seseorang yang menampilkan versi terbaik. (Magnific)
Dia rajin bertanya, cepat membalas pesan, terlihat sangat tertarik dengan cerita kita, bahkan mungkin menunjukkan sisi dirinya yang selama ini jarang terlihat oleh orang lain.
Namun, setelah beberapa kali bertemu, perilakunya mulai berubah. Intensitas komunikasi menurun, perhatian tidak lagi sebesar sebelumnya, atau kita mulai melihat kebiasaan dan karakter yang berbeda dari kesan pertama.
Situasi seperti ini cukup umum dalam proses pendekatan atau dating.
Lalu, apakah seseorang yang menampilkan versi terbaiknya saat awal berkencan berarti sedang berpura-pura?
Belum tentu.
Dalam psikologi, manusia memang cenderung melakukan self-presentation, yaitu usaha untuk mengatur bagaimana dirinya terlihat di mata orang lain. Dalam konteks kencan, perilaku ini bisa menjadi bagian alami dari proses membangun hubungan.
Ketika seseorang bertemu dengan calon pasangan, ada kemungkinan ia lebih sadar terhadap cara berbicara, penampilan, sikap, hingga cerita yang ia bagikan. Ia ingin memberikan kesan tertentu sekaligus mencari tahu apakah dirinya dan orang tersebut memiliki kecocokan.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (25/9), terdapat tujuh alasan psikologis mengapa seseorang cenderung menampilkan versi terbaik dirinya pada awal kencan.
1. Ingin Menciptakan Kesan Pertama yang Positif
Kesan pertama memiliki peran penting dalam interaksi sosial.
Ketika baru bertemu seseorang, kita belum memiliki banyak informasi tentang dirinya. Karena itu, otak menggunakan informasi yang tersedia—seperti cara berpakaian, ekspresi wajah, cara berbicara, sikap, dan perilaku—untuk membentuk kesan awal.
Hal yang sama terjadi ketika seseorang sedang berkencan.
Ia mungkin memilih pakaian yang lebih rapi, memperhatikan cara berbicara, berusaha menjadi pendengar yang baik, atau menghindari topik yang terlalu sensitif pada pertemuan pertama.
Bukan berarti semua perilaku tersebut palsu.
Sering kali, seseorang memang sedang berusaha menunjukkan kualitas dirinya yang paling menarik karena ia tahu bahwa orang yang baru dikenalnya belum memiliki banyak alasan untuk memahami dirinya secara lebih mendalam.
Bayangkan seseorang yang sebenarnya pemalu, tetapi saat kencan ia berusaha lebih banyak berbicara. Atau seseorang yang sehari-hari cukup cuek, tetapi ketika bertemu orang yang disukainya, ia menjadi lebih perhatian.
Perubahan tersebut bisa terjadi karena konteks sosialnya berbeda.
Dengan kata lain, versi yang muncul saat awal kencan belum tentu merupakan "versi palsu". Bisa saja itu adalah salah satu sisi dirinya yang memang ada, tetapi sedang lebih banyak ditampilkan.
2. Ada Keinginan untuk Disukai
Alasan berikutnya cukup sederhana: manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan untuk diterima secara sosial.
Ketika seseorang tertarik kepada orang lain, keinginan untuk mendapatkan respons positif biasanya menjadi lebih kuat.
Ia mungkin mulai memperhatikan hal-hal kecil seperti:
"Apakah dia nyaman ngobrol denganku?"
"Apakah dia menikmati waktu bersamaku?"
"Apakah dia tertarik untuk bertemu lagi?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membuat seseorang lebih berhati-hati dalam berperilaku.
Ia mungkin menjadi lebih perhatian, lebih humoris, lebih sabar, atau lebih antusias dibandingkan biasanya.
Dalam psikologi sosial, perilaku semacam ini dapat berkaitan dengan impression management, yaitu usaha seseorang untuk memengaruhi kesan yang terbentuk tentang dirinya.
Dalam konteks romantis, bentuknya bisa sangat beragam.
Seseorang mungkin menunjukkan sisi humorisnya karena ingin terlihat menyenangkan. Orang lain mungkin lebih sering membantu karena ingin terlihat perhatian. Ada pula yang banyak bercerita mengenai pencapaian hidupnya karena ingin terlihat kompeten atau menarik.
Namun, penting membedakan antara berusaha menunjukkan kualitas positif dan memalsukan identitas.
Menggunakan pakaian terbaik ketika kencan tidak sama dengan berpura-pura menjadi orang lain. Menunjukkan sisi humoris juga tidak otomatis berarti seseorang sedang memanipulasi.
Masalah biasanya muncul ketika jarak antara citra yang ditampilkan dan kehidupan sebenarnya terlalu besar.
3. Fase Awal Dating Memang Dipenuhi Rasa Penasaran
Pada awal hubungan, banyak hal masih menjadi misteri.
Kita belum mengetahui kebiasaan orang tersebut, cara dia menghadapi konflik, bagaimana dia memperlakukan orang lain, atau bagaimana kepribadiannya ketika sedang lelah dan stres.
Justru karena belum mengetahui semuanya, rasa penasaran menjadi tinggi.
Hal ini dapat membuat seseorang lebih bersemangat dalam berinteraksi.
Pertemuan pertama terasa menarik karena hampir setiap percakapan membawa informasi baru.
"Kamu suka film apa?"
"Biasanya kalau weekend ngapain?"
"Kamu dekat dengan keluarga?"
"Kenapa memilih pekerjaan itu?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan hanya digunakan untuk mengisi percakapan. Secara psikologis, proses tersebut juga membantu seseorang membangun gambaran mengenai orang yang sedang dikenalnya.
Pada tahap ini, kedua orang biasanya masih aktif mengeksplorasi.
Karena rasa penasaran tinggi, seseorang bisa terlihat sangat antusias.
Ia ingin mengetahui lebih banyak tentang lawan kencannya sekaligus ingin membuat dirinya menarik agar proses pendekatan terus berlanjut.
Setelah hubungan semakin familiar, intensitas rasa penasaran secara alami dapat berkurang.
Bukan selalu berarti ketertarikan menghilang.
Bisa saja hubungan tersebut mulai berpindah dari fase "mencari tahu siapa kamu" menjadi fase "memahami bagaimana kita menjalani hubungan bersama".
4. Ada Proses "Ideal Self" dan "Actual Self"
Salah satu hal menarik dalam psikologi adalah bahwa manusia memiliki gambaran tentang diri yang ideal.
Kita mungkin memiliki bayangan mengenai diri seperti apa yang ingin kita tampilkan:
ingin terlihat dewasa,
ingin terlihat percaya diri,
ingin terlihat romantis,
ingin terlihat sukses,
ingin terlihat mandiri,
atau ingin terlihat sebagai pasangan yang perhatian.
Ketika bertemu orang yang kita sukai, kita cenderung berusaha mendekati gambaran tersebut.
Inilah yang membuat seseorang bisa terlihat lebih "rapi" secara psikologis pada awal hubungan.
Misalnya, seseorang sebenarnya mudah panik ketika menghadapi masalah. Namun, saat awal berkencan, ia berusaha menunjukkan dirinya sebagai orang yang tenang.
Atau seseorang yang sebenarnya sangat membutuhkan kepastian, tetapi pada awal hubungan berusaha terlihat santai dan tidak terlalu menuntut.
Ini menarik karena orang tersebut mungkin tidak sepenuhnya berbohong.
Bisa jadi ia memang ingin menjadi pribadi seperti yang sedang ia tampilkan.
Dengan kata lain, self-presentation terkadang bukan hanya usaha untuk menipu orang lain, tetapi juga usaha untuk menampilkan sisi diri yang dianggap paling sesuai dengan situasi dan harapan sosial.
Karena itu, semakin lama seseorang mengenal kita, semakin besar kemungkinan sisi yang lebih kompleks mulai terlihat.
5. Orang Cenderung Menyaring Informasi Pribadi di Awal Hubungan
Bayangkan kamu baru bertemu seseorang selama satu atau dua jam.
Apakah kamu akan langsung menceritakan seluruh masalah hidupmu?
Kemungkinan besar tidak.
Dalam proses hubungan sosial, keterbukaan biasanya berkembang secara bertahap.
Pada awal kencan, seseorang mungkin memilih untuk menceritakan hal-hal yang relatif aman dan positif. Sementara itu, informasi yang sangat pribadi, konflik keluarga, ketakutan, kegagalan, atau pengalaman buruk mungkin belum dibicarakan.
Ini bukan selalu bentuk ketidakjujuran.
Ada faktor kepercayaan dan rasa aman yang perlu dibangun terlebih dahulu.
Semakin seseorang merasa aman dalam hubungan, semakin besar kemungkinan ia membuka sisi dirinya yang lebih rentan.
Karena itu, orang yang awalnya terlihat sangat percaya diri mungkin suatu saat menceritakan bahwa sebenarnya ia sering merasa tidak yakin terhadap dirinya sendiri.
Orang yang terlihat selalu ceria mungkin kemudian berbicara tentang masa sulit yang pernah dialaminya.
Orang yang terlihat sangat mandiri mungkin akhirnya mengakui bahwa ia juga membutuhkan dukungan emosional.
Artinya, kita tidak bisa menilai keseluruhan kepribadian seseorang hanya dari beberapa kali pertemuan.
Versi awal adalah bagian dari dirinya.
Tetapi bukan keseluruhan dirinya.
6. Ketertarikan Romantis Bisa Membuat Orang Lebih Termotivasi
Ketika seseorang tertarik kepada orang lain, motivasinya untuk menjaga interaksi bisa meningkat.
Hal-hal yang biasanya terasa melelahkan mungkin menjadi lebih menyenangkan.
Membalas pesan terasa menyenangkan.
Merencanakan pertemuan terasa menyenangkan.
Mendengarkan cerita panjang terasa menarik.
Bahkan melakukan sesuatu yang sebenarnya bukan kebiasaannya bisa dilakukan karena ingin menghabiskan waktu bersama orang tersebut.
Inilah salah satu alasan mengapa seseorang pada fase awal dating bisa terlihat sangat berbeda.
Ia sedang memiliki motivasi yang kuat untuk membangun hubungan.
Misalnya, seseorang yang biasanya tidak terlalu ekspresif mungkin menjadi lebih sering memberikan perhatian karena ia ingin menunjukkan ketertarikannya.
Seseorang yang biasanya tidak terlalu aktif mengobrol mungkin menjadi lebih banyak bertanya karena ingin mengenal calon pasangannya.
Namun, perubahan intensitas setelah fase awal tidak otomatis berarti bahwa semua perhatian sebelumnya palsu.
Dalam banyak hubungan, tingkat energi dan antusiasme memang berubah seiring meningkatnya rasa familiar.
Pada awalnya, hampir semuanya terasa baru.
Setelah beberapa waktu, hubungan mulai masuk ke rutinitas.
Karena itu, ukuran hubungan yang sehat bukan semata-mata seberapa intens seseorang pada minggu pertama, tetapi bagaimana ia memperlakukan kita ketika hubungan mulai menjadi lebih biasa.
7. Orang Ingin Mengetahui Apakah Dirinya "Cocok" dengan Kita
Dating sebenarnya bukan hanya proses membuat orang lain menyukai kita.
Kita juga sedang menilai apakah orang tersebut cocok dengan kita.
Ini sering dilupakan.
Ketika dua orang berkencan, keduanya sebenarnya sedang melakukan proses evaluasi sosial.
Mereka memperhatikan:
Bagaimana dia memperlakukan pelayan?
Bagaimana reaksinya ketika pendapat kami berbeda?
Apakah dia menghargai batasan?
Apakah dia bisa mendengarkan?
Apakah nilai hidup kami cukup sejalan?
Bagaimana dia berbicara tentang mantan pasangan?
Bagaimana dia memperlakukan teman dan keluarganya?
Karena itu, seseorang mungkin menampilkan versi terbaik dirinya sekaligus mengamati versi terbaik orang lain.
Di tahap awal, kedua pihak biasanya sama-sama berusaha.
Namun, seiring waktu, hubungan memberikan lebih banyak kesempatan untuk melihat perilaku yang lebih natural.
Di sinilah proses mengenal seseorang menjadi lebih penting daripada sekadar kesan pertama.
Seseorang mungkin terlihat sangat romantis ketika sedang berusaha mendapatkan perhatian kita. Tetapi karakter yang lebih relevan untuk hubungan jangka panjang justru dapat terlihat ketika dia menghadapi perbedaan pendapat, kekecewaan, batasan, atau situasi yang tidak berjalan sesuai keinginannya.
Jadi, Apakah "Versi Terbaik" Saat Awal Ngedate Itu Palsu?
Tidak selalu.
Ini adalah bagian penting yang perlu dipahami.
Menampilkan sisi terbaik bukan otomatis berarti seseorang sedang berbohong.
Dalam banyak situasi sosial, manusia memang menyesuaikan perilakunya berdasarkan konteks.
Kita juga melakukan hal serupa dalam kehidupan sehari-hari.
Kita mungkin berpakaian lebih rapi ketika menghadiri wawancara kerja dibandingkan ketika berada di rumah.
Kita mungkin lebih berhati-hati berbicara kepada orang yang baru dikenal dibandingkan kepada sahabat sendiri.
Kita mungkin lebih formal ketika bertemu orang tua pasangan dibandingkan ketika sedang bersama teman dekat.
Perilaku tersebut tidak selalu menunjukkan kepalsuan.
Masalahnya adalah ketika seseorang secara konsisten menciptakan gambaran yang sangat berbeda dari kenyataan untuk mendapatkan sesuatu dari orang lain.
Misalnya, seseorang mengaku memiliki nilai dan tujuan hidup tertentu hanya agar disukai, padahal sebenarnya ia tidak mempercayai hal tersebut.
Di titik itu, persoalannya bukan lagi sekadar menampilkan sisi terbaik, tetapi sudah berkaitan dengan ketidakjujuran dalam membangun hubungan.
Cara Melihat Seseorang Secara Lebih Realistis Saat Dating
Jika kamu sedang berada di fase awal mengenal seseorang, jangan terburu-buru menyimpulkan karakter hanya berdasarkan intensitas beberapa minggu pertama.
Sebaliknya, perhatikan konsistensi perilakunya dari waktu ke waktu.
1. Perhatikan konsistensi
Apakah perkataannya sejalan dengan tindakannya?
Orang bisa mengatakan banyak hal tentang dirinya.
Tetapi kebiasaan yang konsisten biasanya memberikan informasi yang lebih banyak.
2. Lihat bagaimana dia memperlakukan orang lain
Cara seseorang memperlakukan orang yang tidak sedang ia coba dekati dapat memberikan konteks tambahan.
Misalnya, bagaimana ia berbicara kepada pelayan restoran, rekan kerja, teman, atau orang yang pendapatnya berbeda.
3. Perhatikan respons terhadap batasan
Kamu tidak harus selalu mengatakan "iya" untuk menyenangkan seseorang.
Ketika kamu mengatakan tidak atau menetapkan batasan, perhatikan apakah dia menghormatinya.
4. Jangan hanya melihat bagaimana dia memperlakukanmu ketika semuanya berjalan lancar
Hubungan tidak hanya terdiri dari momen romantis.
Perbedaan pendapat, perubahan rencana, kesalahpahaman, dan kekecewaan juga merupakan bagian dari interaksi manusia.
Respons seseorang terhadap situasi tersebut dapat memberikan informasi yang berbeda dari kesan ketika sedang menikmati kencan.
5. Berikan waktu untuk mengenal
Tidak semua hal perlu diketahui pada kencan pertama.
Hubungan yang berkembang secara sehat memberikan kesempatan bagi kedua orang untuk saling mengenal secara bertahap.
Pada Akhirnya, Kita Semua Punya "Versi" yang Berbeda
Mungkin pelajaran paling penting dari fenomena ini adalah bahwa manusia tidak hanya memiliki satu versi diri.
Kita bisa menjadi orang yang berbeda dalam konteks yang berbeda tanpa berarti kita sedang berpura-pura.
Kita bisa lebih romantis ketika bersama pasangan.
Lebih serius ketika bekerja.
Lebih santai ketika bersama sahabat.
Lebih pendiam ketika berada di lingkungan baru.
Karena itu, ketika seseorang menunjukkan versi terbaiknya pada awal kencan, tidak perlu langsung berpikir bahwa ia sedang menyembunyikan sesuatu.
Yang lebih penting adalah melihat bagaimana hubungan tersebut berkembang setelah fase awal berlalu.
Apakah komunikasi tetap memiliki rasa hormat?
Apakah perkataan dan tindakan semakin konsisten?
Apakah kedua orang bisa menjadi lebih terbuka?
Apakah masing-masing bisa menunjukkan sisi rentan tanpa merasa harus selalu terlihat sempurna?
Sebab hubungan yang semakin dekat pada akhirnya bukan hanya tentang dua orang yang saling menunjukkan sisi terbaik.
Hubungan juga merupakan proses ketika dua orang mulai berani menunjukkan sisi yang tidak sempurna—dan tetap bisa saling menghargai.
Jadi, kalau seseorang terlihat sangat menarik pada awal ngedate, mungkin itu memang salah satu sisi terbaik dirinya.
Tetapi jangan buru-buru menganggap kamu sudah mengenal seluruh dirinya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Guruh Soekarnoputra Meninggal, Ini Daftar Anak Soekarno yang Masih Hidup dan Sudah Tiada
Prediksi Skor Hong Kong vs Laos di FIFA ASEAN Cup: Duel Seru Berpotensi Imbang di Kai Tak Stadium
Prediksi Skor Slovakia vs Moldova di Liga Nations UEFA: Sokoli Borong Gol di Futbal Tatran Aréna
Prediksi Skor Albania vs Belarus di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjtë Menang Tipis Hadapi Tim Tamu
Prediksi Skor Bulgaria vs Luksemburg: Duel Ketat, Tuan Rumah Diunggulkan
Prediksi Skor Kamboja vs Myanmar di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Kuwait vs Irak di Arabian Gulf Cup: Laga Sengit Rawan Berakhir Imbang
Prediksi Skor Makedonia Utara vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Pesta Gol di Kandang Lawan
Prediksi Skor Lithuania vs Azerbaijan di UEFA Nations League: Duel Ketat Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Slovenia vs Skotlandia: Sesko Absen, Era Baru Pocognoli Dimulai di Ljubljana

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022