Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 26 September 2026 | 19.11 WIB

7 Alasan Mengapa Orang Mungkin Menyabotase Hubungan Mereka agar Cepat Berakhir Menurut Psikologi

seseorang yang menyabotase hubungannya dengan pasangan. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Tidak semua hubungan berakhir karena hilangnya rasa cinta. Dalam beberapa kasus, seseorang justru melakukan berbagai tindakan yang perlahan-lahan merusak hubungan yang sebenarnya masih berarti bagi dirinya. Ia mungkin menjadi semakin dingin, mencari-cari kesalahan pasangan, memicu pertengkaran, menarik diri secara emosional, atau melakukan sesuatu yang membuat hubungan sulit dipertahankan.


Dalam psikologi, pola seperti ini sering dibahas dalam konteks self-sabotage atau perilaku menyabotase diri sendiri. Sederhananya, seseorang melakukan tindakan yang bertentangan dengan apa yang sebenarnya ia inginkan karena ada ketakutan, keyakinan, kebutuhan emosional, atau mekanisme perlindungan tertentu di baliknya.

Namun, penting untuk tidak buru-buru menyimpulkan bahwa setiap hubungan yang rusak merupakan hasil sabotase. Hubungan juga bisa berakhir karena ketidakcocokan, perubahan kebutuhan, masalah komunikasi, atau keadaan eksternal.

Lalu, mengapa seseorang justru bisa membuat hubungan yang masih berjalan menjadi cepat berakhir?

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (25/9), terdapat tujuh kemungkinan yang dapat dijelaskan dari perspektif psikologi.

1. Takut Terlalu Dekat dan Menjadi Rentan

Salah satu alasan seseorang dapat menjauh dari hubungan adalah karena kedekatan emosional membuatnya merasa rentan.

Hubungan yang semakin serius biasanya membuat seseorang harus membuka lebih banyak bagian dari dirinya: ketakutan, kelemahan, kebutuhan, pengalaman masa lalu, bahkan ketergantungan emosional kepada pasangan.

Bagi sebagian orang, kondisi tersebut tidak selalu terasa nyaman.

Pada awal hubungan, seseorang mungkin menikmati perhatian dan kedekatan. Namun ketika hubungan mulai semakin serius, muncul pikiran seperti:

"Bagaimana kalau nanti dia meninggalkan saya?"

"Bagaimana kalau dia mengetahui diri saya yang sebenarnya?"

"Bagaimana kalau saya terlalu bergantung kepadanya?"

Daripada menunggu kemungkinan terluka, orang tersebut mungkin secara tidak sadar memilih untuk mengakhiri hubungan lebih dahulu.

Ini dapat menjadi bentuk perlindungan diri. Logikanya sederhana: jika saya yang mengakhiri hubungan, saya tidak perlu mengalami pengalaman ditinggalkan.

Masalahnya, strategi tersebut dapat menciptakan sesuatu yang sebenarnya ingin dihindari. Ketakutan terhadap penolakan membuat seseorang melakukan tindakan yang akhirnya benar-benar menyebabkan hubungan tersebut ditolak atau berakhir.

Dalam konteks attachment, pola seperti ini dapat berkaitan dengan cara seseorang belajar memandang kedekatan dan hubungan sejak pengalaman relasional sebelumnya. Tetapi attachment bukanlah diagnosis, dan perilaku seseorang tidak dapat dijelaskan hanya berdasarkan satu label.

2. Merasa Tidak Layak Dicintai

Alasan berikutnya berkaitan dengan self-worth atau bagaimana seseorang memandang nilai dirinya sendiri.

Seseorang mungkin mendapatkan pasangan yang memperlakukannya dengan baik, tetapi di dalam dirinya terdapat keyakinan:

"Saya sebenarnya tidak pantas mendapatkan hubungan seperti ini."

Keyakinan tersebut tidak selalu muncul secara sadar.

Orang tersebut mungkin justru merasa curiga ketika mendapatkan kasih sayang.

Ketika pasangan berkata, "Aku sayang kamu," ia mungkin berpikir:

"Kenapa dia bisa menyukaiku?"

Ketika pasangan memberikan perhatian, ia mungkin berpikir:

"Pasti ada sesuatu di baliknya."

Ketika hubungan berjalan baik, ia bahkan mungkin mulai mencari bukti bahwa semuanya sebenarnya tidak sebaik yang terlihat.

Di sinilah sebuah paradoks bisa muncul.

Semakin baik hubungan berjalan, semakin kuat dorongan untuk merusaknya.

Bukan karena orang tersebut tidak menghargai pasangannya, tetapi karena hubungan yang sehat bertentangan dengan gambaran negatif yang sudah ia miliki tentang dirinya sendiri.

Dalam psikologi, keyakinan negatif tentang diri dapat memengaruhi cara seseorang menafsirkan perilaku pasangan. Perhatian dapat dianggap sebagai sesuatu yang mencurigakan. Konflik kecil dapat dianggap sebagai bukti bahwa pasangan sebenarnya tidak mencintainya.

Akhirnya, seseorang mungkin melakukan tindakan yang memancing konflik atau menjauh dari pasangan.

Ketika hubungan akhirnya rusak, ia bisa berkata:

"Tuh, benar kan? Pada akhirnya dia memang akan meninggalkan saya."

Padahal, tanpa disadari, sebagian perilakunya sendiri ikut berkontribusi terhadap hasil tersebut.

3. Takut Ditolak sehingga Memilih Menolak Lebih Dahulu

Ada perbedaan antara ditolak dan memilih pergi lebih dahulu agar tidak mengalami penolakan.

Seseorang yang sangat sensitif terhadap penolakan mungkin terus-menerus mengantisipasi kemungkinan bahwa pasangan akan meninggalkannya.

Misalnya, pasangan tidak membalas pesan selama beberapa jam.

Bagi sebagian orang, itu mungkin dianggap biasa.

Namun bagi orang yang sangat takut ditolak, keterlambatan tersebut dapat ditafsirkan sebagai:

"Dia sudah bosan."

"Dia mulai menjauh."

"Sebentar lagi dia akan meninggalkan saya."

Perasaan tersebut kemudian dapat menghasilkan perilaku defensif.

Ia mungkin menjadi dingin.

Ia sengaja tidak membalas pesan.

Ia mulai mencari kesalahan pasangan.

Ia mengatakan, "Kalau memang kamu sudah tidak mau, kita selesai saja."

Ironisnya, perilaku tersebut dapat membuat pasangan benar-benar merasa lelah dan akhirnya menjauh.

Pola ini dapat menjadi semacam self-fulfilling prophecy: seseorang sangat takut terhadap suatu hasil, kemudian perilakunya sendiri meningkatkan kemungkinan hasil tersebut terjadi.

Bukan berarti orang tersebut sengaja ingin menghancurkan hubungan. Justru sebaliknya, ia mungkin sedang berusaha melindungi dirinya dari rasa sakit.

Masalahnya adalah strategi perlindungannya justru menghasilkan rasa sakit yang sama.

4. Pengalaman Masa Lalu Membentuk Ekspektasi Negatif

Pengalaman hubungan sebelumnya dapat memengaruhi cara seseorang melihat hubungan baru.

Seseorang yang pernah mengalami pengkhianatan, penolakan, hubungan yang sangat konflik, atau perpisahan yang menyakitkan mungkin membawa sejumlah ekspektasi ke dalam hubungan berikutnya.

Misalnya:

"Pada akhirnya semua orang akan meninggalkan saya."

"Orang yang terlalu baik biasanya punya maksud tertentu."

"Kalau sudah terlalu dekat, pasti nanti saya akan terluka."

"Hubungan yang bahagia tidak akan bertahan lama."

Masalahnya, manusia tidak hanya bereaksi terhadap apa yang terjadi sekarang. Kita juga menafsirkan kejadian sekarang berdasarkan pengalaman sebelumnya.

Akibatnya, pasangan baru mungkin diperlakukan seolah-olah ia akan melakukan kesalahan yang sama dengan pasangan masa lalu.

Seseorang yang pernah dikhianati mungkin menjadi sangat curiga.

Seseorang yang pernah dikontrol mungkin menjadi sangat sensitif terhadap permintaan sederhana.

Seseorang yang pernah ditinggalkan mungkin panik ketika pasangan membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri.

Jika pola tersebut tidak disadari, hubungan baru dapat dibebani oleh masalah yang sebenarnya berasal dari pengalaman lama.

Pasangan baru akhirnya harus terus-menerus membuktikan bahwa dirinya berbeda.

Dan semakin lama, hubungan tersebut bisa menjadi melelahkan bagi kedua pihak.

5. Hubungan yang Sehat Justru Terasa Asing

Ini merupakan fenomena yang cukup menarik.

Bagi seseorang yang terbiasa dengan hubungan penuh konflik, hubungan yang stabil kadang-kadang justru terasa aneh.

Ia mungkin terbiasa dengan pasangan yang sulit ditebak.

Terbiasa dengan pertengkaran.

Terbiasa dengan drama.

Terbiasa dengan tarik-ulur emosional.

Ketika kemudian bertemu seseorang yang komunikatif, konsisten, dan menghargai batasan, ia mungkin tidak langsung merasa nyaman.

Bahkan bisa muncul pikiran:

"Kenapa rasanya biasa saja?"

"Kok tidak ada tantangannya?"

"Apakah saya benar-benar mencintainya?"

Dalam beberapa kasus, seseorang dapat keliru menganggap ketenangan sebagai kurangnya chemistry, sementara intensitas konflik dianggap sebagai bukti adanya gairah.

Padahal keduanya tidak sama.

Hubungan yang sehat memang tidak selalu menghasilkan naik-turunnya emosi yang ekstrem.

Karena itu, seseorang yang belum terbiasa dengan stabilitas mungkin secara tidak sadar menciptakan konflik agar hubungan kembali terasa familiar.

Ia memulai pertengkaran.

Menguji pasangan.

Menarik diri lalu kembali mendekat.

Mencari-cari masalah ketika semuanya berjalan baik.

Dengan demikian, hubungan kembali menghasilkan intensitas emosional yang sudah dikenalnya.

6. Takut Kehilangan Kebebasan dan Identitas Diri

Tidak semua sabotase hubungan berasal dari rasa takut ditinggalkan.

Sebagian orang justru takut kehilangan dirinya sendiri di dalam hubungan.

Ketika hubungan semakin serius, seseorang mungkin mulai merasa bahwa hidupnya terlalu berpusat pada pasangan.

Ia mengurangi waktu dengan teman.

Mengabaikan hobi.

Mengubah rutinitas.

Menyesuaikan terlalu banyak keputusan dengan kebutuhan hubungan.

Pada akhirnya muncul perasaan:

"Saya seperti tidak menjadi diri saya sendiri."

Jika seseorang mengasosiasikan komitmen dengan kehilangan kebebasan, hubungan yang semakin dekat dapat memunculkan dorongan untuk menjauh.

Ia mungkin tiba-tiba menjadi sangat dingin.

Mencari alasan untuk lebih sering sendirian.

Menghindari pembicaraan mengenai masa depan.

Atau bahkan sengaja menciptakan konflik agar mendapatkan jarak.

Dalam kondisi seperti ini, masalahnya bukan selalu karena seseorang tidak mencintai pasangannya.

Bisa jadi ia belum menemukan cara untuk menggabungkan kedekatan dengan otonomi pribadi.

Hubungan yang sehat tidak seharusnya mengharuskan seseorang menghapus identitasnya.

Seseorang tetap membutuhkan ruang pribadi, pertemanan, minat, dan tujuan hidup di luar hubungan.

Ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, seseorang dapat merasakan hubungan sebagai ancaman terhadap kebebasan dirinya.

7. Secara Sadar atau Tidak Sadar, Ia Sebenarnya Ingin Keluar dari Hubungan

Terakhir, terkadang penjelasannya jauh lebih sederhana.

Seseorang memang sudah tidak ingin melanjutkan hubungan, tetapi tidak tahu bagaimana cara mengakhirinya secara langsung.

Ia mungkin merasa bersalah.

Takut menyakiti pasangan.

Takut menghadapi konflik.

Takut dianggap sebagai orang jahat.

Atau masih memiliki kasih sayang kepada pasangannya meskipun tidak lagi ingin menjalani hubungan romantis.

Akibatnya, daripada mengatakan:

"Saya ingin mengakhiri hubungan ini,"

ia mulai membuat hubungan tersebut menjadi semakin sulit.

Mulai jarang berkomunikasi.

Tidak lagi berusaha menyelesaikan masalah.

Menjadi mudah marah.

Tidak menunjukkan ketertarikan.

Menciptakan jarak.

Dalam situasi tertentu, perilaku tersebut bisa terlihat seperti sabotase.

Namun sebenarnya, orang tersebut mungkin sedang melakukan penghindaran terhadap percakapan sulit.

Ini penting dibedakan dari alasan-alasan psikologis sebelumnya.

Tidak setiap orang yang merusak hubungan sedang mengalami trauma atau masalah attachment. Kadang-kadang seseorang memang sudah berubah pikiran mengenai hubungan tersebut.

Mengapa Orang Tidak Langsung Mengatakan "Saya Ingin Putus"?

Pertanyaan ini menarik karena secara logika, jika seseorang ingin mengakhiri hubungan, seharusnya ia bisa mengatakannya secara langsung.

Dalam praktiknya, hubungan manusia jauh lebih kompleks.

Putus dengan seseorang berarti menghadapi emosi yang tidak nyaman.

Ada rasa bersalah.

Ada rasa kehilangan.

Ada ketakutan terhadap reaksi pasangan.

Ada kenangan bersama.

Ada ketidakpastian tentang masa depan.

Karena itu, seseorang mungkin memilih strategi yang secara psikologis terasa lebih mudah dalam jangka pendek, meskipun dampaknya lebih buruk dalam jangka panjang.

Daripada mengatakan:

"Saya sudah tidak bahagia dalam hubungan ini,"

ia mungkin mulai mengurangi komunikasi.

Daripada mengatakan:

"Saya membutuhkan lebih banyak ruang,"

ia mungkin menjadi dingin.

Daripada mengatakan:

"Saya ingin mengakhiri hubungan,"

ia mungkin terus memicu konflik sampai pasangan akhirnya menyerah.

Dengan demikian, tanggung jawab untuk mengakhiri hubungan terasa seperti berpindah kepada keadaan atau kepada pasangan.

Apakah Menyabotase Hubungan Selalu Berarti Seseorang Tidak Mencintai Pasangannya?

Tidak.

Seseorang bisa mencintai pasangannya sekaligus memiliki pola perilaku yang merusak hubungan.

Perasaan dan perilaku bukan hal yang sama.

Seseorang bisa berpikir:

"Aku sangat menyayanginya."

Tetapi pada saat yang sama bertindak dengan cara yang membuat pasangan terluka.

Inilah salah satu alasan mengapa memahami perilaku hubungan tidak cukup hanya dengan bertanya:

"Apakah dia masih mencintai saya?"

Pertanyaan lain yang juga penting adalah:

Bagaimana ia menghadapi konflik?
Bagaimana ia merespons kedekatan?
Apakah ia mampu berkomunikasi secara terbuka?
Apakah ia menghormati batasan?
Apakah ia bersedia memperbaiki kesalahan?
Apakah perilakunya konsisten dengan apa yang ia katakan?

Cinta dapat menjadi bagian penting dari hubungan, tetapi hubungan yang sehat juga membutuhkan perilaku yang mendukung rasa aman, kepercayaan, komunikasi, dan penghormatan.

Tanda-Tanda Seseorang Mungkin Sedang Mendorong Hubungan Menuju Perpisahan

Tidak ada satu tanda yang dapat membuktikan bahwa seseorang sedang melakukan self-sabotage. Namun beberapa pola yang berulang dapat menjadi bahan refleksi.

Misalnya:

1. Sengaja mencari masalah ketika hubungan sedang baik.

2. Terus-menerus menguji pasangan untuk membuktikan apakah pasangan benar-benar mencintainya.

3. Menarik diri setiap kali hubungan mulai menjadi serius.

4. Menciptakan konflik daripada membicarakan kebutuhan secara langsung.

5. Menganggap kesalahan kecil sebagai bukti bahwa hubungan tidak akan berhasil.

6. Menolak kedekatan tetapi merasa kecewa ketika pasangan menjauh.

7. Menghancurkan hubungan sebelum merasa dirinya akan ditinggalkan.

Yang paling penting bukan satu perilaku tertentu, melainkan pola yang berulang.

Pada Akhirnya, Self-Sabotage Sering Kali Merupakan Upaya Melindungi Diri

Jika dilihat dari luar, perilaku menyabotase hubungan mungkin tampak tidak masuk akal.

"Kalau dia sayang, kenapa justru melakukan hal yang membuat hubungan rusak?"

Namun dari perspektif psikologis, perilaku manusia tidak selalu diarahkan untuk mendapatkan hasil terbaik dalam jangka panjang.

Kadang-kadang manusia melakukan sesuatu untuk mengurangi ketidaknyamanan emosional saat ini.

Seseorang takut ditinggalkan → ia meninggalkan lebih dahulu.

Seseorang takut disakiti → ia tidak membiarkan dirinya terlalu dekat.

Seseorang merasa tidak layak dicintai → ia mencari bukti bahwa hubungan tersebut memang tidak akan berhasil.

Seseorang takut kehilangan kebebasan → ia menciptakan jarak ketika hubungan semakin serius.

Ironisnya, mekanisme perlindungan tersebut dapat menghasilkan sesuatu yang sebenarnya paling ditakuti.

Karena itu, memahami self-sabotage bukan berarti mencari siapa yang harus disalahkan. Tujuannya adalah memahami pola antara pikiran, emosi, dan perilaku yang membuat sebuah hubungan semakin sulit dipertahankan.

Dan ketika pola tersebut sudah disadari, seseorang memiliki kesempatan untuk mengubahnya—misalnya dengan belajar berkomunikasi secara lebih langsung, membangun batasan yang sehat, mengenali keyakinan negatif tentang diri sendiri, dan jika diperlukan, membicarakannya bersama psikolog atau profesional kesehatan mental.

Pada akhirnya, hubungan yang sehat bukan berarti tidak pernah mengalami ketakutan, konflik, atau keraguan. Yang membedakan adalah bagaimana seseorang merespons semua itu.

Karena terkadang, yang menghancurkan sebuah hubungan bukan karena tidak adanya cinta, melainkan karena seseorang belum tahu bagaimana menghadapi rasa takut yang muncul ketika ia mulai benar-benar mencintai seseorang.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore