau sudah merasa yakin, aku akan mencari pekerjaan.”
Masalahnya, ketika seseorang sedang kehilangan arah, motivasi justru sering kali sedang rendah.
Kalau kamu menunggu motivasi datang, kamu bisa terjebak dalam keadaan yang sama untuk waktu yang lama.
Dalam psikologi terdapat pendekatan yang dikenal sebagai behavioral activation, yang secara sederhana berfokus pada hubungan antara perilaku, aktivitas, dan kondisi emosional.
Intinya bukan:
“Tunggu sampai merasa lebih baik, kemudian bertindak.”
Tetapi sering kali:
“Mulai melakukan tindakan kecil yang sehat, kemudian biarkan perubahan aktivitas membantu kondisi emosimu.”
Ini bukan berarti memaksa diri untuk selalu produktif.
Bukan pula berarti mengabaikan rasa lelah.
Maksudnya adalah jangan menjadikan perasaan saat ini sebagai satu-satunya penentu tindakan.
Misalnya, jika kamu merasa tidak punya arah, kamu tidak perlu langsung membuat rencana hidup lima tahun.
Cobalah:
berjalan kaki selama 20 menit,
membaca beberapa halaman buku,
menyelesaikan satu pekerjaan kecil,
belajar sesuatu selama 30 menit,
menghubungi seorang teman,
membersihkan meja kerja,
pergi ke tempat yang belum pernah kamu kunjungi,
atau kembali melakukan aktivitas yang pernah kamu sukai.
Tindakan kecil menciptakan pengalaman.
Pengalaman memberikan informasi.
Informasi membantu kita memahami diri sendiri.
Dan dari sana, arah perlahan dapat terbentuk.
Jadi jangan selalu bertanya:
“Apa yang membuatku bersemangat?”
Cobalah bertanya:
“Apa yang bisa kulakukan hari ini yang membuat hidupku sedikit lebih baik?”
4. Bedakan Antara Kehilangan Arah dan Kehilangan Makna
Ada perbedaan antara tidak tahu harus pergi ke mana dan merasa tidak ada alasan untuk pergi ke mana pun.
Yang pertama lebih berkaitan dengan arah.
Yang kedua bisa berkaitan dengan makna.
Kita sering berpikir bahwa hidup yang bermakna harus memiliki tujuan besar.
Harus menjadi seseorang.
Harus menghasilkan sesuatu.
Harus meninggalkan pencapaian.
Padahal makna hidup tidak selalu datang dari pencapaian besar.
Dalam psikologi, pembentukan makna atau meaning-making menggambarkan bagaimana manusia berusaha memahami pengalaman hidupnya dan menghubungkannya dengan sesuatu yang dianggap penting.
Makna dapat muncul dari berbagai sumber.
Misalnya:
Hubungan.
Merawat keluarga, menjadi teman yang baik, atau hadir untuk seseorang.
Pertumbuhan.
Belajar menjadi versi diri yang lebih matang.
Kontribusi.
Melakukan sesuatu yang berguna bagi orang lain.
Kreativitas.
Membuat sesuatu yang sebelumnya tidak ada.
Pembelajaran.
Memahami dunia dan diri sendiri dengan lebih baik.
Pengalaman.
Menikmati perjalanan, alam, seni, percakapan, atau kehidupan sehari-hari.
Karena itu, ketika kamu kehilangan arah, jangan hanya bertanya:
“Apa yang ingin aku capai?”
Tambahkan pertanyaan:
“Apa yang menurutku layak untuk diperjuangkan?”
Pertanyaan kedua sering kali membawa kita lebih dekat kepada nilai-nilai pribadi.
Sebab tujuan bisa berubah.
Karier bisa berubah.
Tempat tinggal bisa berubah.
Hubungan bisa berubah.
Tetapi nilai yang kita anggap penting dapat menjadi kompas ketika peta kehidupan berubah.
5. Berhenti Membandingkan Bab Hidupmu dengan Bab Orang Lain
Salah satu penyebab terbesar seseorang merasa tertinggal adalah perbandingan sosial.
Kita melihat orang lain dan berpikir:
“Dia sudah sampai sana. Aku masih di sini.”
Teman mendapatkan pekerjaan bagus.
Seseorang menikah.
Orang lain membeli rumah.
Ada yang membangun bisnis.
Ada yang pindah ke luar negeri.
Ada yang tampak begitu yakin dengan hidupnya.
Sementara kita masih mencoba memahami apa yang sebenarnya kita inginkan.
Media sosial membuat persoalan ini semakin kuat karena kita terus melihat hasil akhir kehidupan orang lain tanpa melihat seluruh proses di belakangnya.
Kita melihat pencapaian mereka.
Kita tidak melihat kecemasan mereka.
Kita melihat foto perjalanan mereka.
Kita tidak melihat masalah yang mereka hadapi.
Kita melihat keberhasilan mereka.
Kita tidak melihat bertahun-tahun kegagalan yang mungkin mendahuluinya.
Perbandingan seperti ini dapat membuat kita menggunakan ukuran kehidupan orang lain untuk menilai kehidupan sendiri.
Padahal setiap orang memiliki konteks yang berbeda.
Kecepatan hidup juga berbeda.
Ada orang yang menemukan jalannya pada usia 20-an.
Ada yang baru memahami dirinya pada usia 30-an.
Ada yang mengubah karier pada usia 40-an.
Ada yang baru berani memulai kembali setelah bertahun-tahun menjalani sesuatu yang ternyata tidak cocok.
Tidak ada satu jadwal universal untuk kehidupan manusia.
Karena itu, daripada bertanya:
“Mengapa aku belum seperti mereka?”
Cobalah bertanya:
“Apakah aku sedang bergerak menuju kehidupan yang sebenarnya kuinginkan?”
Pertanyaan itu jauh lebih relevan.
Sebab tujuan hidup bukan memenangkan perlombaan dengan orang lain.
Tujuannya adalah menemukan kehidupan yang masuk akal bagi dirimu sendiri.
6. Izinkan Dirimu Mencoba Tanpa Harus Langsung Menemukan “Jalan yang Benar”
Salah satu alasan kita takut mengambil langkah adalah karena kita menganggap setiap pilihan sebagai keputusan permanen.
Memilih pekerjaan dianggap harus menjadi karier seumur hidup.
Memulai bisnis dianggap harus berhasil.
Belajar sesuatu dianggap harus menghasilkan profesi baru.
Memulai hubungan dianggap harus berakhir dalam pernikahan.
Padahal kehidupan jauh lebih fleksibel daripada itu.
Kamu boleh mencoba.
Kamu boleh mengevaluasi.
Kamu boleh berubah pikiran.
Kamu boleh menyadari bahwa sesuatu ternyata tidak cocok.
Dan itu bukan selalu kegagalan.
Kadang-kadang, kita baru mengetahui apa yang tidak kita inginkan setelah mencobanya.
Itu tetap informasi yang berharga.
Dalam konteks psikologi, kemampuan untuk menyesuaikan cara berpikir dan perilaku terhadap kondisi yang berubah berkaitan dengan cognitive flexibility.
Orang yang fleksibel secara psikologis tidak berarti tidak memiliki prinsip.
Mereka justru mampu mengatakan:
“Ini adalah rencanaku, tetapi kalau realitas menunjukkan sesuatu yang berbeda, aku bersedia mengevaluasinya.”
Ini penting ketika kita sedang mencari arah.
Jangan selalu mencari jawaban yang sempurna.
Cari eksperimen kecil.
Misalnya kamu tidak tahu apakah kamu menyukai bidang tertentu.
Daripada menghabiskan berbulan-bulan memikirkannya, kamu bisa mencoba kursus singkat, berbicara dengan orang yang bekerja di bidang tersebut, membaca buku, atau mengerjakan proyek kecil.
Setelah itu, kamu mendapatkan data baru tentang dirimu.
Mungkin ternyata kamu menyukainya.
Mungkin juga ternyata kamu membencinya.
Keduanya berguna.
Karena sekarang kamu tahu sesuatu yang sebelumnya tidak kamu ketahui.
Arah hidup sering kali ditemukan melalui eksperimen, bukan perenungan tanpa akhir.
7. Belajar Berjalan Bersama Ketidakpastian
Pada akhirnya, mungkin inilah bagian yang paling sulit.
Kamu mungkin tidak akan pernah memiliki peta yang benar-benar lengkap.
Bahkan orang yang terlihat sangat yakin dengan hidupnya pun sebenarnya tidak memiliki jaminan bahwa semua rencananya akan berhasil.
Kehidupan manusia penuh dengan ketidakpastian.
Kita bisa merencanakan karier, tetapi industri berubah.
Kita bisa merencanakan hubungan, tetapi manusia berubah.
Kita bisa merencanakan masa depan, tetapi keadaan berubah.
Karena itu, mungkin tujuan kedewasaan bukan menjadi seseorang yang akhirnya mengetahui seluruh arah hidupnya.
Mungkin kedewasaan adalah kemampuan untuk berkata:
“Aku belum tahu semuanya, tetapi aku cukup percaya pada diriku untuk mengambil langkah berikutnya.”
Ini berbeda dari optimisme kosong.
Kamu tidak perlu yakin bahwa semuanya akan berjalan sesuai keinginan.
Kamu hanya perlu percaya bahwa jika keadaan berubah, kamu bisa belajar menyesuaikan diri.
Di sinilah self-compassion juga penting.
Jangan memperlakukan dirimu seperti seorang terdakwa hanya karena hidupmu belum sesuai rencana.
Kamu sedang belajar.
Kamu sedang beradaptasi.
Kamu sedang mencoba memahami dirimu sendiri.
Dan proses tersebut memang tidak selalu terlihat seperti kemajuan.
Ada hari ketika kamu sangat produktif.
Ada hari ketika kamu hanya mampu bertahan.
Keduanya tetap bagian dari perjalanan.
Kamu Tidak Harus Memiliki Peta untuk Mulai Berjalan
Mungkin saat ini kamu merasa tertinggal.
Mungkin kamu melihat orang lain seolah-olah sudah menemukan jalan, sementara kamu masih berdiri di persimpangan.
Tetapi jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa kamu tersesat.
Bisa jadi kamu sedang berada dalam masa transisi.
Peta lama tidak lagi cocok.
Tujuan lama tidak lagi terasa berarti.
Identitas lama mulai berubah.
Dan sebelum sesuatu yang baru terbentuk, memang ada periode ketika semuanya terasa kosong.
Itu tidak nyaman.
Tetapi tidak selalu berarti buruk.
Kadang-kadang, kekosongan memberi ruang bagi kita untuk bertanya kembali:
“Sebenarnya, hidup seperti apa yang ingin aku bangun?”
Jadi jika hari ini kamu belum mengetahui jawabannya, tidak apa-apa.
Mulailah dari hal yang sederhana.
Rawat tubuhmu.
Rapikan ruang hidupmu.
Selesaikan satu pekerjaan.
Temui seseorang yang kamu percaya.
Belajar sesuatu.
Coba sesuatu yang baru.
Kurangi membandingkan dirimu dengan orang lain.
Perhatikan apa yang membuatmu merasa hidup.
Perhatikan apa yang terus menarik perhatianmu.
Perhatikan apa yang membuatmu merasa berguna.
Dan yang paling penting, jangan menuntut dirimu untuk mengetahui seluruh perjalanan hanya karena kamu sedang berdiri di langkah pertama.
Kamu tidak perlu melihat seluruh jalan.
Kamu hanya perlu melihat satu langkah di depanmu.
Kemudian berjalan.
Karena sering kali, arah tidak muncul sebelum kita bergerak.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Fulham vs Hull City: The Tigers Berpeluang Menang Tipis di Craven Cottage
Prediksi Skor Garudayaksa vs Arema FC: Produktivitas Singo Edan Jadi Ancaman Bagi Tuan Rumah
Prediksi Skor Lille vs Brest di Liga Prancis: Verdonk Starter, Les Dogues Berjaya di Pierre Mauroy
Prediksi Susunan Pemain Real Betis vs Barcelona: Yamal dan Adeyemi Jadi Andalan
Prediksi Skor Hamburger SV vs Stuttgart: Die Roten Siap Pesta Gol di Volksparkstadion
Prediksi Skor Espanyol vs Atletico Madrid di Liga Spanyol: Los Rojiblancos Pertahankan Laju Positif
Prediksi Skor PSGC Ciamis vs PSIS Semarang di Pegadaian Championship: Tuan Rumah Hadapi Ujian Berat
Prediksi Susunan Pemain AS Roma vs Genoa: Santiago Castro Siap Jadi Andalan
Prediksi Skor Semen Padang vs PSMS di Championship: Kabau Sirah Bidik Kemenangan Kandang Perdana
Prediksi RANS Nusantara vs Persela Lamongan: Laskar Joko Tingkir Berburu Kemenangan di Malang

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022