Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 30 September 2026 | 17.59 WIB

7 Cara Menciptakan Cara Berhubungan yang Lebih Bermakna Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?

seseorang yang menciptakan hubungan yang bermakna. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Di tengah kehidupan yang semakin terhubung, ternyata membangun hubungan yang benar-benar bermakna tidak selalu menjadi lebih mudah. Kita bisa berkomunikasi dengan siapa saja dalam hitungan detik, memiliki ratusan kontak di ponsel, mengikuti kehidupan banyak orang melalui media sosial, bahkan mengetahui kabar seseorang tanpa pernah benar-benar berbicara dengannya.


Namun, kedekatan digital tidak selalu sama dengan kedekatan emosional.

Ada kalanya kita dikelilingi banyak orang tetapi tetap merasa sendirian. Ada pula hubungan yang terlihat baik dari luar, tetapi di dalamnya terdapat jarak, kesalahpahaman, atau perasaan bahwa kita tidak benar-benar dipahami.

Psikologi memberikan banyak perspektif mengenai mengapa hubungan tertentu terasa aman dan bermakna, sementara hubungan lainnya terasa melelahkan. Hubungan yang sehat bukan hanya tentang seberapa sering kita bertemu atau berkomunikasi, tetapi juga tentang kualitas interaksi, rasa aman, kemampuan memahami satu sama lain, serta kesediaan untuk hadir secara emosional.

Menciptakan hubungan yang lebih bermakna juga bukan berarti kita harus memiliki hubungan yang sempurna. Justru, hubungan yang bermakna biasanya tetap memiliki konflik, perbedaan, dan kekecewaan. Yang membedakannya adalah bagaimana orang-orang di dalam hubungan tersebut menghadapi semua hal itu.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (29/9), terdapat tujuh cara yang dapat membantu kita membangun pola berhubungan yang lebih bermakna.

1. Belajar Benar-Benar Hadir Ketika Berinteraksi

Salah satu masalah dalam hubungan modern adalah kita sering hadir secara fisik tetapi tidak sepenuhnya hadir secara mental.

Kita berbicara sambil memeriksa ponsel. Mendengarkan seseorang sambil memikirkan pekerjaan. Bertemu teman tetapi sibuk memikirkan apa yang harus dilakukan setelahnya.

Akibatnya, interaksi menjadi sekadar pertukaran informasi, bukan pengalaman emosional.

Padahal, salah satu kebutuhan dasar manusia dalam hubungan adalah merasa diperhatikan.

Hadir secara penuh berarti memberikan perhatian kepada orang lain ketika mereka sedang berbicara. Bukan berarti kita harus selalu setuju dengan apa yang mereka katakan. Kita juga tidak harus selalu memberikan solusi.

Terkadang, seseorang hanya ingin merasa bahwa pengalamannya didengar.

Misalnya, ketika seorang teman berkata, "Aku akhir-akhir ini capek sekali dengan pekerjaan," respons yang terburu-buru mungkin adalah:

"Ya sudah, jangan terlalu dipikirkan."

Maksudnya mungkin baik. Namun, respons tersebut dapat membuat pengalaman orang lain terasa seperti sesuatu yang harus segera diselesaikan.

Respons yang lebih hadir bisa berupa:

"Kedengarannya kamu benar-benar lagi banyak beban. Bagian mana yang paling bikin kamu capek?"

Pertanyaan sederhana tersebut membuka ruang bagi percakapan yang lebih dalam.

Dalam psikologi komunikasi, mendengarkan secara aktif berarti berusaha memahami pesan dan pengalaman emosional seseorang, bukan sekadar menunggu giliran untuk berbicara.

Karena itu, jika ingin hubungan terasa lebih bermakna, kita dapat mulai dengan kebiasaan sederhana: ketika seseorang berbicara, benar-benar dengarkan.

Letakkan ponsel. Kurangi gangguan. Perhatikan ekspresi dan nada suara. Jangan buru-buru menyimpulkan.

Kadang-kadang, perhatian adalah salah satu bentuk kasih sayang yang paling sederhana.

2. Berani Menunjukkan Diri yang Lebih Autentik

Hubungan sulit menjadi mendalam ketika kita terus-menerus berusaha terlihat sempurna.

Kita mungkin menyembunyikan kekhawatiran, berpura-pura baik-baik saja, menahan pendapat, atau menyesuaikan kepribadian agar disukai orang lain.

Dalam kadar tertentu, kemampuan menyesuaikan diri memang diperlukan. Kita tidak harus mengatakan semua hal kepada semua orang.

Namun, hubungan yang semakin dekat biasanya membutuhkan tingkat keterbukaan tertentu.

Kita perlu memberi kesempatan kepada orang lain untuk mengenal diri kita yang sebenarnya.

Misalnya, daripada selalu mengatakan:

"Aku baik-baik saja."

Kita sesekali dapat mengatakan:

"Sejujurnya, aku sedang agak kewalahan."

Atau daripada selalu berusaha terlihat percaya diri:

"Aku sebenarnya cukup gugup menghadapi ini."

Kalimat-kalimat seperti itu mungkin terasa sederhana, tetapi dapat membuka ruang bagi hubungan yang lebih manusiawi.

Keterbukaan juga tidak berarti menceritakan seluruh rahasia pribadi kepada semua orang. Ada perbedaan antara kerentanan yang sehat dan membuka diri tanpa mempertimbangkan keamanan atau batasan hubungan.

Kita dapat membuka diri secara bertahap, sesuai dengan tingkat kepercayaan yang sudah terbentuk.

Ketika seseorang merespons keterbukaan kita dengan empati, rasa percaya dapat berkembang. Sebaliknya, ketika kita terus menyembunyikan hampir semua hal tentang diri kita, hubungan mungkin tetap berjalan, tetapi sulit berkembang menjadi kedekatan emosional yang lebih dalam.

Hubungan yang bermakna membutuhkan ruang untuk menjadi manusia—dengan kekuatan, kekurangan, ketakutan, harapan, dan ketidaksempurnaan.

3. Belajar Memahami, Bukan Hanya Menunggu untuk Dipahami

Dalam banyak hubungan, kita ingin dimengerti.

Kita ingin pasangan memahami perasaan kita. Kita ingin teman mengerti alasan kita. Kita ingin keluarga mengetahui apa yang sedang kita butuhkan.

Keinginan tersebut sangat manusiawi.

Namun, hubungan akan menjadi jauh lebih sehat ketika pertanyaannya tidak hanya:

"Apakah dia memahami saya?"

tetapi juga:

"Seberapa sungguh-sungguh saya berusaha memahami dia?"

Ini membutuhkan kemampuan yang dalam psikologi sering dikaitkan dengan empati.

Empati bukan berarti menyetujui semua tindakan seseorang. Empati berarti mencoba melihat pengalaman dari sudut pandang orang tersebut.

Misalnya, kita mungkin tidak mengerti mengapa pasangan begitu khawatir terhadap sesuatu yang menurut kita sepele.

Daripada langsung mengatakan:

"Kamu terlalu berlebihan."

Kita bisa bertanya:

"Apa yang membuat hal ini terasa begitu berat buat kamu?"

Pertanyaan semacam ini mengubah posisi kita dari hakim menjadi pendengar.

Kita tidak sedang mengatakan bahwa orang tersebut pasti benar. Kita hanya mencoba memahami bagaimana mereka mengalami situasi tersebut.

Dalam hubungan dekat, perbedaan perspektif tidak dapat dihindari. Dua orang bisa mengalami peristiwa yang sama tetapi merasakannya dengan cara yang berbeda.

Memahami perbedaan tersebut dapat mengurangi kecenderungan untuk menganggap perspektif kita sebagai satu-satunya kebenaran.

Hubungan yang bermakna bukan hubungan di mana semua orang selalu berpikir sama.

Hubungan yang bermakna adalah hubungan di mana perbedaan dapat dibicarakan tanpa membuat seseorang merasa harus kehilangan dirinya sendiri.

4. Mengungkapkan Kebutuhan dengan Jelas

Banyak konflik sebenarnya bukan terjadi karena orang lain tidak peduli, tetapi karena mereka tidak tahu apa yang kita butuhkan.

Kita terkadang berharap orang lain bisa membaca pikiran.

Kita merasa:

"Kalau dia benar-benar peduli, seharusnya dia tahu."

Masalahnya, manusia tidak memiliki kemampuan membaca pikiran.

Orang yang menyayangi kita sekalipun tidak selalu mengetahui apa yang sedang kita pikirkan atau butuhkan.

Karena itu, komunikasi yang bermakna membutuhkan kemampuan menyampaikan kebutuhan secara jelas.

Bandingkan dua kalimat berikut:

"Kamu memang tidak pernah peduli."

dengan:

"Aku ingin ketika sedang bercerita, kamu mendengarkan dulu sebelum memberikan solusi."

Kalimat kedua memberikan informasi yang jauh lebih jelas mengenai kebutuhan kita.

Begitu pula dalam pertemanan.

Daripada mengatakan:

"Kamu sekarang sudah berubah."

Kita bisa mengatakan:

"Aku kangen ngobrol seperti dulu. Kalau kamu punya waktu, aku ingin kita bertemu."

Komunikasi yang jelas bukan jaminan bahwa orang lain akan selalu memenuhi kebutuhan kita. Namun, setidaknya kita memberi mereka kesempatan untuk memahami apa yang sebenarnya kita perlukan.

Hubungan yang sehat tidak mengharuskan kita menebak-nebak.

Kita dapat belajar mengatakan apa yang kita rasakan, apa yang kita butuhkan, dan apa yang kita harapkan—dengan tetap menghormati kebebasan orang lain.

5. Mengubah Cara Kita Menghadapi Konflik

Banyak orang mengira hubungan yang baik adalah hubungan yang jarang bertengkar.

Padahal, konflik merupakan bagian yang hampir tidak terpisahkan dari hubungan manusia.

Perbedaan kebutuhan, nilai, kebiasaan, dan harapan dapat menciptakan ketegangan.

Masalahnya bukan selalu apakah konflik terjadi, tetapi bagaimana konflik tersebut ditangani.

Ada perbedaan besar antara:

"Kita sedang menghadapi masalah."

dan:

"Kamu adalah masalahnya."

Ketika konflik berubah menjadi serangan terhadap karakter seseorang, pembicaraan biasanya menjadi semakin defensif.

Sebaliknya, kita dapat berusaha memusatkan pembicaraan pada perilaku dan dampaknya.

Misalnya:

"Ketika kamu membatalkan rencana secara mendadak, aku merasa kecewa karena sudah meluangkan waktu."

Ini berbeda dari:

"Kamu memang tidak pernah bisa diandalkan."

Kalimat pertama membicarakan pengalaman dan perilaku tertentu. Kalimat kedua menyerang identitas seseorang.

Kita juga perlu belajar mengambil jeda ketika emosi terlalu tinggi. Berhenti sejenak bukan berarti menghindari konflik selamanya. Kadang-kadang, jeda justru membantu seseorang kembali berbicara dengan lebih tenang.

Dalam hubungan yang bermakna, konflik tidak selalu berakhir dengan seseorang menang dan seseorang kalah.

Terkadang tujuan konflik adalah menemukan cara agar dua orang dapat tetap merasa dihargai meskipun tidak sepenuhnya mendapatkan apa yang mereka inginkan.

6. Memberikan Apresiasi Secara Spesifik dan Tulus

Seiring waktu, kita sering mulai menganggap keberadaan orang-orang terdekat sebagai sesuatu yang biasa.

Pasangan yang selalu membantu. Teman yang selalu mendengarkan. Orang tua yang selalu menanyakan kabar. Rekan kerja yang selalu bersedia membantu.

Karena sudah terbiasa, kita mungkin lupa mengungkapkan penghargaan.

Padahal, hubungan membutuhkan penguatan positif.

Apresiasi tidak harus berupa sesuatu yang besar.

Kita bisa mengatakan:

"Terima kasih sudah mendengarkan aku tadi."

"Aku menghargai kamu tetap mengingat hal kecil itu."

"Aku senang kamu meluangkan waktu untuk datang."

Yang membuat apresiasi menjadi bermakna adalah kekhususannya.

"Terima kasih untuk semuanya" tentu baik, tetapi:

"Terima kasih karena tadi kamu tidak langsung memberikan nasihat dan mau mendengarkan aku sampai selesai"

menunjukkan bahwa kita benar-benar memperhatikan tindakan orang tersebut.

Apresiasi seperti ini membantu seseorang mengetahui bahwa kehadirannya memiliki arti.

Namun, apresiasi sebaiknya tidak dijadikan alat manipulasi. Pujian yang tulus bukanlah strategi untuk mendapatkan sesuatu.

Kita menghargai orang lain karena memang ada sesuatu yang kita hargai dari mereka.

Dalam jangka panjang, kebiasaan memperhatikan hal-hal kecil yang dilakukan orang lain dapat mengubah cara kita melihat hubungan. Kita tidak hanya melihat kekurangan dan masalah, tetapi juga mulai menyadari kontribusi dan kebaikan yang selama ini mungkin luput dari perhatian.

7. Membangun Hubungan yang Memiliki Makna, Bukan Sekadar Intensitas

Hubungan yang bermakna tidak selalu ditentukan oleh seberapa sering kita berkomunikasi.

Ada orang yang kita temui setiap hari tetapi tidak pernah benar-benar dekat.

Ada pula orang yang jarang kita temui tetapi ketika berbicara, kita merasa aman menjadi diri sendiri.

Ini menunjukkan bahwa kuantitas interaksi dan kualitas hubungan adalah dua hal yang berbeda.

Hubungan yang bermakna biasanya memiliki sesuatu yang lebih dalam: nilai, tujuan, pengalaman bersama, atau rasa saling mendukung.

Karena itu, kita dapat bertanya:

"Apa yang sebenarnya ingin kita bangun dalam hubungan ini?"

Apakah hubungan tersebut hanya berisi rutinitas?

Atau ada ruang untuk berbicara tentang impian, ketakutan, nilai hidup, pengalaman, dan hal-hal yang benar-benar penting?

Dalam pertemanan, misalnya, kita tidak harus selalu bertemu di tempat yang mahal. Kita dapat menciptakan ritual sederhana: berjalan bersama setiap minggu, makan malam sambil berbicara tanpa ponsel, atau saling bertanya tentang satu hal yang sedang menjadi tantangan dalam hidup.

Dalam hubungan romantis, kita dapat memiliki waktu khusus untuk berbicara tentang bagaimana hubungan sedang berjalan, bukan hanya membicarakan pekerjaan rumah, jadwal, atau aktivitas sehari-hari.

Dalam keluarga, kita dapat menciptakan kebiasaan makan bersama atau mengobrol tanpa gangguan.

Hal-hal sederhana tersebut menciptakan pengalaman bersama.

Dan pengalaman bersama, ketika dilakukan secara konsisten, dapat menjadi bagian penting dari sejarah sebuah hubungan.

Hubungan Bermakna Tidak Berarti Hubungan Tanpa Masalah

Ada satu kesalahpahaman yang perlu diluruskan.

Hubungan yang bermakna bukan berarti hubungan yang selalu nyaman.

Justru, hubungan yang dekat sering kali membuat kita lebih rentan. Kita dapat lebih mudah kecewa karena kita lebih peduli. Kita dapat lebih mudah terluka karena hubungan tersebut memiliki arti.

Karena itu, jangan mengukur kualitas hubungan hanya berdasarkan seberapa sedikit konflik yang terjadi.

Pertanyaan yang lebih berguna adalah:

Apakah kita dapat berbicara ketika ada masalah?

Apakah kita merasa cukup aman untuk menjadi diri sendiri?

Apakah kita dapat mengakui kesalahan?

Apakah kita dapat menghormati batasan satu sama lain?

Apakah kita merasa didengar dan dihargai?

Apakah hubungan ini memungkinkan kedua orang untuk berkembang?

Tidak ada hubungan manusia yang sempurna.

Bahkan hubungan yang sangat sehat pun dapat mengalami salah paham, kekecewaan, dan masa-masa sulit.

Yang penting adalah adanya kemampuan untuk memperbaiki, belajar, dan kembali terhubung setelah mengalami jarak.

Pada Akhirnya, Hubungan Dibangun dari Hal-Hal Kecil

Kita sering membayangkan hubungan bermakna sebagai sesuatu yang besar.

Percakapan mendalam di tengah malam. Perjalanan bersama. Perayaan ulang tahun. Momen-momen dramatis yang akan selalu diingat.

Padahal, sebagian besar hubungan justru dibangun dari momen yang jauh lebih kecil.

Cara kita mendengarkan.

Cara kita menyapa.

Cara kita meminta maaf.

Cara kita mengatakan terima kasih.

Cara kita menghormati batasan.

Cara kita bertanya, "Kamu benar-benar baik-baik saja?"

Cara kita mengingat sesuatu yang pernah diceritakan seseorang.

Cara kita tetap hadir ketika orang lain sedang melewati masa sulit.

Hubungan tidak dibangun dalam satu percakapan besar. Hubungan dibentuk melalui ratusan bahkan ribuan interaksi kecil yang terjadi dari waktu ke waktu.

Karena itu, menciptakan hubungan yang lebih bermakna tidak harus dimulai dengan perubahan besar.

Kita dapat memulainya hari ini.

Dengarkan seseorang sedikit lebih lama.

Tanyakan pertanyaan yang lebih dalam.

Ungkapkan apresiasi yang selama ini hanya ada di dalam pikiran.

Katakan kebutuhan kita dengan lebih jelas.

Beranilah sedikit lebih jujur.

Dan ketika konflik terjadi, cobalah mencari jalan untuk memahami, bukan sekadar membuktikan bahwa kita benar.

Pada akhirnya, hubungan yang bermakna bukan tentang menemukan orang-orang yang sempurna.

Ini tentang belajar menjadi manusia yang lebih hadir, lebih terbuka, lebih empatik, dan lebih bertanggung jawab dalam hubungan yang kita miliki.

Karena mungkin, kualitas hubungan kita tidak hanya ditentukan oleh siapa yang ada di sekitar kita, tetapi juga oleh cara kita hadir untuk mereka.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore