seseorang yang mengalami kelelahan ekstrem / foto: Magnific/yanalya
Pekerjaan harus sempurna. Tubuh harus ideal. Karier harus terus berkembang. Rumah harus selalu rapi. Produktivitas harus meningkat. Bahkan waktu istirahat pun terkadang terasa seperti sesuatu yang harus dilakukan dengan “benar”.
Di tengah tuntutan tersebut, ada satu pola pikir yang mungkin terdengar berlawanan dengan intuisi: imperfectionism—sebuah sikap yang memungkinkan kita menerima bahwa tidak semua hal harus sempurna.
Bagi seseorang yang sedang mengalami burnout, gagasan ini bisa menjadi sangat penting.
Burnout bukan sekadar merasa lelah setelah menjalani hari yang panjang. Kelelahan biasa umumnya dapat membaik setelah tidur atau beristirahat. Burnout, sebaliknya, berkaitan dengan kelelahan yang lebih persisten, jarak psikologis atau sikap sinis terhadap pekerjaan, serta menurunnya efektivitas dalam menjalankan aktivitas.
Ironisnya, ketika seseorang mulai kelelahan, respons yang muncul sering kali justru berusaha lebih keras.
“Seharusnya saya bisa lebih produktif.”
“Saya tidak boleh membuat kesalahan.”
“Saya harus menyelesaikan semuanya.”
“Saya tidak boleh mengecewakan orang lain.”
“Kalau saya berhenti sekarang, berarti saya gagal.”
Di sinilah imperfectionism dapat menjadi pendekatan yang menarik.
Alih-alih terus mengejar standar sempurna, kita belajar bertanya:
“Apa yang cukup baik untuk dilakukan sekarang, tanpa mengorbankan diri sendiri?”
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (28/9), terdapat tujuh cara pola pikir ini dapat membantu kita menghadapi burnout.
1. Imperfectionism Membantu Kita Berhenti Mengejar Standar yang Tidak Realistis
Salah satu sumber kelelahan psikologis adalah kesenjangan antara apa yang kita tuntut dari diri sendiri dan apa yang secara realistis dapat kita lakukan.
Perfeksionisme sering membuat standar pribadi menjadi sangat tinggi. Masalahnya bukan semata-mata memiliki standar tinggi. Memiliki target dan berusaha melakukan sesuatu dengan baik tentu bisa menjadi hal yang positif.
Persoalannya muncul ketika standar tersebut menjadi kaku.
Seseorang mungkin berpikir bahwa laporan harus benar-benar sempurna sebelum dikirim. Presentasi harus bebas dari kesalahan. Setiap tugas harus diselesaikan dengan kualitas maksimal.
Akibatnya, tugas yang sebenarnya membutuhkan satu jam dapat menghabiskan tiga atau empat jam.
Ketika pola tersebut berlangsung terus-menerus, energi mental terkuras.
Imperfectionism menawarkan alternatif: standar yang fleksibel.
Alih-alih:
“Saya harus melakukan ini dengan sempurna.”
kita dapat menggantinya dengan:
“Saya akan mengerjakannya sebaik mungkin dengan waktu dan energi yang saya miliki.”
Perbedaannya terlihat kecil, tetapi konsekuensi psikologisnya dapat besar.
Kita mulai mengakui bahwa kualitas pekerjaan selalu dipengaruhi oleh sumber daya yang tersedia: waktu, energi, perhatian, informasi, kondisi fisik, dan keadaan lingkungan.
Tidak semua situasi membutuhkan performa 100 persen.
Ada pekerjaan yang memang membutuhkan ketelitian sangat tinggi. Namun ada pula pekerjaan yang cukup diselesaikan dengan standar “baik dan selesai”.
Praktik sederhana: tentukan standar sebelum mulai
Sebelum mengerjakan tugas, tanyakan:
Apakah tugas ini benar-benar membutuhkan hasil sempurna?
Apa konsekuensi jika terdapat kesalahan kecil?
Berapa banyak waktu yang masuk akal untuk tugas ini?
Seperti apa hasil yang “cukup baik”?
Apa yang akan saya korbankan jika terus memperbaikinya?
Pertanyaan-pertanyaan ini membantu kita membedakan kualitas yang diperlukan dari kesempurnaan yang kita tuntut sendiri.
2. Imperfectionism Mengurangi Beban untuk Selalu Produktif
Burnout sering berkembang dalam budaya yang menganggap produktivitas sebagai ukuran nilai diri.
Ketika produktif, kita merasa berharga.
Ketika tidak produktif, kita merasa bersalah.
Akibatnya, istirahat pun dapat berubah menjadi aktivitas yang membuat kita merasa bersalah.
Kita berbaring di sofa, tetapi pikiran terus berjalan:
“Seharusnya saya bekerja.”
“Masih banyak yang harus dilakukan.”
“Saya membuang-buang waktu.”
“Orang lain sedang bekerja lebih keras.”
Dalam kondisi seperti ini, tubuh berhenti bekerja tetapi pikiran tidak pernah benar-benar beristirahat.
Imperfectionism membantu dengan memperkenalkan gagasan bahwa tidak setiap hari harus maksimal.
Ada hari ketika kita dapat bekerja dengan sangat baik.
Ada hari ketika energi kita hanya memungkinkan kita melakukan hal-hal mendasar.
Keduanya tetap merupakan bagian normal dari kehidupan manusia.
Produktivitas manusia tidak bersifat linear. Energi mental dan fisik berubah berdasarkan tidur, stres, kesehatan, beban pekerjaan, masalah pribadi, dan banyak faktor lainnya.
Karena itu, mempertahankan produktivitas maksimum setiap hari bukanlah target yang realistis.
Cobalah membagi aktivitas menjadi tiga tingkat
Hari energi tinggi:
Kerjakan tugas yang membutuhkan konsentrasi dan kreativitas.
Hari energi sedang:
Kerjakan pekerjaan rutin dan administratif.
Hari energi rendah:
Prioritaskan kebutuhan dasar, pekerjaan paling penting, dan pemulihan.
Dengan cara ini, kita tidak lagi memaksa diri untuk menghasilkan performa yang sama setiap hari.
Istirahat bukan kegagalan produktivitas. Istirahat merupakan bagian dari keberlanjutan.
3. Imperfectionism Membantu Kita Menerima Kesalahan Tanpa Menghukum Diri Sendiri
Kesalahan adalah salah satu pengalaman yang paling sulit diterima oleh orang dengan kecenderungan perfeksionistik.
Satu kesalahan kecil dapat terasa seperti bukti bahwa seluruh pekerjaan gagal.
Lebih buruk lagi, kesalahan dapat berubah menjadi serangan terhadap identitas diri:
“Saya memang tidak kompeten.”
“Saya selalu melakukan kesalahan.”
“Saya tidak cukup baik.”
Di sinilah kita perlu membedakan antara evaluasi perilaku dan penghakiman terhadap diri sendiri.
Evaluasi perilaku berbunyi:
“Ada bagian pekerjaan saya yang salah. Apa yang bisa saya perbaiki?”
Penghakiman diri berbunyi:
“Saya membuat kesalahan, berarti saya adalah orang yang buruk.”
Yang pertama membantu proses belajar.
Yang kedua menambah beban emosional.
Burnout menjadi lebih berat ketika seseorang tidak hanya lelah karena pekerjaannya, tetapi juga harus menghadapi kritik internal tanpa henti.
Imperfectionism mengajarkan bahwa kesalahan tidak selalu membutuhkan hukuman; sering kali kesalahan membutuhkan informasi.
Jika sebuah email memiliki kesalahan ketik, kita memperbaikinya.
Jika presentasi kurang jelas, kita mengevaluasinya.
