Ilustrasi make up. (Pexels)

JawaPos.com - Membangun brand kosmetik tidak cukup hanya dengan menghasilkan produk. Pelaku usaha juga perlu menyiapkan formulasi, kualitas, legalitas, hingga strategi agar produk dapat masuk dan berkembang di pasar.

 
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam panel talk show “Unlocking Premium Brand Success” di Cosmobeauté Indonesia 2026, ICE BSD. PT Medkes Global Prima (Medkes) menilai kesiapan regulasi dan dukungan pengembangan pasar perlu dipikirkan sejak awal ketika sebuah brand mulai dibangun.
 
Direktur Operasional PT Medkes Global Prima Shella Huliselan mengatakan, aspek regulasi sebaiknya tidak baru diperhatikan setelah produk selesai dibuat. Menurutnya, pemilik brand perlu mempertimbangkan persyaratan yang berlaku sejak tahap awal pengembangan.
 
 
“Ketika ingin membangun sebuah brand, pemilik brand tidak hanya perlu memikirkan produknya mau seperti apa, tetapi juga bagaimana produk tersebut dapat memenuhi persyaratan yang berlaku,” ujar Shella, Jumat (2/10).
 
Pendampingan, lanjut Shella, dapat mencakup pengembangan formulasi, produksi, hingga kebutuhan legalitas seperti pendaftaran HAKI, notifikasi BPOM, dan sertifikasi sesuai karakteristik produk.
 
“Pelaku usaha tidak perlu memulai semuanya dari nol. Di Medkes, kami dapat mendampingi mulai dari pengembangan formulasi, proses produksi, hingga kebutuhan legalitas,” katanya.
 
Dari sisi manufaktur, ia menerangkan bahwa Medkes memiliki fasilitas produksi dengan standar berbeda sesuai kategori produk, yakni Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB), Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), dan Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB). Fasilitas untuk masing-masing kategori produksi disiapkan secara terpisah.
 
Selain produksi, pengembangan brand juga membutuhkan pemahaman terhadap kebutuhan konsumen. Partner Beauty World Indonesia dr. Samuel Stemi mengatakan pengalaman berinteraksi dengan pasien, misalnya, dapat menjadi sumber ide untuk mengidentifikasi kebutuhan produk.
 
Namun, ide tersebut perlu diterjemahkan melalui berbagai kompetensi agar dapat menjadi produk dan brand yang siap dikembangkan.
 
“Ketika kita punya ide untuk membuat satu brand, kita tentu mencari produsen yang tidak hanya bisa memproduksi skincare, tetapi juga bisa mendukung dari sisi perencanaan formulasi dan aspek lainnya,” ujar Samuel.
 
Setelah produk siap dan memenuhi persyaratan, tantangan berikutnya adalah bagaimana brand menjangkau konsumen. General Manager Sales & Marketing B2C Beauty World Indonesia Irine mengatakan distribusi, retail, dan pemahaman terhadap perilaku konsumen menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengembangan brand.
 
“Brand yang sudah siap secara produk tetap perlu memiliki strategi untuk masuk ke pasar. Karena itu, pengalaman di sisi distribusi, retail, dan pemahaman terhadap perilaku konsumen menjadi pelengkap dari kemampuan produksi,” kata Irine.
 
Menurut Irine, perubahan perilaku konsumen yang semakin kuat ke kanal digital juga membuat strategi pemasaran dan distribusi ikut berkembang. Karena itu, pengembangan brand dinilai tidak berhenti pada tahap produksi, tetapi berlanjut hingga produk dapat diterima pasar.