Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 9 Oktober 2026 | 02.45 WIB

6 Alasan Mengapa Terus Mengejar Hal “Berikutnya” Perlu Dihentikan Menurut Psikologi

seseorang yang terlalu mengejar banyak hal. (magnific)

 

 
JawaPos.com - Ada kalanya hidup terasa seperti sebuah perlombaan yang tidak pernah benar-benar selesai.


Begitu mendapatkan satu hal, pikiran langsung bergerak menuju hal berikutnya. Setelah menyelesaikan pekerjaan, kita memikirkan target selanjutnya. Setelah mendapatkan sesuatu yang sudah lama diinginkan, rasa puas hanya bertahan sebentar sebelum muncul keinginan baru. Bahkan ketika sedang menjalani kehidupan yang sebenarnya sudah cukup baik, kita masih bertanya-tanya:

"Setelah ini apa?"

Pertanyaan tersebut terdengar sederhana. Namun, jika terus-menerus memenuhi pikiran, ia dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk menikmati apa yang sedang dijalani.

Kita hidup dalam budaya yang sering mengagungkan kemajuan. Harus lebih sukses, lebih produktif, lebih kaya, lebih menarik, lebih berpengalaman, lebih populer, atau memiliki pencapaian yang lebih besar daripada sebelumnya.

Tidak ada yang salah dengan memiliki ambisi. Masalahnya muncul ketika seluruh kehidupan berubah menjadi aktivitas mengejar sesuatu yang belum dimiliki.

Dalam psikologi, kecenderungan manusia untuk terus menginginkan sesuatu yang baru bukanlah hal yang aneh. Otak manusia memang sangat adaptif. Kita dapat terbiasa dengan pencapaian, lingkungan, bahkan perubahan besar dalam hidup. Sesuatu yang awalnya terasa luar biasa lama-kelamaan bisa terasa biasa.

Inilah salah satu alasan mengapa mengejar "hal berikutnya" tidak selalu memberikan kepuasan yang kita bayangkan.

Berhenti sejenak bukan berarti menyerah.

Berhenti mengejar bukan berarti tidak memiliki tujuan.

Justru, terkadang berhenti mengejar adalah cara untuk menyadari apakah sesuatu memang benar-benar kita inginkan atau hanya kita kejar karena takut tertinggal.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (6/10), terdapat enam alasan mengapa kamu mungkin perlu berhenti terlalu sibuk memikirkan dan mengejar "hal berikutnya".

1. Karena Mengejar Hal Berikutnya Dapat Membuatmu Terjebak dalam Siklus Kepuasan yang Tidak Pernah Selesai

Salah satu jebakan psikologis yang paling umum adalah menganggap bahwa kebahagiaan akan datang setelah kita mendapatkan sesuatu.

"Aku akan bahagia kalau sudah mendapatkan pekerjaan itu."

"Aku akan tenang kalau sudah punya cukup uang."

"Aku akan puas kalau hubungan ini berhasil."

"Aku akan merasa berhasil kalau sudah mencapai target tersebut."

Masalahnya, ketika tujuan itu akhirnya tercapai, rasa puas yang muncul sering kali tidak bertahan selamanya.

Setelah beberapa waktu, sesuatu yang sebelumnya terasa istimewa mulai menjadi bagian biasa dari kehidupan.

Dalam psikologi, fenomena ini sering dikaitkan dengan hedonic adaptation, yaitu kecenderungan manusia untuk beradaptasi terhadap perubahan positif maupun negatif sehingga tingkat kebahagiaan kembali mendekati kondisi sebelumnya.

Misalnya, seseorang mungkin sangat bahagia ketika mendapatkan ponsel baru. Selama beberapa hari atau minggu, ponsel tersebut terasa menyenangkan. Namun setelah digunakan setiap hari, sensasi istimewanya berkurang.

Kemudian muncul keinginan baru.

Model yang lebih baru.

Barang yang lebih mahal.

Pencapaian berikutnya.

Hal yang sama dapat terjadi dalam karier, hubungan, gaya hidup, maupun status sosial.

Bukan berarti pencapaian tidak memberikan kebahagiaan. Pencapaian tentu dapat memberikan rasa puas dan bangga. Namun, jika kita menjadikan pencapaian sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan, kita berisiko memasuki siklus:

Menginginkan → mengejar → mendapatkan → terbiasa → menginginkan lagi.

Siklus tersebut dapat berlangsung selama bertahun-tahun.

Dan tanpa disadari, seseorang bisa menghabiskan hidupnya menunggu kebahagiaan yang selalu ditempatkan di masa depan.

Karena itu, terkadang yang dibutuhkan bukan tujuan baru, melainkan kemampuan untuk berhenti sejenak dan bertanya:

"Apakah aku benar-benar membutuhkan hal berikutnya, atau aku hanya sudah terbiasa merasa bahwa apa yang kumiliki sekarang belum cukup?"

Pertanyaan tersebut dapat mengubah cara kita melihat kehidupan.

2. Karena Pikiran yang Selalu Berorientasi pada Masa Depan Dapat Membuatmu Kehilangan Kehidupan Saat Ini

Ada perbedaan antara merencanakan masa depan dan hidup hanya untuk masa depan.

Merencanakan masa depan adalah sesuatu yang sehat. Kita perlu membuat rencana, mempersiapkan diri, menabung, belajar, dan menetapkan tujuan.

Namun, ketika perhatian kita terus-menerus berada pada sesuatu yang belum terjadi, kehidupan saat ini dapat terasa seperti sekadar ruang tunggu.

Kita tidak benar-benar menikmati hari ini karena pikiran terus mengatakan:

"Nanti saja."

Nanti kalau sudah punya uang.

Nanti kalau pekerjaan sudah lebih baik.

Nanti kalau sudah mencapai target.

Nanti kalau hidup sudah lebih stabil.

Masalahnya, "nanti" tidak pernah benar-benar selesai.

Ketika satu tujuan tercapai, muncul tujuan lain.

Akibatnya, seseorang bisa menghabiskan bertahun-tahun mempersiapkan diri untuk hidup yang sebenarnya tidak pernah benar-benar dijalani.

Dalam psikologi, perhatian memiliki peran penting dalam pengalaman subjektif kita terhadap kehidupan. Apa yang terus-menerus kita perhatikan akan memengaruhi apa yang kita rasakan.

Jika sebagian besar perhatian diarahkan pada apa yang belum dimiliki, maka kekurangan akan menjadi lebih terlihat daripada kecukupan.

Kita mulai melihat apa yang belum ada.

Bukan apa yang sudah ada.

Kita memikirkan rumah yang belum dimiliki, bukan tempat tinggal yang saat ini melindungi kita.

Kita memikirkan pekerjaan yang belum didapatkan, bukan kemampuan yang sudah berhasil kita bangun.

Kita memikirkan hubungan yang belum dimiliki, bukan orang-orang yang saat ini hadir dalam kehidupan kita.

Padahal, hidup hanya terjadi di saat sekarang.

Masa depan penting untuk direncanakan, tetapi tidak bisa dijalani hari ini.

Karena itu, berhenti mengejar "hal berikutnya" sesekali dapat menjadi latihan untuk kembali hadir dalam kehidupan yang sedang berlangsung.

Bukan berarti berhenti bermimpi.

Melainkan berhenti mengorbankan hari ini demi sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi.

3. Karena Terlalu Fokus pada Pencapaian Dapat Mengubah Nilai Dirimu Menjadi Sekadar "Seberapa Banyak yang Kamu Capai"

Salah satu bahaya terbesar dari budaya mengejar pencapaian adalah ketika seseorang mulai menghubungkan harga dirinya dengan hasil.

"Aku berhasil, berarti aku berharga."

"Aku gagal, berarti aku tidak cukup baik."

"Aku lebih maju dari orang lain, berarti aku lebih bernilai."

Pemikiran semacam ini dapat membuat kehidupan terasa seperti sistem penilaian tanpa akhir.

Setiap pencapaian menjadi bukti bahwa kita cukup.

Setiap kegagalan menjadi ancaman terhadap identitas.

Akibatnya, seseorang tidak lagi mengejar tujuan karena benar-benar menikmati prosesnya, tetapi karena membutuhkan pencapaian tersebut untuk merasa berharga.

Ini bisa membuat kegagalan terasa jauh lebih menyakitkan.

Ketika seluruh identitas dibangun berdasarkan prestasi, kehilangan pekerjaan, gagal dalam bisnis, hubungan yang berakhir, atau tidak mencapai target tertentu dapat terasa seperti kehilangan sebagian dari diri sendiri.

Padahal, manusia jauh lebih kompleks daripada daftar pencapaiannya.

Nilai seseorang tidak hanya ditentukan oleh jabatan, jumlah uang, prestasi akademik, jumlah pengikut, penampilan, atau seberapa cepat ia mencapai target.

Ada kualitas lain yang tidak selalu bisa diukur.

Cara seseorang memperlakukan orang lain.

Kemampuannya bertahan dalam masa sulit.

Kesetiaannya.

Rasa ingin tahunya.

Kebaikannya.

Kemampuannya belajar dari kesalahan.

Kemampuannya mencintai dan hadir untuk orang lain.

Semua itu tidak selalu menghasilkan angka atau sertifikat.

Karena itu, berhenti sejenak dari perlombaan pencapaian dapat membantu kita mengingat bahwa kita adalah manusia, bukan proyek yang harus terus diperbaiki.

Pertumbuhan memang penting.

Tetapi pertumbuhan tidak harus berarti bahwa versi diri kita saat ini selalu buruk dan harus segera digantikan.

4. Karena Mengejar Terlalu Banyak Hal Dapat Membuatmu Mengabaikan Apa yang Sebenarnya Kamu Inginkan

Ada pertanyaan yang sering kita hindari:

"Apakah ini benar-benar keinginanku?"

Kadang kita mengejar sesuatu bukan karena kita menginginkannya, tetapi karena kita melihat orang lain memilikinya.

Teman mendapatkan pekerjaan tertentu.

Kita merasa harus mendapatkan pekerjaan yang sama.

Orang lain membeli rumah.

Kita mulai merasa tertinggal.

Seseorang bepergian ke banyak tempat.

Kita merasa kehidupan kita kurang menarik.

Orang lain menikah.

Kita mulai bertanya mengapa hidup kita belum berada di tahap yang sama.

Media sosial dapat memperkuat kecenderungan ini karena kita terus-menerus melihat potongan kehidupan orang lain.

Masalahnya, kita sering membandingkan kehidupan nyata kita dengan versi terbaik kehidupan orang lain.

Kita melihat pencapaian mereka, tetapi tidak melihat kecemasan mereka.

Kita melihat perjalanan mereka, tetapi tidak melihat kegagalan mereka.

Kita melihat hasil akhirnya, tetapi tidak melihat harga yang harus mereka bayar.

Akibatnya, kita bisa mengejar tujuan yang sebenarnya tidak pernah kita pilih sendiri.

Kita hanya merasa harus memilikinya karena lingkungan mengatakan bahwa itulah tanda keberhasilan.

Berhenti mengejar "hal berikutnya" memberikan ruang untuk bertanya:

"Jika tidak ada seorang pun yang bisa melihat hidupku, apakah aku masih menginginkan hal ini?"

Pertanyaan tersebut sederhana tetapi sangat kuat.

Jika jawabannya ya, mungkin tujuan tersebut memang penting bagi kita.

Namun, jika jawabannya tidak, mungkin selama ini kita hanya mengejar validasi.

Dan menyadari hal tersebut bisa menjadi salah satu bentuk kebebasan terbesar.

5. Karena Istirahat dan Berhenti Sejenak Bukan Lawan dari Produktivitas

Banyak orang merasa bersalah ketika tidak sedang melakukan sesuatu.

Saat tidak bekerja, mereka merasa harus belajar.

Saat tidak belajar, mereka merasa harus membangun jaringan.

Saat tidak membangun sesuatu, mereka merasa sedang membuang waktu.

Seolah-olah setiap menit harus menghasilkan sesuatu.

Cara berpikir seperti ini dapat membuat seseorang kesulitan beristirahat tanpa merasa bersalah.

Padahal, manusia bukan mesin.

Tubuh dan pikiran membutuhkan periode pemulihan.

Istirahat bukan sekadar hadiah setelah semua pekerjaan selesai. Istirahat merupakan bagian dari kemampuan manusia untuk berfungsi secara optimal dalam jangka panjang.

Ketika kita terus mengejar target tanpa memberi ruang untuk pemulihan, kualitas perhatian, kreativitas, pengambilan keputusan, dan regulasi emosi dapat terganggu.

Ironisnya, keinginan untuk terus produktif dapat membuat seseorang menjadi kurang efektif.

Karena itu, ada kalanya hal paling produktif yang bisa dilakukan adalah berhenti.

Tidak membuka daftar tugas.

Tidak mencari target baru.

Tidak memikirkan bagaimana menjadi lebih baik.

Hanya memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk bernapas.

Dalam konteks ini, berhenti bukan berarti pasif.

Berhenti berarti memberi sistem mental kesempatan untuk pulih.

Kamu tidak harus selalu bergerak agar hidupmu memiliki arah.

Terkadang, diam juga merupakan bagian dari perjalanan.

6. Karena Kamu Tidak Pernah Benar-Benar Tahu Apakah "Hal Berikutnya" Akan Membuatmu Lebih Bahagia

Mungkin inilah alasan yang paling penting.

Kita sering bertindak seolah-olah tahu bahwa sesuatu di masa depan akan membuat kita bahagia.

Namun manusia tidak selalu pandai memprediksi apa yang akan membuat dirinya merasa bahagia.

Kita dapat membayangkan bagaimana rasanya mendapatkan pekerjaan impian, membeli sesuatu, pindah ke tempat baru, memiliki pasangan, mencapai target tertentu, atau memperoleh pengakuan.

Tetapi kenyataan setelah tujuan itu tercapai bisa sangat berbeda dari bayangan kita.

Terkadang kita mendapatkannya dan ternyata biasa saja.

Terkadang kita mendapatkannya tetapi muncul masalah baru.

Terkadang kita menyadari bahwa yang sebenarnya kita cari bukan benda atau pencapaian tersebut, melainkan perasaan yang kita kira akan datang bersamanya.

Kita mungkin tidak benar-benar menginginkan jabatan tinggi.

Kita mungkin menginginkan rasa dihargai.

Kita mungkin tidak benar-benar menginginkan kekayaan tanpa batas.

Kita mungkin menginginkan rasa aman.

Kita mungkin tidak benar-benar menginginkan popularitas.

Kita mungkin ingin merasa diterima.

Dengan memahami hal ini, kita dapat mulai memisahkan antara tujuan dan kebutuhan psikologis di balik tujuan tersebut.

Dan terkadang kebutuhan tersebut sebenarnya bisa dipenuhi dengan cara yang jauh lebih sederhana.

Tidak semua kebutuhan harus dipenuhi melalui pencapaian yang lebih besar.

Kadang-kadang rasa aman datang dari memiliki batasan yang sehat.

Rasa diterima datang dari beberapa hubungan yang bermakna.

Rasa berharga datang dari menerima diri sendiri.

Rasa tenang datang dari berhenti membandingkan diri.

Dengan kata lain, mungkin yang kita cari selama ini bukan "hal berikutnya".

Mungkin kita hanya ingin merasa bahwa hidup kita sudah cukup.

Berhenti Mengejar Bukan Berarti Berhenti Bertumbuh

Ada kesalahpahaman bahwa jika seseorang berhenti mengejar sesuatu, berarti ia sudah menyerah pada hidup.

Padahal keduanya sangat berbeda.

Menyerah berarti kehilangan keinginan untuk menjalani atau memperbaiki kehidupan.

Sedangkan berhenti mengejar berarti mengambil jarak untuk mengevaluasi kembali arah.

Kamu masih boleh memiliki impian.

Masih boleh memiliki ambisi.

Masih boleh ingin berkembang.

Masih boleh menetapkan target.

Tetapi kamu tidak harus menjadikan setiap hari sebagai perlombaan menuju versi diri yang lebih "sempurna".

Ada perbedaan antara:

"Aku ingin berkembang karena aku menghargai diriku."

dan

"Aku harus berkembang karena diriku sekarang tidak cukup baik."

Yang pertama berasal dari pertumbuhan.

Yang kedua sering berasal dari ketidakpuasan terhadap diri sendiri.

Dan keduanya dapat menghasilkan perilaku yang sangat berbeda.

Mungkin Kamu Tidak Membutuhkan Hal Berikutnya. Mungkin Kamu Membutuhkan Jeda.

Jika akhir-akhir ini kamu merasa terus-menerus mengejar sesuatu tetapi tetap tidak merasa puas, mungkin masalahnya bukan karena targetmu terlalu kecil.

Mungkin kamu tidak pernah memberikan dirimu kesempatan untuk menikmati apa yang sudah ada.

Cobalah berhenti sejenak.

Lihat kembali perjalananmu.

Ada kemungkinan bahwa beberapa hal yang sekarang kamu anggap biasa sebenarnya adalah hal-hal yang dulu pernah kamu doakan.

Kehidupanmu mungkin belum sempurna.

Tetapi kehidupan tidak harus sempurna untuk tetap memiliki nilai.

Kamu boleh menginginkan lebih sekaligus menghargai apa yang sudah ada.

Kamu boleh memiliki tujuan sekaligus menikmati perjalanan.

Kamu boleh bermimpi tentang masa depan tanpa mengorbankan masa sekarang.

Dan kamu boleh berhenti sejenak tanpa merasa bersalah.

Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang seberapa jauh kamu berhasil pergi.

Hidup juga tentang apakah kamu sempat menyadari bahwa kamu sedang menjalaninya.

Mungkin "hal berikutnya" memang akan datang.

Tetapi untuk saat ini, tidak apa-apa jika kamu berhenti mengejarnya.

Tarik napas.

Lihat sekeliling.

Hargai apa yang sudah ada.

Dan untuk beberapa saat, biarkan hidup menjadi sesuatu yang tidak perlu terus-menerus kamu kejar.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore