seseorang yang cemburu kepada pasangannya. (Magnific)
Kemudahan tersebut membawa banyak manfaat dalam hubungan. Pasangan dapat berkomunikasi kapan saja, berbagi aktivitas sehari-hari, dan tetap merasa dekat meskipun berada di tempat yang berbeda. Namun, ruang digital juga menciptakan tantangan baru, terutama ketika muncul interaksi dengan orang lain yang dianggap berpotensi mengancam hubungan.
Like pada foto orang tertentu, komentar yang terlalu intim, percakapan pribadi, pesan yang sengaja disembunyikan, hingga hubungan emosional yang berkembang melalui chat dapat menimbulkan pertanyaan: Apakah ini hanya pertemanan, atau sudah menjadi bentuk perselingkuhan secara online?
Pertanyaan semacam itu dapat memunculkan rasa cemburu yang sangat kuat. Bahkan, dalam beberapa kondisi, kecemburuan terhadap aktivitas online dapat terasa lebih intens dibandingkan kecemburuan yang muncul dari interaksi langsung.
Menurut perspektif psikologi, hal tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh "terlalu posesif". Ada sejumlah mekanisme psikologis yang membuat ancaman perselingkuhan online terasa begitu nyata.
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (13/9), terdapat enam alasan mengapa ancaman perselingkuhan secara online dapat memicu rasa cemburu yang tinggi.
1. Media Sosial Membuat Ancaman Terhadap Hubungan Terlihat Lebih Dekat dan Nyata
Salah satu alasan utama perselingkuhan online dapat memicu kecemburuan adalah karena media sosial membuat interaksi pasangan dengan orang lain dapat terlihat secara langsung.
Dalam hubungan konvensional, seseorang mungkin tidak mengetahui secara detail bagaimana pasangannya berinteraksi dengan orang lain ketika mereka sedang tidak bersama. Namun, di dunia digital, berbagai aktivitas tersebut dapat meninggalkan jejak.
Misalnya, seseorang dapat melihat bahwa pasangannya sering memberikan "like" kepada orang tertentu, meninggalkan komentar, mengikuti akun baru, atau aktif berkomunikasi dengan seseorang.
Informasi tersebut dapat menjadi pemicu kecemburuan karena otak manusia cenderung berusaha mencari makna dari informasi yang tersedia.
Masalahnya, informasi digital sering kali tidak memberikan konteks lengkap.
Sebuah emoji hati mungkin hanya dianggap sebagai bentuk keramahan oleh pengirimnya. Namun, bagi pasangan yang sedang merasa tidak aman, emoji tersebut dapat ditafsirkan sebagai tanda ketertarikan romantis.
Begitu pula dengan percakapan singkat. Kalimat seperti "Aku senang ngobrol sama kamu" dapat memiliki banyak arti. Akan tetapi, ketika seseorang sudah memiliki kekhawatiran terhadap kesetiaan pasangannya, kalimat sederhana tersebut bisa dianggap sebagai bukti adanya kedekatan emosional.
Dalam psikologi, kondisi seperti ini berkaitan dengan bagaimana seseorang menafsirkan informasi berdasarkan kondisi emosional dan keyakinan yang sudah dimilikinya.
Ketika seseorang merasa hubungannya terancam, informasi yang sebenarnya ambigu dapat terlihat jauh lebih mengancam.
Dengan kata lain, media sosial tidak selalu menciptakan kecemburuan dari nol, tetapi dapat memperbesar dan membuat sumber kecemburuan menjadi jauh lebih terlihat.
Semakin banyak informasi yang tersedia, semakin banyak pula hal yang dapat diamati, dibandingkan, dan ditafsirkan.
Hal ini dapat membuat seseorang berpikir:
"Kalau dia hanya teman, mengapa mereka sering sekali berkomunikasi?"
Pertanyaan tersebut kemudian dapat berkembang menjadi kekhawatiran yang lebih besar:
"Apakah dia lebih tertarik kepada orang itu daripada kepada saya?"
Pada tahap tertentu, kecemburuan tidak lagi hanya muncul karena tindakan pasangan, tetapi karena interpretasi terhadap tindakan tersebut.
2. Interaksi Online Dapat Menciptakan Kedekatan Emosional Tanpa Harus Bertemu Secara Langsung
Perselingkuhan sering kali dibayangkan sebagai hubungan yang melibatkan pertemuan fisik. Padahal, kedekatan emosional juga dapat berkembang melalui komunikasi digital.
Seseorang dapat berbicara dengan orang lain setiap hari melalui chat, berbagi masalah pribadi, menceritakan pengalaman hidup, memberikan dukungan emosional, atau menjadi tempat untuk mencari kenyamanan.
Tidak ada pertemuan langsung, tetapi kedekatan psikologis dapat terbentuk.
Hal inilah yang membuat perselingkuhan online menjadi persoalan yang kompleks.
Dalam hubungan romantis, kedekatan emosional merupakan salah satu aspek penting. Ketika perhatian, cerita pribadi, atau dukungan emosional yang biasanya diberikan kepada pasangan mulai dialihkan secara intens kepada orang lain, pasangan dapat merasa kehilangan posisi istimewanya.
Misalnya, seorang suami memiliki kebiasaan menceritakan masalah pekerjaannya kepada istrinya. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, ia justru lebih sering menceritakan masalah tersebut kepada seorang teman perempuan melalui chat.
Secara fisik, mungkin tidak pernah terjadi pertemuan romantis.
Tetapi secara emosional, pasangan dapat merasakan adanya perubahan.
Ia mungkin berpikir:
"Mengapa dia lebih nyaman menceritakan masalahnya kepada orang lain daripada kepada saya?"
Perasaan tersebut dapat memicu kecemburuan karena seseorang merasa kedekatan emosional yang seharusnya menjadi bagian dari hubungan mulai dibagikan kepada pihak ketiga.
Dalam psikologi hubungan, hal ini berkaitan dengan kebutuhan manusia untuk merasa dekat, dipilih, dihargai, dan memiliki posisi khusus dalam hubungan romantis.
Karena itu, ancaman tidak harus berupa kontak fisik.
Ancaman terhadap kedekatan emosional saja sudah cukup untuk menimbulkan kecemburuan.
Terlebih lagi, komunikasi online dapat berlangsung sangat intens. Pesan dapat dikirim sepanjang hari, dari pagi hingga malam. Dalam kondisi tertentu, intensitas komunikasi tersebut dapat menciptakan hubungan emosional yang lebih kuat daripada yang terlihat dari luar.
3. Ketidakpastian Membuat Otak Lebih Mudah Membayangkan Kemungkinan Terburuk
Salah satu faktor terbesar yang membuat kecemburuan online menjadi sangat kuat adalah ketidakpastian.
Dunia digital memberikan banyak informasi, tetapi pada saat yang sama juga menyembunyikan banyak hal.
Seseorang mungkin dapat melihat bahwa pasangannya aktif di media sosial, tetapi tidak mengetahui dengan siapa ia berbicara.
Seseorang mungkin melihat pasangannya sering online, tetapi tidak mengetahui apa yang sedang dilakukan.
Seseorang mungkin mengetahui bahwa pasangannya memiliki teman dekat dari lawan jenis, tetapi tidak mengetahui seperti apa isi percakapan mereka.
Ketidakpastian semacam ini dapat membuat pikiran mulai mengisi bagian yang kosong.
Ketika seseorang merasa aman dalam hubungannya, ia mungkin berpikir:
"Mungkin mereka hanya sedang membicarakan pekerjaan."
Namun, ketika seseorang merasa tidak aman, pikirannya bisa bergerak ke arah:
"Jangan-jangan mereka sedang membicarakan sesuatu yang romantis."
Dari sini, kecemburuan dapat berkembang melalui serangkaian asumsi.
Masalahnya, asumsi tersebut belum tentu sesuai dengan kenyataan.
Seseorang dapat mulai memeriksa status online pasangan, melihat siapa yang memberikan komentar, memperhatikan perubahan jumlah pengikut, atau mengamati kapan pasangan terakhir aktif.
Aktivitas tersebut mungkin pada awalnya dilakukan untuk mencari kepastian.
Namun, semakin banyak seseorang mencari informasi tanpa mendapatkan jawaban yang benar-benar meyakinkan, semakin besar kemungkinan kecemasannya meningkat.
Inilah salah satu paradoks kecemburuan di era digital:
Semakin banyak seseorang memeriksa, belum tentu semakin tenang.
Justru, semakin banyak informasi yang ditemukan, semakin banyak pula hal yang dapat ditafsirkan.
Misalnya, melihat pasangan online pada pukul tertentu dapat menimbulkan pertanyaan:
"Sedang berbicara dengan siapa?"
Jika kemudian diketahui pasangan mengikuti akun tertentu, muncul pertanyaan baru:
"Kenapa mengikuti orang itu?"
Setelah itu mungkin muncul pertanyaan lain:
"Kenapa dia memberikan like pada foto tersebut?"
Siklus tersebut dapat terus berkembang.
Jika tidak dikendalikan, kecemburuan dapat berubah menjadi perilaku pemantauan yang berlebihan.
4. Perbandingan Sosial di Media Sosial Dapat Memperbesar Rasa Tidak Aman
Media sosial juga memiliki karakteristik yang membuat kecemburuan menjadi lebih mudah muncul, yaitu adanya perbandingan sosial.
Ketika pasangan berinteraksi dengan orang lain secara online, kita tidak hanya melihat orang tersebut sebagai "orang lain". Kita juga dapat melihat foto, penampilan, gaya hidup, pekerjaan, pencapaian, dan berbagai aspek lain dari kehidupannya.
Hal tersebut dapat memunculkan perbandingan.
Contohnya, seseorang mengetahui bahwa pasangannya sering berinteraksi dengan perempuan tertentu. Ketika membuka profil perempuan tersebut, ia melihat bahwa perempuan itu dianggap menarik, percaya diri, memiliki banyak pengikut, sering bepergian, dan terlihat memiliki kehidupan yang menyenangkan.
Tanpa disadari, muncul pertanyaan:
"Apa yang dia punya tetapi saya tidak punya?"
Pertanyaan tersebut dapat menjadi sangat menyakitkan.
Kecemburuan kemudian tidak hanya diarahkan kepada pasangan, tetapi juga kepada orang yang dianggap sebagai "saingan".
Seseorang mungkin mulai merasa kurang menarik, kurang sukses, kurang menyenangkan, atau kurang layak dibandingkan orang tersebut.
Di sinilah rasa cemburu dapat berhubungan erat dengan harga diri.
Seseorang yang memiliki rasa aman terhadap dirinya sendiri mungkin tetap merasa tidak nyaman melihat kedekatan pasangannya dengan orang lain, tetapi ia lebih mampu mengelola perasaan tersebut.
Sebaliknya, ketika seseorang sedang mengalami keraguan terhadap dirinya sendiri, interaksi kecil pasangan dengan orang lain dapat terasa sebagai ancaman besar.
Media sosial memperburuk keadaan karena pengguna biasanya menampilkan versi terbaik dari dirinya.
Foto yang dipilih adalah foto terbaik.
Momen yang dibagikan adalah momen yang menyenangkan.
Pencapaian ditampilkan.
Kegagalan dan kekurangan biasanya tidak terlihat.
Akibatnya, seseorang dapat membandingkan kehidupan nyata dirinya dengan versi "terkurasi" dari orang lain.
Perbandingan tersebut dapat membuat ancaman perselingkuhan terasa semakin besar.
Padahal, seseorang mungkin sebenarnya sedang membandingkan dirinya dengan gambaran yang tidak lengkap tentang orang lain.
5. Perilaku Digital yang Ambigu Mudah Ditafsirkan sebagai Tanda Perselingkuhan
Tidak semua aktivitas online memiliki makna romantis.
Namun, banyak perilaku digital berada di wilayah yang abu-abu.
Misalnya:
memberikan like pada foto tertentu;
sering membalas story;
menggunakan panggilan khusus;
mengirim emoji romantis;
melakukan video call secara pribadi;
menghapus percakapan;
menyembunyikan notifikasi;
mengikuti mantan pasangan;
sering berkomentar pada unggahan orang tertentu;
mengirim pesan pada tengah malam;
atau memiliki teman online yang sangat dekat.
Tidak ada satu pun perilaku tersebut yang secara otomatis membuktikan perselingkuhan.
Namun, konteks sangat penting.
Bagi sebagian pasangan, perilaku tersebut mungkin dianggap normal.
Bagi pasangan lain, perilaku yang sama dapat dianggap sebagai pelanggaran batas hubungan.
Inilah sebabnya mengapa kecemburuan online sering berkaitan dengan perbedaan batasan dalam hubungan.
Masalahnya bukan hanya "apa yang dilakukan", tetapi juga "apa arti tindakan tersebut bagi masing-masing pasangan".
Misalnya, seseorang mungkin menganggap membalas story dengan emoji hati sebagai sesuatu yang tidak penting.
Namun, pasangannya mungkin menganggap emoji tersebut sebagai bentuk flirting.
Jika kedua pihak tidak pernah membicarakan batasan mereka, konflik mudah terjadi.
Pasangan yang cemburu kemudian dapat merasa:
"Bagi kamu mungkin itu bukan apa-apa, tetapi bagi saya itu sudah melewati batas."
Sementara pihak lain mungkin berpikir:
"Saya tidak pernah merasa melakukan perselingkuhan."
Keduanya bisa merasa benar dari sudut pandang masing-masing.
Karena itu, dalam hubungan romantis, batasan mengenai perilaku online sebaiknya dibicarakan secara terbuka.
Bukan hanya tentang apa yang "boleh" dan "tidak boleh", tetapi juga mengenai tindakan apa yang membuat masing-masing pasangan merasa dihargai dan aman.
6. Ketakutan Kehilangan Pasangan Dapat Mengaktifkan Rasa Cemburu dan Perilaku Protektif
Pada tingkat yang lebih mendalam, kecemburuan sering berkaitan dengan ketakutan kehilangan hubungan yang dianggap penting.
Ketika seseorang merasa bahwa ada pihak ketiga yang berpotensi mengambil perhatian, kasih sayang, atau kedekatan emosional pasangannya, sistem emosionalnya dapat menjadi lebih waspada.
Kecemburuan dalam kadar tertentu merupakan emosi manusia yang normal.
Perasaan tersebut dapat memberikan sinyal:
"Ada sesuatu dalam hubungan ini yang membuat saya merasa tidak aman."
Masalah muncul ketika sinyal tersebut menjadi terlalu kuat atau tidak proporsional terhadap situasi.
Dalam konteks perselingkuhan online, ketakutan kehilangan pasangan dapat mendorong seseorang melakukan berbagai perilaku untuk memperoleh kembali rasa aman.
Misalnya:
memeriksa ponsel pasangan;
memantau aktivitas media sosial;
bertanya berulang kali tentang orang tertentu;
meminta pasangan berhenti berkomunikasi dengan seseorang;
membaca ulang percakapan;
memeriksa status online;
atau terus meminta kepastian bahwa pasangan masih mencintainya.
Perilaku tersebut terkadang memberikan rasa lega untuk sementara.
Namun, jika dilakukan berulang kali, seseorang dapat menjadi semakin bergantung pada pemeriksaan dan kepastian dari pasangan.
Misalnya:
"Saya harus memeriksa ponselnya agar merasa tenang."
Setelah memeriksa, ia mungkin merasa lega.
Tetapi beberapa jam kemudian, kecemasan kembali muncul.
Kemudian ia memeriksa lagi.
Siklus seperti ini dapat memperkuat kecemburuan.
Ironisnya, perilaku yang awalnya bertujuan melindungi hubungan justru dapat membuat hubungan semakin tegang.
Pasangan yang terus-menerus diperiksa dapat merasa tidak dipercaya. Sementara orang yang cemburu merasa semakin membutuhkan bukti bahwa pasangannya setia.
Akhirnya, keduanya masuk ke dalam pola yang melelahkan.
Mengapa Perselingkuhan Online Bisa Terasa Sama Menyakitkannya dengan Perselingkuhan di Dunia Nyata?
Pertanyaan ini penting karena masih banyak orang menganggap perselingkuhan online bukan sesuatu yang serius.
Padahal, dampak emosionalnya tidak selalu ditentukan oleh ada atau tidaknya kontak fisik.
Bagi seseorang, mengetahui bahwa pasangan membangun hubungan emosional yang sangat dekat dengan orang lain melalui internet dapat menimbulkan rasa dikhianati.
Perasaan tersebut dapat muncul karena yang dianggap hilang bukan hanya kesetiaan fisik, tetapi juga kepercayaan, perhatian, eksklusivitas, dan rasa aman emosional.
Dalam hubungan romantis, seseorang biasanya memiliki harapan tertentu mengenai bagaimana pasangan memperlakukan orang lain.
Ketika perilaku pasangan dianggap melanggar harapan tersebut, muncul rasa kecewa dan kehilangan.
Karena itu, istilah "perselingkuhan online" sebenarnya sangat luas.
Tidak setiap interaksi dengan orang lain merupakan perselingkuhan.
Namun, hubungan online dapat menjadi problematis ketika melibatkan kerahasiaan, kedekatan emosional yang intens, flirting, keterikatan romantis, atau perilaku yang secara sadar disembunyikan dari pasangan.
Cemburu Tidak Selalu Berarti Tidak Percaya
Hal lain yang penting dipahami adalah bahwa rasa cemburu tidak otomatis berarti seseorang memiliki karakter buruk atau tidak mempercayai pasangannya.
Cemburu merupakan emosi.
Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang merespons emosi tersebut.
Ada perbedaan besar antara:
"Saya merasa cemas ketika melihat kalian terlalu dekat. Saya ingin membicarakannya."
dan:
"Kamu tidak boleh berbicara dengan siapa pun selain saya."
Perasaan tidak selalu dapat dikontrol secara langsung.
Tetapi perilaku yang muncul akibat perasaan tersebut masih dapat dikelola.
Seseorang dapat merasa cemburu tanpa harus melakukan kontrol berlebihan.
Ia dapat merasa takut kehilangan tanpa harus melakukan pemeriksaan terhadap seluruh aktivitas digital pasangan.
Karena itu, tujuan pengelolaan kecemburuan bukan selalu menghilangkan rasa cemburu sepenuhnya.
Tujuannya adalah memahami mengapa kecemburuan muncul dan bagaimana meresponsnya secara sehat.
Bagaimana Cara Mengurangi Kecemburuan Akibat Ancaman Perselingkuhan Online?
Ada beberapa pendekatan yang dapat membantu.
1. Pisahkan fakta dari asumsi
Tanyakan kepada diri sendiri:
Apa yang benar-benar saya ketahui?
dan:
Apa yang sebenarnya hanya saya bayangkan?
Misalnya:
Fakta: pasangan sering berkomunikasi dengan seseorang.
Asumsi: mereka pasti memiliki hubungan romantis.
Membedakan kedua hal tersebut dapat membantu mengurangi kecemasan yang berasal dari interpretasi.
2. Bicarakan batasan dalam hubungan
Setiap pasangan dapat memiliki definisi berbeda tentang perilaku online yang dianggap wajar.
Karena itu, penting untuk membicarakan batasan secara eksplisit.
Misalnya:
Apakah flirting online dianggap perselingkuhan?
Apakah komunikasi dengan mantan pasangan diperbolehkan?
Apakah menghapus chat dengan orang tertentu merupakan masalah?
Apakah berbagi masalah pribadi dengan orang lain dianggap melewati batas?
Apakah penggunaan aplikasi kencan saat sudah memiliki pasangan dianggap sebagai pelanggaran?
Percakapan seperti ini dapat mencegah banyak kesalahpahaman.
3. Hindari mencari kepastian tanpa akhir
Mencari kepastian dari pasangan sesekali merupakan hal yang normal.
Namun, jika seseorang terus-menerus membutuhkan bukti bahwa pasangannya setia, masalah kecemasan dapat semakin besar.
Ketenangan jangka panjang tidak selalu berasal dari semakin banyak pemeriksaan.
Terkadang, seseorang perlu belajar menghadapi ketidakpastian dan membangun rasa aman dari dalam dirinya sendiri.
4. Jangan menjadikan media sosial sebagai satu-satunya sumber informasi
Aktivitas online hanya menunjukkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang.
Jumlah like, komentar, status online, atau jumlah pengikut tidak selalu menggambarkan kualitas sebuah hubungan.
Karena itu, penting untuk menilai hubungan berdasarkan keseluruhan perilaku pasangan, bukan hanya berdasarkan aktivitas media sosial.
5. Perhatikan kondisi hubungan secara keseluruhan
Kecemburuan terkadang bukan hanya masalah individu.
Jika hubungan memang sedang mengalami komunikasi yang buruk, kurangnya perhatian, konflik yang berulang, atau hilangnya kedekatan emosional, aktivitas online pasangan dapat menjadi pemicu yang memperbesar masalah yang sudah ada.
Dalam kondisi seperti itu, yang perlu diperbaiki bukan hanya penggunaan media sosial, tetapi juga kualitas hubungan secara keseluruhan.
Kesimpulan
Ancaman perselingkuhan secara online dapat memicu rasa cemburu yang tinggi karena dunia digital membuat interaksi dengan orang lain menjadi lebih mudah terlihat, lebih mudah dipantau, dan lebih mudah ditafsirkan.
Dari perspektif psikologi, setidaknya ada enam faktor utama yang dapat memperkuat kecemburuan tersebut.
Pertama, media sosial membuat ancaman terhadap hubungan terlihat lebih dekat dan nyata. Kedua, komunikasi online dapat menciptakan kedekatan emosional tanpa pertemuan fisik. Ketiga, ketidakpastian mengenai apa yang terjadi di balik layar dapat membuat seseorang membayangkan kemungkinan terburuk. Keempat, perbandingan sosial dapat meningkatkan rasa tidak aman terhadap diri sendiri. Kelima, perilaku digital yang ambigu dapat dengan mudah ditafsirkan sebagai tanda ketertarikan romantis. Keenam, ketakutan kehilangan pasangan dapat memicu perilaku protektif seperti memeriksa, mengawasi, atau meminta kepastian secara berulang.
Pada akhirnya, rasa cemburu bukan selalu masalahnya; cara seseorang mengelola rasa cemburu itulah yang menentukan apakah emosi tersebut akan menjadi sinyal yang membantu hubungan atau justru menjadi sumber konflik.
Hubungan yang sehat tidak berarti tidak pernah merasa cemburu. Hubungan yang sehat adalah hubungan di mana pasangan dapat membicarakan rasa tidak aman, menetapkan batasan yang jelas, menjaga kepercayaan, dan menyelesaikan masalah tanpa menggunakan kontrol atau pengawasan berlebihan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Skor Getafe vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Napoli vs Bologna di Liga Italia: Partenopei Menang Tipis di Stadio Maradona
Prediksi Skor Lille vs Troyes di Liga Prancis: Kans Calvin Verdonk Cs Pesta Gol di Kandang
Prediksi Skor RB Leipzig vs Hamburger SV di Liga Jerman: Die Roten Bullen Menang di Red Bull Arena
Profil Anthony Xie, Suami Audi Marissa yang Digugat Cerai: Beberapa Tahun Berkarier di Taiwan-China
Kanaya Whu Vokalis MK9 Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Turut Berduka
Prediksi Skor Celta Vigo vs Malaga di Liga Spanyol: Los Celestes Taklukkan Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Lecce vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Imbang di Via del Mare

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022