Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 26 September 2026 | 18.39 WIB

6 Alasan Mengapa Banyak Gen Z Lebih Memilih untuk Sendiri dan Bahagia Menjalaninya Menurut Psikologi

seseorang yang tidak layak dipertahankan dalam hidup. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Bagi sebagian orang, hidup sendiri masih sering dianggap sebagai sesuatu yang perlu "diperbaiki". Ketika seseorang belum memiliki pasangan, tinggal sendirian, lebih suka menghabiskan waktu di rumah, atau tidak terlalu aktif dalam kehidupan sosial, pertanyaan seperti "Kapan punya pasangan?" atau "Kok betah sendiri?" mungkin sudah menjadi hal yang biasa didengar.


Namun, cara pandang terhadap kesendirian perlahan berubah, terutama di kalangan generasi muda.

Bagi sebagian Gen Z, hidup sendiri tidak selalu identik dengan kesepian. Mereka bisa saja menikmati waktu seorang diri, memiliki lingkaran sosial yang lebih kecil, atau memilih tidak terburu-buru menjalin hubungan romantis. Bahkan, sebagian merasa lebih tenang, bebas, dan bahagia ketika memiliki ruang pribadi yang cukup.

Fenomena ini menarik jika dilihat dari perspektif psikologi. Mengapa seseorang bisa merasa nyaman dengan kesendirian? Mengapa hubungan romantis tidak selalu menjadi prioritas? Dan mengapa sebagian orang justru merasa lebih bahagia ketika memiliki banyak waktu untuk dirinya sendiri?

Tentu saja, tidak semua Gen Z memiliki pandangan yang sama. Generasi ini sangat beragam. Tetapi ada beberapa faktor psikologis dan sosial yang dapat membantu menjelaskan mengapa sebagian anak muda semakin nyaman menjalani hidup dengan lebih mandiri.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (25/9), terdapat enam di antaranya.

1. Mereka semakin menghargai kebebasan dan otonomi pribadi

Salah satu kebutuhan psikologis manusia adalah autonomy, yaitu perasaan bahwa seseorang memiliki kendali atas hidup dan keputusan yang dibuatnya.

Dalam teori Self-Determination Theory, kebutuhan akan otonomi merupakan salah satu kebutuhan psikologis dasar manusia, bersama dengan kebutuhan akan kompetensi dan keterhubungan dengan orang lain.

Bagi sebagian Gen Z, hidup sendiri memberikan ruang yang lebih besar untuk menentukan bagaimana mereka ingin menjalani kehidupan.

Mereka dapat menentukan sendiri kapan ingin bekerja, beristirahat, bepergian, bertemu teman, menghabiskan uang, atau sekadar menikmati waktu tanpa harus menyesuaikan diri dengan pasangan.

Hal ini bukan berarti mereka tidak membutuhkan orang lain.

Justru, seseorang dapat memiliki hubungan sosial yang sehat sambil tetap menginginkan tingkat kemandirian yang tinggi.

Perbedaannya terletak pada cara seseorang mendefinisikan hubungan.

Generasi sebelumnya mungkin lebih sering melihat hubungan romantis sebagai bagian penting dari kehidupan dewasa. Sementara sebagian anak muda sekarang mulai melihat hubungan sebagai pilihan, bukan sebagai kewajiban untuk dianggap berhasil dalam kehidupan.

Karena itu, kalimat seperti:

"Aku nyaman sendiri."

tidak selalu berarti:

"Aku tidak membutuhkan siapa pun."

Bisa saja maknanya adalah:

"Aku ingin memiliki hubungan dengan orang lain tanpa kehilangan diriku sendiri."

Secara psikologis, kemampuan untuk merasa nyaman dengan diri sendiri dapat menjadi bagian dari perkembangan kemandirian dan identitas pribadi.

2. Mereka semakin sadar bahwa kesepian dan kesendirian adalah dua hal yang berbeda

Ini merupakan salah satu hal terpenting ketika membicarakan fenomena "betah sendiri".

Sendiri tidak selalu berarti kesepian.

Dalam psikologi, kesepian lebih berkaitan dengan persepsi seseorang terhadap hubungan sosialnya. Seseorang dapat merasa kesepian meskipun berada di tengah banyak orang.

Sebaliknya, seseorang bisa menghabiskan satu hari sendirian dan tetap merasa puas, tenang, serta terhubung dengan kehidupan.

Bayangkan dua orang.

Orang pertama menghabiskan akhir pekan sendirian di rumah. Ia membaca buku, menonton film, memasak, bermain gim, atau mengerjakan hobinya. Setelah itu, ia merasa segar dan puas.

Orang kedua menghadiri pesta yang penuh orang, tetapi sepanjang malam merasa tidak dipahami dan tidak memiliki koneksi emosional dengan siapa pun.

Orang pertama secara fisik lebih banyak sendiri, tetapi belum tentu merasa kesepian.

Orang kedua secara sosial dikelilingi banyak orang, tetapi bisa mengalami kesepian.

Perbedaan ini semakin penting di era media sosial.

Seseorang dapat memiliki ratusan atau ribuan pengikut, tetapi jumlah koneksi digital tidak otomatis menentukan kualitas hubungan emosional yang dimilikinya.

Sebagian Gen Z tampaknya semakin memahami bahwa memiliki banyak interaksi sosial tidak selalu sama dengan memiliki hubungan yang bermakna.

Akibatnya, mereka mungkin lebih memilih beberapa hubungan yang benar-benar nyaman dibandingkan memaksakan diri berada dalam lingkungan sosial yang membuat mereka lelah.

3. Mereka lebih memperhatikan kesehatan mental dan batasan pribadi

Generasi muda saat ini hidup dalam lingkungan informasi yang membuat pembicaraan tentang kesehatan mental jauh lebih mudah ditemukan.

Istilah seperti burnout, boundaries, emotional exhaustion, dan self-care sudah menjadi bagian dari percakapan sehari-hari.

Kesadaran tersebut dapat memengaruhi cara seseorang memandang hubungan.

Hubungan romantis tidak hanya dipandang sebagai sumber kebahagiaan, tetapi juga sebagai sesuatu yang membutuhkan waktu, energi emosional, komunikasi, kompromi, dan tanggung jawab.

Karena itu, sebagian anak muda mungkin memilih untuk tidak memasuki hubungan ketika mereka merasa belum siap.

Bukan karena mereka membenci hubungan.

Mereka mungkin justru menyadari bahwa hubungan yang sehat membutuhkan dua individu yang mampu mengelola kebutuhan dan emosinya masing-masing.

Di sinilah konsep boundaries menjadi penting.

Batas pribadi membantu seseorang memahami apa yang dapat ia terima dan apa yang tidak.

Misalnya, seseorang mungkin menyadari bahwa ia membutuhkan waktu sendirian setelah bekerja. Ia mungkin tidak nyaman jika harus selalu membalas pesan dengan cepat atau selalu tersedia untuk orang lain.

Dulu, perilaku semacam ini mungkin dianggap "terlalu individualistis".

Namun sekarang, sebagian anak muda melihatnya sebagai bagian dari usaha menjaga keseimbangan hidup.

Tentu saja, ada perbedaan antara memiliki batas pribadi yang sehat dengan mengisolasi diri dari semua orang.

Batas pribadi memungkinkan seseorang tetap memiliki hubungan dengan orang lain tanpa kehilangan ruang untuk dirinya sendiri.

Sebaliknya, isolasi sosial yang ekstrem dapat menjadi masalah apabila seseorang sebenarnya ingin terhubung tetapi merasa tidak mampu atau takut melakukannya.

Jadi, menikmati kesendirian tidak otomatis merupakan tanda masalah psikologis.

Yang lebih penting adalah mengapa seseorang memilih sendiri dan bagaimana perasaannya ketika menjalaninya.

4. Mereka tidak lagi menganggap hubungan romantis sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan

Ada perubahan penting dalam cara banyak orang mendefinisikan kehidupan yang "ideal".

Dulu, gambaran kehidupan dewasa sering kali mengikuti pola yang relatif linear:

sekolah → bekerja → menikah → memiliki anak → membangun keluarga.

Namun kehidupan modern menawarkan jauh lebih banyak kemungkinan.

Seseorang dapat mengejar karier, membangun bisnis, bepergian, belajar, menjalankan komunitas, mengembangkan hobi, atau membangun hubungan pertemanan yang sangat dekat tanpa harus mengikuti urutan hidup yang sama.

Dalam konteks psikologi, hal ini berkaitan dengan sumber makna dan pemenuhan kebutuhan yang lebih beragam.

Manusia tidak hanya membutuhkan pasangan romantis.

Manusia juga membutuhkan perasaan kompeten, memiliki tujuan, dihargai, terhubung dengan orang lain, dan merasa bahwa hidupnya memiliki makna.

Semua kebutuhan tersebut dapat diperoleh melalui berbagai aspek kehidupan.

Seseorang bisa mendapatkan rasa pencapaian dari pekerjaan.

Ia bisa mendapatkan rasa keterhubungan dari sahabat.

Ia bisa mendapatkan kebahagiaan dari keluarga.

Ia bisa mendapatkan makna dari aktivitas sosial.

Dan ia bisa mendapatkan ketenangan dari waktu yang dihabiskan seorang diri.

Karena itu, tidak mengherankan apabila sebagian Gen Z tidak merasa bahwa kehidupan mereka "kurang lengkap" hanya karena belum memiliki pasangan.

Bagi mereka, pasangan dapat menjadi salah satu bagian kehidupan, tetapi bukan satu-satunya bagian yang menentukan kebahagiaan.

5. Mereka lebih selektif terhadap hubungan yang ingin dijalani

Menjadi nyaman sendiri juga dapat membuat seseorang tidak terlalu takut kehilangan hubungan yang sebenarnya tidak sehat atau tidak sesuai dengan kebutuhannya.

Ketika seseorang merasa bahwa ia harus memiliki pasangan agar bahagia, ia mungkin lebih mudah bertahan dalam hubungan yang sebenarnya membuatnya tidak nyaman.

Sebaliknya, seseorang yang sudah mampu menikmati kehidupannya sendiri mungkin memiliki standar yang berbeda.

Ia dapat berpikir:

"Kalau hubungan ini membuat hidupku jauh lebih buruk daripada ketika aku sendiri, mengapa aku harus memaksakannya?"

Pertanyaan semacam itu dapat membuat seseorang lebih selektif.

Namun, penting untuk tidak menyederhanakannya menjadi "Gen Z tidak mau berkomitmen".

Alasannya bisa jauh lebih kompleks.

Sebagian orang mungkin memang belum menemukan pasangan yang cocok. Sebagian lain mungkin sedang fokus pada pendidikan atau karier. Ada pula yang merasa lebih nyaman dengan hubungan yang tidak terlalu konvensional.

Dan tentu saja, ada orang yang sebenarnya ingin memiliki pasangan tetapi belum menemukan hubungan yang sesuai.

Jadi, pilihan untuk sendiri tidak selalu berarti seseorang menolak cinta.

Dalam beberapa kasus, justru bisa berarti seseorang tidak ingin memasuki hubungan hanya karena tekanan sosial.

6. Mereka menemukan kebahagiaan dari hubungan dengan diri sendiri

Pada akhirnya, kemampuan menikmati waktu sendirian dapat berkaitan dengan bagaimana seseorang memperlakukan dirinya sendiri.

Ada perbedaan besar antara:

"Aku sendiri karena tidak ada yang mau denganku."

dan

"Aku sendiri karena aku menikmati kehidupanku saat ini."

Situasinya mungkin terlihat sama dari luar, tetapi pengalaman psikologisnya sangat berbeda.

Orang yang nyaman dengan dirinya sendiri biasanya dapat menikmati aktivitas tanpa selalu membutuhkan validasi dari orang lain.

Ia bisa makan sendirian.

Pergi ke bioskop sendirian.

Berjalan-jalan sendirian.

Menghabiskan akhir pekan di rumah.

Mengerjakan hobi.

Belajar sesuatu yang baru.

Atau sekadar menikmati hari yang tenang tanpa merasa harus terus-menerus mencari perhatian.

Kemampuan tersebut sering dikaitkan dengan self-acceptance dan kemampuan untuk merasa nyaman dengan diri sendiri.

Kesendirian kemudian bukan lagi sesuatu yang harus dihindari.

Ia bisa menjadi ruang untuk melakukan refleksi.

Ketika tidak terus-menerus dipengaruhi oleh pendapat orang lain, seseorang memiliki kesempatan untuk bertanya:

"Sebenarnya aku ingin hidup seperti apa?"

Pertanyaan sederhana tersebut bisa sangat penting dalam proses pembentukan identitas.

Terutama pada masa dewasa muda, ketika seseorang sedang menentukan nilai, tujuan, gaya hidup, dan prioritasnya sendiri.

Tetapi, Apakah Selalu Sehat untuk Sendiri?

Tidak selalu.

Ini bagian yang sering hilang ketika fenomena "bahagia sendiri" dibicarakan di media sosial.

Menikmati kesendirian dapat menjadi hal yang sehat. Tetapi manusia tetap membutuhkan hubungan sosial.

Kita adalah makhluk sosial, dan hubungan yang berkualitas memiliki kaitan dengan berbagai aspek kesejahteraan psikologis.

Karena itu, penting membedakan antara solitude dan social isolation.

Solitude adalah waktu yang sengaja digunakan untuk diri sendiri dan dapat terasa menyenangkan.

Sementara isolasi sosial dapat terjadi ketika seseorang semakin terputus dari hubungan sosial yang sebenarnya ia butuhkan.

Misalnya, seseorang mengatakan dirinya nyaman sendiri, tetapi sebenarnya merasa sangat kesepian, tidak memiliki tempat untuk bercerita, dan menghindari semua hubungan karena pengalaman buruk atau rasa takut.

Dalam situasi seperti itu, "aku bahagia sendiri" mungkin bukan keseluruhan cerita.

Karena itu, ukuran yang lebih penting bukanlah berapa banyak waktu yang seseorang habiskan sendirian.

Pertanyaannya adalah:

Apakah ia memilih kesendirian karena memang menikmatinya, atau karena merasa tidak punya pilihan lain?

Bahagia Sendiri Bukan Berarti Anti-Sosial

Salah satu kesalahpahaman terbesar adalah menganggap orang yang suka sendiri pasti antisosial.

Padahal seseorang dapat sangat menikmati kesendirian sekaligus memiliki hubungan sosial yang sehat.

Ia mungkin tidak suka keramaian, tetapi sangat dekat dengan beberapa sahabat.

Ia mungkin tidak sering mengunggah kehidupan pribadi di media sosial, tetapi memiliki keluarga yang suportif.

Ia mungkin tidak tertarik berpacaran untuk sementara waktu, tetapi tetap menikmati pertemanan dan komunitas.

Dengan kata lain, kualitas hubungan sering kali lebih penting daripada jumlah hubungan.

Bagi sebagian Gen Z, kehidupan yang ideal mungkin bukan kehidupan yang dipenuhi banyak orang setiap saat.

Mereka mungkin lebih memilih kehidupan yang memberikan keseimbangan antara koneksi dan ruang pribadi.

Ada waktu untuk bersama orang lain.

Ada waktu untuk sendiri.

Dan keduanya tidak harus saling bertentangan.

Kesimpulan

Fenomena sebagian Gen Z yang semakin nyaman hidup sendiri dapat dipahami melalui berbagai faktor psikologis dan sosial.

Mereka mungkin semakin menghargai otonomi pribadi, memahami perbedaan antara kesendirian dan kesepian, lebih sadar terhadap batas pribadi dan kesehatan mental, memiliki sumber kebahagiaan yang lebih beragam, lebih selektif dalam hubungan, serta semakin mampu menemukan kepuasan dari hubungan dengan diri sendiri.

Namun, penting untuk tidak menggeneralisasi seluruh Gen Z.

Ada Gen Z yang sangat menikmati hubungan romantis. Ada yang ingin menikah muda. Ada yang senang hidup bersama keluarga. Ada pula yang memilih hidup sendiri. Semua pengalaman tersebut dapat berbeda berdasarkan kepribadian, kondisi ekonomi, budaya, pengalaman hidup, dan lingkungan sosial masing-masing.

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang lebih menarik bukanlah:

"Mengapa anak muda sekarang suka sendiri?"

Melainkan:

"Apakah seseorang mampu merasa bahagia dan tetap terhubung dengan orang lain, baik ketika sedang sendiri maupun ketika bersama orang lain?"

Karena hidup yang sehat secara psikologis bukan tentang selalu memiliki seseorang di samping kita.

Begitu pula bukan tentang selalu sendirian.

Yang lebih penting adalah memiliki kebebasan untuk memilih, kemampuan untuk menikmati waktu bersama diri sendiri, dan hubungan yang cukup bermakna sehingga kita tidak harus kehilangan diri sendiri demi merasa dicintai.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore