seseorang yang menutup diri saat terjadi konflik. (Magnific)
Bagi orang yang berada di sisi lain, sikap seperti ini sering membingungkan. Muncul berbagai pertanyaan: "Kenapa dia diam?", "Apakah dia marah?", "Apakah dia sudah tidak peduli?", atau "Mengapa masalah kecil justru membuatnya menjauh?"
Dalam psikologi, menutup diri ketika menghadapi konflik tidak selalu berarti seseorang tidak peduli atau sengaja ingin menghukum orang lain. Pada banyak kasus, perilaku tersebut merupakan cara seseorang melindungi dirinya ketika menghadapi tekanan emosional.
Setiap orang memiliki cara berbeda dalam menghadapi konflik. Ada yang langsung membicarakannya, ada yang membutuhkan waktu sebelum berbicara, dan ada pula yang memilih menarik diri terlebih dahulu.
Lalu, mengapa sebagian orang cenderung menutup diri ketika terjadi konflik?
Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (8/10), terdapat tujuh alasan yang dapat menjelaskannya.
1. Mereka Merasa Kewalahan Secara Emosional
Salah satu alasan paling umum seseorang menutup diri ketika konflik terjadi adalah karena mereka merasa kewalahan secara emosional.
Konflik dapat memunculkan berbagai emosi sekaligus, seperti marah, kecewa, takut, sedih, malu, atau merasa tidak dihargai. Ketika emosi tersebut muncul dalam intensitas tinggi, seseorang mungkin kesulitan berpikir dengan jernih dan menentukan apa yang harus dikatakan.
Dalam kondisi seperti itu, diam atau menjauh bisa menjadi bentuk respons terhadap tekanan.
Bayangkan seseorang sedang berhadapan dengan pasangan atau anggota keluarga dalam sebuah pertengkaran. Lawan bicaranya terus meminta penjelasan, sementara pikirannya sendiri sedang penuh dengan emosi.
Ia mungkin sebenarnya ingin menjelaskan sesuatu, tetapi tidak tahu harus memulai dari mana.
Daripada mengatakan sesuatu yang nantinya disesali, ia memilih diam.
Dari luar, perilaku tersebut mungkin terlihat seperti menghindar. Namun dari sudut pandangnya, diam bisa menjadi usaha untuk menenangkan diri.
Ada perbedaan penting antara menarik diri untuk mengatur emosi dan sengaja mendiamkan orang lain sebagai hukuman.
Menarik diri untuk sementara dapat menjadi strategi regulasi emosi. Misalnya, seseorang mengatakan:
"Aku sedang terlalu emosi. Aku butuh waktu sebentar supaya bisa membicarakannya dengan lebih tenang."
Ini berbeda dengan menghilang tanpa penjelasan atau sengaja membuat orang lain cemas.
Karena itu, ketika seseorang menutup diri saat konflik, penting untuk melihat konteksnya. Bisa jadi ia bukan tidak peduli, melainkan sedang berusaha mengendalikan emosi yang terlalu kuat.
2. Mereka Takut Konflik Akan Menjadi Lebih Buruk
Sebagian orang memiliki pengalaman bahwa konflik hampir selalu berakhir dengan pertengkaran yang lebih besar.
Mereka mungkin pernah berada dalam lingkungan keluarga yang penuh teriakan, menyaksikan orang dewasa bertengkar secara agresif, atau mengalami hubungan yang membuat perbedaan pendapat terasa mengancam.
Akibatnya, konflik tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang normal dalam sebuah hubungan.
Konflik justru dianggap sebagai tanda bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.
Ketika situasi mulai memanas, mereka secara otomatis memilih mundur.
Misalnya, seseorang berkata:
"Sudahlah, jangan dibahas sekarang."
Atau:
"Aku tidak mau bertengkar."
Kalimat tersebut tidak selalu berarti ia tidak ingin menyelesaikan masalah. Bisa jadi ia sedang berusaha mencegah situasi menjadi semakin buruk.
