Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 30 September 2026 | 18.04 WIB

Jika Kamu Ingin Membangun Disiplin Diri yang Lebih Baik, Lakukan 7 Cara Ini Menurut Psikologi

seseorang yang membangun kedisiplinan. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Disiplin diri sering dianggap sebagai kemampuan untuk memaksa diri melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kita lakukan. Bangun pagi ketika masih mengantuk, bekerja ketika sedang tidak mood, berolahraga meskipun ingin rebahan, atau berhenti menggunakan media sosial ketika notifikasi terus berdatangan.


Namun, jika dilihat lebih dalam, disiplin diri bukan sekadar soal "memaksa diri".

Dalam psikologi, kemampuan mengatur perilaku berkaitan dengan bagaimana seseorang mengelola perhatian, emosi, kebiasaan, lingkungan, dan dorongan jangka pendek demi mencapai tujuan yang lebih panjang. Karena itu, orang yang terlihat sangat disiplin belum tentu memiliki kemauan yang selalu kuat. Bisa jadi mereka telah membangun sistem yang membuat perilaku yang diinginkan menjadi lebih mudah dilakukan.

Kabar baiknya, disiplin bukan sesuatu yang sepenuhnya bergantung pada bakat atau kepribadian. Banyak aspek dari perilaku disiplin dapat dilatih melalui kebiasaan kecil dan strategi yang tepat.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (29/9), jika kamu merasa sering menunda pekerjaan, sulit konsisten, mudah terdistraksi, atau berulang kali membuat target tetapi gagal menjalankannya, tujuh cara berikut bisa menjadi titik awal untuk membangun disiplin diri yang lebih baik.

1. Jangan Hanya Mengandalkan Motivasi

Salah satu kesalahan paling umum dalam membangun disiplin adalah menunggu munculnya motivasi.

Kita sering berkata:

"Besok saya akan mulai."

"Kalau sudah semangat, saya akan mengerjakannya."

"Nanti kalau mood sudah bagus, saya akan olahraga."

Masalahnya, motivasi tidak selalu hadir ketika kita membutuhkannya.

Perasaan manusia berubah-ubah. Ada hari ketika kita sangat bersemangat dan mampu menyelesaikan banyak hal. Ada pula hari ketika pekerjaan yang sederhana terasa sangat berat.

Karena itu, jika seluruh perilaku kita bergantung pada motivasi, konsistensi akan mudah terganggu.

Pendekatan yang lebih realistis adalah membangun kebiasaan dan sistem.

Misalnya, daripada mengatakan:

"Saya harus rajin membaca."

Buat aturan yang lebih konkret:

"Saya akan membaca 10 halaman setelah menyikat gigi sebelum tidur."

Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi sangat penting. Target pertama masih abstrak. Target kedua memiliki waktu, konteks, dan tindakan yang jelas.

Disiplin menjadi lebih mudah ketika otak tidak perlu terus-menerus mengambil keputusan tentang kapan dan bagaimana sebuah tindakan harus dilakukan.

Bagaimana menerapkannya?

Cobalah memilih satu perilaku yang ingin kamu bangun.

Kemudian tentukan:

Apa yang harus dilakukan?
Kapan dilakukan?
Di mana dilakukan?
Berapa lama?
Apa pemicunya?

Contohnya:

"Setelah sarapan, saya akan belajar bahasa Inggris selama 15 menit di meja kerja."

Tidak perlu langsung satu jam.

Tujuannya pada tahap awal bukan menunjukkan seberapa kuat kemauanmu, tetapi menciptakan pola yang bisa diulang.

2. Mulailah dari Kebiasaan yang Sangat Kecil

Banyak orang gagal membangun disiplin karena menetapkan perubahan yang terlalu besar.

Pada awal tahun, misalnya, seseorang berjanji akan berolahraga satu jam setiap hari, membaca satu buku setiap minggu, bangun pukul lima pagi, berhenti menggunakan media sosial, sekaligus memperbaiki pola makan.

Semangat tersebut memang terlihat positif. Tetapi terlalu banyak perubahan sekaligus dapat membuat seseorang kesulitan mempertahankan perilaku baru.

Psikologi perilaku menunjukkan bahwa kebiasaan terbentuk melalui pengulangan dalam konteks tertentu. Karena itu, langkah awal yang kecil justru dapat membantu menciptakan konsistensi.

Jika ingin mulai berolahraga, kamu tidak harus langsung melakukan latihan berat.

Mulailah dengan:

"Berjalan kaki selama 10 menit."

Jika ingin membaca, mulai dari:

"Membaca dua halaman."

Jika ingin belajar, mulai dari:

"Belajar selama lima menit."

Tujuan awalnya bukan mencapai hasil maksimal. Tujuannya adalah membuat otak terbiasa dengan perilaku tersebut.

Setelah perilaku terasa semakin otomatis, durasi atau tingkat kesulitannya dapat ditingkatkan secara bertahap.

Mengapa kebiasaan kecil penting?

Karena hambatan terbesar sering kali bukan aktivitasnya, melainkan memulainya.

Ketika sebuah tugas terasa terlalu besar, otak lebih mudah mencari alasan untuk menghindarinya.

Sebaliknya, tugas kecil terasa lebih mudah dimulai.

Dan sering kali, setelah kita memulai, kita akhirnya melakukan lebih banyak daripada yang direncanakan.

Jadi, jangan meremehkan tindakan kecil.

Lima menit yang dilakukan secara konsisten bisa lebih berguna daripada rencana satu jam yang hanya dilakukan sekali.

3. Kurangi Gangguan dari Lingkungan

Disiplin diri bukan hanya persoalan kekuatan mental.

Lingkungan juga memiliki pengaruh besar terhadap perilaku.

Bayangkan kamu sedang mencoba fokus bekerja, tetapi ponsel berada tepat di sebelah laptop. Setiap beberapa menit muncul notifikasi. Ada pesan masuk, video baru, unggahan media sosial, atau berita yang menarik perhatian.

Dalam kondisi seperti itu, kamu mungkin merasa bahwa masalahnya adalah kurang disiplin.

Padahal, kamu sedang berhadapan dengan lingkungan yang penuh pemicu gangguan.

Karena itu, salah satu strategi membangun disiplin adalah membuat perilaku yang baik menjadi lebih mudah dan perilaku yang mengganggu menjadi lebih sulit.

Misalnya:

Letakkan ponsel jauh dari meja ketika bekerja.
Matikan notifikasi yang tidak penting.
Siapkan pakaian olahraga sejak malam sebelumnya.
Letakkan buku di tempat yang mudah terlihat.
Gunakan meja tertentu hanya untuk belajar atau bekerja.
Hindari membuka media sosial sebelum menyelesaikan tugas utama.

Prinsipnya sederhana:

Jangan hanya berusaha mengendalikan diri. Atur lingkungan agar kamu tidak perlu terus-menerus mengendalikan diri.

Semakin sedikit godaan yang harus dilawan, semakin banyak energi mental yang bisa digunakan untuk hal yang penting.

4. Gunakan Aturan "Jika-Maka"

Salah satu cara praktis untuk membuat perilaku lebih konsisten adalah membuat rencana berbentuk jika-maka.

Strukturnya sederhana:

Jika X terjadi, maka saya akan melakukan Y.

Contohnya:

"Jika pukul 08.00, maka saya mulai bekerja."

"Jika saya ingin membuka media sosial ketika sedang belajar, maka saya akan menunggu sampai sesi belajar selesai."

"Jika saya merasa malas berolahraga, maka saya hanya perlu memakai sepatu olahraga dan berjalan selama lima menit."

Strategi seperti ini membantu mengubah niat menjadi rencana yang lebih spesifik.

Daripada terus bertanya kepada diri sendiri:

"Kapan saya harus mulai?"

Kamu sudah memiliki aturan yang jelas.

Misalnya kamu sedang belajar dan tiba-tiba merasa ingin membuka ponsel.

Daripada bernegosiasi dengan diri sendiri selama beberapa menit, kamu telah memiliki aturan:

"Jika saya terdistraksi oleh ponsel, maka saya akan meletakkannya kembali dan melanjutkan satu halaman lagi."

Aturan sederhana seperti ini dapat mengurangi keputusan spontan yang sering membuat kita keluar dari rencana.

5. Belajar Menunda Kepuasan Sesaat

Banyak masalah disiplin sebenarnya berkaitan dengan konflik antara keinginan sekarang dan tujuan masa depan.

Kita tahu bahwa belajar penting, tetapi menonton video lebih menyenangkan.

Kita tahu bahwa olahraga baik bagi tubuh, tetapi tidur di tempat tidur terasa lebih nyaman.

Kita tahu bahwa pekerjaan harus diselesaikan, tetapi membuka media sosial memberikan kesenangan yang lebih cepat.

Inilah salah satu tantangan disiplin: memilih sesuatu yang manfaatnya datang nanti daripada sesuatu yang memberikan kepuasan sekarang.

Kemampuan untuk menunda kepuasan bukan berarti kita harus menghilangkan semua kesenangan.

Justru pendekatan yang terlalu ekstrem sering sulit dipertahankan.

Yang lebih realistis adalah membuat aturan tentang kapan kesenangan diberikan.

Contohnya:

"Saya akan menonton satu episode setelah menyelesaikan laporan."

Atau:

"Setelah belajar selama 30 menit, saya boleh bermain game selama 15 menit."

Dengan cara ini, hiburan tidak harus menjadi musuh.

Ia dapat menjadi bagian dari sistem penghargaan yang terencana.

Namun, penting untuk tetap realistis. Jika penghargaan jauh lebih menarik daripada tugasnya, kita mungkin justru semakin sulit kembali bekerja. Karena itu, gunakan jeda dan penghargaan secara proporsional.

6. Jangan Menganggap Kegagalan Kecil sebagai Bukti bahwa Kamu Tidak Disiplin

Ini adalah bagian yang sering dilupakan.

Kamu mungkin sudah berhasil menjalankan rutinitas selama tujuh hari, kemudian pada hari kedelapan kamu melewatkannya.

Lalu muncul pikiran:

"Saya memang tidak konsisten."

Akhirnya, satu hari yang terlewat berubah menjadi satu minggu.

Pola seperti ini dapat menjadi masalah karena seseorang bukan hanya gagal melakukan kebiasaan, tetapi kemudian mengembangkan cerita negatif tentang dirinya sendiri.

Padahal, melewatkan satu hari tidak otomatis menghapus seluruh kemajuan.

Disiplin bukan berarti tidak pernah gagal.

Disiplin lebih berkaitan dengan kemampuan untuk kembali ke jalur setelah mengalami gangguan.

Jika hari ini kamu tidak berolahraga, bukan berarti besok kamu harus menyerah.

Jika hari ini kamu terlalu banyak menggunakan media sosial, bukan berarti seluruh minggu telah gagal.

Jika kamu menunda pekerjaan, kamu masih bisa memulai kembali satu jam kemudian.

Cobalah mengganti pola pikir:

"Saya gagal mempertahankan kebiasaan."

menjadi:

"Saya sempat keluar dari rutinitas, sekarang saya kembali melakukannya."

Perbedaan bahasa ini mungkin terlihat kecil, tetapi cara seseorang memandang kegagalan dapat memengaruhi respons berikutnya.

Jangan jadikan satu kesalahan sebagai identitas.

Jadikan ia informasi.

Tanyakan:

Apa yang membuat saya gagal melakukan kebiasaan ini?

Mungkin waktunya tidak realistis.

Mungkin tugasnya terlalu besar.

Mungkin lingkungan terlalu banyak gangguan.

Mungkin kamu sedang terlalu lelah.

Setelah mengetahui penyebabnya, perbaiki sistemnya.

7. Fokus pada Identitas, Bukan Hanya Target

Cara terakhir adalah melihat disiplin bukan hanya sebagai daftar tugas, tetapi sebagai bagian dari identitas yang ingin kamu bangun.

Misalnya, daripada hanya mengatakan:

"Saya ingin membaca 12 buku tahun ini."

Kamu bisa melihatnya sebagai:

"Saya ingin menjadi orang yang rutin membaca."

Daripada:

"Saya ingin berolahraga 100 kali."

Kamu bisa mengatakan:

"Saya adalah orang yang menjaga tubuh saya dengan berolahraga secara teratur."

Mengapa perspektif ini menarik?

Karena target memiliki titik akhir, sedangkan identitas dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Jika tujuanmu hanya "menyelesaikan 12 buku", setelah buku ke-12 selesai, target tersebut tercapai.

Tetapi jika kamu membangun identitas sebagai seseorang yang suka membaca, aktivitas membaca dapat terus menjadi bagian dari rutinitas.

Hal yang sama berlaku untuk disiplin.

Jangan hanya bertanya:

"Apa yang ingin saya capai?"

Tanyakan juga:

"Saya ingin menjadi orang seperti apa?"

Kemudian cari tindakan kecil yang membuktikan identitas tersebut.

Jika ingin menjadi orang yang disiplin, tepati satu janji kecil kepada diri sendiri hari ini.

Jika ingin menjadi orang yang rajin belajar, belajar selama 10 menit.

Jika ingin menjadi orang yang sehat, berjalan kaki sebentar.

Identitas tidak dibangun hanya melalui pikiran.

Ia dibentuk melalui tindakan yang dilakukan berulang kali.

Disiplin Tidak Harus Terlihat Ekstrem

Di media sosial, disiplin terkadang digambarkan secara ekstrem.

Bangun sebelum matahari terbit.

Bekerja berjam-jam tanpa istirahat.

Berolahraga setiap hari.

Tidak pernah bermalas-malasan.

Tidak pernah menunda.

Gambaran seperti itu dapat membuat disiplin terlihat seperti kehidupan yang penuh tekanan.

Padahal, disiplin yang sehat tidak harus seperti itu.

Seseorang bisa disiplin sekaligus memiliki waktu istirahat.

Seseorang bisa memiliki target besar sekaligus memberi ruang untuk kegagalan.

Seseorang bisa bekerja keras tanpa harus terus-menerus memaksa dirinya.

Tujuan disiplin bukan membuat hidup menjadi robotik.

Tujuannya adalah membantu kita menggunakan waktu dan energi secara lebih sadar untuk hal-hal yang memang penting.

Karena itu, jangan ukur disiplin hanya dari seberapa keras kamu memaksa diri.

Ukur juga dari seberapa baik kamu mampu menjaga komitmen tanpa menghancurkan keseimbangan hidup.

Cara Memulai dari Hari Ini

Kamu tidak perlu menerapkan ketujuh strategi sekaligus.

Justru, memilih terlalu banyak perubahan dapat membuat proses terasa berat.

Pilih satu kebiasaan yang paling penting bagimu saat ini.

Kemudian gunakan pola sederhana berikut:

1. Tentukan satu perilaku.
Contoh: membaca.

2. Buat ukurannya kecil.
Contoh: dua halaman setiap malam.

3. Tentukan pemicunya.
Contoh: setelah menyikat gigi.

4. Hilangkan gangguan.
Contoh: letakkan ponsel jauh dari tempat tidur.

5. Buat aturan jika-maka.
Contoh: jika ingin berhenti, saya tetap membaca setidaknya satu halaman.

6. Jangan menyerah setelah satu kegagalan.
Jika terlewat hari ini, kembali besok.

7. Hubungkan dengan identitas.
"Saya adalah orang yang membaca setiap hari."

Lakukan secara konsisten sebelum menambahkan kebiasaan baru.

Pada Akhirnya, Disiplin adalah Kemampuan untuk Kembali

Membangun disiplin diri bukan tentang menjadi manusia yang tidak pernah malas, tidak pernah terdistraksi, dan tidak pernah kehilangan motivasi.

Manusia memang akan mengalami semua itu.

Ada hari ketika kamu produktif.

Ada hari ketika kamu hanya mampu melakukan sedikit.

Ada saat ketika rencana berjalan sempurna.

Ada juga saat ketika semuanya berantakan.

Yang membedakan bukan apakah kamu pernah keluar dari jalur, tetapi apa yang kamu lakukan setelahnya.

Disiplin yang kuat tidak selalu terlihat sebagai tindakan besar.

Kadang-kadang disiplin hanya terlihat seperti membuka laptop ketika kamu ingin menunda.

Membaca dua halaman ketika kamu ingin berhenti.

Meletakkan ponsel ketika kamu tahu bahwa kamu sedang terdistraksi.

Bangun dan berjalan selama beberapa menit ketika kamu sedang tidak bersemangat.

Atau mencoba lagi setelah kemarin gagal.

Jadi, jika kamu ingin membangun disiplin diri yang lebih baik, jangan menunggu sampai menjadi sangat termotivasi.

Mulailah dari sesuatu yang kecil.

Buat lingkunganmu mendukung.

Kurangi keputusan yang tidak perlu.

Bangun kebiasaan secara bertahap.

Dan ketika kamu gagal, jangan berhenti.

Kembali saja.

Karena pada akhirnya, disiplin bukan tentang selalu kuat.

Disiplin adalah kemampuan untuk terus mengarahkan diri kembali kepada hal yang penting, bahkan setelah kita sempat kehilangan arah.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore