seseorang yang memikirkan pengalaman yang sulit. (Magnific)
Mungkin sebuah percakapan yang membuatmu malu. Sebuah keputusan yang kamu sesali. Hubungan yang berakhir dengan menyakitkan. Kegagalan yang masih terasa membekas. Atau sebuah pengalaman ketika seseorang memperlakukanmu dengan cara yang tidak pernah kamu duga.
Yang membuatnya semakin membingungkan, terkadang kita tidak sengaja ingin mengingatnya. Ingatan itu muncul begitu saja ketika sedang mandi, mengemudi, bekerja, atau bahkan sebelum tidur.
Kemudian pikiran mulai berputar:
"Seandainya waktu itu aku mengatakan hal yang berbeda."
"Kenapa aku tidak menyadarinya sejak awal?"
"Apa sebenarnya yang membuat semuanya berakhir seperti itu?"
"Kalau aku mengambil keputusan yang berbeda, apakah hidupku sekarang akan berbeda?"
Dalam psikologi, kecenderungan untuk terus kembali memikirkan pengalaman yang menyakitkan bukan sesuatu yang aneh. Pikiran manusia memang memiliki mekanisme untuk memproses pengalaman penting, mempelajari ancaman, mencari makna, dan mencoba memahami sesuatu yang belum terasa selesai.
Namun, ada perbedaan antara merenungkan pengalaman untuk memahaminya dan terjebak dalam pengulangan pikiran yang sama.
Lalu, mengapa pengalaman sulit begitu mudah kembali ke dalam pikiran?
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (29/9), terdapat enam penjelasan psikologis yang membantu kita memahaminya.
1. Otak Menganggap Pengalaman Emosional sebagai Sesuatu yang Penting
Tidak semua pengalaman dalam hidup mendapatkan perhatian yang sama dari otak.
Kita mengalami ratusan hal setiap hari. Kita melihat orang, membaca pesan, berbicara, bekerja, makan, bepergian, dan melakukan berbagai aktivitas rutin. Sebagian besar pengalaman tersebut akhirnya berlalu tanpa meninggalkan jejak yang kuat.
Namun, pengalaman yang disertai emosi intens cenderung terasa jauh lebih menonjol.
Rasa takut, malu, marah, kehilangan, kecewa, atau tidak berdaya dapat membuat sebuah kejadian terasa sangat penting.
Secara psikologis, hal ini masuk akal. Sistem perhatian manusia memang sangat peka terhadap sesuatu yang dianggap relevan terhadap keselamatan, hubungan sosial, atau tujuan pribadi.
Bayangkan seseorang mendapatkan kritik keras dari atasannya di depan rekan kerja.
Ia mungkin melupakan apa yang dimakannya pada siang hari. Ia mungkin tidak mengingat percakapan biasa yang terjadi pagi itu. Tetapi kalimat dari atasannya bisa terus teringat selama berhari-hari.
Bukan karena orang tersebut sengaja ingin menyiksa dirinya sendiri dengan kenangan itu.
Pengalaman tersebut memiliki muatan emosional yang membuatnya terasa penting.
Itulah sebabnya pengalaman sulit terkadang memiliki "daya tahan" psikologis yang lebih besar dibandingkan pengalaman biasa.
Semakin kuat emosi yang menyertai sebuah peristiwa, semakin besar kemungkinan peristiwa tersebut menjadi sesuatu yang kembali diperhatikan oleh pikiran.
Namun, penting untuk dipahami bahwa mengingat pengalaman secara berulang bukan berarti otak sedang mencoba menyakiti kita.
Dalam banyak situasi, pikiran justru sedang melakukan sesuatu yang sangat manusiawi:
mencoba memahami apa yang terjadi dan apa arti pengalaman tersebut bagi kehidupan kita.
2. Kita Cenderung Mengulang Sesuatu yang Belum Terasa Selesai
Ada pengalaman yang secara faktual sudah berakhir, tetapi secara psikologis belum terasa selesai.
Hubungan mungkin sudah berakhir.
Pekerjaan mungkin sudah ditinggalkan.
Konflik mungkin sudah tidak dibicarakan lagi.
Namun, di dalam pikiran masih ada pertanyaan yang belum terjawab.
"Kenapa dia melakukan itu?"
"Apa aku sebenarnya salah?"
"Mengapa aku tidak menyadarinya lebih cepat?"
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini dapat membuat pikiran kembali ke peristiwa yang sama.
Manusia memiliki kebutuhan yang kuat untuk menciptakan pemahaman dan koherensi dari pengalaman hidup. Ketika sesuatu tidak sesuai dengan harapan kita, pikiran dapat terus mencoba menyusun kembali cerita tersebut agar terasa masuk akal.
Misalnya, seseorang merasa dikhianati oleh teman dekat.
Yang membuat pengalaman itu sulit dilupakan mungkin bukan hanya tindakan pengkhianatannya, tetapi juga ketidakmampuan untuk memahami bagaimana seseorang yang selama ini dipercaya bisa melakukan hal tersebut.
Pikiran kemudian terus kembali ke berbagai detail:
"Tanda-tandanya sebenarnya sudah ada, ya?"
"Waktu itu kenapa dia mengatakan seperti itu?"
"Apa aku terlalu percaya?"
Dalam kondisi seperti ini, mengingat kembali pengalaman bisa menjadi usaha mental untuk mendapatkan penutupan psikologis.
Masalahnya, tidak semua pengalaman memiliki jawaban yang memuaskan.
Tidak semua pertanyaan memiliki penjelasan.
Tidak semua orang akan memberikan klarifikasi yang kita inginkan.
Karena itu, pencarian jawaban dapat terus berlanjut meskipun peristiwa aslinya sudah lama berlalu.
Pada titik tertentu, seseorang mungkin perlu menerima bahwa "memahami semuanya" tidak selalu mungkin.
3. Kita Sering Terjebak dalam Counterfactual Thinking: "Seandainya Waktu Itu..."
Salah satu alasan pengalaman sulit terus muncul dalam pikiran adalah kecenderungan manusia untuk membayangkan skenario alternatif.
Dalam psikologi, hal ini dikenal sebagai counterfactual thinking.
Sederhananya, kita membayangkan apa yang mungkin terjadi jika suatu hal di masa lalu berlangsung secara berbeda.
"Seandainya aku tidak datang ke sana."
"Seandainya aku menerima pekerjaan itu."
"Seandainya aku mengatakan tidak."
"Seandainya aku pergi lebih cepat."
"Seandainya aku tidak mempercayainya."
Pikiran semacam ini sebenarnya memiliki fungsi.
Dengan membayangkan alternatif, manusia dapat belajar dari pengalaman dan memperkirakan bagaimana mengambil keputusan di masa depan.
Misalnya, seseorang menyadari bahwa ia terlalu terburu-buru mengambil keputusan. Dengan memikirkan kembali apa yang terjadi, ia bisa mengenali pola yang ingin dihindari di masa depan.
Dalam kadar tertentu, proses tersebut dapat membantu pembelajaran.
Tetapi counterfactual thinking juga dapat berubah menjadi lingkaran penyesalan.
Masalahnya adalah kita memiliki akses ke masa lalu dengan informasi yang kita miliki sekarang.
Kita mengetahui hasil akhirnya.
Kita mengetahui siapa yang ternyata dapat dipercaya dan siapa yang tidak.
Kita mengetahui keputusan mana yang menghasilkan konsekuensi menyakitkan.
Tetapi ketika keputusan itu dibuat, kita belum mengetahui semua hal tersebut.
Inilah mengapa kita perlu berhati-hati ketika menilai diri sendiri di masa lalu.
Kita sering menggunakan informasi yang baru kita dapatkan sekarang untuk menghakimi keputusan yang dibuat ketika informasi tersebut belum tersedia.
Padahal, diri kita di masa lalu mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan, kebutuhan, emosi, dan kondisi yang dimilikinya pada saat itu.
4. Pengalaman Sulit Dapat Menyentuh Identitas dan Harga Diri
Tidak semua kenangan menyakitkan hanya berbicara tentang "apa yang terjadi".
Sebagian pengalaman menyentuh pertanyaan yang jauh lebih dalam:
"Apa arti kejadian ini tentang diriku?"
Seseorang yang gagal dalam sebuah pekerjaan mungkin tidak hanya memikirkan kegagalannya.
Ia mungkin mulai berpikir:
"Mungkin aku memang tidak cukup pintar."
Seseorang yang mengalami penolakan dalam hubungan mungkin tidak hanya mengingat hubungan tersebut.
Ia bisa mulai bertanya:
"Apakah aku memang tidak layak dicintai?"
Seseorang yang dipermalukan di depan orang lain mungkin tidak hanya mengingat kejadian itu.
Ia mungkin mulai mengembangkan keyakinan:
"Orang lain pasti menganggapku bodoh."
Di sinilah pengalaman sulit bisa menjadi jauh lebih melekat.
Peristiwa tersebut tidak lagi hanya menjadi sebuah memori.
Ia mulai terhubung dengan konsep diri.
Ketika sebuah pengalaman dianggap sebagai bukti tentang siapa diri kita, pikiran dapat terus kembali kepadanya.
Kita bukan sekadar mengingat kejadian.
Kita sedang mencoba memahami identitas kita setelah kejadian tersebut.
Dan karena identitas merupakan bagian penting dari kehidupan psikologis, proses tersebut bisa berlangsung lama.
Namun, ada satu hal penting yang perlu diingat:
Sebuah pengalaman adalah sesuatu yang terjadi kepada kita, bukan keseluruhan definisi tentang siapa kita.
Gagal dalam sesuatu tidak otomatis berarti kita adalah seorang yang gagal.
Ditolak seseorang tidak otomatis berarti kita tidak layak dicintai.
Membuat keputusan buruk tidak berarti seluruh diri kita adalah buruk.
Memisahkan peristiwa dari identitas dapat membantu kita melihat pengalaman masa lalu secara lebih proporsional.
5. Kita Bisa Mengalami Rumination: Berpikir Banyak Tanpa Benar-Benar Bergerak Maju
Ada perbedaan antara refleksi dan rumination.
Refleksi biasanya membantu kita memperoleh pemahaman baru.
Kita memikirkan apa yang terjadi, memahami penyebabnya, mengenali perasaan kita, lalu mungkin mengambil pelajaran.
Rumination berbeda.
Dalam rumination, pikiran cenderung berputar pada tema yang sama tanpa menghasilkan penyelesaian yang berarti.
Contohnya:
"Kenapa aku melakukan itu?"
Kemudian muncul jawaban.
Lalu pertanyaan yang sama kembali.
"Tapi kenapa aku sebodoh itu?"
Kemudian muncul kenangan lain.
"Seharusnya aku sadar dari awal."
Lalu pikiran kembali ke adegan yang sama.
Siklus tersebut dapat berlangsung selama berjam-jam.
Yang melelahkan bukan hanya isi pikirannya, tetapi juga pengulangan.
Rumination sering membuat seseorang merasa seolah-olah sedang memecahkan masalah, padahal sebenarnya hanya mengulang materi mental yang sama.
Ini merupakan salah satu alasan mengapa "berpikir lebih keras" tidak selalu membuat kita merasa lebih baik.
Kadang-kadang masalahnya bukan kurangnya analisis.
Masalahnya adalah pikiran sudah masuk ke dalam loop.
Salah satu cara membedakannya adalah dengan bertanya:
"Apakah pemikiran ini sedang memberiku informasi baru, atau aku hanya mengulang pertanyaan yang sama?"
Jika jawabannya yang kedua, mungkin yang dibutuhkan bukan analisis tambahan, tetapi perubahan cara berhubungan dengan pikiran tersebut.
6. Pengalaman Sulit Sering Kembali Ketika Ada Pemicu Emosional
Kita terkadang mengira bahwa sebuah kenangan muncul secara acak.
Padahal, kemunculannya bisa berhubungan dengan keadaan kita saat ini.
Sebuah lagu dapat mengingatkan kita pada seseorang.
Sebuah tempat dapat membawa kembali pengalaman lama.
Aroma tertentu dapat menghubungkan kita dengan masa lalu.
Bahkan sebuah perasaan bisa menjadi pemicu.
Misalnya, seseorang pernah mengalami penolakan yang menyakitkan.
Bertahun-tahun kemudian, ia menghadapi situasi baru yang sebenarnya berbeda. Tetapi ketika kembali merasa tidak dihargai, pengalaman lama muncul dalam pikirannya.
Bukan berarti situasi sekarang identik dengan masa lalu.
Namun, keadaan emosional saat ini dapat mengaktifkan jaringan ingatan yang berkaitan dengan pengalaman sebelumnya.
Karena itu, terkadang kita baru menyadari bahwa sebuah pengalaman masih memiliki pengaruh ketika menghadapi situasi yang terasa mirip.
Contohnya:
Sekarang: seseorang tidak membalas pesan.
Pikiran: "Dia pasti sudah tidak peduli."
Emosi: cemas dan takut ditinggalkan.
Memori lama: pengalaman ketika seseorang yang penting tiba-tiba menjauh.
Dalam situasi seperti ini, masa lalu dan masa kini dapat bercampur.
Itulah sebabnya mengenali pemicu dapat menjadi langkah penting.
Kita bisa mulai bertanya:
"Apa yang terjadi tepat sebelum ingatan ini muncul?"
"Perasaan apa yang sedang aku alami sekarang?"
"Apakah situasi sekarang benar-benar sama dengan pengalaman masa lalu?"
Pertanyaan tersebut membantu kita membedakan antara bahaya yang sedang terjadi sekarang dan ingatan tentang bahaya yang pernah terjadi sebelumnya.
Jadi, Apakah Terus Mengingat Pengalaman Sulit Itu Buruk?
Tidak selalu.
Mengingat pengalaman sulit adalah bagian normal dari kehidupan psikologis.
Terkadang kita memang perlu melihat kembali masa lalu untuk memahami diri sendiri.
Kita perlu mengakui kesalahan.
Kita perlu memahami pola hubungan.
Kita perlu mengenali batasan diri.
Kita perlu menerima bahwa sesuatu telah berakhir.
Kita juga perlu belajar dari pengalaman agar tidak mengulangi pola yang sama.
Yang menjadi masalah adalah ketika pikiran terus kembali ke masa lalu tanpa menghasilkan pemahaman atau tindakan baru.
Misalnya, seseorang terus menyalahkan dirinya sendiri setiap malam atas sesuatu yang sudah tidak bisa diubah.
Atau seseorang terus membayangkan skenario alternatif dan merasa bahwa hidupnya seharusnya berjalan berbeda.
Dalam kondisi seperti itu, tujuan kita bukan selalu menghapus ingatan.
Sering kali tujuan yang lebih realistis adalah mengubah hubungan kita dengan ingatan tersebut.
Bagaimana Agar Tidak Terus Terjebak dalam Masa Lalu?
Ada beberapa pendekatan sederhana yang dapat membantu.
1. Bedakan refleksi dan rumination
Tanyakan:
"Apakah aku sedang belajar sesuatu, atau hanya mengulang sesuatu?"
Jika sudah berulang kali memikirkan hal yang sama tanpa mendapatkan perspektif baru, mungkin waktunya berhenti menganalisis dan mengalihkan perhatian.
2. Pisahkan fakta dari interpretasi
Tuliskan:
Apa yang benar-benar terjadi?
Kemudian:
Apa cerita yang selama ini aku buat tentang kejadian tersebut?
Keduanya tidak selalu sama.
Contohnya:
Fakta: seseorang menolak permintaan kita.
Interpretasi: "Berarti aku tidak berharga."
Interpretasi tersebut adalah kesimpulan, bukan fakta.
Membedakan keduanya dapat membantu mengurangi beban emosional.
3. Berikan konteks kepada diri sendiri di masa lalu
Alih-alih bertanya:
"Kenapa aku bisa sebodoh itu?"
Cobalah:
"Apa yang sebenarnya aku ketahui dan rasakan pada waktu itu?"
Pertanyaan kedua lebih adil.
Kita tidak bisa meminta diri kita di masa lalu membuat keputusan berdasarkan informasi yang baru kita dapatkan bertahun-tahun kemudian.
4. Cari pelajaran yang konkret
Jika sebuah pengalaman memang memiliki pelajaran, buat pelajaran tersebut spesifik.
Bukan:
"Aku tidak boleh mempercayai siapa pun."
Melainkan:
"Di masa depan, aku ingin memperhatikan konsistensi perilaku seseorang sebelum memberikan kepercayaan penuh."
Dengan demikian, pengalaman berubah menjadi informasi yang bisa digunakan, bukan luka yang terus diputar ulang.
5. Izinkan beberapa pertanyaan tetap tidak memiliki jawaban
Tidak semua cerita memiliki akhir yang memuaskan.
Kadang-kadang kita tidak pernah mengetahui alasan seseorang melakukan sesuatu.
Kadang-kadang kita tidak pernah mendapatkan permintaan maaf.
Kadang-kadang kita tidak bisa mengetahui apakah keputusan lain akan menghasilkan kehidupan yang berbeda.
Menerima ketidakpastian bukan berarti menyetujui apa yang terjadi.
Itu berarti menyadari bahwa tidak semua hal dapat kita selesaikan melalui pemikiran.
Masa Lalu Tidak Harus Dilupakan untuk Bisa Ditinggalkan
Ada anggapan bahwa kita sudah benar-benar pulih ketika sebuah pengalaman tidak pernah lagi muncul dalam pikiran.
Padahal, mungkin bukan begitu cara kerja pikiran manusia.
Sebuah pengalaman penting bisa tetap menjadi bagian dari cerita hidup kita tanpa terus mengendalikan kehidupan kita.
Kita mungkin masih mengingatnya.
Kita mungkin masih merasa sedih ketika mengingatnya.
Kita mungkin bahkan sesekali bertanya bagaimana kehidupan kita akan berjalan jika kejadian tersebut tidak pernah terjadi.
Tetapi seiring waktu, hubungan kita dengan kenangan itu dapat berubah.
Dulu kita mengingatnya dengan rasa bersalah.
Kemudian kita mulai melihatnya dengan pemahaman.
Dulu kita bertanya, "Mengapa ini terjadi kepadaku?"
Kemudian mungkin pertanyaannya berubah menjadi:
"Apa yang bisa kupahami tentang diriku dari pengalaman ini?"
Perubahan kecil dalam cara kita memandang masa lalu dapat membuat perbedaan besar.
Karena tujuan akhirnya bukan selalu membuat masa lalu menghilang.
Tujuannya adalah membuat masa lalu tidak lagi menentukan seluruh cara kita menjalani masa kini.
Dan jika pikiran tentang pengalaman sulit terasa sangat mengganggu, muncul terus-menerus, menghambat aktivitas sehari-hari, atau berkaitan dengan pengalaman traumatis, berbicara dengan psikolog atau profesional kesehatan mental dapat menjadi langkah yang tepat.
Meminta bantuan bukan berarti kita gagal melupakan masa lalu.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Moldova vs Kepulauan Faroe: Landsliðið Unggul Tipis dari Tuan Rumah
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat
Prediksi Skor Slovenia vs Makedonia Utara di Liga Nations UEFA: Fantje Kalahkan Tim Tamu
Prediksi Skor Skotlandia vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Kalahkan Tuan Rumah dengan Skor Telak
Prediksi Skor Skor Lithuania vs Andorra, Laga Persahabatan: Tuan Rumah Berpeluang Menang
Prediksi Skor San Marino vs Albania di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjte Menang Telak di Dogana
Prediksi Skor Filipina vs Pakistan di FIFA ASEAN Cup: The Azkals Menang Tipis Atas The Shaheens
Prediksi Skor Jamaika vs Honduras di CONCACAF Nations League: Reggae Boyz Menang Meyakinkan?
Prediksi Skor Moldova vs Kepulauan Faroe: Tuan Rumah Dibayangi Rapuhnya Lini Pertahanan
Prediksi Finlandia vs Belarus di UEFA Nations League: Pohjanpalo Siap Lanjutkan Ketajaman

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022