Orang yang memiliki kecenderungan seperti ini mungkin merasa bahwa berbicara ketika emosi sedang tinggi hanya akan menghasilkan kata-kata kasar, penyesalan, atau kerusakan hubungan.
Dalam pikirannya, menjauh sementara terasa lebih aman daripada terus berdebat.
Inilah sebabnya dua orang bisa memiliki respons yang sangat berbeda terhadap konflik.
Satu orang mungkin berpikir:
"Kalau ada masalah, kita harus membicarakannya sekarang."
Sementara orang lain berpikir:
"Kalau kita terus membicarakannya sekarang, semuanya akan semakin kacau."
Keduanya sebenarnya sama-sama ingin keluar dari masalah, tetapi memiliki strategi yang berbeda.
3. Mereka Tidak Terbiasa Mengungkapkan Perasaan
Tidak semua orang tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan bagaimana mengungkapkan emosi secara sehat.
Ada orang yang sejak kecil terbiasa mendengar kalimat seperti:
"Jangan cengeng."
"Tidak usah terlalu dipikirkan."
"Laki-laki harus kuat."
"Masalah jangan dibesar-besarkan."
"Diam saja kalau sedang marah."
Jika pola seperti ini berlangsung lama, seseorang dapat tumbuh tanpa memiliki kosakata emosional yang cukup untuk menjelaskan apa yang sedang ia rasakan.
Ketika konflik terjadi, ia mungkin sebenarnya mengalami banyak emosi, tetapi tidak tahu bagaimana mengungkapkannya.
Ia tahu dirinya terluka, tetapi tidak tahu bagaimana mengatakan bahwa ia terluka.
Ia tahu dirinya kecewa, tetapi tidak tahu bagaimana menjelaskan penyebabnya.
Akhirnya, respons yang paling mudah adalah diam.
Karena itu, seseorang yang menutup diri belum tentu tidak memiliki perasaan. Bisa jadi justru sebaliknya: ia memiliki banyak perasaan tetapi kesulitan mengubahnya menjadi kata-kata.
Kemampuan untuk mengenali dan mengomunikasikan emosi merupakan keterampilan yang berkembang melalui pengalaman.
Seseorang yang belum terbiasa membicarakan emosi mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami dirinya sendiri sebelum mampu menjelaskan kepada orang lain.
4. Mereka Takut Ditolak atau Disalahpahami
Konflik sering kali membuat seseorang merasa rentan.
Ketika seseorang mengungkapkan perasaan, sebenarnya ia sedang membuka bagian dirinya kepada orang lain. Ada risiko bahwa perasaan tersebut tidak diterima, dianggap berlebihan, atau bahkan digunakan untuk menyerangnya kembali.
Karena itu, sebagian orang memilih tidak berbicara karena takut respons yang mereka terima justru lebih menyakitkan.
Misalnya, seseorang sebenarnya ingin mengatakan:
"Aku merasa tidak dihargai ketika kamu melakukan itu."
Namun ia membayangkan bahwa lawan bicaranya mungkin akan menjawab:
"Kamu terlalu sensitif."
Akhirnya, ia memilih diam.
Dalam situasi seperti ini, diam dapat menjadi bentuk perlindungan diri.
Orang tersebut mungkin berpikir bahwa tidak mengungkapkan perasaan lebih aman daripada mengungkapkannya tetapi kemudian ditolak.
Hal ini terutama mungkin terjadi pada orang yang pernah mengalami pengalaman negatif ketika mencoba terbuka.
Jika setiap kali mengungkapkan perasaan ia justru dikritik, diremehkan, atau disalahkan, lama-kelamaan ia dapat belajar bahwa membuka diri adalah sesuatu yang berisiko.
Akibatnya, ketika konflik terjadi, ia memilih menarik diri.
5. Mereka Membutuhkan Waktu untuk Memproses Masalah
Tidak semua orang mampu memproses konflik dengan cepat.
Ada orang yang bisa langsung mengatakan apa yang mereka pikirkan. Namun ada juga yang membutuhkan waktu untuk memahami apa sebenarnya yang terjadi.
