Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 30 September 2026 | 16.33 WIB

5 Alasan Mengapa Sebagian Orang Takut Saat Mendapat Kritikan Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?

seseorang yang mendapat kritikan dari orang lain. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Kritikan merupakan bagian yang hampir tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di tempat kerja, seseorang bisa mendapat masukan dari atasan. Dalam keluarga, seseorang mungkin dikritik karena keputusan yang dibuat. Di lingkungan pertemanan, seseorang dapat menerima komentar tentang sikap atau perilakunya.


Bagi sebagian orang, kritikan dapat diterima sebagai masukan yang membantu mereka berkembang. Namun, bagi sebagian lainnya, kritikan justru bisa memunculkan rasa takut, malu, cemas, marah, atau keinginan untuk menghindar.

Menariknya, reaksi tersebut tidak selalu berarti seseorang "lemah" atau tidak mampu menerima kenyataan. Dalam psikologi, cara seseorang merespons kritikan dapat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, cara memandang diri sendiri, pola hubungan dengan orang lain, serta bagaimana otak menafsirkan kritik tersebut.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (29/9), terdapat lima alasan mengapa sebagian orang merasa takut ketika mendapat kritikan.

1. Kritikan Bisa Terasa Seperti Ancaman terhadap Harga Diri

Salah satu alasan seseorang takut terhadap kritikan adalah karena kritik tidak selalu dipersepsikan sebagai komentar terhadap sebuah tindakan. Kritik bisa terasa seperti penilaian terhadap dirinya sebagai manusia.

Ada perbedaan antara:

"Pekerjaanmu kali ini masih perlu diperbaiki."

dan:

"Kamu memang tidak pernah bisa melakukan pekerjaan dengan benar."

Kalimat pertama berfokus pada perilaku atau hasil tertentu. Sementara kalimat kedua menyerang identitas seseorang secara lebih luas.

Bagi orang yang memiliki harga diri yang rapuh atau sangat bergantung pada penilaian orang lain, kritikan terhadap satu kesalahan dapat terasa jauh lebih besar. Kesalahan kecil bisa diterjemahkan menjadi kesimpulan seperti, "Berarti aku tidak cukup baik," "Aku mengecewakan orang lain," atau "Orang-orang pasti menganggap aku tidak mampu."

Dalam psikologi, penilaian terhadap diri sendiri memiliki kaitan erat dengan bagaimana seseorang memproses informasi negatif. Ketika seseorang sudah memiliki keyakinan bahwa dirinya tidak cukup baik, kritik dapat terasa seperti bukti yang menguatkan keyakinan tersebut.

Akibatnya, orang tersebut mungkin menjadi defensif, merasa malu, menangis, marah, atau justru memilih diam dan menarik diri.

Padahal, melakukan kesalahan tidak secara otomatis berarti seseorang adalah pribadi yang gagal. Ada perbedaan antara "Saya melakukan kesalahan" dan "Saya adalah orang yang gagal."

Perbedaan cara berpikir tersebut dapat memengaruhi seberapa berat kritik dirasakan.

2. Pengalaman Masa Lalu Membuat Kritikan Terasa Menakutkan

Respons seseorang terhadap kritik juga dapat dipengaruhi oleh pengalaman yang pernah dialaminya.

Bayangkan seseorang yang sejak kecil sering dimarahi ketika melakukan kesalahan. Setiap kesalahan mungkin diikuti oleh bentakan, penghinaan, perbandingan dengan orang lain, atau hukuman.

Seiring waktu, pengalaman seperti itu dapat membuat kritik diasosiasikan dengan sesuatu yang mengancam.

Ketika sudah dewasa, orang tersebut mungkin menerima kritik dari atasan dengan reaksi emosional yang jauh lebih besar daripada situasi sebenarnya. Bukan semata-mata karena kritik tersebut sangat keras, tetapi karena pengalaman sebelumnya membuat otaknya lebih waspada terhadap kemungkinan ditolak, dipermalukan, atau disalahkan.

Pengalaman tersebut tidak harus selalu berasal dari masa kanak-kanak. Hubungan pertemanan, lingkungan sekolah, pekerjaan, atau hubungan romantis juga dapat membentuk cara seseorang merespons kritik.

Misalnya, seseorang pernah memiliki pasangan yang menggunakan kesalahan kecil sebagai alasan untuk merendahkan dirinya. Setelah hubungan tersebut berakhir, kritik dari pasangan baru mungkin tetap memicu rasa takut meskipun pasangan barunya menyampaikannya dengan cara yang lebih sehat.

Ini menunjukkan bahwa reaksi emosional terhadap kritik tidak selalu hanya berkaitan dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Pengalaman sebelumnya dapat ikut memengaruhi cara seseorang menafsirkan situasi.

Namun, bukan berarti setiap orang yang takut terhadap kritik pasti memiliki pengalaman buruk di masa lalu. Manusia memiliki latar belakang dan karakter yang berbeda-beda, sehingga penyebabnya tidak bisa disimpulkan hanya dari satu perilaku.

3. Takut Ditolak atau Tidak Disukai Orang Lain

Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Hubungan dengan orang lain memiliki peran penting dalam kehidupan.

Karena itu, sebagian orang sangat sensitif terhadap kemungkinan ditolak oleh lingkungan sosialnya.

Bagi mereka, kritikan bukan hanya berarti "ada sesuatu yang perlu diperbaiki", tetapi dapat terasa seperti tanda bahwa hubungan mereka sedang terancam.

Muncul pikiran seperti:

"Apakah dia sekarang tidak menyukaiku?"
"Apakah orang-orang akan menjauhiku?"
"Bagaimana kalau mereka menganggapku buruk?"
"Apakah aku akan kehilangan kepercayaan mereka?"

Kekhawatiran semacam ini dapat membuat seseorang sangat berhati-hati dalam menerima kritik.

Pada tingkat tertentu, seseorang bahkan mungkin berusaha menjadi terlalu sempurna agar tidak memberikan alasan bagi orang lain untuk mengkritiknya. Ia mungkin sulit mengatakan "tidak", takut membuat kesalahan, atau terus-menerus memikirkan bagaimana dirinya terlihat di mata orang lain.

Masalahnya, kebutuhan untuk selalu disukai dapat menjadi beban psikologis.

Tidak mungkin seseorang mendapatkan persetujuan semua orang sepanjang waktu. Setiap manusia memiliki perspektif, harapan, dan standar yang berbeda.

Karena itu, belajar menerima bahwa kritik atau ketidaksetujuan tidak selalu berarti penolakan pribadi dapat membantu seseorang membangun hubungan yang lebih sehat dengan dirinya sendiri maupun orang lain.

4. Perfeksionisme Membuat Kesalahan Terasa Tidak Bisa Ditoleransi

Orang yang memiliki kecenderungan perfeksionistik dapat mengalami tekanan yang besar ketika mendapatkan kritikan.

Perfeksionisme bukan sekadar ingin melakukan sesuatu dengan baik. Pada beberapa orang, terdapat standar yang sangat tinggi terhadap diri sendiri dan kesalahan dianggap sebagai sesuatu yang sulit diterima.

Ketika hasil pekerjaan mendapat kritik, pikirannya mungkin tidak berhenti pada:

"Bagian mana yang perlu diperbaiki?"

Sebaliknya, muncul pemikiran seperti:

"Bagaimana aku bisa sampai melakukan kesalahan seperti ini?"

atau:

"Aku seharusnya bisa lebih baik."

Kritik kemudian tidak dipandang sebagai informasi, melainkan sebagai bukti bahwa standar yang dimiliki belum tercapai.

Orang dengan pola seperti ini juga dapat mengalami apa yang sering disebut sebagai pemikiran hitam-putih. Sesuatu dianggap berhasil sempurna atau gagal total.

Padahal, kenyataan biasanya berada di antara keduanya.

Sebuah pekerjaan bisa memiliki beberapa kekurangan sekaligus tetap merupakan pekerjaan yang bernilai. Seseorang bisa melakukan kesalahan tanpa berarti seluruh kemampuannya buruk.

Jika kritik selalu dipersepsikan sebagai kegagalan total, tekanan untuk menghindari kesalahan dapat semakin besar. Ironisnya, tekanan tersebut justru dapat membuat seseorang lebih takut mencoba hal baru.

5. Kritik Dipersepsikan sebagai Ancaman, Bukan Informasi

Alasan lain adalah cara seseorang menafsirkan kritik.

Dua orang dapat menerima kalimat yang sama tetapi memberikan makna yang berbeda.

Misalnya, seorang atasan berkata:

"Presentasimu perlu dibuat lebih ringkas."

Orang pertama mungkin berpikir:

"Oke, berarti saya perlu memperbaiki struktur presentasi."

Orang kedua mungkin berpikir:

"Berarti atasan saya kecewa. Mungkin saya dianggap tidak kompeten."

Informasinya sama, tetapi interpretasinya berbeda.

Dalam psikologi, cara seseorang menafsirkan suatu peristiwa memiliki pengaruh terhadap respons emosionalnya. Ketika kritik ditafsirkan sebagai ancaman terhadap keamanan, status, hubungan, atau harga diri, tubuh dan pikiran dapat merespons dengan lebih kuat.

Seseorang mungkin merasa jantung berdebar, tegang, sulit berpikir jernih, ingin membela diri, atau ingin segera menghindari percakapan.

Dalam kondisi seperti itu, menerima isi kritik secara objektif menjadi lebih sulit.

Karena itu, salah satu kemampuan penting bukanlah membuat diri menjadi kebal terhadap kritik, melainkan belajar memisahkan informasi dari interpretasi.

Misalnya:

Informasi:
"Bagian laporan ini masih memiliki beberapa kesalahan."

Interpretasi:
"Berarti saya tidak kompeten."

Keduanya bukan hal yang sama.

Dengan memisahkan fakta dari kesimpulan tentang diri sendiri, seseorang memiliki kesempatan lebih besar untuk merespons kritik secara tenang.

Apakah Takut terhadap Kritikan Berarti Seseorang Tidak Dewasa?

Tidak selalu.

Setiap manusia memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda terhadap evaluasi sosial. Merasa sedih, malu, atau tidak nyaman setelah dikritik merupakan respons yang manusiawi.

Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang mengelola respons tersebut.

Ada perbedaan antara:

"Saya merasa tidak nyaman ketika dikritik, tetapi saya masih bisa mendengarkan dan mengambil bagian yang bermanfaat."

dengan:

"Setiap kali dikritik, saya langsung merasa hancur, menyerang balik, atau menghindari semua situasi yang memungkinkan saya dinilai."

Jika kritik membuat seseorang terus-menerus menghindari pekerjaan, hubungan sosial, kesempatan belajar, atau situasi penting lainnya, hal tersebut mungkin layak diperhatikan lebih serius.

Bukan berarti orang tersebut harus langsung diberi label tertentu. Perilaku manusia sangat kompleks dan penyebabnya dapat berbeda pada setiap individu.

Cara Belajar Lebih Sehat dalam Menghadapi Kritikan

Menerima kritik bukan berarti harus menerima semua komentar orang lain sebagai kebenaran.

Kritik tetap perlu diperiksa.

Cobalah bertanya:

Apa sebenarnya isi kritiknya?
Apakah kritik tersebut menyangkut fakta atau hanya pendapat?
Apakah ada bagian yang memang bisa saya perbaiki?
Apakah cara penyampaiannya menyerang pribadi saya?
Apa yang bisa saya pelajari dari informasi tersebut?

Langkah ini membantu seseorang memisahkan antara kritik yang konstruktif dan komentar yang merendahkan.

Kritik yang konstruktif biasanya memberikan informasi yang cukup jelas mengenai perilaku atau hasil yang dapat diperbaiki. Sebaliknya, penghinaan terhadap karakter seseorang tidak otomatis menjadi kritik yang bermanfaat hanya karena disampaikan sebagai "kejujuran."

Seseorang juga dapat belajar menggunakan kalimat internal yang lebih realistis.

Daripada:

"Aku gagal."

cobalah:

"Ada bagian yang belum berhasil dan bisa diperbaiki."

Daripada:

"Dia mengkritikku, berarti dia tidak menyukaiku."

cobalah:

"Dia tidak menyukai atau menyetujui bagian tertentu dari tindakanku. Itu belum tentu berarti dia menolak diriku secara keseluruhan."

Perubahan kecil dalam cara berbicara kepada diri sendiri dapat membantu seseorang melihat kritik dengan perspektif yang lebih seimbang.

Penutup

Takut terhadap kritikan bukanlah fenomena yang sederhana. Bagi sebagian orang, kritik dapat menyentuh persoalan yang lebih dalam seperti harga diri, pengalaman masa lalu, ketakutan terhadap penolakan, perfeksionisme, atau kebiasaan menafsirkan evaluasi sebagai ancaman.

Karena itu, seseorang yang terlihat sangat sensitif terhadap kritik belum tentu sekadar "baper" atau tidak mampu menerima kenyataan. Bisa jadi ada pola psikologis tertentu yang membuat kritik terasa jauh lebih berat baginya.

Di sisi lain, belajar menerima kritik juga merupakan keterampilan yang dapat dikembangkan. Kritik tidak harus dianggap sebagai serangan, tetapi juga tidak harus diterima begitu saja sebagai kebenaran.

Yang penting adalah kemampuan untuk berhenti sejenak, memahami apa yang sebenarnya dikatakan, memisahkan perilaku dari identitas diri, lalu menentukan apakah ada sesuatu yang memang perlu diperbaiki.

Pada akhirnya, menerima kritik bukan berarti menganggap diri kita buruk. Menerima kritik berarti bersedia melihat bahwa kita masih bisa belajar, berubah, dan berkembang.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore