seseorang yang senang melakukan yoga. (magnific)
Bukan sekadar tubuh terasa lebih lentur. Bukan hanya napas menjadi lebih teratur atau otot terasa lebih rileks. Ada sensasi yang jauh lebih dalam: seolah-olah kita baru saja kembali ke suatu tempat yang sebenarnya sudah lama kita kenal.
Bagi sebagian orang, yoga mungkin awalnya hanya terlihat seperti aktivitas fisik. Datang ke kelas, menggelar matras, mengikuti gerakan, mengatur napas, lalu pulang. Namun setelah beberapa waktu, yoga bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih personal. Matras terasa seperti ruang aman. Napas menjadi semacam jangkar. Gerakan tubuh membantu seseorang kembali menyadari apa yang sedang terjadi di dalam dirinya.
Dalam bahasa sehari-hari, pengalaman itu sering digambarkan dengan satu ungkapan sederhana: "Rasanya seperti pulang ke rumah."
Menariknya, psikologi memiliki beberapa penjelasan mengapa pengalaman tersebut bisa muncul.
"Pulang" dalam konteks ini tentu bukan berarti kembali ke sebuah bangunan atau tempat tertentu. Ia lebih dekat dengan pengalaman psikologis ketika seseorang merasa aman, hadir, terhubung, dan tidak perlu terus-menerus melawan dirinya sendiri.
Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (8/10), terdapat delapan alasan mengapa yoga dapat memberikan sensasi tersebut.
1. Yoga membantu kita kembali ke tubuh
Salah satu alasan utama yoga terasa seperti pulang adalah karena yoga membawa perhatian kembali kepada tubuh.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering hidup terlalu lama di dalam kepala.
Kita memikirkan pekerjaan yang belum selesai, percakapan yang terjadi kemarin, pesan yang belum dibalas, keputusan yang harus dibuat, atau sesuatu yang mungkin terjadi minggu depan. Tubuh berada di satu tempat, tetapi perhatian kita bisa berada di mana-mana.
Yoga bekerja dengan cara yang berbeda.
Ketika melakukan downward dog, misalnya, perhatian diarahkan kepada posisi tangan, kaki, punggung, bahu, keseimbangan, dan pernapasan. Ketika melakukan child's pose, seseorang mungkin mulai menyadari berat tubuhnya, ketegangan di punggung, atau sensasi napas di dalam dada.
Perhatian yang sebelumnya tersebar perlahan dikumpulkan kembali.
Dalam psikologi, kemampuan untuk menyadari sensasi internal tubuh berkaitan dengan interosepsi, yaitu kemampuan merasakan dan mengenali sinyal-sinyal dari dalam tubuh.
Rasa lapar, detak jantung, ketegangan otot, napas yang pendek, rasa hangat, atau sensasi nyaman merupakan contoh informasi yang terus dikirimkan tubuh kepada otak.
Yoga memberi ruang untuk mendengarkan sinyal tersebut.
Dan mungkin itulah salah satu bentuk "pulang" yang paling sederhana: kembali menyadari bahwa kita memiliki tubuh.
Selama berjam-jam kita mungkin sibuk menjadi pekerja, pasangan, orang tua, teman, mahasiswa, pemimpin, atau berbagai peran lainnya.
Di atas matras, kita tidak harus menjadi apa-apa.
Kita hanya perlu berada di sana.
2. Napas menjadi jangkar ketika pikiran terlalu ramai
Pikiran manusia memiliki kecenderungan untuk berpindah-pindah.
Kita dapat sedang duduk diam, tetapi pikiran sudah berada di masa lalu atau masa depan.
Memikirkan kesalahan lama.
Membayangkan percakapan yang belum terjadi.
Mengkhawatirkan sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi.
Yoga mengajak kita melakukan sesuatu yang sangat sederhana: bernapas dan menyadari bahwa kita sedang bernapas.
Kelihatannya sepele, tetapi perhatian terhadap napas dapat menjadi jangkar yang kuat.
Ketika seseorang memperhatikan tarikan dan hembusan napas, perhatian tidak lagi sepenuhnya terseret oleh isi pikirannya. Ia memiliki sesuatu yang konkret untuk kembali diperhatikan.
Tarik napas.
Sadari.
Buang napas.
Sadari.
Pikiran pergi.
Kembali lagi.
Pikiran pergi lagi.
Kembali lagi.
Proses ini sangat mirip dengan prinsip mindfulness: bukan memaksa pikiran agar kosong, tetapi belajar menyadari ketika perhatian telah pergi dan membawanya kembali dengan lembut.
Karena itu, yoga bukan berarti seseorang tidak pernah memiliki pikiran yang berisik.
Justru sebaliknya.
Kita belajar bahwa pikiran boleh berisik tanpa harus selalu mengikutinya.
Ada perbedaan besar antara memiliki sebuah pikiran dan dikendalikan oleh pikiran tersebut.
Ketika napas menjadi jangkar, seseorang mendapatkan kesempatan untuk mengambil jarak dari pikirannya.
Dan jarak kecil itu bisa terasa sangat menenangkan.
Seperti menemukan jalan pulang ketika kita sempat tersesat.
3. Tubuh yang perlahan rileks memberi sinyal bahwa kita aman
Tubuh manusia memiliki sistem yang terus memantau lingkungan untuk menentukan apakah kita berada dalam keadaan aman atau perlu bersiap menghadapi ancaman.
Ketika stres meningkat, tubuh dapat menjadi lebih waspada. Detak jantung berubah, otot menegang, napas menjadi lebih cepat, dan perhatian lebih mudah tertarik pada sesuatu yang dianggap penting atau berbahaya.
Masalahnya, kehidupan modern sering membuat tubuh berada dalam kondisi "siap menghadapi sesuatu" bahkan ketika tidak ada bahaya fisik yang sedang terjadi.
Email masuk.
Notifikasi berbunyi.
Deadline mendekat.
Pekerjaan menumpuk.
Masalah keluarga muncul.
Berita terus berdatangan.
Tubuh akhirnya bisa terbiasa dengan ketegangan.
Yoga menawarkan pengalaman yang berbeda.
Gerakan yang dilakukan secara perlahan, perhatian terhadap napas, dan kesadaran terhadap sensasi tubuh dapat membantu seseorang berpindah dari keadaan yang sangat aktif menuju keadaan yang lebih tenang.
Secara psikologis, pengalaman tersebut dapat terasa seperti pesan:
"Sekarang aku boleh berhenti sebentar."
Bukan berarti yoga secara ajaib menghapus semua stres.
Namun ketika seseorang mengalami momen ketika bahunya turun, rahangnya tidak lagi mengatup, napas menjadi lebih panjang, dan tubuh terasa lebih ringan, ia mendapatkan pengalaman langsung bahwa dirinya mampu memasuki keadaan yang lebih tenang.
Pengalaman tubuh seperti ini penting.
Karena terkadang kita tidak membutuhkan kalimat motivasi.
Kita hanya perlu merasakan bahwa tubuh kita akhirnya tidak harus terus berjaga-jaga.
4. Yoga mengajarkan bahwa kita tidak harus selalu menjadi sempurna
Ada sesuatu yang menarik dari yoga.
Di atas matras, tubuh kita akan menunjukkan batasnya.
Ada hari ketika kita bisa melakukan suatu pose dengan mudah.
Ada hari ketika pose yang sama terasa sulit.
Ada hari ketika keseimbangan sempurna.
Ada hari ketika kita bahkan kehilangan keseimbangan beberapa kali.
Dan itu normal.
Yoga dapat mengajarkan sebuah pelajaran psikologis yang sederhana tetapi dalam: kemampuan kita berubah dari hari ke hari.
Kita tidak harus selalu tampil dalam kondisi terbaik.
Kita tidak harus selalu fleksibel.
Kita tidak harus selalu kuat.
Kita tidak harus selalu berhasil.
Kesadaran ini dapat membantu membangun hubungan yang lebih ramah dengan diri sendiri.
Dalam psikologi, sikap memperlakukan diri dengan pengertian ketika mengalami kegagalan atau keterbatasan sering dikaitkan dengan self-compassion atau belas kasih terhadap diri sendiri.
Self-compassion bukan berarti membiarkan diri tidak berkembang.
Justru sebaliknya.
Kita tetap boleh memiliki tujuan, tetapi tidak perlu menghukum diri sendiri setiap kali belum mencapainya.
Yoga dapat membuat prinsip tersebut terasa secara langsung.
Jika hari ini tubuh hanya mampu melakukan satu variasi pose, mungkin itu cukup.
Jika hari ini kita membutuhkan child's pose lebih lama, mungkin itu juga cukup.
Tidak ada yang perlu dibuktikan.
Dan ketika seseorang berhenti merasa harus membuktikan sesuatu, pengalaman berada di atas matras bisa terasa sangat membebaskan.
Seperti pulang ke tempat di mana kita tidak perlu berpura-pura menjadi versi diri yang sempurna.
5. Yoga menciptakan ritual yang memberi rasa stabil
Manusia menyukai pola.
Ritual sederhana dapat memberikan struktur di tengah kehidupan yang sering berubah-ubah.
Mungkin seseorang memiliki kebiasaan tertentu sebelum tidur. Membuat kopi di pagi hari. Berjalan kaki setelah makan malam. Membaca beberapa halaman buku. Atau menggelar matras yoga setiap sore.
Ritual menciptakan rasa familiar.
Dan sesuatu yang familiar sering kali terasa aman.
Karena itu, pengalaman "pulang" tidak selalu muncul karena yoga itu sendiri. Sebagian dapat muncul karena proses yang berulang.
Matras yang sama.
Ruangan yang sama.
Urutan gerakan yang familiar.
Napas yang sama.
Tubuh yang perlahan mengenali pola.
Setelah dilakukan berkali-kali, ritual tersebut dapat menjadi semacam transisi psikologis: dari dunia luar menuju ruang internal.
Misalnya, seseorang mungkin baru saja melewati hari yang penuh rapat dan tuntutan. Ketika ia mengganti pakaian, menggelar matras, lalu mulai bernapas perlahan, tubuh dan pikirannya mendapatkan sinyal bahwa fase hari yang berbeda sedang dimulai.
Ritual tersebut menjadi pintu masuk.
Dan seperti halnya rumah yang familiar, ritual memberikan pesan:
"Di sini aku tahu apa yang harus kulakukan."
Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, pengalaman sederhana seperti ini dapat memiliki nilai psikologis yang besar.
6. Yoga membantu menyatukan pikiran dan tubuh
Kita sering berbicara seolah-olah pikiran dan tubuh adalah dua hal yang sepenuhnya terpisah.
Padahal pengalaman manusia jauh lebih terintegrasi.
Ketika kita cemas, tubuh dapat ikut bereaksi.
Ketika tubuh lelah, pikiran dapat menjadi lebih mudah tersinggung.
Ketika kita merasa aman, tubuh pun dapat menjadi lebih rileks.
Yoga bekerja di ruang antara keduanya.
Kita bergerak sambil bernapas.
Kita memperhatikan pikiran sambil merasakan tubuh.
Kita menyadari emosi melalui sensasi fisik.
Misalnya, kecemasan mungkin terasa seperti dada yang sesak. Kemarahan mungkin terasa sebagai rahang yang mengeras atau bahu yang tegang. Kesedihan mungkin muncul sebagai rasa berat di dada.
Yoga tidak selalu membuat emosi tersebut menghilang.
Tetapi yoga dapat membantu kita menyadarinya.
Dan kesadaran merupakan langkah penting dalam regulasi emosi.
Alih-alih mengatakan, "Aku sedang kacau," seseorang dapat mulai mengenali, "Ada ketegangan di tubuhku."
Alih-alih, "Aku tidak bisa mengendalikan pikiranku," mungkin berubah menjadi, "Pikiranku sedang sangat aktif hari ini."
Bahasa tersebut menciptakan sedikit jarak.
Kita tidak lagi sepenuhnya menjadi emosi tersebut.
Kita sedang mengalami emosi.
Perbedaan kecil ini dapat mengubah cara kita berhubungan dengan diri sendiri.
7. Yoga memberi kesempatan untuk berhenti memainkan berbagai peran
Sepanjang hari, kita memainkan banyak peran.
Di tempat kerja, kita menjadi profesional.
Di rumah, kita mungkin menjadi pasangan atau orang tua.
Di antara teman-teman, kita menjadi seseorang dengan karakter tertentu.
Di media sosial, kita mungkin menampilkan versi diri yang paling menarik.
Peran-peran tersebut tidak selalu buruk. Justru merupakan bagian normal dari kehidupan sosial.
Namun terus-menerus menyesuaikan diri dengan tuntutan eksternal bisa melelahkan.
Yoga menawarkan ruang di mana penilaian sosial relatif berkurang.
Tidak penting siapa yang memiliki pekerjaan paling bergengsi.
Tidak penting siapa yang paling produktif.
Tidak penting siapa yang memiliki kehidupan paling menarik.
Di atas matras, pertanyaannya jauh lebih sederhana:
Bagaimana keadaan tubuhku sekarang?
Bagaimana napasku?
Apa yang kubutuhkan?
Pertanyaan-pertanyaan ini menggeser perhatian dari dunia eksternal menuju pengalaman internal.
Dalam kondisi seperti itu, seseorang dapat merasa lebih dekat dengan dirinya sendiri.
Bukan dengan identitas yang dibentuk oleh pekerjaan, pencapaian, status, atau penilaian orang lain.
Melainkan dengan pengalaman menjadi manusia yang sedang bernapas dan bergerak.
Mungkin karena itulah yoga kadang terasa seperti pulang.
Karena kita berhenti sejenak menjadi "seseorang" dan cukup menjadi "diri sendiri".
8. Yoga mengajarkan bahwa pulang bukan berarti menemukan tempat, tetapi menemukan keadaan batin
Pada akhirnya, mungkin alasan terdalam mengapa yoga terasa seperti pulang adalah karena pengalaman tersebut tidak sepenuhnya bergantung pada tempat.
Kita bisa melakukan yoga di studio.
Di kamar.
Di ruang tamu.
Di taman.
Bahkan di tempat yang sederhana dengan hanya selembar matras.
Yang berubah bukan dunia di sekitar kita, melainkan cara kita hadir di dalamnya.
Kita mulai menyadari napas.
Merasakan kaki menyentuh lantai.
Menyadari ketegangan.
Menerima keterbatasan.
Membiarkan pikiran datang dan pergi.
Dan perlahan, perhatian kembali ke saat ini.
Dalam pengertian ini, "pulang" bukan berarti melarikan diri dari kehidupan.
Justru sebaliknya.
Kita kembali ke diri sendiri agar dapat menghadapi kehidupan dengan lebih utuh.
Kita mungkin tetap memiliki masalah setelah sesi yoga selesai.
Pekerjaan masih menunggu.
Pesan masih belum dibalas.
Persoalan hidup belum otomatis selesai.
Tetapi hubungan kita dengan semua itu mungkin sedikit berubah.
Kita tidak lagi menghadapinya dari tempat yang sama.
Ada sedikit lebih banyak ruang.
Sedikit lebih banyak kesadaran.
Sedikit lebih banyak kelembutan.
Dan mungkin itulah makna sebenarnya dari merasa pulang.
Bukan bahwa semua masalah telah hilang.
Melainkan bahwa kita kembali menemukan diri sendiri di tengah semua masalah tersebut.
Yoga dan Psikologi: Pulang kepada Diri Sendiri
Jika dipikirkan lebih dalam, metafora "pulang" sebenarnya sangat cocok untuk menggambarkan pengalaman psikologis yang dapat muncul melalui yoga.
Rumah bukan hanya sebuah tempat.
Rumah adalah pengalaman merasa aman.
Merasa diterima.
Merasa tidak perlu berpura-pura.
Merasa boleh beristirahat.
Merasa tubuh dapat menurunkan kewaspadaan.
Dan merasa bahwa kita tidak harus pergi ke mana-mana untuk menjadi cukup.
Yoga dapat menghadirkan sebagian pengalaman tersebut melalui hal-hal yang sangat sederhana: napas, gerakan, kesadaran tubuh, perhatian, dan penerimaan.
Itulah sebabnya seseorang mungkin masuk ke kelas yoga dengan kepala yang penuh dan keluar dengan perasaan lebih lapang.
Bukan karena yoga menyelesaikan semua persoalan.
Tetapi karena selama beberapa puluh menit, ia berhenti meninggalkan dirinya sendiri.
Dan mungkin selama ini, itulah yang sebenarnya kita cari ketika kita mengatakan ingin "pulang".
Bukan selalu tempat untuk kembali.
Melainkan versi diri kita yang terasa aman untuk dihuni.
Yoga, pada akhirnya, dapat menjadi salah satu cara untuk menemukan kembali tempat itu.
Pelan-pelan.
Satu napas.
Satu gerakan.
Satu kesadaran.
Pada satu titik, kita mungkin menyadari bahwa rumah yang selama ini kita cari tidak selalu berada di luar diri.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Fulham vs Hull City: The Tigers Berpeluang Menang Tipis di Craven Cottage
Prediksi Skor Garudayaksa vs Arema FC: Produktivitas Singo Edan Jadi Ancaman Bagi Tuan Rumah
Prediksi Skor Lille vs Brest di Liga Prancis: Verdonk Starter, Les Dogues Berjaya di Pierre Mauroy
Prediksi Susunan Pemain Real Betis vs Barcelona: Yamal dan Adeyemi Jadi Andalan
Prediksi Skor Hamburger SV vs Stuttgart: Die Roten Siap Pesta Gol di Volksparkstadion
Prediksi Skor Espanyol vs Atletico Madrid di Liga Spanyol: Los Rojiblancos Pertahankan Laju Positif
Prediksi Skor PSGC Ciamis vs PSIS Semarang di Pegadaian Championship: Tuan Rumah Hadapi Ujian Berat
Prediksi Susunan Pemain AS Roma vs Genoa: Santiago Castro Siap Jadi Andalan
Prediksi Skor Semen Padang vs PSMS di Championship: Kabau Sirah Bidik Kemenangan Kandang Perdana
Prediksi RANS Nusantara vs Persela Lamongan: Laskar Joko Tingkir Berburu Kemenangan di Malang

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022