Mereka mungkin membutuhkan beberapa jam atau bahkan beberapa hari untuk menjawab pertanyaan seperti:
"Apa yang sebenarnya membuatku marah?"
"Apa yang sebenarnya aku inginkan?"
"Apakah aku merasa terluka atau hanya kecewa?"
"Apakah masalah ini memang penting atau aku sedang terbawa emosi?"
Bagi orang seperti ini, mengambil jarak sementara dapat membantu mereka mengorganisasi pikiran.
Karena itu, diam tidak selalu identik dengan penolakan.
Kadang-kadang, diam adalah proses berpikir.
Namun, cara seseorang mengambil waktu tetap penting.
Ada perbedaan antara mengatakan:
"Aku butuh waktu untuk berpikir. Nanti malam kita lanjutkan pembicaraan ini."
dengan menghilang tanpa memberikan penjelasan.
Yang pertama menunjukkan adanya usaha untuk mengatur konflik. Yang kedua dapat membuat orang lain merasa ditinggalkan atau diabaikan.
Dengan demikian, kebutuhan untuk mengambil jarak sebenarnya tidak selalu merupakan masalah. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang mengomunikasikan kebutuhan tersebut.
6. Mereka Memiliki Pengalaman Buruk dengan Konflik di Masa Lalu
Pengalaman masa lalu dapat memengaruhi cara seseorang merespons konflik di masa sekarang.
Seseorang yang pernah mengalami hubungan penuh pertengkaran, penolakan, penghinaan, atau komunikasi yang agresif mungkin menjadi lebih sensitif terhadap tanda-tanda konflik.
Begitu suara seseorang meninggi atau percakapan mulai terasa tegang, tubuh dan pikirannya dapat merespons seolah-olah sedang menghadapi ancaman.
Dalam kondisi tertentu, seseorang dapat memilih respons fight, flight, atau freeze.
Sebagian orang melawan.
Sebagian memilih pergi.
Sebagian lainnya justru diam dan membeku.
Respons tersebut tidak selalu merupakan keputusan sadar. Pada situasi yang dianggap mengancam, manusia dapat memberikan respons perlindungan secara otomatis.
Itulah sebabnya ada orang yang ketika berkonflik justru terlihat sangat tenang, tetapi sebenarnya sedang mengalami tekanan yang besar di dalam dirinya.
Ia mungkin tidak tahu harus mengatakan apa.
Ia mungkin merasa ingin pergi.
Atau ia mungkin merasa tidak mampu merespons percakapan saat itu.
Memahami latar belakang seseorang dapat membantu kita melihat bahwa perilaku menutup diri terkadang memiliki sejarah.
Namun, pengalaman masa lalu bukan berarti seseorang tidak dapat belajar menghadapi konflik dengan cara yang lebih sehat. Pola tersebut dapat berubah melalui kesadaran, pengalaman hubungan yang aman, komunikasi yang baik, dan bila diperlukan, bantuan profesional.
7. Menutup Diri Bisa Menjadi Cara Mereka Mempertahankan Kendali
Ketika konflik terjadi, seseorang dapat merasa kehilangan kendali atas situasi.
Percakapan menjadi emosional, tuntutan datang dari berbagai arah, dan ia merasa harus memberikan jawaban sebelum siap.
Dalam kondisi seperti itu, menarik diri dapat memberikan perasaan bahwa dirinya masih memiliki kendali.
Dengan berhenti berbicara, pergi sebentar, atau mengambil jarak, ia dapat menciptakan ruang untuk berpikir.
Misalnya, seseorang yang merasa terus didesak mungkin berkata:
"Aku tidak bisa membicarakan ini sekarang."
Bagi orang lain, kalimat tersebut mungkin terdengar seperti penolakan.
Namun bagi dirinya, itu mungkin merupakan cara untuk mendapatkan kembali rasa aman dan kendali.
Masalah muncul apabila pola tersebut digunakan secara ekstrem.
Jika seseorang selalu menghindari pembicaraan, tidak pernah kembali membahas masalah, atau menggunakan diam untuk membuat orang lain merasa bersalah, maka konflik tidak benar-benar diselesaikan.
Dalam hubungan yang sehat, mengambil jarak seharusnya memiliki tujuan untuk kembali berkomunikasi, bukan untuk menghindari komunikasi selamanya.
Apakah Menutup Diri Selalu Berarti Seseorang Tidak Peduli?
Tidak.
Ini adalah salah satu kesalahpahaman yang cukup umum.
Ketika seseorang diam atau menjauh saat konflik, orang lain mungkin langsung menyimpulkan bahwa ia tidak peduli.
Padahal, perilaku yang sama dapat memiliki banyak alasan.
Seseorang mungkin diam karena sedang marah.
Bisa juga karena takut mengatakan sesuatu yang menyakitkan.
Bisa karena ia merasa kewalahan.
Bisa karena ia membutuhkan waktu untuk berpikir.
Atau bisa juga karena ia belum memiliki kemampuan komunikasi yang cukup untuk membahas konflik secara langsung.
Karena itu, kita tidak dapat mengetahui alasan sebenarnya hanya berdasarkan perilaku diamnya.
Konteks dan komunikasi tetap penting.
Daripada langsung menyimpulkan, akan lebih sehat jika memberikan ruang sekaligus menunjukkan bahwa pembicaraan tetap terbuka.
Misalnya:
"Aku mengerti kalau kamu butuh waktu. Kalau kamu sudah siap, aku ingin kita membicarakan ini dengan tenang."
Kalimat sederhana seperti itu dapat memberikan dua pesan sekaligus: memberikan ruang dan tetap menjaga hubungan.
Kapan Menutup Diri Menjadi Tidak Sehat?
Menarik diri sesekali bukan berarti sesuatu yang buruk.
Bahkan, mengambil waktu untuk menenangkan diri dapat membantu seseorang menghindari respons impulsif ketika emosi sedang tinggi.
Namun, pola tersebut dapat menjadi tidak sehat apabila berlangsung terus-menerus dan membuat masalah tidak pernah terselesaikan.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
Selalu menghindari pembicaraan ketika muncul masalah.
Menghilang tanpa memberikan penjelasan.
Sengaja mendiamkan seseorang untuk menghukumnya.
Menggunakan diam sebagai cara mengendalikan pasangan atau orang lain.
Menolak membicarakan masalah bahkan setelah situasi sudah tenang.
Membuat orang lain terus-menerus merasa cemas dan tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Konflik yang sama terus berulang karena tidak pernah dibahas sampai selesai.
Perbedaan antara memberi ruang untuk menenangkan diri dan silent treatment terletak pada tujuan, pola, dan komunikasi yang menyertainya.
Memberi ruang biasanya memiliki batas dan tujuan untuk kembali membicarakan masalah.
Sebaliknya, silent treatment sering kali digunakan untuk menghukum, mengendalikan, atau membuat orang lain merasa bersalah.
Bagaimana Cara Menghadapi Orang yang Menutup Diri Saat Konflik?
Jika seseorang yang dekat dengan kita cenderung menutup diri ketika terjadi konflik, memaksanya berbicara saat itu juga belum tentu menjadi solusi.
Tekanan yang semakin besar justru dapat membuatnya semakin menarik diri.
Pendekatan yang lebih baik adalah memberikan ruang tanpa mengabaikan masalah.
Kita bisa mengatakan:
"Aku tahu kamu mungkin butuh waktu. Aku akan memberimu ruang. Tapi aku berharap kita tetap membicarakan masalah ini setelah kita sama-sama lebih tenang."
Kalimat tersebut menunjukkan bahwa kita menghormati batas emosionalnya, tetapi juga tetap menjaga kebutuhan untuk menyelesaikan konflik.
Selain itu, gunakan komunikasi yang berfokus pada pengalaman diri daripada tuduhan.
Daripada mengatakan:
"Kamu memang selalu menghindar."
lebih baik mengatakan:
"Aku merasa bingung dan khawatir ketika kita berhenti berkomunikasi tanpa tahu kapan akan membicarakannya lagi."
Perbedaan cara bicara ini terlihat sederhana, tetapi dapat memengaruhi respons lawan bicara.
Konflik Tidak Selalu Berarti Hubungan Sedang Gagal
Konflik merupakan bagian yang hampir tidak terpisahkan dari hubungan manusia.
Pasangan bisa berbeda pendapat. Teman bisa merasa kecewa. Anggota keluarga bisa memiliki kebutuhan yang berbeda. Rekan kerja bisa melihat suatu masalah dari perspektif yang berbeda.
Yang menentukan kualitas hubungan bukan hanya apakah konflik terjadi, tetapi bagaimana konflik tersebut dikelola.
Seseorang yang menutup diri mungkin membutuhkan waktu untuk belajar bahwa konflik tidak selalu berarti ancaman.
Di sisi lain, orang yang menghadapi seseorang yang menarik diri juga perlu belajar bahwa tidak semua diam berarti penolakan.
Keduanya dapat belajar membangun pola komunikasi yang lebih aman.
Satu pihak belajar mengatakan, "Aku butuh waktu, tetapi aku akan kembali membicarakannya."
Pihak lainnya belajar mengatakan, "Aku akan memberimu ruang, tetapi aku berharap kita tidak mengabaikan masalah ini."
Dengan demikian, konflik tidak harus menjadi pertarungan antara siapa yang benar dan siapa yang salah.
Konflik dapat menjadi kesempatan untuk memahami bagaimana masing-masing orang memproses emosi, kebutuhan, ketakutan, dan batas dirinya.
Kesimpulan
Sebagian orang menutup diri ketika terjadi konflik bukan semata-mata karena mereka tidak peduli. Ada berbagai kemungkinan psikologis di balik perilaku tersebut, mulai dari merasa kewalahan secara emosional, takut konflik semakin buruk, kesulitan mengungkapkan perasaan, takut ditolak, membutuhkan waktu untuk memproses masalah, memiliki pengalaman buruk di masa lalu, hingga kebutuhan untuk mendapatkan kembali rasa kendali.
Namun, memahami alasan di balik perilaku tersebut bukan berarti semua bentuk menarik diri harus dianggap sehat.
Yang paling penting adalah melihat pola dan tujuan di baliknya.
Mengambil waktu untuk menenangkan diri dapat menjadi bagian dari komunikasi yang sehat jika seseorang tetap memiliki niat untuk kembali menyelesaikan masalah. Sebaliknya, menghilang, mendiamkan, atau menggunakan keheningan untuk menghukum orang lain dapat menciptakan masalah baru dalam hubungan.
Pada akhirnya, hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa konflik. Hubungan yang sehat adalah hubungan di mana kedua pihak secara bertahap belajar menghadapi konflik tanpa harus saling menghancurkan.
Terkadang, seseorang memang membutuhkan ruang untuk diam.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Fulham vs Hull City: The Tigers Berpeluang Menang Tipis di Craven Cottage
Prediksi Skor Garudayaksa vs Arema FC: Produktivitas Singo Edan Jadi Ancaman Bagi Tuan Rumah
Prediksi Skor Lille vs Brest di Liga Prancis: Verdonk Starter, Les Dogues Berjaya di Pierre Mauroy
Prediksi Susunan Pemain Real Betis vs Barcelona: Yamal dan Adeyemi Jadi Andalan
Prediksi Skor Hamburger SV vs Stuttgart: Die Roten Siap Pesta Gol di Volksparkstadion
Prediksi Skor Espanyol vs Atletico Madrid di Liga Spanyol: Los Rojiblancos Pertahankan Laju Positif
Prediksi Skor PSGC Ciamis vs PSIS Semarang di Pegadaian Championship: Tuan Rumah Hadapi Ujian Berat
Prediksi Susunan Pemain AS Roma vs Genoa: Santiago Castro Siap Jadi Andalan
Prediksi Skor Semen Padang vs PSMS di Championship: Kabau Sirah Bidik Kemenangan Kandang Perdana
Prediksi RANS Nusantara vs Persela Lamongan: Laskar Joko Tingkir Berburu Kemenangan di Malang

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022