Jika keputusan ternyata kurang tepat, kita belajar dari konsekuensinya.
Tidak perlu menambahkan hukuman psikologis di atas masalah yang sudah terjadi.
Gunakan pertanyaan berikut setelah melakukan kesalahan:
Apa yang sebenarnya terjadi?
Bagian mana yang berada dalam kendali saya?
Apa yang dapat saya pelajari?
Apa yang perlu diperbaiki?
Apa yang tidak perlu saya pikirkan lagi?
Pertanyaan terakhir sering kali terlupakan.
Tidak semua kesalahan perlu dipikirkan berulang-ulang.
4. Imperfectionism Membantu Kita Menetapkan Batas
Salah satu karakteristik kehidupan yang mendorong burnout adalah kesulitan mengatakan “tidak”.
Seseorang mungkin menerima terlalu banyak tugas karena takut mengecewakan orang lain.
“Bisa tolong kerjakan ini?”
“Bisa selesai malam ini?”
“Bisa bantu sedikit?”
Karena ingin menjadi orang yang dapat diandalkan, kita terus mengatakan:
“Bisa.”
Masalahnya, setiap “ya” memiliki biaya.
Waktu berkurang.
Energi berkurang.
Waktu tidur berkurang.
Waktu bersama keluarga berkurang.
Waktu untuk diri sendiri berkurang.
Imperfectionism membantu kita menerima bahwa kita tidak harus selalu menjadi orang yang sempurna bagi semua orang.
Kita boleh memiliki keterbatasan.
Kita boleh mengatakan:
“Saya belum bisa mengerjakannya hari ini.”
“Saya perlu waktu tambahan.”
“Saya hanya bisa membantu bagian ini.”
“Saya tidak dapat mengambil tanggung jawab tersebut sekarang.”
Ini bukan berarti menjadi egois.
Ini berarti mengakui bahwa kapasitas manusia memiliki batas.
Salah satu prinsip yang berguna:
Jangan membuat komitmen berdasarkan energi ideal yang mungkin Anda miliki. Buat komitmen berdasarkan kapasitas realistis Anda.
Misalnya, seseorang mungkin berpikir:
“Besok saya pasti punya waktu tiga jam.”
Namun jika jadwal sebenarnya sudah penuh, mengandalkan energi ideal hanya akan menghasilkan tekanan tambahan.
Lebih sehat untuk berkata:
“Saya memiliki sekitar satu jam yang realistis. Apa yang dapat saya selesaikan dalam waktu tersebut?”
Batas yang sehat dapat menjadi bentuk pencegahan burnout.
5. Imperfectionism Mengubah Cara Kita Memandang Istirahat
Bagi orang yang terbiasa mengejar kesempurnaan, istirahat dapat terasa seperti sesuatu yang harus “diperoleh”.
“Saya akan istirahat setelah semua pekerjaan selesai.”
Masalahnya?
Pekerjaan hampir tidak pernah benar-benar selesai.
Selalu ada email.
Selalu ada tugas.
Selalu ada sesuatu yang bisa diperbaiki.
Jika istirahat hanya boleh dilakukan setelah semuanya selesai, kita mungkin tidak pernah benar-benar beristirahat.
Imperfectionism menawarkan prinsip yang berbeda:
Pekerjaan boleh berhenti meskipun belum semuanya selesai.
Ini bukan berarti mengabaikan tanggung jawab. Ini berarti menerima bahwa kehidupan tidak akan pernah berada dalam keadaan sepenuhnya “selesai”.
Rumah mungkin masih berantakan.
Inbox mungkin masih memiliki pesan.
Dokumen mungkin masih dapat diperbaiki.
Daftar pekerjaan mungkin masih panjang.
Tetapi kita tetap boleh tidur.
Tetap boleh makan dengan tenang.
Tetap boleh berjalan-jalan.
Tetap boleh menghabiskan waktu bersama orang yang kita cintai.
Cobalah mengubah definisi istirahat
Istirahat bukan:
“Saya berhenti bekerja karena semua pekerjaan sudah selesai.”
Melainkan:
“Saya berhenti bekerja karena kapasitas saya hari ini memiliki batas.”
Perubahan ini sangat penting.
Sebab jika kesempurnaan menjadi syarat untuk beristirahat, kita akan terus bekerja sampai tubuh memaksa kita berhenti.
6. Imperfectionism Membantu Kita Mengurangi “All-or-Nothing Thinking”
Perfeksionisme sering berjalan bersama pola berpikir hitam-putih.
Sesuatu dianggap:
sempurna atau gagal.
produktif atau malas.
berhasil atau tidak berguna.
100 persen atau tidak sama sekali.
Padahal kehidupan manusia jauh lebih kompleks.
Misalnya, seseorang memiliki target berolahraga selama satu jam.
Hari itu ia hanya mampu berjalan selama 15 menit.
Dalam pola pikir hitam-putih:
“Cuma 15 menit. Tidak ada gunanya.”
Dalam pola pikir yang lebih fleksibel:
“Hari ini saya hanya mampu 15 menit, dan itu tetap merupakan aktivitas fisik.”
Perbedaannya bukan sekadar soal motivasi.
Pola pikir fleksibel membuat kita mampu mempertahankan perilaku baik tanpa menuntut kondisi ideal.
Hal yang sama berlaku untuk pekerjaan.
Daripada:
“Kalau tidak bisa menyelesaikan semuanya, percuma mulai.”
kita dapat berpikir:
“Apa bagian terkecil yang bisa saya selesaikan sekarang?”
Prinsip ini dapat membantu memutus siklus:
standar terlalu tinggi → merasa kewalahan → menghindari tugas → merasa bersalah → bekerja berlebihan → semakin lelah.
Dengan standar yang fleksibel, siklus tersebut dapat digantikan dengan:
target realistis → mulai sedikit → selesai sebagian → evaluasi → lanjut atau istirahat.
Tidak spektakuler.
Tidak sempurna.
Tetapi jauh lebih berkelanjutan.
7. Imperfectionism Mengajarkan Kita Bahwa Nilai Diri Tidak Harus Bergantung pada Prestasi
Mungkin inilah bagian yang paling mendasar.
Perfeksionisme dapat membuat seseorang secara tidak sadar menghubungkan:
“Saya berhasil” = “Saya berharga.”
Akibatnya, ketika prestasi menurun, harga diri ikut terguncang.
Ketika pekerjaan bagus, kita merasa layak.
Ketika gagal, kita merasa tidak berharga.
Ini menciptakan kondisi psikologis yang sangat melelahkan karena seseorang harus terus membuktikan dirinya.
Imperfectionism membantu memisahkan dua hal:
nilai diri dan hasil pekerjaan.
Anda dapat menghasilkan pekerjaan yang buruk tanpa menjadi manusia yang buruk.
Anda dapat mengalami hari yang tidak produktif tanpa menjadi orang yang malas.
Anda dapat membuat keputusan yang salah tanpa seluruh identitas Anda menjadi sebuah kesalahan.
Anda dapat membutuhkan bantuan tanpa menjadi tidak kompeten.
Dan Anda dapat berhenti sejenak tanpa kehilangan nilai diri.
Ini bukan berarti prestasi tidak penting.
Prestasi tetap memiliki konsekuensi nyata. Pekerjaan perlu diselesaikan. Tanggung jawab perlu dijalankan. Kesalahan terkadang harus diperbaiki.
Namun semuanya tidak harus menjadi referendum terhadap harga diri kita.
Cobalah mengganti pertanyaan:
Dari:
“Apakah saya cukup baik?”
menjadi:
“Apa yang dapat saya lakukan dengan kapasitas yang saya miliki saat ini?”
Dari:
“Apakah saya sudah melakukan semuanya?”
menjadi:
“Apa yang paling penting untuk dilakukan sekarang?”
