Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 14 September 2026 | 12.46 WIB

6 Cara Menyikapi Perbedaan Pandangan Politik dengan Pasangan atau Teman Menurut Psikologi

seseorang yang berbeda pandangan politik dengan pasangannya. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Perbedaan pandangan politik sebenarnya bukan sesuatu yang aneh. Dalam hubungan pertemanan, keluarga, bahkan hubungan romantis, sangat mungkin dua orang yang saling menyayangi memiliki pilihan atau pandangan politik yang berbeda.

Masalahnya, politik sering kali tidak berhenti pada perbedaan pendapat. Bagi sebagian orang, pilihan politik berkaitan erat dengan nilai, identitas, prinsip moral, bahkan gambaran tentang masa depan yang mereka inginkan. Karena itu, ketika seseorang mengetahui pasangan atau sahabatnya mendukung pilihan politik yang berlawanan, reaksinya bisa jauh lebih emosional dibandingkan ketika berbeda pendapat soal film, makanan, atau olahraga.

Perbedaan politik juga semakin mudah memicu konflik karena media sosial membuat kita terus-menerus berhadapan dengan opini orang lain. Sebuah percakapan yang awalnya hanya membahas kandidat atau kebijakan bisa berubah menjadi saling menyalahkan, meragukan kecerdasan satu sama lain, bahkan mempertanyakan apakah hubungan tersebut masih layak dipertahankan.

Namun, berbeda pandangan politik tidak selalu berarti hubungan harus berakhir.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (13/9), dalam psikologi, kemampuan mempertahankan hubungan yang sehat di tengah perbedaan sangat berkaitan dengan kemampuan mengelola emosi, memahami perspektif orang lain, menetapkan batasan, dan membedakan antara identitas seseorang dengan pendapat yang dimilikinya.

Jika kamu sedang menghadapi situasi seperti ini, berikut enam cara yang bisa dilakukan.

1. Bedakan antara "dia berbeda pendapat" dan "dia adalah orang yang buruk"

Salah satu kesalahan paling umum ketika menghadapi perbedaan politik adalah menganggap pilihan politik seseorang sebagai gambaran keseluruhan tentang karakter dirinya.

Misalnya, ketika pasangan memilih kandidat yang tidak kamu sukai, kamu mungkin secara spontan berpikir:

"Kok dia bisa mendukung orang seperti itu?"

Kemudian pikiran tersebut berkembang menjadi:

"Berarti dia tidak punya empati."

Atau:

"Kalau dia berpikir seperti itu, jangan-jangan selama ini aku salah menilainya."

Inilah saat perbedaan pendapat mulai berubah menjadi penilaian terhadap identitas seseorang.

Dalam psikologi sosial, manusia memang memiliki kecenderungan untuk mengelompokkan orang berdasarkan identitas kelompok, termasuk kelompok politik. Ketika seseorang merasa kelompoknya terancam atau diserang, respons emosional dapat menjadi lebih kuat. Kita cenderung melihat kelompok sendiri secara lebih positif dan kelompok lain secara lebih negatif.

Karena itu, langkah pertama adalah mencoba memisahkan orangnya dari pendapatnya.

Kamu bisa tidak setuju dengan pilihan politik pasanganmu tanpa harus menyimpulkan bahwa dia adalah manusia yang buruk. Begitu pula sebaliknya, pasanganmu boleh mempunyai alasan yang menurutnya masuk akal meskipun alasan tersebut tidak membuatmu setuju.

Cobalah mengubah cara berpikir dari:

"Dia mendukung pilihan yang salah, berarti dia salah sebagai manusia."

menjadi:

"Aku tidak setuju dengan pandangannya, tetapi aku ingin memahami bagaimana dia sampai pada kesimpulan tersebut."

Perubahan kecil dalam cara berpikir ini dapat membuat percakapan menjadi jauh lebih sehat.

Bukan berarti kamu harus menganggap semua pendapat benar. Kamu tetap boleh memiliki prinsip dan penilaian sendiri. Yang perlu dihindari adalah menjadikan satu perbedaan pendapat sebagai dasar untuk menghakimi keseluruhan pribadi seseorang.

2. Dengarkan untuk memahami, bukan untuk memenangkan perdebatan

Ketika membicarakan politik dengan orang yang berbeda pandangan, kita sering kali sebenarnya tidak sedang mendengarkan.

Kita sedang menunggu giliran untuk membalas.

Saat pasangan berbicara, pikiran kita mungkin sibuk mencari kelemahan argumennya. Ketika teman menjelaskan alasannya, kita langsung memikirkan data apa yang bisa digunakan untuk membantah.

Akibatnya, percakapan berubah menjadi kompetisi.

Padahal, mendengarkan secara aktif merupakan salah satu keterampilan penting dalam hubungan interpersonal.

Cobalah menggunakan pertanyaan yang membantu kamu memahami alasan di balik pandangan seseorang.

Misalnya:

"Apa yang paling membuat kamu yakin dengan pilihan itu?"

"Menurutmu, masalah terbesar dari kondisi sekarang apa?"

"Nilai apa yang paling penting buat kamu ketika menentukan pilihan politik?"

"Apa pengalaman yang membuat kamu berpikir seperti itu?"

Pertanyaan semacam ini berbeda dengan pertanyaan yang bertujuan menjebak.

Contohnya:

"Kamu benar-benar percaya berita seperti itu?"

atau:

"Kok bisa sih kamu masih percaya sama mereka?"

Kalimat tersebut biasanya terdengar seperti serangan, sehingga orang lain akan lebih mungkin bersikap defensif.

Tujuan mendengarkan bukan berarti kamu harus berubah pikiran.

Kamu bisa memahami alasan seseorang tanpa menyetujui kesimpulannya.

Ini adalah perbedaan penting.

Memahami bukan berarti menyetujui.

Ketika seseorang merasa didengarkan, kemungkinan mereka juga akan lebih bersedia mendengarkanmu. Dengan demikian, percakapan berubah dari "aku harus membuatmu kalah" menjadi "kita mencoba memahami cara berpikir masing-masing."

3. Jangan membicarakan politik ketika emosi sedang tinggi

Tidak semua percakapan harus dilakukan pada saat itu juga.

Jika pembicaraan politik mulai membuat kamu marah, tersinggung, atau merasa diserang, mengambil jeda justru bisa menjadi pilihan yang lebih dewasa.

Emosi yang intens dapat memengaruhi cara kita menafsirkan perkataan orang lain. Kalimat yang sebenarnya biasa saja bisa terdengar seperti penghinaan. Kita juga menjadi lebih mudah mengucapkan kata-kata yang sebenarnya tidak ingin kita katakan.

Karena itu, kenali tanda-tanda ketika percakapan mulai tidak sehat.

Misalnya:

suara mulai meninggi;
mulai saling memotong pembicaraan;
muncul keinginan untuk menyakiti atau mempermalukan lawan bicara;
pembahasan mulai menyerang karakter pribadi;
kamu merasa harus "menang";
percakapan mulai mengungkit kesalahan masa lalu;
tubuh terasa tegang dan sulit berpikir jernih.

Jika tanda-tanda tersebut muncul, tidak ada salahnya mengatakan:

"Aku merasa pembicaraan ini mulai terlalu emosional. Kita berhenti dulu dan lanjutkan kalau sudah sama-sama tenang."

Jeda bukan berarti kalah.

Jeda adalah cara untuk mencegah percakapan berubah menjadi konflik yang lebih besar.

Dalam hubungan yang sehat, pasangan atau teman seharusnya bisa memiliki ruang untuk mengatakan, "Aku belum siap membahas ini sekarang," tanpa dianggap sebagai bentuk penghindaran selamanya.

Kamu bisa kembali membicarakannya setelah suasana lebih tenang.

4. Cari nilai yang sama di balik perbedaan politik

Menariknya, dua orang bisa memiliki pilihan politik yang berbeda tetapi sebenarnya menginginkan hal yang serupa.

Keduanya mungkin sama-sama ingin kehidupan yang lebih aman.

Sama-sama ingin keluarga mereka sejahtera.

Sama-sama ingin mendapatkan pekerjaan yang layak.

Sama-sama ingin pendidikan yang lebih baik.

Sama-sama peduli terhadap masa depan anak-anak.

Perbedaannya mungkin terletak pada cara mereka percaya bahwa tujuan tersebut dapat dicapai.

Ini merupakan cara yang sangat berguna untuk melihat perbedaan politik.

Daripada hanya bertanya:

"Kenapa pilihan politik kita berbeda?"

cobalah bertanya:

"Apa sebenarnya yang sama-sama kita inginkan?"

Misalnya, kamu dan pasangan sama-sama ingin kondisi ekonomi membaik. Namun, kalian berbeda pandangan mengenai kebijakan yang dianggap paling efektif untuk mencapainya.

Dengan menemukan nilai bersama, kamu tidak lagi melihat pasangan sebagai "lawan politik".

Kamu mulai melihatnya sebagai seseorang yang mungkin memiliki tujuan yang sama tetapi mengambil kesimpulan berbeda.

Persamaan ini sangat penting dalam menjaga hubungan.

Hubungan romantis, persahabatan, dan hubungan keluarga tidak dibangun hanya dari kesamaan pendapat. Hubungan juga dibangun dari rasa aman, kepercayaan, kasih sayang, pengalaman bersama, serta kemampuan menghargai perbedaan.

5. Tetapkan batasan jika pembicaraan politik mulai mengganggu hubungan

Menghargai perbedaan tidak berarti kamu harus membicarakan politik setiap saat.

Ada kalanya batasan justru dibutuhkan agar hubungan tetap sehat.

Misalnya, kamu dan pasangan sudah mengetahui bahwa diskusi politik sering berakhir dengan pertengkaran. Kalian bisa membuat kesepakatan bahwa isu politik tidak dibahas ketika sedang lelah, menjelang tidur, atau ketika sedang menghadapi masalah lain.

Dengan teman, kamu juga bisa mengatakan:

"Aku menghargai pandangan politikmu, tapi aku tidak ingin setiap kali kita bertemu pembicaraannya selalu tentang politik."

Batasan seperti ini bukan berarti kamu tidak peduli.

Justru, batasan membantu menjaga hubungan agar tidak dikuasai oleh satu topik yang penuh muatan emosional.

Media sosial juga perlu mendapatkan perhatian.

Jika unggahan politik teman atau pasangan membuatmu terus-menerus marah, kamu tidak harus membaca semuanya. Kamu bisa mengurangi paparan terhadap konten tertentu, berhenti mengikuti akun yang memicu emosi, atau memilih untuk tidak terlibat dalam setiap perdebatan di kolom komentar.

Tidak semua perdebatan perlu diikuti.

Tidak semua pendapat perlu dijawab.

Dan tidak semua orang perlu diyakinkan.

Kadang-kadang, menjaga ketenangan diri jauh lebih berharga daripada memenangkan sebuah argumen di internet.

6. Tentukan mana yang sekadar perbedaan politik dan mana yang menyentuh nilai fundamental

Ini mungkin bagian yang paling penting, terutama dalam hubungan romantis.

Tidak semua perbedaan politik memiliki tingkat kepentingan yang sama.

Ada perbedaan yang relatif mudah ditoleransi. Misalnya, kamu dan pasangan berbeda pilihan kandidat tetapi tetap memiliki nilai dasar yang sama mengenai kejujuran, penghormatan, kesetaraan dalam hubungan, dan kebebasan untuk mengambil keputusan pribadi.

Namun, ada juga perbedaan yang menyentuh nilai-nilai fundamental.

Misalnya, pandangan politik seseorang ternyata berkaitan langsung dengan bagaimana ia memperlakukan pasangannya, kelompok tertentu, atau hak dasar orang lain.

Dalam kondisi seperti ini, masalahnya mungkin bukan lagi sekadar "beda pilihan politik".

Masalahnya adalah ketidakcocokan nilai.

Karena itu, jangan hanya bertanya:

"Apakah dia memilih kandidat yang sama denganku?"

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

"Apakah kita memiliki nilai dasar yang masih memungkinkan hubungan ini berjalan sehat?"

Dalam hubungan romantis, hal-hal seperti rasa hormat, kepercayaan, keamanan emosional, kesetaraan, cara menyelesaikan konflik, dan kebebasan untuk menjadi diri sendiri biasanya jauh lebih menentukan kualitas hubungan daripada kesamaan pilihan politik semata.

Sebaliknya, jika perbedaan pandangan politik membuat salah satu pihak merasa direndahkan, dikontrol, diintimidasi, atau tidak aman, situasinya perlu dilihat secara lebih serius.

Menghargai perbedaan bukan berarti harus bertahan dalam hubungan yang tidak sehat.

Ada perbedaan pendapat yang bisa dinegosiasikan.

Ada pula perbedaan nilai yang memang perlu dipertimbangkan dengan serius.

Pada akhirnya, hubungan tidak harus dibangun dari kesamaan dalam segala hal

Perbedaan pandangan politik memang bisa terasa berat, terutama ketika politik berkaitan dengan nilai yang sangat kita yakini.

Namun, hubungan yang sehat tidak selalu membutuhkan dua orang yang berpikir dengan cara yang sama.

Yang lebih penting adalah bagaimana keduanya memperlakukan satu sama lain ketika berbeda.

Apakah kamu masih bisa mendengarkan tanpa merendahkan?

Apakah kamu bisa menyampaikan ketidaksetujuan tanpa menghina?

Apakah kamu bisa mengubah pikiran ketika menemukan informasi baru?

Apakah kamu bisa mengatakan "aku tidak setuju" tanpa membuat orang lain merasa tidak berharga?

Dan yang tidak kalah penting, apakah kalian masih mampu mengingat bahwa di balik pilihan politik tersebut ada seorang manusia yang selama ini kamu cintai atau hargai?

Perbedaan pendapat tidak harus menjadi pertandingan.

Kamu tidak selalu harus membuat pasangan atau temanmu berpikir seperti kamu. Begitu pula mereka tidak harus mengubahmu agar hubungan bisa terus berjalan.

Kadang-kadang, kedewasaan dalam sebuah hubungan justru terlihat dari kemampuan mengatakan:

"Aku tetap tidak setuju denganmu, tetapi aku menghargai kamu sebagai manusia."

Pada akhirnya, tujuan komunikasi bukan selalu mencapai kesepakatan.

Terkadang, tujuan yang lebih realistis dan lebih sehat adalah mencapai saling memahami.

Dan dalam hubungan yang penting bagi kita, kemampuan untuk tetap saling menghormati meskipun berbeda bisa jauh lebih berharga daripada memenangkan satu perdebatan politik.
***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore