Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 26 September 2026 | 19.26 WIB

7 Cara “Budaya Buru-Buru” Berkontribusi terhadap Kecemasan dan Stres Menurut Psikologi

seseorang yang stres karena terburu-buru. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Pernahkah Anda merasa seolah-olah hidup selalu mengejar sesuatu?


Bangun tidur terburu-buru. Sarapan sambil memeriksa notifikasi. Bekerja sambil membuka banyak tab. Membalas pesan sambil mengikuti rapat. Ketika pekerjaan selesai, masih ada email yang harus dibalas, daftar tugas yang belum dicentang, atau target berikutnya yang sudah menunggu.

Bahkan ketika sebenarnya tidak sedang dikejar siapa pun, kita tetap merasa harus bergerak cepat.

Fenomena ini sering disebut sebagai “budaya buru-buru” (hurry culture)—sebuah pola hidup ketika kecepatan, produktivitas, respons cepat, dan kesibukan terus-menerus dianggap sebagai sesuatu yang normal, bahkan ideal.

Masalahnya, tubuh dan pikiran manusia tidak selalu dirancang untuk berada dalam kondisi “siaga” sepanjang hari.

Dalam psikologi, stres tidak hanya berkaitan dengan seberapa banyak masalah yang kita hadapi. Cara kita mempersepsikan tuntutan, keterbatasan waktu, kontrol, dan kemampuan untuk mengatasinya juga sangat berpengaruh. Ketika kehidupan sehari-hari terus memberi sinyal bahwa kita harus bergerak lebih cepat, sistem psikologis kita dapat lebih sering berada dalam keadaan tertekan.

Lalu, bagaimana budaya buru-buru dapat berkontribusi terhadap kecemasan dan stres?

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (25/9), terdapat tujuh mekanismenya.

1. Budaya buru-buru membuat otak terus merasa berada dalam kondisi “terancam”

Salah satu alasan mengapa hidup terburu-buru terasa melelahkan adalah karena tekanan waktu dapat membuat kita terus-menerus memperhatikan apa yang belum selesai.

Bayangkan Anda memiliki waktu satu jam untuk menyelesaikan sepuluh tugas.

Alih-alih melihat satu tugas yang sedang dikerjakan, pikiran dapat terus menghitung:

“Masih sembilan.”

“Waktunya tinggal 45 menit.”

“Kalau yang ini belum selesai, bagaimana dengan tugas berikutnya?”

“Saya harus lebih cepat.”

Perhatian akhirnya tidak sepenuhnya berada pada aktivitas yang sedang dilakukan. Sebagian perhatian terus memantau ancaman berupa keterlambatan, kesalahan, atau ketertinggalan.

Dalam psikologi stres, persepsi terhadap tuntutan yang melebihi sumber daya yang kita rasakan dapat menjadi salah satu pemicu stres. Ketika seseorang merasa bahwa tuntutan terus berdatangan sementara waktu, energi, atau kemampuan mengendalikannya terbatas, tekanan psikologis dapat meningkat.

Budaya buru-buru memperkuat pola tersebut karena “tidak cukup cepat” sering kali terasa seperti sebuah kegagalan.

Akibatnya, seseorang mungkin tidak benar-benar sedang menghadapi bahaya, tetapi tubuh dan pikirannya tetap mendapatkan pesan:

“Saya harus segera melakukan sesuatu.”

Inilah salah satu alasan mengapa seseorang dapat merasa gelisah bahkan ketika tidak ada masalah besar yang sedang terjadi.

Kecepatan akhirnya menjadi keadaan default

Masalahnya bukan hanya sesekali terburu-buru.

Jika terburu-buru terjadi hampir setiap hari, otak dapat terbiasa dengan tingkat stimulasi dan tekanan yang tinggi.

Akhirnya, duduk diam selama beberapa menit pun bisa terasa tidak nyaman.

Ketika tidak melakukan sesuatu, muncul pikiran:

“Saya seharusnya melakukan sesuatu.”

Padahal istirahat bukan berarti membuang waktu. Namun, budaya produktivitas dapat membuat istirahat terasa seperti sesuatu yang harus “diperoleh” setelah semua pekerjaan selesai—dan pekerjaan sering kali tidak pernah benar-benar selesai.

2. Tekanan untuk selalu cepat dapat meningkatkan kecemasan terhadap waktu

Ada perbedaan antara memiliki tenggat waktu dan merasa selalu kekurangan waktu.

Tenggat waktu yang jelas terkadang justru membantu seseorang mengatur prioritas. Namun, ketika rasa kekurangan waktu menjadi pola psikologis, seseorang dapat mulai melihat hampir semua aktivitas sebagai perlombaan.

Makan harus cepat.

Berjalan harus cepat.

Membalas pesan harus cepat.

Belajar harus cepat.

Menyelesaikan pekerjaan harus cepat.

Bahkan bersantai pun terkadang dilakukan dengan terburu-buru.

Dalam kondisi seperti ini, waktu tidak lagi sekadar sesuatu yang digunakan. Waktu terasa seperti sesuatu yang terus berkurang dan harus dikejar.

“Time urgency”

Dalam literatur psikologi, terdapat konsep time urgency, yaitu kecenderungan merasa bahwa waktu selalu mendesak dan segala sesuatu harus dilakukan secepat mungkin.

Orang dengan tingkat urgensi waktu yang tinggi dapat menjadi sangat tidak nyaman ketika harus menunggu.

Lampu merah terasa menyebalkan.

Antrean terasa seperti pemborosan.

Orang yang berjalan lambat terasa mengganggu.

Rapat yang berlangsung terlalu lama membuat frustrasi.

Pekerjaan yang tidak segera selesai memicu kegelisahan.

Masalahnya, dunia tidak selalu bergerak mengikuti kecepatan yang kita inginkan.

Ketika kebutuhan internal untuk bergerak cepat bertemu dengan kenyataan bahwa banyak hal berada di luar kendali kita, frustrasi dan stres dapat meningkat.

3. Budaya buru-buru mendorong multitasking yang justru menguras perhatian

Salah satu ciri kehidupan modern adalah keyakinan bahwa kita dapat melakukan banyak hal sekaligus.

Membalas WhatsApp sambil bekerja.

Mendengarkan rapat sambil membaca email.

Menonton video sambil makan.

Mengerjakan laporan sambil sesekali membuka media sosial.

Kelihatannya efisien.

Namun, dari perspektif psikologi kognitif, manusia memiliki keterbatasan dalam mengalokasikan perhatian.

Apa yang sering disebut “multitasking” pada banyak aktivitas sebenarnya melibatkan perpindahan perhatian secara cepat (task switching).

Pikiran berpindah dari satu tugas ke tugas lain:

pekerjaan → pesan → email → pekerjaan → notifikasi → media sosial → pekerjaan.

Setiap perpindahan membutuhkan penyesuaian mental.

Akibatnya, kita dapat merasa sibuk sepanjang hari tanpa mendapatkan pengalaman bahwa kita benar-benar menyelesaikan sesuatu dengan tenang.

Inilah paradoksnya

Semakin buru-buru kita ingin menyelesaikan banyak hal, semakin banyak aktivitas yang kita masukkan secara bersamaan.

Semakin banyak aktivitas yang dilakukan secara bersamaan, semakin terpecah perhatian.

Semakin terpecah perhatian, semakin sulit menyelesaikan pekerjaan dengan tenang.

Kemudian kita merasa tertinggal.

Dan karena merasa tertinggal, kita mencoba bekerja lebih cepat.

Terbentuklah sebuah siklus stres.

Budaya buru-buru dengan demikian bukan hanya soal bergerak cepat secara fisik. Ia juga dapat menciptakan pola mental yang terus-menerus berpindah dari satu tuntutan ke tuntutan lain.

4. Budaya “harus produktif” dapat membuat istirahat terasa seperti rasa bersalah

Salah satu dampak paling halus dari budaya buru-buru adalah perubahan cara kita memandang istirahat.

Istirahat seharusnya merupakan bagian normal dari kehidupan.

Namun, jika seseorang terbiasa mengukur nilai dirinya melalui produktivitas, muncul keyakinan seperti:

“Kalau saya sedang tidak produktif, berarti saya membuang waktu.”

Atau:

“Saya baru boleh santai setelah semua pekerjaan selesai.”

Masalahnya, daftar pekerjaan hampir tidak pernah benar-benar habis.

Selalu ada email berikutnya.

Target berikutnya.

Proyek berikutnya.

Pesan berikutnya.

Keahlian baru yang harus dipelajari.

Konten yang harus dibuat.

Hal yang harus diperbaiki.

Jika istirahat baru boleh dilakukan setelah semuanya selesai, seseorang mungkin tidak pernah merasa benar-benar memiliki izin untuk beristirahat.

Rest guilt

Fenomena ini sering disebut secara informal sebagai rest guilt, yaitu rasa bersalah ketika sedang beristirahat.

Seseorang mungkin sedang duduk di sofa, tetapi pikirannya tetap bekerja:

“Saya seharusnya menyelesaikan laporan.”

“Orang lain sedang bekerja.”

“Saya terlalu santai.”

“Saya belum cukup produktif hari ini.”

Secara fisik seseorang berhenti, tetapi secara mental belum tentu beristirahat.

Padahal pemulihan psikologis membutuhkan kesempatan untuk melepaskan diri dari tuntutan pekerjaan dan aktivitas yang menekan.

Jika waktu istirahat terus dipenuhi rasa bersalah, fungsi pemulihan tersebut dapat terganggu.

5. Kecepatan terus-menerus dapat mengganggu tidur dan pemulihan

Stres bukan hanya tentang apa yang terjadi ketika kita bekerja.

Yang sama pentingnya adalah apakah tubuh dan pikiran memiliki kesempatan untuk pulih setelah menghadapi tuntutan.

Budaya buru-buru dapat mengganggu proses ini melalui beberapa jalur.

Seseorang mungkin membawa pekerjaan sampai malam.

Setelah itu masih memeriksa email.

Kemudian membuka media sosial.

Memikirkan pekerjaan esok hari.

Mengingat tugas yang belum selesai.

Memikirkan apakah target tercapai.

Akhirnya tubuh sudah berada di tempat tidur, tetapi pikiran belum benar-benar berhenti.

“Otak yang belum selesai”

Psikologi mengenal fenomena ketika tugas yang belum selesai tetap menempati perhatian mental. Ini membantu menjelaskan mengapa pekerjaan yang belum selesai dapat terus muncul dalam pikiran meskipun seseorang sudah meninggalkan kantor.

Jika pola tersebut terjadi berulang kali, waktu sebelum tidur pun dapat berubah menjadi periode untuk memikirkan pekerjaan dan masalah.

Akibatnya, seseorang mungkin mengalami kesulitan untuk benar-benar “turun gigi” dari mode produktivitas ke mode pemulihan.

Dan ketika tidur terganggu, tantangan psikologis pada hari berikutnya dapat terasa lebih berat.

Seseorang yang kurang tidur mungkin lebih mudah tersinggung, lebih sulit berkonsentrasi, dan merasa tuntutan sehari-hari lebih sulit dihadapi.

Dengan kata lain:

Hari yang terlalu cepat dapat mengganggu malam, dan malam yang kurang pulih dapat membuat hari berikutnya terasa semakin berat.

6. Budaya buru-buru mempersempit perhatian sehingga masalah kecil terasa lebih besar

Ketika kita berada dalam keadaan tenang, kita biasanya memiliki lebih banyak ruang mental untuk mempertimbangkan pilihan.

Tetapi ketika merasa dikejar waktu, perhatian cenderung menjadi lebih sempit.

Fokus utama berubah menjadi:

“Apa yang harus saya selesaikan sekarang?”

Penyempitan perhatian seperti ini bisa berguna dalam situasi tertentu. Ketika ada keadaan darurat, kemampuan untuk fokus pada hal yang paling penting memang diperlukan.

Namun, jika kondisi tersebut menjadi pola sehari-hari, kita dapat kehilangan kesempatan untuk melihat konteks yang lebih luas.

Contohnya:

Seorang pekerja mendapatkan email singkat dari atasannya:

“Tolong diperbaiki bagian ini.”

Dalam kondisi tenang, ia mungkin berpikir:

“Oke, ada bagian yang perlu direvisi.”

Namun ketika sedang kewalahan dan merasa dikejar waktu, pesan yang sama dapat ditafsirkan secara berbeda:

“Pekerjaan saya bermasalah.”

“Saya terlambat.”

“Atasan saya kecewa.”

“Saya harus segera memperbaikinya.”

Pesan objektifnya sama.

Namun, kondisi psikologis ketika menerima pesan tersebut berbeda.

Ini menunjukkan bahwa stres tidak hanya dipengaruhi oleh peristiwa eksternal, tetapi juga oleh bagaimana seseorang menilai dan menafsirkannya.

Budaya buru-buru dapat membuat kita terlalu sering berada dalam kondisi di mana segala sesuatu terasa mendesak.

Akibatnya, masalah kecil lebih mudah dipersepsikan sebagai masalah besar.

7. Budaya buru-buru dapat membuat identitas seseorang melekat pada produktivitas

Ini mungkin merupakan dampak yang paling dalam.

Pada awalnya, seseorang mungkin hanya berpikir:

“Saya sedang sibuk.”

Lama-kelamaan, kesibukan dapat berubah menjadi:

“Saya adalah orang yang selalu sibuk.”

Kemudian muncul keyakinan:

“Saya harus produktif agar merasa berharga.”

Di titik ini, produktivitas bukan lagi sekadar aktivitas.

Produktivitas menjadi bagian dari identitas.

Seseorang merasa berhasil ketika banyak hal telah diselesaikan, dan merasa gagal ketika hari tersebut tidak menghasilkan cukup banyak pencapaian.

Masalahnya: manusia tidak selalu produktif

Ada hari ketika tubuh lelah.

Ada hari ketika konsentrasi menurun.

Ada hari ketika seseorang membutuhkan waktu untuk berpikir.

Ada hari ketika hidup pribadi membutuhkan perhatian.

Ada hari ketika tidak banyak hal yang berhasil diselesaikan.

Jika harga diri terlalu erat dikaitkan dengan produktivitas, hari yang tidak produktif dapat terasa seperti ancaman terhadap diri sendiri.

Bukan lagi:

“Hari ini saya tidak banyak menyelesaikan pekerjaan.”

Melainkan:

“Saya tidak cukup baik.”

Perubahan kecil dalam cara berpikir ini dapat memiliki konsekuensi psikologis yang besar.

Karena jika nilai diri bergantung pada pencapaian, seseorang tidak pernah benar-benar merasa aman.

Selalu ada target berikutnya.

Selalu ada standar berikutnya.

Selalu ada orang lain yang tampak lebih cepat.

Dan selalu ada kemungkinan bahwa pencapaian hari ini tidak lagi dianggap cukup besok.

Mengapa Kita Sulit Keluar dari Budaya Buru-Buru?

Pertanyaan berikutnya adalah: kalau terburu-buru begitu melelahkan, mengapa banyak orang tetap melakukannya?

Salah satu jawabannya adalah karena budaya tersebut dapat memberikan penguatan jangka pendek.

Ketika kita menyelesaikan sesuatu dengan cepat, kita mendapatkan sensasi lega.

Email terjawab.

Tugas selesai.

Notifikasi hilang.

Daftar pekerjaan berkurang.

Kita merasa berhasil.

Masalahnya, rasa lega tersebut dapat mendorong kita untuk terus menggunakan kecepatan sebagai strategi menghadapi tekanan.

Ketika stres muncul, kita merespons dengan bekerja lebih cepat.

Ketika pekerjaan bertambah, kita mempercepat lagi.

Ketika merasa tertinggal, kita mencoba melakukan lebih banyak hal.

Akibatnya, kita tidak pernah benar-benar mempertanyakan apakah jumlah tuntutannya sendiri yang perlu dikurangi.

Kita hanya mencoba menjadi lebih cepat dalam menghadapi tuntutan yang sama.

Padahal terkadang masalahnya bukan bahwa kita berjalan terlalu lambat.

Mungkin memang terlalu banyak hal yang diminta untuk dilakukan sekaligus.

Bagaimana Cara Mengurangi Dampak Budaya Buru-Buru?

Mengurangi budaya buru-buru tidak selalu berarti harus meninggalkan pekerjaan, teknologi, atau ambisi.

Yang lebih realistis adalah menciptakan batas antara urgensi yang nyata dan urgensi yang kita ciptakan sendiri.

Beberapa langkah sederhana dapat membantu.

1. Bedakan “penting” dan “harus sekarang”

Tidak semua hal penting harus dikerjakan saat ini.

Ketika mendapatkan banyak tugas, tanyakan:

“Apa yang benar-benar memiliki konsekuensi jika tidak saya lakukan sekarang?”

Pertanyaan tersebut membantu otak membedakan urgensi nyata dari tekanan psikologis.

2. Kurangi perpindahan tugas

Daripada terus berpindah antara email, chat, dokumen, dan media sosial, cobalah membuat blok waktu untuk satu jenis aktivitas.

Misalnya:

30 menit mengerjakan tugas utama
10 menit memeriksa pesan
30 menit kembali ke pekerjaan
kemudian istirahat singkat

Tujuannya bukan menjadi sempurna.

Tujuannya adalah memberikan kesempatan kepada perhatian untuk bekerja tanpa terus-menerus ditarik ke arah berbeda.

3. Buat “ritual transisi”

Banyak orang berpindah dari pekerjaan ke waktu pribadi tanpa jeda.

Laptop ditutup, tetapi pikiran masih bekerja.

Cobalah membuat ritual sederhana sebagai tanda bahwa pekerjaan telah selesai.

Misalnya:

berjalan kaki sebentar,
mandi,
mengganti pakaian,
merapikan meja,
menulis daftar tugas untuk besok,
atau mematikan notifikasi pekerjaan.

Ritual tersebut membantu menciptakan batas psikologis antara “waktu kerja” dan “waktu pemulihan”.

4. Latih diri melakukan satu hal tanpa mempercepatnya

Makan tanpa membuka ponsel.

Berjalan tanpa terburu-buru.

Minum kopi tanpa bekerja.

Berbicara dengan seseorang tanpa memeriksa notifikasi.

Aktivitas sederhana seperti ini dapat menjadi latihan untuk menyadari bahwa tidak semua waktu harus dimaksimalkan.

5. Perhatikan bahasa yang digunakan kepada diri sendiri

Perhatikan seberapa sering muncul kata-kata seperti:

“Cepat.”

“Harus segera.”

“Saya tidak punya waktu.”

“Saya tertinggal.”

“Saya tidak boleh santai.”

Kadang-kadang, mengubah dialog internal menjadi:

“Apa yang benar-benar perlu dilakukan sekarang?”

dapat menciptakan jarak antara tekanan dan respons kita terhadap tekanan tersebut.

Pada Akhirnya, Masalahnya Bukan Sekadar “Terlalu Sibuk”

Budaya buru-buru lebih kompleks daripada sekadar memiliki banyak pekerjaan.

Ia berkaitan dengan cara kita memandang waktu, produktivitas, keberhasilan, istirahat, dan bahkan nilai diri.

Ketika kecepatan menjadi standar kehidupan, kita dapat mulai menganggap keadaan normal sebagai keadaan darurat.

Kita terbiasa merasa terlambat.

Terbiasa mengejar.

Terbiasa multitasking.

Terbiasa memeriksa notifikasi.

Terbiasa merasa bersalah ketika beristirahat.

Dan pada akhirnya, kita mungkin lupa seperti apa rasanya melakukan sesuatu tanpa terburu-buru.

Psikologi membantu kita memahami bahwa stres tidak hanya muncul karena “terlalu banyak yang harus dilakukan”. Persepsi terhadap tuntutan, rasa kontrol, perhatian, pola pemulihan, dan cara kita menilai diri sendiri juga memainkan peran penting.

Karena itu, memperlambat kehidupan tidak selalu berarti menjadi kurang ambisius.

Kadang-kadang, memperlambat berarti memberi otak kesempatan untuk menentukan:

Mana yang benar-benar penting, mana yang hanya terasa mendesak, dan mana yang sebenarnya tidak perlu kita kejar sama sekali.

Dan mungkin, salah satu bentuk kesehatan psikologis bukanlah mampu melakukan semakin banyak hal dalam waktu semakin sedikit.

Melainkan mampu berkata:

“Saya tidak harus terburu-buru untuk membuktikan bahwa hidup saya berarti.”***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore