Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 30 September 2026 | 18.09 WIB

Jika Kamu Ingin Menemukan Kedamaian di Kesendirian, Lakukan 7 Cara Ini Menurut Psikologi

seseorang yang menemukan kedamaian di kesendirian. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Ada masa ketika kesendirian terasa seperti hukuman. Ketika tidak ada seseorang yang mengirim pesan, tidak ada teman untuk diajak berbicara, atau tidak ada aktivitas yang membuat pikiran sibuk, suasana bisa tiba-tiba terasa begitu sunyi.


Namun, kesendirian tidak selalu berarti kesepian.

Ada perbedaan besar antara sendirian karena tidak memiliki siapa-siapa dan memilih untuk menikmati waktu bersama diri sendiri. Yang pertama bisa terasa menyakitkan, sementara yang kedua justru dapat menjadi ruang untuk beristirahat, memahami diri, dan memulihkan energi.

Dalam psikologi, waktu yang dihabiskan sendirian tidak otomatis merupakan sesuatu yang buruk. Kesendirian yang dilakukan secara sadar dapat memberikan kesempatan untuk melakukan refleksi diri, mengatur emosi, menikmati aktivitas secara mandiri, dan melepaskan diri sejenak dari tuntutan sosial.

Masalahnya, banyak orang belum terbiasa dengan keheningan.

Begitu suasana menjadi sepi, pikiran mulai berlari ke mana-mana. Mengingat kesalahan masa lalu, memikirkan masa depan, membandingkan diri dengan orang lain, atau bertanya-tanya mengapa hidup terasa berbeda dari yang diharapkan.

Karena itu, menemukan kedamaian dalam kesendirian bukan berarti memaksa diri untuk menyukai kesepian. Ini lebih tentang belajar merasa aman dan nyaman ketika sedang bersama diri sendiri.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (29/9), jika kamu sedang berada dalam fase hidup yang lebih banyak dihabiskan sendirian, tujuh cara berikut dapat membantu mengubah kesendirian menjadi pengalaman yang lebih bermakna.

1. Berhenti Menganggap Kesendirian sebagai Sesuatu yang Harus Ditakuti

Langkah pertama mungkin terdengar sederhana, tetapi justru sering menjadi bagian tersulit: ubah cara pandangmu terhadap kesendirian.

Banyak orang secara otomatis mengartikan kesendirian sebagai tanda bahwa mereka tidak disukai, tidak dibutuhkan, atau telah ditinggalkan. Akibatnya, ketika sendirian, mereka langsung berusaha mencari distraksi.

Membuka media sosial. Menonton video tanpa henti. Menghubungi seseorang hanya karena takut merasa sepi.

Tidak ada yang salah dengan mencari hiburan atau berkomunikasi dengan orang lain. Namun, jika setiap momen hening selalu harus diisi, kamu mungkin tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk mengetahui seperti apa rasanya nyaman bersama diri sendiri.

Cobalah memisahkan dua hal:

“Aku sedang sendirian” tidak sama dengan “Aku sedang tidak memiliki siapa-siapa.”

Kamu bisa saja sedang sendirian secara fisik, tetapi tetap memiliki hubungan dengan keluarga, teman, pasangan, komunitas, atau orang-orang yang berarti dalam hidupmu.

Kesendirian juga dapat menjadi kesempatan untuk mengurangi kebisingan sosial.

Saat tidak harus terus mengikuti keinginan orang lain, kamu memiliki ruang untuk bertanya:

Apa yang sebenarnya aku inginkan?

Apa yang membuatku merasa tenang?

Apa yang selama ini kulakukan hanya karena ingin mendapatkan pengakuan dari orang lain?

Pertanyaan seperti itu membutuhkan keheningan.

Jadi, ketika kamu sedang sendirian, jangan langsung menganggapnya sebagai keadaan yang harus segera diperbaiki. Cobalah melihatnya sebagai ruang sementara untuk kembali mengenal dirimu sendiri.

2. Belajar Menikmati Aktivitas Sendirian

Salah satu cara paling efektif untuk berdamai dengan kesendirian adalah membangun pengalaman positif ketika melakukan sesuatu seorang diri.

Tidak harus sesuatu yang besar.

Kamu bisa minum kopi sambil membaca buku, berjalan kaki di pagi hari, memasak makanan sederhana, pergi ke toko buku, merapikan kamar, mendengarkan musik, menulis jurnal, atau menikmati matahari terbenam.

Yang penting bukan aktivitasnya.

Yang penting adalah pengalaman bahwa kamu tetap bisa menikmati hidup meskipun tidak selalu ditemani orang lain.

Pada awalnya mungkin terasa canggung.

Misalnya, makan sendirian di restoran bisa membuatmu merasa seolah-olah semua orang memperhatikanmu. Padahal, sebagian besar orang sebenarnya sibuk dengan urusan mereka sendiri.

Semakin sering kamu melakukan aktivitas secara mandiri, semakin terbiasa pula pikiranmu.

Kamu mulai menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu membutuhkan penonton.

Ada kepuasan tertentu ketika kamu mampu berkata:

“Aku bisa menikmati momen ini meskipun tidak ada orang lain di sampingku.”

Ini bukan berarti kamu harus menjadi seseorang yang tidak membutuhkan orang lain. Manusia tetap membutuhkan hubungan sosial. Tetapi memiliki kemampuan untuk menikmati waktu sendiri dapat membuat hubungan sosial menjadi lebih sehat.

Kamu bertemu orang lain bukan semata-mata karena takut sendirian, melainkan karena memang ingin berbagi pengalaman.

3. Gunakan Kesendirian untuk Mengenal Diri, Bukan Menghakimi Diri

Kesendirian memberikan kesempatan untuk mendengarkan suara batin.

Tetapi ada perbedaan antara refleksi diri dan overthinking.

Refleksi bertanya:

“Apa yang bisa kupelajari dari pengalaman ini?”

Sementara overthinking sering terjebak dalam:

“Kenapa aku selalu seperti ini?”

“Kenapa aku tidak pernah cukup baik?”

“Bagaimana kalau semuanya gagal?”

“Kenapa orang lain hidupnya lebih baik dariku?”

Keduanya sama-sama melibatkan pikiran, tetapi arahnya berbeda.

Refleksi membantu kita memahami pengalaman. Overthinking sering membuat kita berputar di dalam pengalaman yang sama tanpa menemukan jalan keluar.

Karena itu, ketika sedang sendiri, cobalah menggunakan jurnal.

Tidak perlu menulis panjang. Cukup luangkan sekitar 10–15 menit dan tuliskan tiga hal:

Apa yang sedang aku rasakan?

Apa yang mungkin menyebabkan perasaan ini?

Apa satu hal kecil yang bisa kulakukan untuk merawat diriku hari ini?

Cara sederhana ini dapat membantu membuat emosi terasa lebih terstruktur.

Misalnya, daripada hanya berpikir:

“Aku merasa hidupku berantakan.”

Kamu bisa menuliskan:

“Aku sedang kecewa karena rencana yang kubuat tidak berjalan sesuai harapan. Aku merasa kehilangan arah. Untuk hari ini, aku akan menyelesaikan satu pekerjaan kecil yang masih bisa kukendalikan.”

Perbedaannya mungkin terlihat kecil.

Tetapi dengan menuliskan perasaan, kamu mulai menciptakan jarak antara dirimu dan pikiranmu.

Kamu bukan semua hal yang muncul di kepalamu.

Kamu adalah seseorang yang dapat mengamati, memahami, dan merespons pikiran tersebut.

4. Kurangi Ketergantungan pada Distraksi Digital

Kesendirian sering terasa lebih berat ketika pikiran terus-menerus dibanjiri stimulasi.

Begitu merasa bosan, tangan mengambil ponsel.

Begitu merasa sepi, membuka media sosial.

Begitu melihat kehidupan orang lain, mulai membandingkan diri.

Tanpa disadari, waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk beristirahat justru berubah menjadi konsumsi informasi tanpa akhir.

