Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 14 September 2026 | 13.01 WIB

6 Alasan Seseorang Memilih Pasangan dengan Kebiasaan Keuangan Berbeda Menurut Psikologi

seseorang yang memilih pasangan yang memiliki perbedaaan kebiasaan mengelola uang. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Dalam memilih pasangan, banyak orang mengira bahwa kesamaan adalah kunci utama hubungan yang harmonis. Memiliki nilai yang sama, hobi yang mirip, cara berpikir yang sejalan, bahkan gaya hidup yang tidak jauh berbeda sering dianggap sebagai modal penting untuk membangun hubungan jangka panjang.

Namun, ada satu hal yang sering kali justru memperlihatkan dinamika yang berbeda: kebiasaan keuangan.

Kamu mungkin adalah orang yang sangat berhati-hati dalam menggunakan uang, tetapi justru tertarik pada seseorang yang lebih spontan dalam berbelanja. Atau sebaliknya, kamu terbiasa menikmati hidup dan tidak terlalu memikirkan setiap pengeluaran, tetapi pasanganmu adalah tipe orang yang rajin menabung, membuat anggaran, dan selalu mempertimbangkan masa depan.

Pada awalnya, perbedaan tersebut mungkin terasa membingungkan. Mengapa seseorang yang memiliki kebiasaan keuangan sangat berbeda justru terasa menarik?

Dalam perspektif psikologi, ketertarikan tidak selalu muncul karena dua orang memiliki karakter yang sama. Dalam beberapa situasi, seseorang dapat tertarik pada pasangan yang memiliki karakter berbeda karena perbedaan tersebut memberikan pengalaman emosional, rasa aman, keseimbangan, atau bahkan sesuatu yang selama ini tidak mereka miliki dalam dirinya sendiri.

Dilansir dari Psychology Today pada (13/9), terdapat enam alasan mengapa kamu mungkin lebih memilih pasangan dengan kebiasaan keuangan yang berbeda darimu.

1. Kamu Merasa Pasangan Melengkapi Kekuranganmu

Salah satu alasan paling umum adalah munculnya perasaan bahwa pasangan memiliki sesuatu yang tidak kamu miliki.

Misalnya, kamu adalah orang yang sangat hemat. Setiap pengeluaran dipikirkan berkali-kali. Kamu terbiasa membuat rencana keuangan, menabung, dan menghindari pembelian impulsif.

Kemudian kamu bertemu seseorang yang lebih santai dalam menggunakan uang. Ia senang mencoba restoran baru, bepergian, membeli sesuatu yang disukai, dan tidak terlalu takut mengeluarkan uang untuk pengalaman.

Bukannya merasa terganggu, kamu justru merasa hidup menjadi lebih seimbang.

Dalam psikologi hubungan, seseorang dapat merasakan daya tarik terhadap karakter yang melengkapi dirinya karena karakter tersebut membuka pengalaman baru. Pasangan yang berbeda dapat memperkenalkan cara melihat kehidupan yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Orang yang terlalu berhati-hati mungkin belajar bahwa tidak semua uang harus disimpan.

Sebaliknya, orang yang terlalu spontan mungkin belajar bahwa menikmati hidup tetap membutuhkan perencanaan.

Perbedaan tersebut dapat menciptakan semacam keseimbangan.

Namun, penting membedakan antara perbedaan yang saling melengkapi dan perbedaan yang menciptakan konflik serius.

Pasangan yang lebih boros mungkin membuatmu belajar menikmati hidup. Tetapi jika kebiasaan tersebut sampai menyebabkan utang, menyembunyikan transaksi, atau mengabaikan kebutuhan bersama, masalahnya bukan lagi sekadar perbedaan gaya keuangan.

Jadi, yang menarik bukan selalu kebiasaan pasangan yang berlawanan denganmu, melainkan kemungkinan bahwa perbedaan tersebut membuat hubungan terasa lebih lengkap.

2. Kebiasaan Keuangan Pasangan Bisa Memberikan Rasa Aman yang Tidak Kamu Miliki

Uang bukan hanya persoalan angka.

