Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 25 Agustus 2026 | 16.00 WIB

Rusia Produksi 15 Reaktor Nuklir RITM-200, Perluas Ambisi Energi dari Kapal Pemecah Es

Keunggulan utama RITM-200 terletak pada desain terintegrasinya / Foto: (Interesting Engineering) - Image

Keunggulan utama RITM-200 terletak pada desain terintegrasinya / Foto: (Interesting Engineering)

JawaPos.com — Rusia memperluas pemanfaatan teknologi nuklir berukuran kecil dari laut ke daratan dan kawasan terpencil. Rosatom telah memproduksi 15 unit reaktor RITM-200 dan tengah mengerjakan 13 unit tambahan. Reaktor ini semula dikembangkan untuk menggerakkan kapal pemecah es bertenaga nuklir yang beroperasi di jalur Arktik, tetapi kini teknologinya diarahkan untuk kebutuhan energi sipil dan pasar internasional.

Perkembangan itu menempatkan RITM-200 sebagai bagian dari strategi Rusia mengembangkan reaktor modular berukuran kecil yang dapat digunakan di lokasi dengan akses energi terbatas. Setiap unit merupakan reaktor air bertekanan dengan kapasitas termal 175 megawatt dan masa operasi sedikitnya 40 tahun. Ukurannya mencapai 7,3 meter dengan diameter 3,3 meter.

Dilansir dari Interesting Engineering, Senin (24/8/2026), Kepala Rosatom Alexey Likhachev mengatakan, “Reaktor ini sangat cocok untuk daerah yang sulit dijangkau dan terisolasi. Hanya di Rusia unit seperti ini diproduksi secara massal.” Pernyataan itu disampaikan dalam rapat pemerintah Rusia mengenai pembangunan infrastruktur nuklir.

Keunggulan RITM-200 terletak pada rancangan integralnya. Pada reaktor laut konvensional, pembangkit uap dan pompa pendingin berada di luar bejana utama serta terhubung melalui jaringan pipa besar. Sebaliknya, RITM-200 menempatkan inti reaktor dan pembangkit uap dalam satu bejana bertekanan. Konfigurasi tersebut memangkas ukuran sistem sekitar sepertiga dan membuat daya yang dihasilkan sekitar 1,5 kali lebih besar dibandingkan ukurannya.

Efisiensi ruang itu berpengaruh langsung pada kapal pemecah es Project 22220. Reaktor yang lebih ringkas menghemat ruang dan bobot kapal, sehingga kedalaman lambung dapat disesuaikan dengan kondisi perairan. Di laut dalam, kapal memasukkan air sebagai pemberat agar lambung lebih tenggelam dan mampu memecahkan es hingga setebal tiga meter. Saat memasuki perairan dangkal dan muara sungai di Siberia, air pemberat dikeluarkan agar kapal terangkat dan tidak kandas.

Namun, pemanfaatannya kini bergerak melampaui armada Arktik. Rosatom mengadaptasi teknologi tersebut menjadi RITM-200N untuk pembangkit listrik darat. Pembangunan fasilitas berbasis desain ini telah dimulai di Yakutia, Siberia timur, untuk memasok listrik ke deposit emas dan mineral Kyuchus sekaligus memenuhi kebutuhan permukiman setempat. Rosatom juga mengembangkan RITM-200S untuk pembangkit terapung yang akan memasok energi ke kawasan pertambangan Baimsky di Chukotka.

Ekspansi itu memperlihatkan bagaimana Rusia mencoba mengubah teknologi yang lahir dari kebutuhan maritim menjadi infrastruktur energi yang lebih fleksibel. Untuk lokasi pesisir dan wilayah industri terpencil, pembangkit terapung menawarkan alternatif tanpa harus membangun fasilitas pembangkit permanen berskala besar. Proyek Baimsky sendiri dirancang menggunakan beberapa unit pembangkit terapung berbasis RITM-200S.

Di saat yang sama, Rosatom menguji teknologi yang lebih kecil untuk wilayah dengan kebutuhan listrik minimal. Program tersebut mencakup reaktor mikro Shelf dan unit termolistrik Elena yang dikembangkan Kurchatov Institute. Elena menghasilkan panas sekaligus listrik melalui material termoelektrik, bukan turbin uap. Minimnya komponen bergerak memungkinkan sistem dirancang untuk beroperasi secara otonom selama puluhan tahun dengan kebutuhan perawatan rutin yang rendah.

Arah ekspansi tersebut juga mulai memiliki dimensi internasional. Rosatom menyatakan, “RITM-200 juga mulai memasuki pasar internasional.” Salah satu proyek yang disebut adalah pembangunan pembangkit nuklir berukuran kecil rancangan Rusia di Uzbekistan. Meski konfigurasi proyek Uzbekistan kemudian berubah, kerja sama tersebut menunjukkan upaya Moskwa menjadikan teknologi reaktor kecil sebagai produk ekspor energi.

Dengan demikian, RITM-200 bukan lagi sekadar mesin penggerak kapal pemecah es. Produksi massal, pengembangan versi darat dan terapung, serta penjajakan pasar luar negeri menunjukkan upaya Rusia membangun ekosistem nuklir berukuran kecil untuk Arktik, pertambangan, permukiman terpencil, hingga kebutuhan energi negara lain. Dalam konteks persaingan teknologi nuklir global, kemampuan memproduksi reaktor secara berulang menjadi sama pentingnya dengan desain teknologinya.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore