seseorang yang menikmati liburan bersama anak-anak / foto: Magnific/aedka
Namun, kenyataannya tidak selalu seperti itu.
Baru beberapa jam perjalanan, anak sudah rewel. Sampai di tempat tujuan, ia justru ingin pulang. Jadwal yang sudah dibuat dengan rapi berantakan karena anak tidur terlalu lama. Ketika orang tua ingin menikmati pemandangan, anak malah meminta bermain. Ketika orang tua ingin mengambil foto keluarga, anak justru menangis.
Pada titik tertentu, orang tua mungkin bertanya dalam hati, "Kenapa liburan bersama anak malah terasa seperti pekerjaan tambahan?"
Jawabannya bukan karena Anda gagal menjadi orang tua. Anak kecil memang memiliki kebutuhan psikologis, emosi, kemampuan mengendalikan diri, dan daya tahan terhadap perubahan yang berbeda dari orang dewasa.
Karena itu, menikmati liburan bersama anak kecil membutuhkan cara berpikir yang sedikit berbeda.
Tujuan liburan bersama anak bukan membuat mereka mengikuti jadwal orang dewasa dengan sempurna. Justru semakin kita memahami bagaimana anak bekerja secara emosional dan psikologis, semakin besar kemungkinan liburan terasa ringan bagi seluruh keluarga.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (18/9), terdapat tujuh cara yang bisa dilakukan.
1. Turunkan ekspektasi tentang seperti apa "liburan yang menyenangkan"
Salah satu sumber stres terbesar ketika bepergian bersama anak kecil adalah ekspektasi orang tua.
Kita mungkin membayangkan anak akan bangun dengan ceria, menikmati perjalanan, makan dengan lahap, bermain dengan tenang, tersenyum ketika difoto, lalu tidur tepat waktu.
Masalahnya, anak kecil bukan orang dewasa berukuran mini.
Kemampuan mereka untuk mengatur emosi dan menyesuaikan diri dengan perubahan masih berkembang. Karena itu, perilaku yang bagi orang tua terlihat "mengganggu" sebenarnya bisa menjadi respons yang wajar terhadap rasa lelah, lapar, terlalu banyak stimulasi, atau perubahan rutinitas.
Inilah mengapa salah satu langkah paling penting sebelum liburan adalah mengubah definisi keberhasilan.
Liburan yang sukses tidak harus berarti semua tempat wisata berhasil dikunjungi.
Bisa jadi liburan yang sukses adalah ketika anak menemukan satu permainan yang sangat disukainya.
Atau ketika keluarga makan bersama tanpa terburu-buru.
Atau ketika orang tua akhirnya memiliki satu sore untuk bermain bersama anak tanpa memikirkan pekerjaan.
Atau bahkan ketika rencana berubah total tetapi semua anggota keluarga tetap bisa tertawa.
Jangan mengukur kualitas liburan dari berapa banyak tempat yang berhasil dikunjungi. Ukur dari berapa banyak momen yang benar-benar dinikmati bersama.
Secara psikologis, perubahan ekspektasi seperti ini penting karena dapat mengurangi tekanan pada orang tua. Ketika target terlalu tinggi, setiap perilaku anak yang tidak sesuai rencana mudah dianggap sebagai kegagalan.
Sebaliknya, ketika kita memahami bahwa anak mungkin akan rewel, bosan, lapar, mengantuk, atau tiba-tiba berubah pikiran, kita menjadi lebih siap menghadapinya.
Bukan berarti orang tua harus membiarkan semuanya.
Tetapi kita tidak lagi terkejut ketika kenyataan tidak sesuai dengan itinerary.
Dan sering kali, justru setelah ekspektasi diturunkan, kita bisa mulai menikmati perjalanan.
2. Jangan membuat jadwal terlalu padat
Ada kesalahan yang cukup umum dilakukan ketika merencanakan liburan keluarga: memasukkan terlalu banyak aktivitas ke dalam satu hari.
Pagi pergi ke tempat wisata.
Siang makan di restoran.
Setelah itu pindah ke tempat lain.
Sore mencari oleh-oleh.
Malam makan malam.
Kemudian kembali ke hotel.
Bagi orang dewasa, jadwal seperti itu mungkin terlihat efisien.
Bagi anak kecil, itu bisa sangat melelahkan.
Anak membutuhkan waktu untuk makan, beristirahat, tidur, bermain bebas, dan sekadar berada dalam suasana yang familiar.
Perjalanan juga memberikan banyak rangsangan baru. Tempat baru, suara baru, orang baru, kendaraan, bau makanan, cuaca, cahaya, dan berbagai aktivitas dapat membuat anak menerima stimulasi jauh lebih banyak daripada biasanya.
Karena itu, jangan merasa harus memanfaatkan setiap menit liburan.
Sisakan ruang kosong dalam jadwal.
Misalnya, jika Anda memiliki waktu tiga hari, tidak perlu membuat tiga hari itu penuh dengan daftar tujuan.
Pilih satu atau dua aktivitas utama dalam sehari.
Setelah itu, biarkan ada waktu untuk beristirahat.
Bahkan waktu bermain di kamar hotel, duduk di taman, berenang sebentar, atau membeli camilan di minimarket bisa menjadi bagian dari liburan.
Ini mungkin terasa seperti membuang waktu bagi orang dewasa.
Tetapi bagi anak, waktu seperti itu justru dapat menjadi kesempatan untuk memulihkan energi dan memproses semua pengalaman baru.
Ada prinsip sederhana yang bisa digunakan:
Satu aktivitas utama, satu waktu istirahat, lalu lihat situasi.
Jika anak masih bersemangat, Anda bisa melanjutkan.
Jika anak mulai lelah atau rewel, jangan memaksakan agenda hanya karena sudah ada di itinerary.
Fleksibilitas adalah salah satu "peralatan" terpenting ketika bepergian dengan anak kecil.
3. Pertahankan beberapa rutinitas penting anak
Liburan memang identik dengan perubahan.
Tetapi anak kecil biasanya tetap membutuhkan beberapa hal yang terasa familiar.
Misalnya waktu tidur, makanan tertentu, ritual sebelum tidur, selimut favorit, boneka kesayangan, atau kebiasaan membaca buku sebelum tidur.
Tidak perlu mempertahankan seluruh rutinitas di rumah.
Pilih saja beberapa bagian yang paling penting.
Jika biasanya anak tidur setelah mandi, misalnya, usahakan kebiasaan itu tetap dilakukan.
Jika anak terbiasa membawa boneka tertentu ke tempat tidur, jangan lupa membawanya.
Jika biasanya sebelum tidur orang tua membacakan satu buku, lakukan hal yang sama meskipun sedang berada di hotel.
Mengapa hal sederhana seperti ini bisa membantu?
Karena rutinitas memberikan rasa dapat diprediksi.
Ketika lingkungan berubah drastis, beberapa hal yang tetap sama dapat menjadi semacam "jangkar" bagi anak.
Anak mengetahui bahwa meskipun tempatnya berbeda, ada beberapa hal yang masih sama.
Hotel boleh berbeda. Kota boleh berbeda. Tempat tidur boleh berbeda. Tetapi ritual sebelum tidur tetap sama.
Bagi orang tua, mempertahankan rutinitas seperti ini mungkin terlihat sepele.
Bagi anak, itu bisa memberikan rasa aman.
Dan ketika anak merasa lebih aman, orang tua pun biasanya lebih mudah menikmati perjalanan.
4. Berikan anak pilihan kecil, bukan kebebasan tanpa batas
Anak kecil sering ingin memiliki kendali.
Mereka ingin memilih pakaian sendiri.
Memilih makanan sendiri.
Memilih permainan sendiri.
Bahkan terkadang ingin menentukan ke mana keluarga pergi.
Jika orang tua selalu mengatakan "terserah kamu", perjalanan tentu bisa menjadi kacau.
Tetapi jika semua keputusan dibuat oleh orang tua, anak juga bisa merasa tidak memiliki kendali.
Solusinya adalah memberikan pilihan kecil yang masih berada dalam batas yang dibuat orang tua.
Contohnya:
"Besok kamu mau pakai kaus biru atau merah?"
"Setelah sarapan kita mau jalan-jalan. Kamu mau naik stroller atau jalan sendiri?"
"Kamu mau makan nasi atau mi?"
"Kita punya waktu bermain 30 menit. Kamu mau main bola atau berenang?"
Perhatikan perbedaannya.
Orang tua tetap menentukan batas.
Tetapi anak mendapatkan kesempatan untuk memilih.
Secara psikologis, pilihan seperti ini dapat membantu memenuhi kebutuhan anak untuk merasa memiliki kendali atas dirinya.
Dan menariknya, tidak perlu memberikan pilihan besar.
Anak tidak harus menentukan seluruh tujuan wisata.
Cukup berikan beberapa keputusan kecil yang sesuai dengan usianya.
Dengan begitu, liburan tidak terasa seperti rangkaian perintah dari orang tua.
Anak juga merasa menjadi bagian dari perjalanan.
5. Jangan jadikan setiap masalah sebagai pertarungan
Bayangkan Anda sedang berada di sebuah tempat wisata.
Anak tiba-tiba ingin membeli mainan.
Anda menolak.
Anak menangis.
Anda meminta dia berhenti menangis.
Anak semakin menangis.
Anda mulai kesal.
Akhirnya suasana liburan berubah menjadi konflik panjang.
Situasi seperti ini sangat mudah terjadi.
Salah satu keterampilan penting orang tua ketika bepergian bersama anak adalah membedakan antara perilaku yang perlu dihentikan dan perilaku yang cukup diterima sebagai bagian dari emosi anak.
Anak menangis bukan berarti orang tua harus langsung mengabulkan keinginannya.
Tetapi anak menangis juga bukan berarti orang tua harus memenangkan pertarungan.
Anda bisa tetap mempertahankan batas sambil mengakui emosinya.
Misalnya:
"Kamu kecewa karena tidak jadi membeli mainan itu. Mama tahu kamu ingin sekali."
Kemudian:
"Tapi hari ini kita tidak membeli mainan. Kamu boleh menangis, Mama tetap di sini."
Kalimat seperti itu menyampaikan dua hal sekaligus:
Perasaanmu boleh ada. Tetapi batas tetap ada.
Ini berbeda dengan mengatakan:
"Jangan menangis!"
atau
"Kalau terus menangis, kita pulang!"
Ketika orang tua ikut terseret ke dalam emosi anak, situasi biasanya menjadi semakin sulit.
Karena itu, saat anak mulai meledak secara emosional, cobalah mengingat:
Tugas saya bukan membuat anak berhenti merasa kesal secepat mungkin. Tugas saya adalah membantu anak melewati emosinya tanpa kehilangan kendali.
Ini sangat berguna selama perjalanan karena anak akan menghadapi lebih banyak situasi yang tidak sesuai keinginannya.
6. Sisihkan waktu khusus untuk benar-benar hadir bersama anak
Ada satu hal yang sering dilupakan ketika keluarga pergi berlibur: kehadiran fisik tidak selalu berarti kehadiran emosional.
Orang tua bisa berada di tempat yang sama dengan anak tetapi pikirannya sibuk dengan pekerjaan, ponsel, foto, itinerary, media sosial, atau urusan lainnya.
Padahal, bagi anak kecil, salah satu hal paling berharga dari liburan bukanlah tempat yang dikunjungi.
Melainkan perhatian orang tua.
Cobalah menyediakan beberapa momen dalam sehari untuk benar-benar hadir.
Letakkan ponsel.
Tidak perlu mengambil foto setiap beberapa menit.
Tidak perlu memikirkan tujuan berikutnya.
Duduklah bersama anak.
Lihat apa yang sedang ia lihat.
Ikuti permainannya.
Tanyakan apa yang ia sukai.
Tertawalah bersama.
Bahkan sepuluh atau lima belas menit perhatian yang benar-benar penuh dapat terasa sangat berbeda dibandingkan satu jam bersama anak sambil sesekali melihat layar.
Dan jangan terlalu sibuk membuat liburan terlihat indah untuk orang lain.
Terkadang kita begitu fokus mengambil foto bahwa kita lupa menikmati momen yang sedang difoto.
Foto memang penting.
Tetapi pengalaman anak terhadap liburan tidak dibentuk oleh berapa banyak foto yang tersimpan di galeri.
Mereka lebih mungkin mengingat bagaimana rasanya ketika orang tua bermain bersama mereka, tertawa bersama mereka, mendengarkan cerita mereka, atau memeluk mereka ketika mereka lelah.
Jangan hanya mengabadikan liburan. Hadirlah di dalamnya.
7. Biarkan anak menikmati liburan dengan caranya sendiri
Ini mungkin bagian yang paling sulit bagi orang tua.
Kita pergi jauh-jauh ke sebuah tempat karena menurut kita tempat itu menarik.
Tetapi anak justru lebih tertarik pada hal sederhana.
Kita ingin melihat pemandangan.
Anak ingin mengejar burung.
Kita ingin mengunjungi museum.
Anak justru ingin naik lift berkali-kali.
Kita ingin menikmati restoran yang bagus.
Anak justru lebih bahagia makan makanan sederhana sambil bermain.
Pada titik seperti ini, orang tua mungkin berpikir:
"Kita sudah jauh-jauh datang ke sini, masa cuma melakukan itu?"
Tetapi bagi anak kecil, pengalaman tidak selalu memiliki nilai yang sama seperti bagi orang dewasa.
Sebuah tempat yang menurut orang tua luar biasa belum tentu menarik bagi anak.
Sebaliknya, sesuatu yang tampak sangat sederhana bagi orang dewasa bisa menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan bagi anak.
Karena itu, sesekali ikuti dunia mereka.
Jika anak ingin melihat ikan selama 20 menit, tidak selalu perlu buru-buru pergi.
Jika anak ingin bermain pasir, biarkan ia bermain.
Jika anak menemukan sesuatu yang menurutnya menarik, ikutlah memperhatikannya.
Anda tidak harus mengikuti semua keinginan anak.
Tetapi Anda juga tidak harus memaksakan seluruh pengalaman liburan sesuai selera orang dewasa.
Cobalah melihat perjalanan dari sudut pandang anak.
Mungkin bagi Anda, perjalanan itu tentang mengunjungi tempat baru.
Bagi anak, perjalanan itu mungkin tentang menemukan sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Dan sering kali, ketika orang tua bersedia melihat dunia melalui mata anak, liburan menjadi jauh lebih menyenangkan.
Pada akhirnya, liburan bersama anak bukan tentang kesempurnaan
Liburan dengan anak kecil hampir pasti tidak akan berjalan sempurna.
Akan ada makanan yang tumpah.
Akan ada jadwal yang berubah.
Akan ada anak yang tiba-tiba menangis.
Akan ada tidur siang yang berantakan.
Akan ada barang yang tertinggal.
Akan ada tempat yang ternyata tidak sesuai ekspektasi.
Dan mungkin ada satu atau dua momen ketika Anda sebagai orang tua berpikir:
"Sepertinya liburan di rumah saja lebih mudah."
Itu normal.
Jangan mengukur keberhasilan liburan dari tidak adanya masalah.
Ukur dari bagaimana keluarga melewati masalah tersebut.
Anak kecil tidak membutuhkan liburan yang sempurna.
Mereka membutuhkan orang tua yang cukup tenang, cukup hadir, dan cukup fleksibel untuk menikmati perjalanan bersama mereka.
Jadi, jika Anda ingin benar-benar menikmati liburan bersama anak-anak yang masih kecil, cobalah mengingat tujuh hal ini:
Turunkan ekspektasi.
Jangan membuat jadwal terlalu padat.
Pertahankan beberapa rutinitas penting anak.
Berikan pilihan kecil kepada anak.
Jangan jadikan setiap masalah sebagai pertarungan.
Sisihkan waktu untuk benar-benar hadir bersama anak.
Biarkan anak menikmati liburan dengan caranya sendiri.
Mungkin setelah pulang nanti, Anda tidak akan mengingat semua tempat yang dikunjungi.
Tetapi anak mungkin akan mengingat bahwa saat itu ayah dan ibu tertawa bersamanya.
Bahwa ia pernah bermain air bersama orang tuanya.
Bahwa ia pernah makan es krim di tempat yang belum pernah didatanginya.
Bahwa ketika ia menangis karena lelah, seseorang memeluknya.
Dan bahwa selama beberapa hari, ia mendapatkan sesuatu yang sebenarnya sangat sederhana tetapi sangat berharga:
waktu bersama orang-orang yang paling membuatnya merasa aman dan dicintai.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Celtic vs Ferencvaros di Liga Europa: Kans The Hoops Permalukan Lawan di Celtic Park
Prediksi Skor Malaga vs Villarreal di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Siap Bombardir Tuan Rumah
Prediksi Skor Lillestrom vs Torreense di Liga Europa: Kans Kanarifuglene Menang di Arasen Stadion
Prediksi Skor Real Betis vs Getafe di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Siap Sikat Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Besiktas vs Marseille di Liga Europa: Kara Kartallar Cabik-cabik Tim Tamu di Tupras
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Prediksi Skor Viktoria Plzen vs Union SG di Liga Europa: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Susunan Pemain Manchester City vs Norwich: Maresca Rotasi Skuad
Prediksi Skor Levski Sofia vs Red Bull Salzburg di Liga Europa: Misi Die Roten Bullen Curi Poin
Prediksi Skor Real Sociedad vs Bournemouth di Liga Europa: Txuri-urdin Bakal Kesulitan Redam Lawan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022