Dalam banyak hubungan, uang berkaitan erat dengan perasaan aman, kontrol, kebebasan, status, dan masa depan.

Karena itu, cara seseorang menggunakan uang bisa memberikan respons emosional tertentu kepada pasangannya.

Misalnya, kamu adalah orang yang cenderung impulsif. Ketika memiliki uang, kamu lebih suka menggunakannya untuk menikmati sesuatu sekarang daripada memikirkan kebutuhan beberapa tahun ke depan.

Kemudian kamu bertemu seseorang yang sangat terencana.

Ia memiliki tabungan darurat, membuat anggaran, mempertimbangkan kebutuhan jangka panjang, dan tidak mudah tergoda membeli sesuatu.

Karakter seperti itu mungkin memberikan perasaan aman.

Tanpa disadari, kamu bisa berpikir:

"Kalau bersama dia, masa depan terasa lebih teratur."

Sebaliknya, orang yang terlalu fokus pada keamanan finansial mungkin justru tertarik kepada pasangan yang lebih santai karena hubungan tersebut memberikan perasaan bebas.

Ini menarik karena terkadang kita tidak hanya mencari pasangan yang menggambarkan diri kita sekarang. Kita juga mencari seseorang yang memberikan pengalaman emosional yang kita butuhkan.

Bagi seseorang yang hidupnya penuh perencanaan, pasangan yang spontan bisa terasa menyenangkan.

Bagi seseorang yang hidupnya tidak teratur, pasangan yang terencana bisa terasa menenangkan.

Dengan kata lain, kebiasaan keuangan pasangan dapat memberikan kebutuhan psikologis tertentu, bukan sekadar memengaruhi kondisi rekening.

3. Perbedaan Membuat Hubungan Terasa Lebih Menarik

Kesamaan memang dapat membuat hubungan terasa nyaman.

Tetapi terlalu banyak kesamaan tidak selalu berarti hubungan akan terasa menarik.

Bayangkan dua orang yang sama-sama sangat berhati-hati. Mereka sama-sama tidak suka mengeluarkan uang, sama-sama takut mengambil risiko, dan sama-sama selalu menunda perjalanan karena merasa uang sebaiknya disimpan.

Hubungan seperti itu mungkin stabil.

Namun, bagi sebagian orang, pasangan dengan karakter berbeda dapat memberikan sensasi yang lebih menarik.

Ada unsur kejutan.

Ada pengalaman baru.

Ada kesempatan untuk melihat dunia dari perspektif yang berbeda.

Seseorang yang sangat teratur mungkin merasa tertarik kepada pasangan yang spontan karena hubungan tersebut membawa unsur ketidakpastian yang menyenangkan.

Begitu pula seseorang yang terbiasa hidup spontan dapat merasa tertarik kepada orang yang terstruktur karena karakter tersebut terasa berbeda dari kehidupannya sehari-hari.

Dalam psikologi ketertarikan, hal-hal baru dapat meningkatkan perhatian dan rasa penasaran. Karena itu, perbedaan tertentu dapat menjadi bagian dari daya tarik.

Tetapi sekali lagi, bukan berarti semakin berbeda semakin baik.

Perbedaan kecil dalam gaya menggunakan uang mungkin terasa menarik.

Namun, perbedaan mendasar tentang nilai uang dapat menjadi sumber konflik.

Contohnya:

Kamu menganggap menabung sebagai bentuk tanggung jawab.
Pasangan menganggap menabung berlebihan sebagai bentuk ketakutan.
Kamu menganggap membeli barang mahal sebagai pemborosan.
Pasangan menganggap barang mahal sebagai penghargaan terhadap diri sendiri.
Kamu memikirkan pensiun.
Pasangan hanya ingin menikmati kehidupan hari ini.

Pada titik tertentu, perbedaan tersebut bukan lagi sekadar sesuatu yang menarik. Ia sudah menjadi perbedaan nilai.

4. Kamu Mungkin Secara Tidak Sadar Mencari Pengalaman yang Berbeda dari Keluargamu

Cara seseorang memandang uang sering kali tidak muncul begitu saja ketika dewasa.

Kebiasaan keuangan dapat dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil, pola asuh, kondisi ekonomi keluarga, serta bagaimana orang tua atau orang-orang terdekat memperlakukan uang.

Seseorang yang tumbuh dalam keluarga yang sangat hemat mungkin menjadi sangat berhati-hati terhadap uang.

Setiap pengeluaran dianggap harus dipikirkan.

Sementara seseorang yang tumbuh dalam keluarga yang relatif bebas menggunakan uang mungkin menganggap pengeluaran sebagai bagian normal dari kehidupan.

Menariknya, ketika dewasa, seseorang tidak selalu mencari pasangan yang memiliki pola sama dengan keluarganya.

Kadang-kadang justru sebaliknya.

Seseorang yang tumbuh dalam keluarga yang sangat ketat soal uang mungkin tertarik kepada pasangan yang lebih santai.

Mengapa?

Karena hubungan tersebut menawarkan pengalaman yang berbeda.

Ia mungkin merasa:

"Bersamanya, aku tidak harus selalu takut soal uang."

Sebaliknya, seseorang yang tumbuh dalam lingkungan yang tidak teratur secara finansial mungkin justru tertarik pada pasangan yang sangat disiplin.

Ia melihat keteraturan tersebut sebagai sesuatu yang selama ini kurang dalam kehidupannya.

Dalam konteks ini, pasangan dapat menjadi tempat seseorang mengalami pola kehidupan yang berbeda dari pengalaman sebelumnya.

Tetapi ada hal penting yang perlu diperhatikan.

Ketertarikan pada perbedaan tidak selalu berarti perbedaan tersebut sehat.

Kadang-kadang seseorang tertarik pada pola yang berbeda karena ingin memperbaiki pengalaman masa lalu. Jika tidak disadari, hubungan dapat berubah menjadi usaha untuk "menyelamatkan" pasangan atau memperbaiki luka lama.

Misalnya, seseorang merasa harus mengajari pasangannya mengelola uang karena dulu ia melihat keluarganya mengalami masalah finansial.

Hubungan akhirnya bukan lagi tentang menjadi pasangan, tetapi menjadi guru dan murid.

Ini dapat menciptakan ketidakseimbangan.

5. Kamu Ingin Menjadi Versi Dirimu yang Berbeda Ketika Bersama Pasangan

Ada kalanya kita memilih pasangan bukan hanya berdasarkan siapa diri kita sekarang, tetapi berdasarkan siapa diri kita ketika bersama mereka.

Ini adalah aspek yang menarik dalam psikologi hubungan.

Bayangkan kamu selama ini dikenal sebagai orang yang sangat serius, disiplin, dan berorientasi pada masa depan.

Dalam pekerjaan, kamu selalu membuat rencana.

Dalam keuangan, kamu berhati-hati.

Dalam kehidupan sehari-hari, semuanya harus terorganisasi.

Kemudian kamu bertemu seseorang yang lebih santai.

Ia tidak terlalu memikirkan segala sesuatu secara berlebihan. Ia mengajakmu bepergian, mencoba makanan baru, menikmati akhir pekan, atau membeli sesuatu yang sudah lama kamu inginkan.

Bersamanya, kamu mungkin merasa menjadi versi dirimu yang lebih santai.

Sebaliknya, orang yang selama ini hidup spontan mungkin merasa lebih dewasa dan terarah ketika bersama pasangan yang terencana.

Artinya, pasangan tidak hanya berfungsi sebagai cermin.

Kadang-kadang pasangan berfungsi sebagai konteks yang memungkinkan sisi lain dari kepribadian kita muncul.

Itulah sebabnya seseorang bisa berkata:

"Aku tidak pernah seperti ini sebelum bertemu dia."

Perubahan tersebut bisa positif jika membuat seseorang berkembang.

Namun, perlu diperhatikan apakah perubahan itu tetap sesuai dengan nilai diri sendiri.

Jika kamu mulai mengeluarkan uang hanya untuk mendapatkan pengakuan pasangan, mengambil utang karena ingin mengikuti gaya hidupnya, atau terus merasa harus berubah agar diterima, itu bukan lagi pertumbuhan yang sehat.

Hubungan yang sehat seharusnya memberikan ruang untuk berkembang tanpa membuat seseorang kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

6. Perbedaan Keuangan Memaksa Kalian Membicarakan Nilai dan Masa Depan

Ini mungkin alasan yang paling penting.

Dua orang yang memiliki kebiasaan keuangan berbeda akan lebih cepat dipaksa untuk membicarakan hal-hal yang sering dihindari pasangan lain.

Misalnya:

"Berapa banyak uang yang harus kita tabung?"

"Apakah kita ingin membeli rumah?"

"Bagaimana cara membagi pengeluaran?"

"Seberapa besar bantuan untuk keluarga?"

"Apakah kita perlu memiliki rekening bersama?"

"Berapa banyak uang yang boleh digunakan untuk hiburan?"

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sebenarnya bukan hanya pertanyaan tentang uang.

Di baliknya terdapat pertanyaan yang lebih besar:

Apa yang sebenarnya kita anggap penting dalam hidup?

Seseorang yang suka menabung mungkin memprioritaskan keamanan dan stabilitas.

Seseorang yang suka menggunakan uang untuk perjalanan mungkin memprioritaskan pengalaman.

Seseorang yang senang membeli barang berkualitas mungkin mengutamakan kenyamanan.

Seseorang yang sangat hemat mungkin lebih fokus pada kebebasan finansial di masa depan.

Dengan demikian, perbedaan kebiasaan keuangan dapat menjadi jalan untuk memahami nilai pasangan secara lebih dalam.

Masalah muncul ketika keduanya menganggap nilai masing-masing sebagai satu-satunya nilai yang benar.

Jika orang yang hemat menganggap pasangan boros sebagai orang yang tidak bertanggung jawab, sementara pasangan yang boros menganggap orang hemat sebagai orang yang pelit dan tidak bisa menikmati hidup, konflik akan semakin besar.

Sebaliknya, jika keduanya mampu berkata:

"Cara kita berbeda, tetapi mari kita cari aturan yang bisa membuat kita berdua nyaman,"

perbedaan tersebut justru dapat menjadi kekuatan.

Jadi, Apakah Pasangan yang Berbeda Secara Finansial Lebih Baik?

Tidak selalu.

Ini bagian yang penting untuk dipahami.

Psikologi tidak mengatakan bahwa seseorang pasti akan lebih bahagia jika memilih pasangan dengan kebiasaan yang berlawanan.

Dalam hubungan jangka panjang, yang jauh lebih penting bukan sekadar apakah kebiasaan kalian sama atau berbeda, tetapi bagaimana kalian mengelola perbedaan tersebut.

Ada perbedaan yang sehat.

Ada pula perbedaan yang berbahaya.

Misalnya, pasanganmu mungkin lebih suka menghabiskan uang untuk pengalaman, sementara kamu lebih suka menabung.

Ini bisa dinegosiasikan.

Kalian dapat menentukan berapa persen pendapatan untuk kebutuhan, tabungan, investasi, dan hiburan.

Tetapi jika pasangan memiliki kebiasaan berjudi, menyembunyikan utang, berbohong mengenai pengeluaran, atau menggunakan uang untuk mengontrolmu, persoalannya jauh lebih serius.

Jadi, jangan hanya bertanya:

"Apakah dia punya kebiasaan keuangan yang sama denganku?"

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

"Apakah kami memiliki nilai dasar yang masih bisa dipertemukan?"

Perbedaan Kebiasaan Keuangan yang Masih Bisa Sehat

Beberapa perbedaan sebenarnya cukup normal dalam hubungan.

Misalnya:

Satu orang lebih suka menabung, yang lain lebih suka menikmati uang.
Satu orang suka membuat anggaran, yang lain lebih fleksibel.
Satu orang suka membeli barang berkualitas, yang lain lebih suka mencari pilihan murah.
Satu orang fokus pada masa depan, yang lain lebih fokus pada pengalaman saat ini.
Satu orang senang berinvestasi, yang lain lebih nyaman menyimpan uang secara konservatif.

Perbedaan seperti ini masih dapat dikelola selama ada komunikasi dan kesepakatan.

Bahkan, kombinasi tersebut bisa menghasilkan keputusan yang lebih seimbang.

Orang yang terlalu konservatif dapat belajar mengambil risiko secara terukur.

Orang yang terlalu impulsif dapat belajar mempertimbangkan masa depan.

Orang yang terlalu fokus pada masa depan dapat belajar menikmati hasil kerja kerasnya.

Orang yang terlalu fokus pada hari ini dapat belajar membangun keamanan finansial.

Kapan Perbedaan Keuangan Mulai Menjadi Masalah?

Perbedaan mulai menjadi berbahaya ketika sudah menyentuh kepercayaan dan tanggung jawab.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:

1. Pasangan sering menyembunyikan pengeluaran.

Jika seseorang sengaja merahasiakan transaksi atau utang, masalahnya bukan sekadar gaya keuangan.

Itu sudah berkaitan dengan kepercayaan.

2. Salah satu pihak selalu dipaksa mengikuti gaya hidup pihak lain.

Hubungan yang sehat membutuhkan kompromi.

Bukan satu orang selalu mengalah.

3. Uang digunakan sebagai alat mengontrol pasangan.

Contohnya, satu pihak menentukan seluruh keputusan hanya karena merasa memiliki penghasilan lebih besar.

4. Perbedaan menyebabkan masalah finansial serius.

Misalnya utang terus bertambah, kebutuhan dasar tidak terpenuhi, atau tabungan bersama selalu digunakan tanpa kesepakatan.

5. Kalian tidak bisa membicarakan uang tanpa bertengkar.

Masalah finansial tidak akan hilang hanya karena topiknya dihindari.

Justru semakin lama tidak dibicarakan, semakin besar kemungkinan konflik muncul.

Kesimpulan

Memilih pasangan dengan kebiasaan keuangan yang berbeda bukan sesuatu yang aneh.

Dalam beberapa kasus, perbedaan tersebut justru dapat menjadi bagian dari daya tarik karena pasangan memberikan pengalaman, perspektif, atau kualitas yang tidak kita miliki.

Kamu mungkin tertarik kepada seseorang yang lebih spontan karena ia membuat hidup terasa lebih ringan.

Kamu mungkin tertarik kepada seseorang yang lebih hemat karena ia memberikan rasa aman.

Kamu mungkin menyukai seseorang yang berbeda karena bersamanya kamu menemukan sisi dirimu yang selama ini jarang muncul.

Namun, jangan sampai menganggap bahwa "berbeda berarti lebih cocok."

Dalam hubungan jangka panjang, yang paling menentukan bukan apakah kalian menghabiskan uang dengan cara yang sama, tetapi apakah kalian mampu membangun kesepakatan tentang bagaimana uang digunakan.

Karena pada akhirnya, uang hanyalah salah satu bentuk dari nilai hidup.

Di balik cara seseorang menabung, berbelanja, berinvestasi, atau menikmati uang, ada kebutuhan psikologis yang lebih dalam: rasa aman, kebebasan, pengalaman, kontrol, penghargaan diri, dan gambaran tentang masa depan.

Maka, sebelum menilai pasangan hanya dari kebiasaan finansialnya, cobalah bertanya lebih jauh:

"Apa arti uang bagi dirinya?"

Dan yang tidak kalah penting:

"Apa arti uang bagiku?"

Jawaban atas dua pertanyaan tersebut mungkin jauh lebih menentukan masa depan sebuah hubungan daripada sekadar mengetahui siapa yang lebih hemat dan siapa yang lebih boros.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore