seseorang yang bersikap kasar setelah kehadiran ai / foto: Magnific/airdone
Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul fenomena psikologis yang menarik: mengapa sebagian orang justru menjadi lebih kasar sejak terbiasa berinteraksi dengan AI?
Kekasaran ini tidak selalu muncul dalam bentuk perilaku ekstrem. Kadang bentuknya sangat sederhana, seperti memberikan perintah tanpa sopan santun, mudah memaki ketika jawaban AI tidak sesuai harapan, tidak sabar ketika terjadi kesalahan, atau terbiasa menggunakan bahasa yang sangat direktif dan agresif.
Memang, AI bukan manusia dan tidak memiliki perasaan seperti manusia. Karena itu, seseorang mungkin merasa tidak ada masalah ketika mengatakan "bodoh", "salah", "ulang lagi", atau memberikan perintah secara kasar kepada AI.
Masalahnya adalah perilaku yang terus diulang dapat menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan berkomunikasi tidak selalu berhenti ketika seseorang menutup layar.
Dalam psikologi, perilaku manusia dipengaruhi oleh banyak faktor: pembiasaan, lingkungan, norma sosial, persepsi terhadap lawan bicara, kontrol diri, hingga bagaimana seseorang memandang konsekuensi dari tindakannya.
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (14/9), terdapat enam alasan mengapa interaksi yang semakin sering dengan AI berpotensi membuat sebagian orang menjadi lebih kasar.
1. AI Menghilangkan Hambatan Sosial yang Biasanya Membuat Kita Bersikap Sopan
Ketika berbicara dengan manusia, terdapat berbagai "rem sosial" yang secara otomatis memengaruhi perilaku kita.
Kita biasanya berpikir sebelum mengatakan sesuatu karena mengetahui bahwa orang lain dapat tersinggung, marah, menjauh, atau memberikan penilaian negatif. Bahkan ketika sedang kesal, kita mungkin menahan kata-kata tertentu karena memahami adanya konsekuensi sosial.
Ketika berinteraksi dengan AI, rem tersebut menjadi jauh lebih lemah.
Seseorang dapat menulis:
"Ini jawaban paling bodoh yang pernah saya lihat. Ulangi."
Tanpa harus menghadapi ekspresi wajah, nada suara, atau reaksi emosional dari orang lain.
Tidak ada wajah yang menunjukkan kekecewaan. Tidak ada teman yang tiba-tiba diam. Tidak ada rekan kerja yang mengingat perkataan tersebut. Tidak ada hubungan sosial yang secara langsung terancam.
Kondisi semacam ini berkaitan dengan konsep online disinhibition, yaitu kecenderungan seseorang untuk berperilaku lebih bebas, terbuka, atau ekstrem ketika hambatan sosial berkurang dalam lingkungan digital.
Walaupun AI tidak sama dengan media sosial atau forum internet, prinsip psikologisnya memiliki kemiripan: ketika seseorang merasa tidak akan menerima konsekuensi sosial secara langsung, kontrol terhadap perilakunya dapat menurun.
Akibatnya, orang yang sebenarnya cukup sopan ketika berbicara dengan manusia dapat menunjukkan gaya komunikasi yang jauh lebih kasar ketika berhadapan dengan AI.
Masalahnya muncul ketika pola tersebut dilakukan berulang kali.
Manusia belajar melalui pengulangan. Jika seseorang terus-menerus terbiasa memberikan perintah dengan nada agresif, ia dapat semakin nyaman menggunakan pola bahasa tersebut.
Awalnya:
"Tolong perbaiki bagian ini."
Kemudian menjadi:
"Salah. Perbaiki."
Lalu:
"Ini jelek. Buat ulang."
Dan akhirnya:
"Kamu bodoh. Masa begini saja tidak bisa?"
Perubahannya mungkin terlihat kecil. Namun, bahasa adalah bagian dari perilaku sosial. Cara seseorang berbicara dapat menjadi kebiasaan yang kemudian terbawa ke lingkungan lain.
Bukan berarti setiap orang yang kasar kepada AI otomatis akan menjadi kasar kepada manusia. Hubungannya tidak sesederhana itu. Tetapi semakin sering seseorang berlatih menggunakan pola komunikasi tertentu, semakin besar kemungkinan pola tersebut menjadi sesuatu yang terasa normal baginya.
Dengan kata lain, AI dapat menjadi ruang tanpa konsekuensi sosial tempat seseorang melatih perilaku yang tidak selalu baik.
2. AI Membiasakan Manusia dengan Pola "Saya Memerintah, Mesin Melayani"
Salah satu perubahan terbesar yang dibawa AI adalah munculnya pola interaksi baru antara manusia dan teknologi.
Pada masa sebelumnya, seseorang harus mempelajari cara menggunakan perangkat lunak. Ada menu, tombol, formulir, perintah, dan prosedur yang harus diikuti.
Dengan AI generatif, hubungan tersebut menjadi lebih sederhana.
Manusia cukup mengatakan apa yang diinginkan.
"Ringkas artikel ini."
"Buatkan presentasi."
"Perbaiki kalimat ini."
"Carikan ide."
"Ubah menjadi bahasa Inggris."
AI kemudian berusaha memenuhi permintaan tersebut.
Kemudahan ini sangat bermanfaat. Namun secara psikologis, ada potensi perubahan cara seseorang memandang teknologi: teknologi menjadi sesuatu yang harus segera memenuhi keinginan.
Ketika sistem berhasil, pengguna merasa semuanya berjalan sebagaimana mestinya.
Tetapi ketika AI gagal memahami instruksi, muncul frustrasi.
"Kenapa tidak mengerti?"
"Sudah saya jelaskan!"
"Jangan bodoh."
Pola tersebut dapat diperkuat karena AI biasanya tidak melakukan perlawanan.
Manusia memberikan perintah → AI mencoba memperbaiki → manusia memberikan perintah baru.
Tidak ada negosiasi emosional seperti ketika kita meminta bantuan kepada manusia.
Dalam hubungan sosial, kita belajar bahwa orang lain memiliki keterbatasan, kebutuhan, dan perspektif sendiri. Kita perlu mempertimbangkan apakah mereka sedang sibuk, lelah, bingung, atau tidak memahami maksud kita.
AI tidak menuntut pertimbangan sosial yang sama.
Karena itu, penggunaan AI yang sangat intensif berpotensi membuat sebagian orang terbiasa dengan ekspektasi respons instan.
Ketika kemudian berhadapan dengan manusia yang membutuhkan waktu untuk berpikir, menjawab, atau melakukan pekerjaan, seseorang bisa menjadi kurang sabar.
Misalnya, seorang pekerja terbiasa mendapatkan draf dari AI dalam hitungan detik. Ketika rekan kerjanya membutuhkan satu jam untuk menyusun ide, ia mungkin berpikir:
"Kenapa lama sekali?"
Padahal manusia dan AI bekerja dengan cara yang berbeda.
Di sinilah muncul persoalan psikologis yang lebih dalam: AI dapat menaikkan standar kecepatan yang kita harapkan dari orang lain.
Jika tidak disadari, efisiensi teknologi dapat berubah menjadi ketidaksabaran terhadap manusia.
3. Manusia Dapat Mengalami Frustrasi Ketika AI Tidak Sesuai Harapan
Ada ironi dalam hubungan manusia dengan AI.
Semakin pintar AI terlihat, semakin tinggi ekspektasi manusia terhadapnya.
Ketika AI dapat menulis artikel, membuat kode, menjelaskan teori, dan menganalisis informasi, pengguna mulai membangun persepsi bahwa AI "seharusnya bisa melakukan semuanya".
Akibatnya, kesalahan kecil dapat terasa sangat menjengkelkan.
Bayangkan seseorang meminta AI membuat sesuatu dan mendapatkan hasil yang tidak sesuai.
Ia kemudian mencoba lagi.
Masih salah.
Ia mencoba lagi.
Masih belum sesuai.
Pada titik tertentu, rasa frustrasi dapat meningkat.
Dalam psikologi, frustrasi muncul ketika seseorang menghadapi hambatan terhadap tujuan yang ingin dicapai. Semakin penting tujuan tersebut dan semakin besar ekspektasi keberhasilan, semakin kuat pula frustrasi ketika tujuan terhambat.
AI dapat menciptakan kondisi tersebut karena interaksinya sangat cepat.
Pengguna berpikir:
"Saya sudah menjelaskan dengan jelas. Kenapa masih salah?"
Padahal AI tidak selalu memahami maksud manusia sebagaimana manusia memahami konteks manusia lain.
Ketika frustrasi meningkat, kontrol diri dapat menurun. Bahasa yang awalnya netral berubah menjadi agresif.
"Perbaiki."
"Salah lagi."
"Jangan ngawur."
"Kamu tidak berguna."
Yang menarik, kemarahan kepada AI sering kali tidak benar-benar ditujukan kepada AI sebagai entitas. AI menjadi sasaran yang aman untuk melampiaskan frustrasi.
Tidak ada konsekuensi sosial yang berarti.
Ini mirip dengan fenomena ketika seseorang membanting meja karena komputer mengalami masalah. Meja tidak bersalah. Komputer tidak memiliki perasaan. Tetapi benda tersebut menjadi target karena berada di depan kita ketika frustrasi muncul.
Dengan AI, mekanismenya bahkan lebih mudah karena AI memberikan respons.
Artinya, seseorang dapat benar-benar "bertengkar" dengan sistem.
Dan ketika seseorang sudah terbiasa merespons frustrasi dengan agresi dalam lingkungan tertentu, pola tersebut berpotensi memengaruhi cara ia mengelola frustrasi di situasi lain.
4. AI Dapat Membuat Manusia Melupakan Bahwa Kesopanan Juga Merupakan Kebiasaan
Banyak orang menganggap kesopanan hanya diperlukan ketika berbicara dengan manusia.
Secara logis, hal tersebut masuk akal.
AI tidak membutuhkan perasaan dihargai. AI juga tidak akan merasa sakit hati ketika pengguna tidak mengatakan "tolong" atau "terima kasih".
Namun, psikologi perilaku mengajarkan sesuatu yang penting: kita tidak hanya membentuk kebiasaan melalui apa yang kita pikirkan, tetapi juga melalui apa yang berulang kali kita lakukan.
Jika seseorang selalu menggunakan bahasa kasar ketika berbicara dengan AI, ia sedang melakukan latihan perilaku tertentu.
Misalnya, seseorang terbiasa menulis:
"Buat ulang."
"Jangan banyak omong."
"Salah."
"Cepat."
"Ini jelek."
Setiap kali menggunakan AI, ia mengulang pola tersebut.
Lama-kelamaan, pola bahasa itu dapat terasa semakin natural.
Ini berkaitan dengan proses pembiasaan. Perilaku yang sering dilakukan membutuhkan semakin sedikit usaha sadar.
Hal yang awalnya sengaja dilakukan dapat berubah menjadi otomatis.
Itulah alasan mengapa kebiasaan komunikasi perlu diperhatikan.
Kesopanan bukan hanya sesuatu yang diberikan kepada orang lain. Kesopanan juga merupakan cara melatih diri untuk mengendalikan impuls, memilih kata, dan mempertimbangkan dampak komunikasi.
Mengatakan "tolong" kepada AI mungkin tidak diperlukan agar AI bekerja lebih baik dalam setiap situasi. Tetapi membiasakan diri menggunakan bahasa yang baik tetap dapat memiliki fungsi psikologis bagi manusia.
Dengan kata lain, kita tidak selalu bersikap sopan hanya karena orang lain membutuhkan kesopanan tersebut.
Terkadang kita bersikap sopan karena kita ingin mempertahankan diri sebagai orang yang terbiasa berkomunikasi dengan baik.
Karena itu, persoalannya bukan apakah AI akan tersinggung.
AI tidak tersinggung.
Persoalannya adalah:
Apa yang terjadi pada kebiasaan kita ketika kita terus-menerus berbicara kasar kepada sesuatu yang tidak pernah membalasnya?
5. AI Dapat Memperkuat Rasa Berkuasa dan Mengurangi Kesadaran terhadap "Orang Lain"
Hubungan manusia dengan manusia selalu melibatkan dua pihak.
Ketika kita meminta bantuan kepada seseorang, kita sadar bahwa orang tersebut memiliki kehendak sendiri.
Ia dapat mengatakan tidak.
Ia dapat menolak.
Ia dapat meminta waktu.
Ia dapat mengatakan bahwa ia tidak mengerti.
AI hampir selalu berada dalam posisi yang berbeda.
Pengguna memberikan instruksi, kemudian sistem berusaha memberikan respons.
Hal ini dapat menciptakan pengalaman psikologis yang sangat kuat: pengalaman memiliki kendali.
Dalam banyak konteks, rasa memiliki kendali merupakan sesuatu yang positif. Manusia membutuhkan rasa otonomi dan kemampuan untuk mengendalikan lingkungan.
Namun, jika pengalaman "saya memberi perintah dan sesuatu langsung mengikuti" menjadi terlalu dominan, seseorang dapat menjadi kurang terbiasa dengan situasi ketika keinginannya tidak langsung dipenuhi.
Di dunia nyata, orang lain tidak bekerja seperti AI.
Seorang teman tidak harus menjawab pesan dalam lima detik.
Rekan kerja tidak selalu bisa langsung menyelesaikan permintaan.
Pasangan tidak harus mengikuti semua keinginan kita.
Anak tidak akan selalu memahami instruksi hanya karena kita mengatakannya dengan jelas.
Manusia memiliki kehendak sendiri.
Jika seseorang terlalu terbiasa dengan teknologi yang responsif, interaksi manusia dapat terasa lebih merepotkan.
Dan ketika kenyataan tidak sesuai ekspektasi, muncul ketidaksabaran.
Dalam bentuk ekstrem, seseorang dapat mulai memperlakukan manusia seolah-olah mereka juga harus selalu responsif, produktif, dan tersedia.
Padahal hubungan sosial membutuhkan kompromi.
Di sinilah AI menghadirkan paradoks.
Semakin mudah teknologi membuat kita mendapatkan sesuatu, semakin penting kemampuan kita untuk menerima bahwa manusia tidak selalu mudah diarahkan.
Kita membutuhkan kesabaran justru karena manusia bukan mesin.
6. AI Dapat Menjadi Cermin yang Memperkuat Perilaku Kita Sendiri
Alasan terakhir mungkin yang paling menarik.
AI sering kali bukan penyebab utama seseorang menjadi kasar.
Sebaliknya, AI dapat menjadi medium yang memperlihatkan dan memperkuat kecenderungan yang sudah ada dalam diri seseorang.
Orang yang sedang frustrasi mungkin menggunakan AI untuk melampiaskan frustrasinya.
Orang yang terbiasa memerintah mungkin memerintah AI.
Orang yang tidak sabar mungkin semakin tidak sabar ketika AI gagal memahami instruksi.
Orang yang terbiasa menghina mungkin lebih mudah menghina ketika merasa tidak mendapatkan jawaban yang diinginkan.
Dengan kata lain, AI tidak selalu menciptakan perilaku dari nol.
AI dapat menjadi semacam cermin.
Yang menarik adalah bahwa cermin tersebut memberikan respons.
Ketika pengguna kasar, AI tetap menjawab.
Ketika pengguna mengulang perintah, AI tetap mencoba.
Ketika pengguna marah, AI tidak pergi.
Karena itu, perilaku pengguna tidak mendapatkan konsekuensi sosial yang biasanya muncul dalam interaksi manusia.
Dalam hubungan manusia, perilaku kasar biasanya menghasilkan reaksi.
Orang lain dapat tersinggung.
Mereka dapat menjauh.
Mereka dapat membalas.
Mereka dapat mengatakan, "Tolong jangan bicara seperti itu kepada saya."
AI tidak melakukan hal tersebut dengan cara yang sama.
Akibatnya, seseorang dapat memperoleh pengalaman berulang bahwa bersikap kasar tidak menghalangi dirinya mendapatkan apa yang ia inginkan.
Secara psikologis, perilaku yang menghasilkan hasil yang diinginkan dapat semakin mudah diulang.
Ini merupakan prinsip dasar dalam pembelajaran perilaku: konsekuensi dapat memengaruhi kemungkinan suatu perilaku dilakukan kembali.
Jika seseorang kasar kepada AI dan AI tetap menyelesaikan tugasnya, orang tersebut tidak mendapatkan "biaya sosial" yang biasanya membuat manusia belajar untuk mengendalikan perilakunya.
Bahkan, kekasaran bisa terasa efektif.
Dan ketika sesuatu terasa efektif, manusia cenderung mengulanginya.
Jadi, Apakah AI Benar-Benar Membuat Manusia Menjadi Lebih Kasar?
Jawabannya tidak sesederhana "ya".
AI bukan penyebab tunggal perilaku kasar.
Kepribadian, lingkungan keluarga, budaya, stres, kondisi emosional, kebiasaan komunikasi, pengalaman sosial, dan berbagai faktor lainnya jauh lebih kompleks.
Bahkan, AI juga dapat digunakan untuk tujuan yang sebaliknya.
Seseorang dapat menggunakan AI untuk belajar berkomunikasi dengan lebih sopan, melatih kemampuan menulis, memahami perspektif orang lain, atau berlatih menghadapi konflik.
Jadi, persoalannya bukan semata-mata AI membuat manusia kasar.
Pertanyaan yang lebih tepat adalah:
Bagaimana pola interaksi dengan AI dapat memengaruhi kebiasaan psikologis manusia?
Dan di sinilah kita perlu berhati-hati.
Teknologi tidak hanya membantu kita melakukan sesuatu. Teknologi juga dapat mengubah cara kita terbiasa melakukan sesuatu.
Kita tidak hanya menggunakan alat.
Lambat laun, kita juga beradaptasi dengan karakteristik alat tersebut.
Jika teknologi membuat kita terbiasa mendapatkan jawaban secara instan, kita perlu secara sadar mempertahankan kesabaran terhadap manusia.
Jika teknologi membuat kita terbiasa memberikan perintah singkat, kita perlu tetap mengingat bahwa komunikasi manusia membutuhkan konteks dan empati.
Jika teknologi memberikan ruang untuk melampiaskan kemarahan tanpa konsekuensi sosial, kita perlu menyadari bahwa ketiadaan konsekuensi bukan berarti perilakunya tidak membentuk kebiasaan.
Kesimpulan
Kehadiran AI dapat memberikan manfaat yang luar biasa bagi manusia. Namun, seperti teknologi lainnya, AI juga dapat mengubah pola perilaku kita secara perlahan.
Ada setidaknya enam mekanisme psikologis yang membuat sebagian orang berpotensi menjadi lebih kasar dalam era AI:
Hilangnya hambatan sosial membuat seseorang lebih bebas mengeluarkan kata-kata kasar.
Pola "memerintah dan dilayani" dapat meningkatkan ekspektasi terhadap respons cepat.
Frustrasi akibat kesalahan AI dapat mendorong seseorang melampiaskan kemarahan.
Pengulangan bahasa kasar dapat mengubah cara komunikasi menjadi kebiasaan.
Rasa berkuasa dan kontrol dapat membuat manusia semakin tidak sabar terhadap keterbatasan orang lain.
AI sebagai cermin perilaku dapat memperkuat kecenderungan yang sudah ada dalam diri seseorang.
Pada akhirnya, mungkin persoalan terbesarnya bukan apakah kita harus berkata "tolong" kepada AI.
AI tidak membutuhkan kesopanan kita.
Kitalah yang membutuhkan kebiasaan untuk tetap menjadi manusia yang sopan.
Karena teknologi boleh semakin cepat, semakin pintar, dan semakin responsif. Tetapi manusia tetap harus belajar bahwa tidak semua hal dalam kehidupan dapat diperintah, dipercepat, atau dikendalikan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Skor Getafe vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Napoli vs Bologna di Liga Italia: Partenopei Menang Tipis di Stadio Maradona
Prediksi Skor Lille vs Troyes di Liga Prancis: Kans Calvin Verdonk Cs Pesta Gol di Kandang
Prediksi Skor RB Leipzig vs Hamburger SV di Liga Jerman: Die Roten Bullen Menang di Red Bull Arena
Profil Anthony Xie, Suami Audi Marissa yang Digugat Cerai: Beberapa Tahun Berkarier di Taiwan-China
Kanaya Whu Vokalis MK9 Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Turut Berduka
Prediksi Skor Celta Vigo vs Malaga di Liga Spanyol: Los Celestes Taklukkan Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Lecce vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Imbang di Via del Mare

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022