seseorang yang mengalami masa kecil yang tidak mudah. (Magnific)
JawaPos.com - Tidak semua luka masa kecil terlihat jelas. Ada orang yang tumbuh dalam keluarga yang penuh konflik. Ada yang sejak kecil harus menghadapi kehilangan, pengabaian, tuntutan yang terlalu tinggi, atau suasana rumah yang membuatnya tidak pernah benar-benar merasa aman.
Namun, ada pula orang yang masa kecilnya dari luar tampak baik-baik saja, tetapi di dalam dirinya tersimpan pengalaman yang membuatnya belajar bertahan lebih cepat daripada seharusnya.
Menariknya, pengalaman tersebut tidak selalu kita ingat sebagai sesuatu yang buruk.
Kadang-kadang, yang tersisa bukanlah ingatan yang jelas, melainkan pola perilaku yang terbawa hingga dewasa.
Kamu mungkin menjadi seseorang yang terlalu mandiri. Sulit meminta bantuan. Selalu merasa harus melakukan semuanya dengan sempurna. Tidak nyaman ketika orang lain marah. Atau justru merasa bersalah ketika sedang beristirahat.
Kamu mungkin mengira semua itu memang bagian dari kepribadianmu.
Padahal, dalam psikologi, pengalaman masa kecil dapat berhubungan dengan cara seseorang mengembangkan strategi untuk menghadapi stres, membangun hubungan, mengatur emosi, dan memandang dirinya sendiri. Pengalaman masa kecil yang penuh tekanan tidak otomatis menyebabkan masalah psikologis pada masa dewasa, tetapi pada sebagian orang, pengalaman tersebut dapat meninggalkan pola yang bertahan lama.
Karena itu, tanda-tanda berikut sebaiknya tidak digunakan untuk mendiagnosis diri sendiri. Memiliki satu atau beberapa tanda ini tidak membuktikan bahwa seseorang mengalami masa kecil yang buruk. Namun, jika beberapa pola terasa sangat familiar dan terus muncul dalam kehidupanmu, mungkin ada baiknya kamu berhenti sejenak dan bertanya:
“Dari mana sebenarnya aku belajar menjadi seperti ini?”
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (25/9), terdapat tujuh tanda yang mungkin menunjukkan bahwa kamu pernah belajar bertahan dalam keadaan yang tidak mudah ketika masih kecil.
1. Kamu Terbiasa Mengandalkan Diri Sendiri dan Sulit Meminta Bantuan
Salah satu tanda yang sering muncul pada orang yang sejak kecil terbiasa menghadapi kesulitan adalah kecenderungan untuk menjadi sangat mandiri.
Mandiri pada dasarnya bukan sesuatu yang buruk. Mampu mengurus diri sendiri, bertanggung jawab, dan tidak selalu bergantung pada orang lain merupakan kemampuan yang sehat.
Namun, ada perbedaan antara mandiri karena mampu dan mandiri karena merasa tidak punya pilihan lain.
Kamu mungkin termasuk orang yang ketika mengalami masalah langsung berpikir:
"Aku harus menyelesaikannya sendiri."
Bahkan ketika sebenarnya ada orang yang bersedia membantu, kamu tetap merasa tidak nyaman untuk meminta pertolongan.
Ketika sakit, kamu memilih diam.
Ketika menghadapi masalah keuangan, kamu berusaha menyelesaikannya sendiri.
Ketika sedang sedih, kamu menghilang dan mengatakan kepada orang lain bahwa semuanya baik-baik saja.
Bahkan dalam hubungan, kamu mungkin merasa lebih nyaman menjadi orang yang membantu daripada menjadi orang yang dibantu.
Mengapa hal ini bisa terjadi?
Salah satu kemungkinan adalah seseorang pernah belajar sejak dini bahwa kebutuhan emosionalnya tidak selalu mendapatkan respons yang konsisten. Akibatnya, ia mengembangkan keyakinan bahwa cara paling aman adalah mengandalkan diri sendiri.
Dalam kondisi tertentu, kemandirian tersebut dapat menjadi strategi perlindungan.
"Kalau aku tidak membutuhkan siapa pun, aku tidak akan kecewa ketika seseorang tidak datang."
Masalahnya, strategi yang dahulu membantu seseorang bertahan belum tentu selalu berguna ketika ia sudah dewasa.
Kamu mungkin sekarang memiliki orang-orang yang dapat dipercaya, tetapi bagian dari dirimu masih merasa bahwa meminta bantuan adalah tanda kelemahan.
Padahal, menjadi dewasa bukan berarti harus mampu melakukan semuanya seorang diri.
Terkadang, kemampuan menerima bantuan juga merupakan bentuk kekuatan.
2. Kamu Sangat Takut Membuat Orang Lain Kecewa
Apakah kamu sering memikirkan perasaan orang lain bahkan ketika sebenarnya kamu sedang kelelahan?
Apakah kamu sulit mengatakan "tidak"?
Apakah kamu merasa bersalah ketika menolak permintaan seseorang?
Atau apakah kamu sering mengubah keinginanmu sendiri agar orang lain tetap senang?
Jika iya, mungkin kamu memiliki kecenderungan untuk terlalu berhati-hati terhadap kebutuhan dan emosi orang lain.
Sebagian orang belajar sejak kecil bahwa menjaga suasana tetap tenang adalah sesuatu yang sangat penting.
Misalnya, seorang anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh ketegangan. Ia mungkin belajar memperhatikan ekspresi wajah orang tua, nada suara, atau perubahan suasana hati orang-orang di rumah.
Tanpa disadari, anak tersebut menjadi sangat peka terhadap perubahan emosi orang lain.
Ketika dewasa, kepekaan itu dapat tetap terbawa.
Seseorang mungkin langsung menyadari ketika pasangannya berubah nada bicara.
Ia mulai berpikir:
"Apakah aku melakukan sesuatu yang salah?"
Ketika seseorang terlihat kecewa, ia segera merasa bersalah.
Ketika terjadi konflik, ia buru-buru meminta maaf meskipun belum tentu dirinya yang melakukan kesalahan.
Dalam psikologi, kemampuan memperhatikan emosi orang lain sebenarnya dapat menjadi keterampilan sosial yang berguna. Namun, ketika seseorang merasa bertanggung jawab atas emosi semua orang, kehidupan dapat menjadi sangat melelahkan.
Kamu tidak harus selalu membuat semua orang bahagia.
Orang lain boleh kecewa.
Orang lain boleh memiliki emosi negatif.
Dan kamu tetap boleh memiliki batasan.
Belajar memahami bahwa ketidaknyamanan orang lain tidak selalu menjadi tanggung jawabmu dapat menjadi bagian penting dari proses membangun hubungan yang lebih sehat.
3. Kamu Terlalu Takut Melakukan Kesalahan
Tidak ada manusia yang selalu benar.
Namun, bagi sebagian orang, melakukan kesalahan terasa jauh lebih menakutkan daripada sekadar mendapatkan hasil yang kurang sempurna.
Kesalahan kecil bisa membuat mereka terus memikirkannya selama berjam-jam.
Mereka mungkin memeriksa pekerjaan berkali-kali.
Takut mendapat kritik.
Takut terlihat bodoh.
Takut mengecewakan orang lain.
Bahkan ketika mendapatkan pujian, mereka tetap merasa hasilnya belum cukup baik.
Perasaan tersebut terkadang dapat berkaitan dengan pengalaman masa lalu, terutama ketika seorang anak terbiasa mendapatkan penerimaan berdasarkan pencapaian, perilaku, atau kepatuhan.
Jika seorang anak terus-menerus merasa bahwa dirinya baru dianggap "baik" ketika mendapatkan nilai bagus, memenangkan sesuatu, bersikap sempurna, atau memenuhi harapan orang lain, ia dapat belajar menghubungkan harga dirinya dengan pencapaian.
Akhirnya, ketika dewasa, kegagalan bukan lagi sekadar kegagalan.
Kegagalan terasa seperti ancaman terhadap harga diri.
"Kalau aku gagal, berarti aku tidak cukup baik."
Padahal kedua hal tersebut berbeda.
Melakukan kesalahan tidak berarti kamu adalah orang yang gagal.
Tidak mendapatkan hasil yang diinginkan tidak berarti kamu tidak berharga.
Dan tidak memenuhi ekspektasi seseorang tidak otomatis membuatmu menjadi manusia yang buruk.
Terkadang, orang yang sangat takut melakukan kesalahan sebenarnya bukan tidak mampu menerima kegagalan.
Mereka hanya belum terbiasa merasa tetap aman dan berharga ketika tidak sempurna.
4. Kamu Sulit Mengetahui Apa yang Sebenarnya Kamu Inginkan
Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sebenarnya cukup dalam.
Ketika seseorang bertanya:
"Kamu sebenarnya mau apa?"
Kamu mungkin membutuhkan waktu lama untuk menjawab.
Bukan karena kamu tidak memiliki keinginan.
Tetapi karena kamu terlalu terbiasa memikirkan apa yang diinginkan orang lain.
Sejak kecil, sebagian anak terbiasa menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Mereka belajar bahwa keinginan mereka harus menunggu.
Mereka harus mengikuti aturan.
Mereka harus menjadi anak yang baik.
Mereka tidak boleh terlalu banyak mengeluh.
Mereka tidak boleh membuat masalah.
Lama-kelamaan, suara keinginan pribadi dapat menjadi semakin kecil.
Ketika dewasa, hal tersebut dapat terlihat dalam berbagai bentuk.
Kamu mungkin memilih pekerjaan berdasarkan ekspektasi keluarga.
Memilih pasangan berdasarkan apa yang dianggap "baik" oleh orang lain.
Sulit menentukan batasan.
Sulit mengatakan apa yang kamu sukai.
Atau bahkan merasa bingung ketika memiliki waktu luang karena tidak terbiasa bertanya kepada diri sendiri:
"Sebenarnya aku ingin melakukan apa?"
Kondisi ini bukan berarti seseorang tidak memiliki kepribadian.
Justru sebaliknya, mungkin ia terlalu lama beradaptasi dengan kebutuhan lingkungan sampai lupa memberikan ruang bagi dirinya sendiri.
Mengenal diri sendiri kemudian menjadi sebuah proses.
Bukan dengan bertanya apa yang seharusnya kamu inginkan, tetapi:
"Kalau tidak ada orang yang menilai atau kecewa kepadaku, apa yang sebenarnya ingin kupilih?"
5. Kamu Merasa Harus Selalu Waspada
Ada orang yang sulit benar-benar rileks.
Ketika berada di ruangan, ia secara otomatis memperhatikan suasana.
Ketika mendengar suara keras, tubuhnya langsung tegang.
Ketika seseorang tiba-tiba diam, pikirannya mulai mencari kemungkinan buruk.
Ketika menerima pesan singkat seperti "kita perlu bicara", pikirannya langsung membayangkan berbagai skenario.
Padahal belum tentu ada sesuatu yang buruk terjadi.
Kecenderungan untuk terus memindai lingkungan demi mencari tanda-tanda bahaya dikenal sebagai hypervigilance, atau kewaspadaan berlebihan.
Kewaspadaan seperti ini dapat muncul dalam berbagai konteks dan tidak secara otomatis berarti seseorang mengalami trauma masa kecil. Namun, pada orang yang pernah hidup dalam lingkungan yang tidak dapat diprediksi atau penuh tekanan, kewaspadaan dapat menjadi salah satu cara tubuh dan pikiran belajar melindungi diri.
Bayangkan seorang anak yang tidak pernah tahu kapan suasana rumah akan berubah.
Hari ini semuanya tenang.
Besok mungkin terjadi pertengkaran.
Karena itu, anak belajar memperhatikan tanda-tanda kecil.
Nada suara.
Ekspresi wajah.
Gerakan tubuh.
Suasana ruangan.
Kemampuan tersebut mungkin dahulu berguna.
Tetapi ketika dibawa ke kehidupan dewasa, tubuh bisa tetap bertindak seolah-olah bahaya selalu mungkin muncul.
Akibatnya, seseorang sulit menikmati ketenangan.
Ketika semuanya baik-baik saja, justru muncul pikiran:
"Pasti sebentar lagi ada sesuatu yang terjadi."
Jika kamu mengenali pola ini, penting untuk memahami bahwa rasa aman tidak selalu muncul hanya karena keadaan di luar sudah aman.
Kadang-kadang, pikiran dan tubuh membutuhkan waktu untuk belajar bahwa situasi sekarang berbeda dengan masa lalu.
6. Kamu Merasa Tidak Nyaman Ketika Mendapat Kasih Sayang
Bagi sebagian orang, menerima perhatian terasa menyenangkan.
Namun bagi sebagian lainnya, perhatian justru membuat mereka tidak nyaman.
Ketika dipuji, mereka langsung menyangkal:
"Ah, biasa saja."
Ketika seseorang mengatakan menyayangi mereka, mereka merasa bingung bagaimana harus merespons.
Ketika mendapatkan hadiah, mereka merasa tidak enak.
Ketika pasangan menunjukkan perhatian, mereka justru curiga.
Bahkan terkadang, seseorang merasa lebih nyaman memberikan kasih sayang daripada menerimanya.
Mengapa?
Karena menerima kasih sayang membutuhkan tingkat kepercayaan tertentu.
Jika pengalaman hubungan awal seseorang tidak selalu konsisten, perhatian dari orang lain dapat terasa asing.
Ada kemungkinan seseorang pernah belajar bahwa kedekatan emosional tidak selalu aman atau dapat diprediksi.
Akibatnya, ketika ada seseorang yang benar-benar memperlakukannya dengan baik, bagian tertentu dalam dirinya mungkin justru mempertanyakan:
"Kenapa dia baik kepadaku?"
"Apa sebenarnya yang dia inginkan?"
"Kapan semuanya akan berubah?"
Sekali lagi, ini bukan bukti bahwa seseorang pasti memiliki masa kecil yang buruk.
Manusia bisa merasa tidak nyaman menerima kasih sayang karena banyak alasan.
Namun, jika pola tersebut sangat kuat dan berulang dalam berbagai hubungan, mungkin ada baiknya memperhatikannya.
Kadang-kadang kita bukan tidak membutuhkan kasih sayang.
Kita hanya belum terbiasa merasa aman ketika menerimanya.
7. Kamu Merasa Harus Menjadi "Orang Dewasa" Sejak Kecil
Mungkin ini adalah salah satu tanda yang paling sering tidak disadari.
Ada orang yang sejak kecil merasa harus menjadi kuat.
Harus memahami keadaan keluarga.
Harus menjaga adik.
Harus membantu orang tua.
Harus mengendalikan emosinya sendiri.
Tidak boleh merepotkan siapa pun.
Tidak boleh menangis terlalu lama.
Tidak boleh memiliki terlalu banyak kebutuhan.
Dalam situasi tertentu, anak dapat mengambil tanggung jawab yang sebenarnya terlalu berat untuk usianya. Dalam psikologi, dinamika seperti parentification digunakan untuk menggambarkan keadaan ketika seorang anak mengambil peran atau tanggung jawab yang seharusnya lebih banyak berada pada orang dewasa.
Dampaknya tidak selalu langsung terlihat.
Ketika dewasa, orang tersebut mungkin menjadi sangat bertanggung jawab.
Semua orang mengandalkannya.
Ia selalu menjadi tempat orang lain meminta bantuan.
Ia terlihat kuat.
Ia jarang mengeluh.
Namun di balik itu, ada kemungkinan ia tidak tahu bagaimana rasanya menjadi seseorang yang boleh bergantung kepada orang lain.
Ia terbiasa menjadi orang yang menolong.
Bukan orang yang ditolong.
Ia terbiasa menjadi tempat orang lain bersandar.
Bukan tempat untuk dirinya sendiri bersandar.
Karena itu, ketika dewasa, ia mungkin merasa bersalah ketika beristirahat.
Merasa tidak berguna ketika tidak produktif.
Atau merasa harus terus menyelesaikan masalah orang lain.
Padahal kamu tidak harus selalu menjadi orang yang kuat.
Kamu juga boleh lelah.
Kamu boleh meminta bantuan.
Kamu boleh tidak tahu harus melakukan apa.
Dan kamu tidak harus mendapatkan nilai dirimu dari seberapa banyak masalah orang lain yang mampu kamu selesaikan.
Mengapa Pengalaman Masa Kecil Bisa Terbawa Sampai Dewasa?
Masa kanak-kanak merupakan periode ketika seseorang belajar banyak hal mengenai hubungan, emosi, keamanan, batasan, dan dirinya sendiri.
Anak tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan kepadanya.
Ia juga belajar dari apa yang berulang kali dialaminya.
Jika kebutuhan emosionalnya mendapatkan respons yang konsisten, ia dapat belajar bahwa dunia relatif dapat diprediksi dan orang lain dapat dipercaya.
Sebaliknya, pengalaman yang penuh tekanan atau tidak konsisten dapat membuat seseorang mengembangkan berbagai strategi untuk menghadapi lingkungan tersebut.
Strategi itu mungkin sangat berguna ketika masih kecil.
Masalahnya, strategi tersebut dapat bertahan bahkan ketika kondisi sudah berubah.
Seorang anak yang belajar untuk selalu diam mungkin tumbuh menjadi orang dewasa yang kesulitan mengungkapkan kebutuhan.
Seorang anak yang belajar untuk selalu menyenangkan orang lain mungkin tumbuh menjadi orang dewasa yang sulit menetapkan batasan.
Seorang anak yang belajar bahwa kesalahan membawa konsekuensi besar mungkin tumbuh menjadi orang dewasa yang sangat takut gagal.
Dengan kata lain, terkadang perilaku yang terlihat seperti "sifat buruk" sebenarnya pernah menjadi cara seseorang untuk beradaptasi.
Tetapi Tidak Semua Masalah Saat Dewasa Berasal dari Masa Kecil
Ini bagian yang sangat penting.
Psikologi tidak menyederhanakan kehidupan manusia menjadi:
masa kecil buruk = dewasa bermasalah.
Hubungan antara pengalaman masa kecil dan kehidupan dewasa jauh lebih kompleks.
Genetik, lingkungan sosial, hubungan dengan teman, pengalaman pendidikan, kondisi ekonomi, peristiwa kehidupan, budaya, kepribadian, serta berbagai faktor lainnya juga dapat memengaruhi perkembangan seseorang.
Selain itu, manusia memiliki kemampuan untuk berubah.
Pengalaman sulit di masa lalu bukan berarti seseorang ditakdirkan untuk memiliki hubungan yang buruk, kecemasan, rasa tidak aman, atau kesulitan emosional selamanya.
Banyak orang mampu membangun kehidupan yang sehat setelah memahami pola-pola yang sebelumnya tidak mereka sadari.
Karena itu, tujuan melihat tanda-tanda ini bukan untuk mencari siapa yang harus disalahkan.
Tujuannya adalah memahami diri.
Mungkin Kamu Bukan "Terlalu Sensitif"
Kadang-kadang seseorang menghabiskan bertahun-tahun mengatakan kepada dirinya sendiri:
"Aku terlalu sensitif."
"Aku terlalu banyak berpikir."
"Aku terlalu mandiri."
"Aku memang seperti ini."
Namun mungkin pertanyaan yang lebih berguna adalah:
"Kapan aku mulai belajar melakukan ini?"
Jika kamu selalu takut mengecewakan orang, kapan kamu mulai merasa bahwa mengecewakan orang adalah sesuatu yang berbahaya?
Jika kamu sulit meminta bantuan, kapan kamu mulai percaya bahwa kebutuhanmu harus kamu tanggung sendiri?
Jika kamu selalu waspada, kapan kamu mulai merasa bahwa ketenangan tidak dapat bertahan lama?
Pertanyaan seperti ini tidak dimaksudkan untuk memaksa seseorang menggali kenangan yang menyakitkan.
Justru sebaliknya.
Kadang-kadang, memahami pola saat ini sudah cukup untuk mulai mengenali kebutuhan diri.
Kamu Tidak Harus Menyalahkan Masa Lalu untuk Memahami Dirimu
Memahami bahwa pengalaman masa kecil mungkin memengaruhi dirimu tidak berarti kamu harus menyalahkan orang tua, keluarga, atau masa lalu atas semua hal yang terjadi sekarang.
Orang tua juga manusia.
Mereka memiliki keterbatasan, pengalaman hidup, tekanan, dan kesalahan mereka sendiri.
Namun memahami konteks bukan berarti membenarkan semua perilaku.
Kita dapat mengatakan:
"Ada hal-hal yang terjadi ketika aku kecil yang mungkin memengaruhiku sampai sekarang."
tanpa harus mengatakan:
"Semua masalahku adalah kesalahan seseorang."
Perbedaan ini penting.
Karena tujuan akhirnya bukan hidup selamanya di masa lalu.
Tujuannya adalah memahami pola lama agar kita memiliki kesempatan memilih respons yang berbeda hari ini.
Pada Akhirnya, Menjadi Dewasa Juga Berarti Belajar Merasa Aman
Mungkin selama ini kamu mengira bahwa menjadi dewasa berarti semakin kuat.
Semakin mandiri.
Semakin tidak membutuhkan siapa pun.
Semakin mampu menyelesaikan semuanya sendiri.
Tetapi kedewasaan tidak selalu berarti menjadi lebih keras.
Terkadang kedewasaan justru berarti mampu mengatakan:
"Aku membutuhkan bantuan."
"Aku sedang lelah."
"Aku tidak setuju."
"Aku tidak ingin melakukan itu."
"Aku melakukan kesalahan, tetapi aku tetap berharga."
"Orang lain boleh kecewa kepadaku."
"Aku tidak harus selalu menjaga semuanya tetap baik-baik saja."
Jika kamu menemukan beberapa tanda dalam artikel ini, jangan buru-buru memberi label kepada dirimu sendiri.
Anggaplah tanda-tanda tersebut sebagai kesempatan untuk bertanya lebih dalam mengenai dirimu.
Karena terkadang, sesuatu yang kita anggap sebagai kelemahan ternyata merupakan strategi bertahan yang pernah kita pelajari.
Dan strategi yang pernah membantu kita bertahan tidak harus menjadi sesuatu yang mengendalikan seluruh hidup kita selamanya.
Masa lalu mungkin ikut membentukmu.
Tetapi memahami masa lalu dapat memberimu ruang untuk menentukan bagaimana kamu ingin menjalani kehidupanmu sekarang.***