Dari:
“Mengapa saya tidak bisa seperti orang lain?”
menjadi:
“Apa yang sebenarnya saya butuhkan saat ini?”
Pertanyaan yang berbeda dapat menghasilkan cara berpikir yang berbeda.
Imperfectionism Bukan Berarti Menjadi Ceroboh
Ada satu kesalahpahaman yang perlu diluruskan.
Menerima ketidaksempurnaan bukan berarti kita harus berhenti berusaha.
Imperfectionism bukan:
mengabaikan kualitas;
sengaja melakukan pekerjaan dengan buruk;
tidak bertanggung jawab;
menggunakan “saya tidak sempurna” sebagai alasan untuk tidak belajar;
menyerah terhadap tujuan;
atau mengabaikan konsekuensi nyata dari tindakan kita.
Sebaliknya, imperfectionism lebih dekat dengan fleksibilitas psikologis.
Kita tetap berusaha.
Tetapi kita tidak mengharuskan diri sendiri untuk selalu maksimal.
Kita tetap memiliki standar.
Tetapi standar tersebut dapat disesuaikan dengan konteks.
Kita tetap memperbaiki kesalahan.
Tetapi kita tidak menghancurkan diri sendiri karena kesalahan tersebut.
Kita tetap memiliki ambisi.
Tetapi ambisi tidak harus dibayar dengan kesehatan dan keberlangsungan hidup.
Dari “Harus Sempurna” Menjadi “Cukup Baik dan Berkelanjutan”
Salah satu perubahan paling penting dalam menghadapi burnout adalah mengubah pertanyaan dari:
“Bagaimana saya bisa melakukan lebih banyak?”
menjadi:
“Bagaimana saya bisa menjalani hidup ini dengan cara yang dapat saya pertahankan?”
Ini adalah pergeseran dari maksimalisasi menuju keberlanjutan.
Kita mungkin tidak dapat mengontrol seluruh tuntutan di sekitar kita. Pekerjaan tetap memiliki deadline. Keluarga tetap membutuhkan perhatian. Masalah hidup tetap muncul.
Namun kita dapat mengevaluasi bagaimana kita merespons tuntutan tersebut.
Kita dapat memilih kapan harus berhenti.
Kita dapat menentukan mana yang benar-benar penting.
Kita dapat membiarkan beberapa hal tidak sempurna.
Kita dapat meminta bantuan.
Kita dapat menurunkan standar untuk hal-hal yang memang tidak membutuhkan kesempurnaan.
Dan yang paling penting, kita dapat menerima kenyataan bahwa kapasitas manusia memang terbatas.
Sebuah Latihan “Imperfectionism” untuk 7 Hari
Jika ingin mencoba pendekatan ini, lakukan eksperimen sederhana selama satu minggu.
Hari 1 — Pilih satu hal untuk dibuat “cukup baik”
Ambil satu tugas yang biasanya Anda kerjakan terlalu lama.
Tetapkan standar realistis dan berhenti ketika standar tersebut tercapai.
Hari 2 — Katakan “tidak” pada satu hal
Pilih permintaan yang sebenarnya tidak sanggup Anda ambil.
Tolak dengan sopan atau tawarkan alternatif.
Hari 3 — Beristirahat sebelum semuanya selesai
Sengaja berhenti bekerja ketika masih ada beberapa tugas kecil yang belum selesai.
Perhatikan apa yang terjadi pada pikiran Anda.
Hari 4 — Biarkan satu kesalahan kecil berlalu
Jika Anda melakukan kesalahan yang konsekuensinya rendah, perbaiki jika perlu lalu lanjutkan hari Anda.
Jangan mengulang-ulang kejadian tersebut dalam pikiran.
Hari 5 — Turunkan target
Jika biasanya Anda menargetkan 100 persen, coba tentukan apa yang terlihat seperti 70–80 persen yang masuk akal.
Lihat apakah hasilnya masih memenuhi kebutuhan.
Hari 6 — Pisahkan hasil dari nilai diri
Ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, hindari kalimat seperti:
“Saya gagal.”
Gunakan:
“Hasilnya tidak sesuai harapan. Apa yang bisa saya pelajari?”
Hari 7 — Evaluasi energi
Tanyakan:
Apa yang paling menguras energi saya?
Aktivitas apa yang sebenarnya tidak perlu saya lakukan secara sempurna?
Di mana saya perlu membuat batas?
Apa yang membantu saya pulih?
Tuntutan mana yang dapat saya kurangi?
Tujuan eksperimen ini bukan menjadi “sempurna dalam menjadi tidak sempurna”.
Justru sebaliknya.
Tujuannya adalah belajar bahwa kehidupan tetap dapat berjalan meskipun beberapa hal tidak dilakukan secara sempurna.
Penutup: Kita Tidak Harus Menghancurkan Diri untuk Membuktikan Bahwa Kita Serius
Burnout sering membuat seseorang merasa bahwa satu-satunya jalan keluar adalah bekerja lebih keras agar semuanya kembali terkendali.
Padahal, dalam beberapa situasi, solusi justru dapat dimulai dari kebalikannya:
mengurangi tuntutan yang tidak perlu.
Imperfectionism mengajak kita menerima sebuah kenyataan sederhana tetapi sulit:
Kita memiliki batas.
Kita memiliki energi terbatas.
Waktu terbatas.
Perhatian terbatas.
Kemampuan terbatas.
Dan menerima keterbatasan tersebut bukan tanda kelemahan.
Justru dengan mengakui batas, kita dapat mengalokasikan energi kepada hal-hal yang benar-benar penting.
Kita tidak perlu menjadikan setiap tugas sebagai ujian terhadap harga diri.
Tidak setiap kesalahan membutuhkan rasa bersalah.
Tidak setiap kesempatan harus diterima.
Tidak setiap hari harus produktif.
Tidak setiap pekerjaan harus sempurna.
Dan tidak setiap bagian kehidupan harus berada dalam keadaan selesai sebelum kita mengizinkan diri sendiri untuk beristirahat.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang lebih sehat bukan:
“Bagaimana saya bisa menjadi versi diri saya yang sempurna?”
melainkan:
“Bagaimana saya bisa menjadi manusia yang tetap mampu menjalani hidup ini dengan baik, meskipun saya tidak sempurna?”
Itulah inti dari imperfectionism.
Bukan berhenti peduli.
Bukan berhenti berusaha.
Melainkan belajar bahwa cukup baik, realistis, dan berkelanjutan terkadang jauh lebih sehat daripada sempurna tetapi menghabiskan seluruh diri kita.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Belgia vs Prancis di Liga Nations UEFA: Les Bleus Unggul Tipis dari Tuan Rumah
Prediksi Susunan Pemain Prancis vs Belgia: Tanpa Mbappe, Zidane Hadapi Ujian Berat
Prediksi Skor Moldova vs Kepulauan Faroe: Landsliðið Unggul Tipis dari Tuan Rumah
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat
Prediksi Skor Georgia vs Ukraina di UEFA Nations League: Misi Berat Kvaratskhelia Cs di Kandang
Prediksi Skor Armenia vs Montenegro di Liga Nations UEFA: Hrabri Sokoli Bakal Sulitkan Tuan Rumah
Prediksi Skor Slovenia vs Makedonia Utara di Liga Nations UEFA: Fantje Kalahkan Tim Tamu
Prediksi Skor Turki vs Italia di Liga Nations UEFA: Kans Ay-Yıldızlılar Hentikan Perlawanan Azzurri
Prediksi Skor Skotlandia vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Kalahkan Tuan Rumah dengan Skor Telak
Prediksi Skor Armenia vs Montenegro di UEFA Nations League: Siapa Paling Kuat?

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022