Media sosial memang dapat membantu seseorang tetap terhubung. Namun, penggunaan yang berlebihan dapat membuat kita terus-menerus melihat kehidupan orang lain yang telah dipilih dan disajikan kepada publik.

Kita melihat liburan orang lain.

Pencapaian orang lain.

Hubungan romantis orang lain.

Rumah orang lain.

Karier orang lain.

Kemudian kehidupan sendiri terasa kurang menarik.

Padahal, kita sedang membandingkan kehidupan sehari-hari kita dengan potongan kehidupan orang lain yang sudah dikurasi.

Karena itu, cobalah membuat beberapa periode kecil tanpa layar.

Misalnya, 30 menit setelah bangun tidur tanpa membuka media sosial. Atau satu jam sebelum tidur digunakan untuk membaca, berjalan santai, mandi, menulis jurnal, atau sekadar duduk dalam suasana tenang.

Pada awalnya, keheningan mungkin terasa membosankan.

Namun, setelah terbiasa, kamu mungkin mulai menyadari bahwa pikiranmu tidak selalu membutuhkan rangsangan.

Ada ketenangan yang muncul ketika kamu tidak harus mengetahui apa yang sedang dilakukan semua orang.

5. Rawat Tubuhmu Ketika Sedang Sendiri

Kedamaian psikologis tidak hanya dibangun melalui pikiran. Kondisi fisik juga memainkan peran penting dalam bagaimana kita mengalami emosi.

Ketika kurang tidur, jarang bergerak, makan tidak teratur, atau terus-menerus berada di dalam ruangan, kondisi mental dapat terasa semakin berat.

Karena itu, gunakan kesendirian sebagai kesempatan untuk merawat tubuh.

Bangun pada waktu yang relatif konsisten.

Berjalan kaki.

Merapikan kamar.

Memasak makanan yang cukup bergizi.

Mandi dengan tenang.

Mendapatkan paparan cahaya pagi.

Beristirahat ketika tubuh membutuhkannya.

Hal-hal tersebut terdengar sederhana, tetapi justru sering diabaikan ketika seseorang sedang mengalami masa sulit.

Ada kecenderungan untuk berpikir bahwa kita harus terlebih dahulu merasa baik sebelum mulai merawat diri.

Padahal, terkadang urutannya justru sebaliknya.

Kita melakukan tindakan kecil yang mendukung kesejahteraan diri, kemudian kondisi emosional perlahan ikut berubah.

Kamu tidak perlu mengubah seluruh hidup dalam satu hari.

Cukup mulai dari sesuatu yang bisa dilakukan hari ini.

Misalnya berjalan selama 15 menit.

Merapikan tempat tidur.

Minum air yang cukup.

Tidur lebih teratur.

Membersihkan ruang kerja.

Kesendirian akan terasa berbeda ketika lingkungan di sekitarmu juga memberikan rasa aman dan nyaman.

6. Bangun Hubungan dengan Diri Sendiri, Bukan Mengisolasi Diri

Menikmati kesendirian bukan berarti menarik diri dari semua orang.

Ini penting.

Ada perbedaan antara solitude dan isolasi sosial.

Solitude adalah waktu yang sengaja digunakan untuk diri sendiri. Sementara isolasi sosial dapat berarti berkurangnya hubungan dengan orang lain, terutama jika hal tersebut tidak diinginkan dan membuat seseorang semakin tertekan.

Manusia pada dasarnya membutuhkan hubungan.

Karena itu, kedamaian dalam kesendirian seharusnya tidak berubah menjadi keyakinan bahwa kamu tidak membutuhkan siapa pun.

Tetaplah menjaga hubungan yang sehat.

Kirim pesan kepada teman.

Telepon keluarga.

Bertemu seseorang yang membuatmu merasa aman.

Bergabung dengan komunitas.

Atau sekadar mengobrol dengan orang lain ketika kamu membutuhkannya.

Ironisnya, seseorang justru dapat lebih menikmati waktu sendiri ketika ia tahu bahwa dirinya memiliki hubungan sosial yang aman.

Jadi, tujuan dari kesendirian bukan:

“Aku tidak membutuhkan siapa pun.”

Melainkan:

“Aku bisa baik-baik saja bersama diriku sendiri, dan aku juga tetap menghargai hubungan dengan orang lain.”

Keduanya bisa berjalan bersamaan.

Kamu boleh mandiri tanpa harus menjadi terisolasi.

Kamu boleh menikmati kesendirian tanpa menolak kedekatan.

Dan kamu boleh membutuhkan orang lain tanpa kehilangan kemampuan untuk berdiri sendiri.

7. Ciptakan Ritual Kecil yang Membuat Kesendirian Terasa Bermakna

Jika kamu ingin benar-benar merasa nyaman dengan kesendirian, cobalah mengubahnya menjadi sesuatu yang memiliki pola.

Misalnya, setiap Minggu pagi kamu berjalan kaki sendirian.

Setiap malam kamu menulis jurnal selama sepuluh menit.

Setiap Jumat malam kamu membaca buku sambil menikmati minuman favorit.

Atau setiap sore kamu duduk sebentar tanpa ponsel dan membiarkan pikiran beristirahat.

Ritual seperti ini membuat waktu sendiri tidak lagi terasa sebagai “waktu kosong”.

Sebaliknya, kamu mulai menganggapnya sebagai waktu yang memang kamu sediakan untuk dirimu sendiri.

Lama-kelamaan, mungkin akan muncul perasaan yang berbeda.

Kamu tidak lagi merasa harus selalu memiliki seseorang untuk mengisi ruang kosong dalam hidupmu.

Kamu mulai bisa menikmati pagi yang sunyi.

Menikmati perjalanan seorang diri.

Menikmati makan tanpa harus terus berbicara.

Menikmati malam tanpa harus mencari seseorang untuk diajak mengobrol.

Dan pada titik tertentu, kamu mungkin menyadari bahwa kedamaian tidak selalu datang ketika kehidupan menjadi ramai.

Kadang-kadang, kedamaian muncul ketika kita berhenti melarikan diri dari keheningan.

Kesendirian Tidak Harus Menjadi Kesepian

Ada fase dalam kehidupan ketika kita memang harus berjalan lebih banyak sendirian.

Teman berubah.

Hubungan berakhir.

Orang-orang memiliki kesibukan masing-masing.

Karier membawa kita ke tempat baru.

Atau kita memang sedang membutuhkan waktu untuk menata kembali hidup.

Semua itu bisa terasa sepi.

Tetapi kesendirian juga dapat menjadi ruang pertumbuhan.

Di dalam kesendirian, kamu bisa mendengar pikiranmu dengan lebih jelas.

Kamu bisa mengetahui apa yang sebenarnya kamu sukai.

Kamu bisa belajar mengambil keputusan tanpa selalu membutuhkan persetujuan orang lain.

Kamu bisa membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri.

Dan yang paling penting, kamu bisa belajar bahwa nilai dirimu tidak sepenuhnya ditentukan oleh seberapa banyak orang yang berada di sekitarmu.

Tentu saja, jika kesendirian berubah menjadi perasaan terisolasi, kesedihan yang menetap, kehilangan minat pada aktivitas, atau membuatmu kesulitan menjalani kehidupan sehari-hari, jangan menganggap semuanya harus dihadapi sendirian. Berbicara dengan orang yang dipercaya atau tenaga profesional dapat menjadi langkah yang tepat.

Pada akhirnya, menemukan kedamaian dalam kesendirian bukan tentang menjadi seseorang yang tidak membutuhkan orang lain.

Ini tentang memiliki kemampuan untuk berkata:

“Aku menikmati kebersamaan dengan orang lain, tetapi aku juga tidak takut ketika harus bersama diriku sendiri.”

Dan mungkin, itulah salah satu bentuk kedewasaan emosional yang paling tenang.

Bukan ketika kita tidak pernah merasa sepi.

Melainkan ketika kita mampu berada dalam keheningan tanpa terus-menerus merasa harus melarikan diri darinya.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore