seseorang yang mengakhiri hubungan dengan baik. (Magnific)
JawaPos.com - Tidak semua hubungan percintaan berakhir karena kebencian. Ada hubungan yang berakhir karena dua orang sudah tidak lagi berjalan ke arah yang sama.
Ada yang berakhir karena kebutuhan emosional tidak lagi terpenuhi. Ada pula hubungan yang sebenarnya masih menyimpan kasih sayang, tetapi kedua orang di dalamnya menyadari bahwa mempertahankannya justru membuat mereka semakin lelah.
Namun, mengakhiri hubungan bukanlah perkara sederhana.
Ketika dua orang sudah berbagi waktu, perhatian, pengalaman, harapan, bahkan mungkin merencanakan masa depan bersama, keputusan untuk berpisah bisa membawa berbagai macam emosi. Ada rasa bersalah, sedih, marah, takut menyakiti, bingung, bahkan keinginan untuk menunda keputusan karena tidak tega.
Karena itulah, cara seseorang mengakhiri hubungan menjadi sangat penting.
Putus bukan berarti harus menjadi perang. Tidak semua perpisahan membutuhkan pihak yang benar dan pihak yang salah. Dalam banyak keadaan, hubungan bisa diakhiri dengan tetap menghargai martabat kedua orang yang pernah saling mencintai.
Dalam perspektif psikologi, komunikasi yang jelas, empati, batasan yang sehat, dan kemampuan mengelola emosi dapat membantu seseorang menghadapi percakapan sulit dengan lebih konstruktif.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (25/9), jika kamu memang sudah mempertimbangkan keputusan untuk mengakhiri hubungan, berikut tujuh strategi yang bisa membantu melakukannya dengan lebih baik.
1. Pastikan kamu mengambil keputusan, bukan sekadar bereaksi terhadap emosi sesaat
Sebelum mengatakan "kita harus putus", berhentilah sejenak dan tanyakan kepada diri sendiri:
Apakah aku benar-benar ingin mengakhiri hubungan ini, atau aku sedang marah, kecewa, atau lelah?
Pertanyaan tersebut penting karena keputusan besar yang dibuat ketika emosi sedang sangat tinggi sering kali berbeda dengan keputusan yang dibuat setelah seseorang lebih tenang.
Hubungan memang memiliki konflik. Ada hari ketika pasangan mengecewakan kita. Ada pertengkaran yang membuat kita merasa ingin menyerah. Tetapi satu konflik tidak selalu berarti hubungan tersebut harus berakhir.
Cobalah melihat pola yang lebih besar.
Apakah masalah yang terjadi hanya sementara?
Apakah masalah yang sama terus berulang?
Apakah kalian sudah mencoba memperbaikinya?
Apakah kebutuhan dasar dalam hubungan sudah tidak lagi terpenuhi?
Apakah kamu masih ingin membangun hubungan ini, atau sebenarnya kamu sudah lama merasa ingin pergi?
Ini bukan berarti seseorang harus mencari "alasan yang cukup sempurna" untuk putus.
Kamu tidak harus menunggu hubungan menjadi sangat buruk sebelum merasa berhak mengakhirinya.
Namun, membedakan antara keputusan yang matang dan reaksi emosional dapat membantu mengurangi kemungkinan munculnya penyesalan.
Jangan menggunakan ancaman putus sebagai alat komunikasi
Salah satu pola yang dapat merusak hubungan adalah menjadikan putus sebagai ancaman setiap kali terjadi konflik.
Misalnya:
"Kalau kamu masih seperti ini, kita putus saja."
Jika sebenarnya kamu tidak ingin berpisah, kalimat seperti itu hanya membuat hubungan menjadi semakin tidak aman.
Sebaliknya, jika kamu memang sudah mengambil keputusan, sampaikan keputusan tersebut secara jujur dan konsisten.
Perpisahan sebaiknya bukan alat untuk membuat pasangan berubah.
Perpisahan adalah keputusan yang perlu disampaikan dengan jelas ketika seseorang memang sudah memilih untuk mengakhiri hubungan.
2. Pilih waktu dan tempat yang memungkinkan kalian berbicara dengan tenang
Cara menyampaikan perpisahan dapat memengaruhi bagaimana kedua orang memproses kejadian tersebut.
Karena itu, jangan memilih waktu secara sembarangan.
Hindari mengakhiri hubungan ketika pasangan sedang menghadapi situasi yang sangat berat, ketika kalian sedang berada di tengah pertengkaran besar, atau ketika salah satu dari kalian sedang berada dalam kondisi emosional yang sangat tidak stabil.
Pilih tempat yang cukup privat sehingga kalian bisa berbicara tanpa menjadi tontonan orang lain.
Namun, privasi bukan berarti kamu harus mengabaikan keamanan.
Jika ada riwayat ancaman, kekerasan, intimidasi, atau perilaku yang membuatmu merasa tidak aman, keselamatan harus menjadi prioritas. Dalam situasi seperti itu, mengakhiri hubungan melalui jarak, bantuan orang lain, atau cara komunikasi yang lebih aman dapat menjadi pilihan yang lebih tepat.
Untuk hubungan yang relatif sehat, percakapan langsung sering kali memberikan ruang bagi kedua pihak untuk memahami keputusan tersebut.
Tetapi tidak ada satu aturan yang cocok untuk semua hubungan.
Yang terpenting adalah memilih cara yang jelas, aman, dan menghormati kedua pihak.
3. Gunakan kalimat yang jujur tanpa sengaja menghancurkan harga diri pasangan
Ini adalah salah satu bagian paling sulit dalam proses putus.
Kamu ingin jujur, tetapi kamu tidak ingin membuat pasangan merasa dirinya tidak berharga.
Ada perbedaan antara mengatakan:
"Aku merasa hubungan ini sudah tidak lagi sesuai dengan apa yang aku butuhkan."
dan:
"Kamu memang tidak pernah cukup baik untuk aku."
Keduanya mungkin berasal dari kekecewaan yang sama, tetapi dampaknya sangat berbeda.
Psikologi komunikasi membedakan antara menyampaikan pengalaman pribadi dan menyerang karakter seseorang.
Karena itu, gunakan lebih banyak kalimat yang berpusat pada pengalamanmu.
Misalnya:
"Aku sudah memikirkan ini cukup lama. Aku merasa kita sudah berkembang ke arah yang berbeda dan aku tidak ingin terus menjalani hubungan ini dengan setengah hati."
Daripada:
"Kamu berubah dan sekarang kamu menjadi pasangan yang buruk."
Kalimat pertama menjelaskan keputusan.
Kalimat kedua menyerang identitas.
Tujuan percakapan perpisahan bukanlah memenangkan argumen.
Tujuannya adalah menyampaikan keputusan secara jujur dan menghormati orang yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupmu.
Jujur tidak sama dengan mengatakan semua hal yang ada di kepalamu
Ada perbedaan antara kejujuran dan kekejaman.
Kamu tidak harus menyebutkan setiap kekurangan pasangan hanya karena hubungan tersebut akan berakhir.
Jika ada hal yang memang perlu dijelaskan, sampaikan secukupnya.
Tanyakan kepada diri sendiri:
"Apakah informasi ini membantu dia memahami keputusan, atau hanya akan membuatnya semakin terluka?"
Pertanyaan tersebut dapat membantu menjaga percakapan tetap manusiawi.
4. Gunakan empati, tetapi jangan memberikan harapan palsu
Ketika seseorang mendengar bahwa hubungannya akan berakhir, wajar jika ia merasa sedih, terkejut, marah, atau tidak percaya.
Kamu mungkin melihat air mata.
Kamu mungkin mendengar pertanyaan seperti:
"Kenapa?"
"Apa kita masih bisa memperbaikinya?"
"Aku bisa berubah."
"Kasih aku satu kesempatan lagi."
Pada titik ini, empati sangat penting.
Kamu bisa mengatakan:
"Aku tahu ini menyakitkan, dan aku benar-benar tidak bermaksud meremehkan perasaanmu."
Atau:
"Aku menghargai semua yang sudah kita jalani. Aku tahu percakapan ini tidak mudah untuk kamu dengar."
Tetapi empati tidak berarti kamu harus mengubah keputusan hanya karena pasangan menangis.
Inilah bagian yang sering membingungkan.
Kamu dapat memahami perasaan seseorang tanpa harus mengambil kembali keputusanmu.
Jika keputusanmu memang sudah final, hindari kalimat yang memberikan harapan palsu seperti:
"Mungkin suatu hari nanti kita bisa kembali."
"Kita lihat saja nanti."
"Aku cuma butuh waktu."
Jika sebenarnya kamu memang tidak menginginkan hubungan tersebut dilanjutkan, kalimat seperti itu justru dapat memperpanjang rasa sakit.
Kejujuran yang penuh empati sering kali lebih baik daripada ketidakjelasan yang membuat seseorang terus menunggu.
5. Jangan mengubah percakapan menjadi daftar kesalahan pasangan
Ketika hubungan berakhir, sangat mudah untuk membuka kembali semua luka lama.
Pertengkaran bulan lalu.
Kesalahan beberapa tahun lalu.
Pesan yang pernah tidak dibalas.
Janji yang pernah dilanggar.
Perkataan yang pernah menyakitkan.
Satu demi satu semuanya bisa muncul.
Tetapi jika tujuanmu adalah mengakhiri hubungan dengan baik-baik, percakapan tersebut tidak perlu berubah menjadi ruang sidang.
Kamu tidak harus membuktikan bahwa pasanganmu adalah orang yang paling bersalah.
Dalam banyak hubungan, masalahnya tidak sesederhana satu orang baik dan satu orang buruk.
Terkadang dua orang sama-sama memiliki kebutuhan, pola komunikasi, nilai, atau tujuan hidup yang berbeda.
Karena itu, daripada mengatakan:
"Semua ini terjadi karena kamu."
kamu bisa mengatakan:
"Aku menyadari bahwa pola hubungan kita sudah tidak sehat untukku dan aku tidak ingin melanjutkannya."
Perhatikan perbedaannya.
Kalimat pertama mengundang perdebatan.
Kalimat kedua menjelaskan keputusan.
Jika pasangan kemudian mencoba mendebat setiap alasanmu, kamu tidak harus menjawab semua tuduhan atau membuktikan setiap detail.
Kamu bisa mengulang dengan tenang:
"Aku memahami bahwa kamu melihatnya berbeda. Tetapi setelah mempertimbangkannya, keputusanku tetap sama."
Ini merupakan bentuk ketegasan yang sehat.
6. Tetapkan batasan setelah hubungan berakhir
Banyak orang mengira bagian tersulit dari putus adalah mengatakan kata "selesai".
Padahal, bagi sebagian orang, bagian yang lebih sulit justru terjadi setelahnya.
Apakah masih boleh mengirim pesan?
Apakah masih boleh menelepon setiap malam?
Apakah masih boleh bertemu?
Apakah masih boleh mengatakan "aku rindu"?
Apakah masih boleh bertindak seperti pasangan meskipun sudah putus?
Jika tidak ada batasan yang jelas, hubungan yang sudah berakhir secara status bisa tetap berlangsung secara emosional.
Akibatnya, kedua pihak kesulitan beradaptasi.
Karena itu, setelah putus, penting untuk membicarakan batasan yang masuk akal.
Misalnya:
"Aku rasa untuk sementara kita perlu mengurangi komunikasi agar masing-masing bisa beradaptasi."
Atau:
"Aku menghargai hubungan kita, tetapi aku tidak ingin kita tetap berkomunikasi setiap hari seperti ketika masih berpacaran."
Batasan bukan bentuk hukuman.
Batasan adalah cara memberikan ruang bagi proses penyesuaian emosional.
Tentu, kebutuhan setiap orang berbeda.
Jika kalian bekerja di tempat yang sama, berada dalam komunitas yang sama, atau memiliki tanggung jawab bersama, mungkin komunikasi tetap diperlukan.
Dalam kondisi tersebut, batasan dapat dibuat lebih spesifik.
Misalnya hanya berkomunikasi mengenai urusan yang memang perlu.
7. Terima bahwa perpisahan yang baik tetap bisa terasa menyakitkan
Ini mungkin bagian yang paling penting.
Banyak orang memiliki gambaran bahwa jika putus dilakukan dengan "baik-baik", maka tidak akan ada kesedihan.
Padahal kenyataannya tidak seperti itu.
Perpisahan yang sehat tetap bisa membuat seseorang menangis.
Tetap bisa membuatmu merindukan mantan pasangan.
Tetap bisa membuatmu mempertanyakan keputusan.
Tetap bisa membuatmu merasa kehilangan.
Tidak adanya pertengkaran besar bukan berarti tidak ada rasa sakit.
Ketika seseorang kehilangan hubungan yang penting, ia juga kehilangan rutinitas, kedekatan, rencana masa depan, dan bagian dari kehidupan sehari-harinya.
Karena itu, jangan mengukur keberhasilan sebuah perpisahan dari seberapa cepat kamu atau mantan pasangan "baik-baik saja".
Kadang-kadang perpisahan yang dilakukan dengan penuh rasa hormat tetap membutuhkan waktu untuk diproses.
Kamu mungkin perlu menerima bahwa mantan pasanganmu tidak langsung memahami keputusanmu.
Kamu mungkin juga tidak langsung merasa lega.
Dan itu normal.
Yang bisa kamu kendalikan adalah bagaimana kamu memperlakukan orang tersebut selama prosesnya.
Perpisahan yang Baik Bukan Berarti Tidak Ada Rasa Sakit
Ada sebuah kesalahpahaman bahwa hubungan yang berakhir secara baik harus berakhir dengan kedua orang saling tersenyum, berpelukan, kemudian menjadi teman seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Tidak selalu demikian.
Terkadang perpisahan yang baik justru terlihat sangat sederhana.
Dua orang mengakui bahwa hubungan mereka sudah tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Mereka menyampaikan perasaan masing-masing.
Mereka tidak saling menghina.
Mereka tidak menyebarkan rahasia pribadi.
Mereka tidak menggunakan media sosial untuk saling menyerang.
Mereka tidak mencoba menghukum satu sama lain.
Kemudian mereka memberikan ruang untuk masing-masing menjalani hidup.
Itu sudah merupakan bentuk perpisahan yang cukup dewasa.
Kamu tidak harus menjadi sahabat dengan mantan.
Kamu juga tidak harus tetap berkomunikasi.
Dan kamu tidak harus mendapatkan persetujuan mantan pasangan terhadap keputusanmu agar perpisahan tersebut dianggap valid.
Yang penting adalah keputusan disampaikan dengan jelas, manusiawi, dan tidak sengaja memperpanjang luka.
Contoh Kalimat untuk Mengakhiri Hubungan dengan Lebih Dewasa
Jika kamu kesulitan menemukan kata-kata, kamu bisa menggunakan struktur sederhana seperti ini:
"Aku sudah memikirkan hubungan kita cukup lama. Aku menghargai semua pengalaman dan waktu yang sudah kita jalani bersama. Tetapi setelah mempertimbangkannya, aku merasa hubungan ini sudah tidak lagi menjadi hubungan yang ingin aku lanjutkan. Ini bukan keputusan yang mudah bagiku, dan aku tahu ini mungkin menyakitkan untuk kamu. Aku tidak ingin menyalahkan atau merendahkanmu. Aku hanya merasa kita perlu berjalan ke arah masing-masing. Karena itu, aku ingin mengakhiri hubungan ini dengan baik dan tetap menghargai apa yang pernah kita miliki."
Perhatikan bahwa kalimat tersebut tidak berusaha membuat pasangan menjadi orang jahat.
Tidak juga memberikan harapan palsu.
Keputusan tetap jelas.
Namun, cara menyampaikannya tetap manusiawi.
Hal-Hal yang Sebaiknya Dihindari Ketika Putus
Jika ingin mengakhiri hubungan dengan lebih sehat, beberapa perilaku berikut sebaiknya dihindari:
1. Menghilang tanpa penjelasan
Kecuali ada alasan keselamatan, menghilang begitu saja dapat meninggalkan kebingungan dan pertanyaan yang tidak terjawab.
2. Menghina pasangan
Putus tidak membutuhkan penghancuran harga diri seseorang.
3. Mengumumkan perpisahan di media sosial sebelum berbicara langsung
Jika memungkinkan dan aman, berikan pasangan kesempatan mengetahui keputusan tersebut secara langsung terlebih dahulu.
4. Menggunakan orang ketiga untuk menyampaikan keputusan
Misalnya meminta teman mengatakan bahwa kamu ingin putus.
Untuk situasi normal, komunikasi langsung biasanya lebih menghormati hubungan yang pernah dijalani.
5. Terus menghubungi mantan karena merasa kesepian
Rasa kesepian setelah putus sangat manusiawi. Namun, menghubungi mantan setiap kali merasa kosong dapat membuat proses penyesuaian menjadi semakin sulit.
6. Mengancam atau mempermalukan mantan
Jangan menggunakan foto pribadi, percakapan pribadi, rahasia, atau informasi sensitif sebagai senjata setelah hubungan berakhir.
7. Memaksakan pertemanan segera
Tidak semua mantan pasangan siap menjadi teman.
Kadang-kadang jarak justru dibutuhkan terlebih dahulu.
Pada Akhirnya, Mengakhiri Hubungan Juga Tentang Menghargai Diri Sendiri
Mengakhiri hubungan dengan baik bukan berarti kamu harus mengorbankan dirimu agar pasangan tidak sedih.
Kamu tetap berhak memiliki batasan.
Kamu tetap berhak mengatakan tidak.
Kamu tetap berhak meninggalkan hubungan yang tidak lagi ingin kamu jalani.
Empati tidak berarti mengabaikan kebutuhan diri sendiri.
Dan ketegasan tidak berarti harus menjadi kasar.
Keduanya bisa berjalan bersama.
Kamu bisa mengatakan:
"Aku menghargaimu, tetapi aku tidak ingin melanjutkan hubungan ini."
Kamu bisa mengakui:
"Aku tahu keputusan ini menyakitkan, tetapi aku sudah mempertimbangkannya dengan serius."
Dan kamu juga bisa memilih:
"Aku tidak ingin hubungan kita berakhir dengan kebencian."
Pada akhirnya, tidak semua hubungan ditakdirkan untuk berlangsung selamanya.
Sebagian hubungan hadir untuk menemani kita pada satu fase kehidupan. Dari hubungan tersebut, kita belajar tentang kedekatan, komunikasi, batasan, kebutuhan emosional, kesalahan, dan diri kita sendiri.
Ketika waktunya tiba untuk berpisah, mungkin kita tidak bisa membuat prosesnya bebas dari rasa sakit.
Tetapi kita masih bisa memilih untuk tidak menambah luka yang sebenarnya tidak perlu.
Karena terkadang, bentuk terakhir dari kasih sayang bukanlah mempertahankan seseorang.
Melainkan mampu melepaskannya dengan kejujuran, penghormatan, dan batasan yang sehat.
Putus dengan baik bukan berarti perpisahan tidak menyakitkan. Putus dengan baik berarti, meskipun hubungan berakhir, kamu tetap memilih untuk memperlakukan orang yang pernah kamu cintai sebagai manusia yang layak dihormati.***