seseorang yang merasa waktu berjalan lebih cepat. (Magnific)
Saat masih kecil, satu tahun terasa sangat lama. Menunggu ulang tahun berikutnya seperti menunggu sesuatu yang jaraknya begitu jauh. Liburan sekolah terasa panjang, akhir pekan terasa seperti kesempatan besar untuk bermain, dan satu hari seolah memiliki begitu banyak waktu.
Namun, setelah dewasa, pengalaman tersebut perlahan berubah.
Tiba-tiba Januari sudah menjadi April. Belum sempat menikmati pertengahan tahun, kalender sudah menunjukkan September. Hari Senin terasa baru dimulai, tetapi tanpa disadari sudah kembali ke akhir pekan. Bahkan, kita sering terkejut ketika menyadari bahwa beberapa tahun telah berlalu sejak sebuah peristiwa penting dalam hidup.
Secara objektif, waktu tentu tidak benar-benar berjalan lebih cepat. Satu menit tetap terdiri dari 60 detik dan satu hari tetap memiliki 24 jam. Yang berubah adalah cara otak dan pikiran kita mengalami serta mengingat berjalannya waktu.
Dalam psikologi, pengalaman subjektif terhadap waktu memang dapat berubah tergantung pada usia, perhatian, emosi, rutinitas, dan jumlah pengalaman baru yang kita alami.
Lalu, mengapa semakin tua kita sering merasa waktu semakin cepat?
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (4/10), terdapat tujuh alasan yang dapat membantu menjelaskannya.
1. Satu tahun menjadi semakin kecil dibandingkan seluruh hidup kita
Salah satu penjelasan paling populer mengenai persepsi waktu berkaitan dengan proporsi usia.
Bayangkan seorang anak berusia 5 tahun. Satu tahun merupakan sekitar 20 persen dari seluruh hidupnya. Karena itu, satu tahun terasa seperti periode yang sangat besar dibandingkan pengalaman hidup yang sudah dimilikinya.
Sekarang bandingkan dengan seseorang berusia 50 tahun. Satu tahun hanya sekitar 2 persen dari usianya.
Secara psikologis, perbedaan ini dapat membantu menjelaskan mengapa satu tahun terasa jauh lebih panjang ketika kita masih muda dibandingkan ketika kita sudah dewasa.
Bagi seorang anak, menunggu satu tahun untuk ulang tahun berikutnya berarti menunggu bagian yang relatif besar dari hidupnya. Bagi orang dewasa, satu tahun hanyalah bagian kecil dari keseluruhan pengalaman hidup.
Namun, penting untuk dipahami bahwa ini lebih merupakan cara intuitif untuk menggambarkan persepsi waktu, bukan hukum matematis yang secara langsung menentukan seberapa cepat seseorang merasakan waktu.
Dengan kata lain, semakin banyak pengalaman hidup yang kita miliki, semakin kecil satu periode waktu tertentu terasa jika dibandingkan dengan keseluruhan hidup kita.
Itulah sebabnya usia 10 hingga 20 tahun bisa terasa sangat panjang ketika kita menjalaninya, sementara usia 40 hingga 50 tahun dapat terasa berlalu begitu cepat ketika kita melihatnya kembali.
2. Masa kecil dipenuhi pengalaman baru
Ada alasan lain yang sangat penting: kebaruan.
Masa kanak-kanak dan remaja biasanya dipenuhi berbagai pengalaman pertama.
Pertama kali masuk sekolah.
Pertama kali memiliki sahabat dekat.
Pertama kali bepergian jauh.
Pertama kali jatuh cinta.
Pertama kali mendapatkan pekerjaan.
Pertama kali tinggal jauh dari orang tua.
Pertama kali mengendarai kendaraan sendiri.
Pertama kali menghadapi berbagai situasi sosial.
Pengalaman baru membuat otak bekerja lebih aktif dalam memproses informasi. Lingkungan yang sebelumnya asing membutuhkan perhatian lebih besar karena kita harus memperhatikan berbagai detail.
Akibatnya, sebuah periode kehidupan yang penuh pengalaman baru dapat meninggalkan banyak jejak dalam ingatan.
Sebaliknya, ketika kita semakin dewasa, kehidupan sering menjadi lebih terstruktur.
Kita bangun pada jam yang sama.
Pergi bekerja.
Melakukan tugas yang serupa.
Pulang.
Makan.
Beristirahat.
Mengulangi rutinitas tersebut pada hari berikutnya.
Rutinitas memang dapat membuat hidup terasa nyaman dan stabil. Namun, dari perspektif pengalaman waktu, rutinitas juga memiliki efek samping: banyak hari menjadi sulit dibedakan satu sama lain dalam ingatan.
Ketika kita melihat kembali satu bulan yang dipenuhi rutinitas, kita mungkin hanya mengingat beberapa kejadian penting.
Akibatnya, satu bulan tersebut terasa seperti berlalu dalam sekejap.
3. Rutinitas membuat hari-hari terasa seperti "menyatu"
Bayangkan Anda menjalani dua minggu dengan kegiatan yang hampir sama setiap hari.
Senin bekerja.
Selasa bekerja.
Rabu bekerja.
Kamis bekerja.
Jumat bekerja.
Kemudian akhir pekan.
Siklus tersebut berulang.
Jika seseorang bertanya, "Apa yang terjadi dua minggu terakhir?", Anda mungkin kesulitan memberikan banyak detail.
Bandingkan dengan dua minggu yang dipenuhi pengalaman berbeda: pergi ke tempat baru, bertemu orang baru, belajar sesuatu yang baru, mengikuti kegiatan sosial, mencoba makanan yang belum pernah dicoba, atau melakukan perjalanan.
Ketika melihat kembali dua periode tersebut, periode kedua kemungkinan terasa jauh lebih panjang karena memiliki lebih banyak titik-titik memori yang berbeda.
Inilah salah satu alasan mengapa rutinitas dapat membuat waktu terasa cepat ketika dikenang.
Menariknya, ada perbedaan antara merasakan waktu ketika sedang menjalaninya dan mengingat waktu setelah periode tersebut berlalu.
Hari kerja yang membosankan mungkin terasa sangat lama ketika kita sedang menjalaninya. Namun, setelah beberapa bulan berlalu, kita bisa merasa bahwa periode tersebut ternyata berlalu begitu cepat.
Sebaliknya, perjalanan yang penuh pengalaman baru mungkin terasa melelahkan dan panjang ketika sedang berlangsung. Tetapi ketika dikenang kembali, perjalanan tersebut dapat terasa jauh lebih panjang karena banyak peristiwa yang tersimpan dalam ingatan.
Jadi, pengalaman waktu tidak hanya ditentukan oleh jam atau kalender, tetapi juga oleh berapa banyak pengalaman yang berhasil kita bedakan dan simpan dalam memori.
4. Semakin dewasa, perhatian kita semakin terbagi
Anak-anak sering memiliki kemampuan untuk tenggelam sepenuhnya dalam suatu aktivitas.
Ketika bermain, mereka benar-benar bermain.
Ketika menonton sesuatu yang menarik, mereka dapat fokus pada hal tersebut.
Ketika penasaran dengan sesuatu, mereka bisa menghabiskan waktu untuk mengeksplorasinya.
Orang dewasa biasanya menghadapi lebih banyak tuntutan perhatian.
Pekerjaan.
Keluarga.
Keuangan.
Pesan masuk.
Media sosial.
Rencana masa depan.
Tanggung jawab rumah tangga.
Berbagai masalah yang harus diselesaikan.
Akibatnya, perhatian kita sering berpindah dari satu hal ke hal lain.
Padahal, perhatian merupakan salah satu faktor penting dalam persepsi waktu.
Ketika kita terus memperhatikan waktu, kita cenderung lebih sadar terhadap berlalunya menit dan jam.
Sebaliknya, ketika perhatian kita terserap oleh pekerjaan, percakapan, hiburan, atau berbagai aktivitas lain, kita mungkin tidak terlalu memperhatikan waktu.
Itulah sebabnya dua jam bisa terasa sangat berbeda dalam dua keadaan.
Dua jam menunggu tanpa aktivitas dapat terasa sangat panjang.
Namun dua jam berbicara dengan teman, bermain gim, membaca buku, atau mengerjakan sesuatu yang menarik bisa terasa seperti hanya beberapa menit.
Seiring bertambahnya usia dan meningkatnya tanggung jawab, perhatian kita semakin sering terbagi. Kita mungkin tidak lagi mengalami setiap momen dengan tingkat perhatian yang sama seperti ketika masih kecil.
Akibatnya, hari-hari terasa berlalu tanpa kita benar-benar menyadarinya.
5. Otak semakin sering menggunakan pola yang sudah dikenal
Otak manusia sangat efisien.
Kita tidak perlu memproses setiap pengalaman dari awal.
Ketika sudah terbiasa melakukan sesuatu, otak dapat menggunakan pola yang telah terbentuk sebelumnya. Hal ini membuat aktivitas sehari-hari membutuhkan lebih sedikit perhatian sadar.
Misalnya, ketika seseorang baru belajar mengemudi, hampir setiap detail terasa penting.
Kapan harus menginjak rem.
Bagaimana memutar kemudi.
Bagaimana berpindah jalur.
Bagaimana membaca rambu.
Namun setelah bertahun-tahun mengemudi, banyak proses tersebut menjadi otomatis.
Hal yang sama dapat terjadi pada berbagai aktivitas kehidupan.
Kita sudah mengetahui jalan menuju kantor.
Kita sudah mengetahui cara menyelesaikan pekerjaan tertentu.
Kita sudah terbiasa dengan lingkungan rumah.
Kita sudah memahami pola interaksi dengan orang-orang yang dekat dengan kita.
Efisiensi ini tentu merupakan sesuatu yang positif. Tanpa kemampuan otak untuk mengotomatisasi banyak aktivitas, kehidupan sehari-hari akan sangat melelahkan.
Namun, dari sudut pandang pengalaman subjektif, otomatisasi dapat membuat sebagian pengalaman menjadi kurang menonjol.
Hari-hari yang sangat mirip akhirnya sulit dibedakan satu sama lain.
Karena itu, ketika melihat ke belakang, beberapa bulan terakhir bisa terasa seperti satu blok waktu yang sangat singkat.
6. Kita semakin jarang mengalami "pengalaman pertama"
Salah satu karakteristik masa muda adalah banyaknya pengalaman pertama.
Saat masih kecil, hampir setiap tahun membawa sesuatu yang baru.
Sekolah baru.
Teman baru.
Pelajaran baru.
Permainan baru.
Lingkungan baru.
Perubahan tubuh.
Pengalaman sosial baru.
Ketika dewasa, pengalaman pertama mungkin menjadi lebih jarang.
Bukan berarti kehidupan orang dewasa tidak memiliki hal baru. Kita tetap dapat memulai pekerjaan baru, pindah rumah, bepergian, mempelajari keterampilan, membangun hubungan, atau mengejar tujuan baru.
Namun, jika seseorang menjalani kehidupan yang sangat repetitif, jumlah pengalaman yang benar-benar berbeda dari sebelumnya dapat menurun.
Inilah mengapa banyak orang merasa bahwa masa kecil mereka begitu panjang jika dibandingkan dengan masa dewasa.
Masa kecil memiliki banyak "penanda" dalam ingatan.
Kelas satu SD.
Kelas enam.
Masuk SMP.
Liburan tertentu.
Ulang tahun.
Pertemanan.
Peristiwa keluarga.
Berbagai pengalaman tersebut menciptakan banyak titik referensi.
Sebaliknya, seseorang yang menghabiskan bertahun-tahun melakukan rutinitas yang sama mungkin hanya memiliki sedikit titik referensi.
Akhirnya, lima tahun terakhir terasa seperti berlalu begitu saja.
Bukan karena lima tahun tersebut benar-benar lebih singkat, tetapi karena memori kita memiliki lebih sedikit kejadian yang membedakan satu periode dengan periode lainnya.
7. Kita sering hidup dalam mode otomatis, bukan sepenuhnya hadir
Alasan terakhir mungkin yang paling relevan dengan kehidupan modern.
Banyak orang menjalani sebagian besar hari dalam kondisi yang bisa disebut sebagai autopilot.
Kita melakukan sesuatu karena sudah terbiasa melakukannya, bukan karena benar-benar memperhatikan pengalaman tersebut.
Kita makan sambil melihat ponsel.
Berjalan sambil memikirkan pekerjaan.
Berkendara sambil memikirkan masalah lain.
Berbicara dengan seseorang sambil memeriksa notifikasi.
Menonton film sambil membuka media sosial.
Bahkan ketika sedang beristirahat, pikiran kita mungkin sudah sibuk memikirkan apa yang harus dilakukan berikutnya.
Akibatnya, kita mengalami momen tersebut tanpa sepenuhnya menyadarinya.
Ketika hari berakhir, kita mungkin bertanya:
"Seharian tadi saya melakukan apa?"
Pertanyaan tersebut menunjukkan bagaimana mudahnya waktu berlalu ketika perhatian kita tidak benar-benar berada pada pengalaman yang sedang terjadi.
Dalam konteks ini, memperlambat pengalaman waktu secara psikologis bukan berarti memperlambat jam.
Yang dapat kita lakukan adalah meningkatkan kesadaran terhadap momen yang sedang dijalani.
Mencoba makanan baru.
Mengunjungi tempat yang belum pernah dikunjungi.
Mempelajari keterampilan baru.
Berbicara dengan orang tanpa memegang ponsel.
Mengubah rutinitas sesekali.
Melakukan aktivitas dengan penuh perhatian.
Semakin kaya dan beragam pengalaman kita, semakin banyak pula jejak yang dapat terbentuk dalam ingatan.
Jadi, apakah waktu benar-benar berjalan lebih cepat ketika kita tua?
Tidak.
Jam tetap berjalan dengan kecepatan yang sama.
Yang berubah adalah persepsi dan ingatan kita terhadap waktu.
Ketika masih muda, kehidupan sering dipenuhi pengalaman baru, perhatian yang lebih terarah pada lingkungan, serta banyak peristiwa yang belum pernah dialami sebelumnya.
Ketika dewasa, rutinitas meningkat, banyak aktivitas menjadi otomatis, perhatian terbagi, dan pengalaman baru mungkin menjadi lebih jarang.
Kombinasi faktor tersebut dapat membuat waktu terasa semakin cepat.
Namun, ada sisi positifnya.
Jika sebagian pengalaman waktu dipengaruhi oleh kebaruan dan perhatian, maka kita sebenarnya memiliki ruang untuk mengubah cara kita mengalami hidup.
Kita tidak dapat membuat satu hari menjadi lebih dari 24 jam.
Tetapi kita dapat membuat hari-hari tersebut terasa lebih berisi.
Cara membuat hidup terasa lebih "panjang" secara psikologis
Jika Anda merasa tahun-tahun berlalu terlalu cepat, bukan berarti Anda harus menjalani hidup dengan terburu-buru.
Justru sebaliknya.
Cobalah sesekali keluar dari rutinitas.
Belajar sesuatu yang belum pernah dipelajari.
Mengunjungi tempat baru.
Bertemu orang dengan latar belakang berbeda.
Mencoba hobi baru.
Membuat proyek pribadi.
Mengambil rute berbeda ketika bepergian.
Mengurangi multitasking.
Dan yang tidak kalah penting, memberikan perhatian penuh pada aktivitas yang sedang dilakukan.
Tidak harus selalu sesuatu yang besar.
Sarapan tanpa melihat ponsel juga bisa menjadi pengalaman yang berbeda jika benar-benar memperhatikan rasa, aroma, tekstur makanan, dan suasana pagi.
Berjalan kaki sambil memperhatikan lingkungan sekitar juga dapat membuat sebuah perjalanan sederhana terasa lebih kaya.
Pada akhirnya, mungkin kita tidak benar-benar membutuhkan lebih banyak waktu.
Kita mungkin hanya membutuhkan lebih banyak pengalaman yang benar-benar kita sadari.
Sebab ketika melihat kembali kehidupan, yang membuat suatu periode terasa panjang bukan hanya berapa banyak hari yang telah dilewati, tetapi juga berapa banyak momen yang benar-benar kita ingat pernah kita jalani.
Penutup
Perasaan bahwa waktu semakin cepat seiring bertambahnya usia adalah pengalaman yang sangat manusiawi. Psikologi menunjukkan bahwa persepsi waktu dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari perhatian, kebaruan pengalaman, rutinitas, hingga cara otak membentuk dan mengingat peristiwa.
Itulah sebabnya masa kecil sering terasa panjang ketika dikenang, sedangkan masa dewasa kadang terasa seperti berlalu dalam sekejap.
Namun, kesadaran terhadap fenomena ini juga dapat menjadi pengingat penting.
Kita tidak bisa menghentikan waktu.
Kita tidak bisa kembali ke usia tertentu.
Tetapi kita masih bisa memilih bagaimana mengisi waktu yang sedang kita miliki.
Mungkin rahasianya bukan membuat waktu berjalan lebih lambat, melainkan membuat lebih banyak momen layak diingat.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Fulham vs Hull City: The Tigers Berpeluang Menang Tipis di Craven Cottage
Prediksi Skor Garudayaksa vs Arema FC: Produktivitas Singo Edan Jadi Ancaman Bagi Tuan Rumah
Prediksi Skor Lille vs Brest di Liga Prancis: Verdonk Starter, Les Dogues Berjaya di Pierre Mauroy
Prediksi Susunan Pemain Real Betis vs Barcelona: Yamal dan Adeyemi Jadi Andalan
Prediksi Skor Hamburger SV vs Stuttgart: Die Roten Siap Pesta Gol di Volksparkstadion
Prediksi Skor Espanyol vs Atletico Madrid di Liga Spanyol: Los Rojiblancos Pertahankan Laju Positif
Prediksi Skor PSGC Ciamis vs PSIS Semarang di Pegadaian Championship: Tuan Rumah Hadapi Ujian Berat
Prediksi Susunan Pemain AS Roma vs Genoa: Santiago Castro Siap Jadi Andalan
Prediksi Skor Semen Padang vs PSMS di Championship: Kabau Sirah Bidik Kemenangan Kandang Perdana
Prediksi RANS Nusantara vs Persela Lamongan: Laskar Joko Tingkir Berburu Kemenangan di Malang

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022