Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 14 September 2026 | 12.34 WIB

6 Cara Berbicara dengan Seseorang yang Kamu Khawatirkan Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?

seseorang yang berbicara dengan orang yang dikhawatirkan. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Ada kalanya kita melihat seseorang yang kita sayangi sedang berubah. Mereka mungkin menjadi lebih pendiam, mudah marah, kehilangan semangat, menarik diri dari lingkungan, atau terlihat seperti sedang menghadapi sesuatu yang tidak mereka ceritakan.

Sebagai orang yang peduli, tentu muncul keinginan untuk bertanya.

“Kamu sebenarnya kenapa?”

Namun, pertanyaan sederhana seperti itu tidak selalu membuat seseorang terbuka. Bahkan, jika disampaikan pada waktu atau dengan cara yang kurang tepat, mereka bisa merasa dihakimi, ditekan, atau justru semakin menutup diri.

Dalam psikologi, berbicara dengan seseorang yang sedang mengalami kesulitan bukan hanya tentang apa yang kita katakan, tetapi juga tentang bagaimana kita mendengarkan, bagaimana kita merespons emosi mereka, dan seberapa aman kita membuat mereka merasa.

Tujuannya bukan memaksa seseorang untuk bercerita atau langsung memberikan solusi. Terkadang, hal paling berarti yang bisa kita lakukan adalah menunjukkan bahwa mereka tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (13/9), terdapat enam cara berbicara dengan seseorang yang kamu khawatirkan berdasarkan prinsip komunikasi suportif dan psikologi interpersonal.

1. Mulailah dengan Menunjukkan Kepedulian, Bukan Tuduhan

Ketika kita khawatir terhadap seseorang, sangat mudah untuk memulai percakapan dengan kalimat yang terdengar seperti tuduhan.

Misalnya:

“Kamu kenapa sih akhir-akhir ini berubah banget?”

atau:

“Kamu sekarang jadi susah diajak bicara.”

Meskipun sebenarnya berasal dari rasa peduli, kalimat seperti ini dapat membuat seseorang merasa sedang diperiksa atau disalahkan.

Pendekatan yang lebih baik adalah menggunakan observasi dan kepedulian.

Misalnya:

“Aku memperhatikan akhir-akhir ini kamu kelihatan lebih banyak diam. Aku cuma ingin memastikan kamu baik-baik saja.”

Atau:

“Aku mungkin salah, tapi belakangan ini kamu kelihatan sedang banyak pikiran. Kalau memang ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan, aku siap mendengarkan.”

Perbedaannya terlihat kecil, tetapi secara psikologis cukup penting.

Alih-alih mengatakan “Kamu bermasalah”, kita menyampaikan “Aku melihat sesuatu dan aku peduli.”

Mengapa cara ini lebih baik?

Ketika seseorang merasa sedang dihakimi, mereka cenderung menjadi defensif. Mereka mungkin menyangkal, menghindari pembicaraan, atau memberikan jawaban singkat untuk mengakhiri percakapan.

Sebaliknya, pendekatan yang menunjukkan kepedulian dapat menciptakan rasa aman.

Kamu tidak harus menjadi psikolog untuk melakukan ini.

Cukup mulai dengan:

“Aku peduli sama kamu.”

Kadang-kadang, kalimat sederhana tersebut menjadi pintu masuk untuk percakapan yang jauh lebih dalam.

2. Gunakan Pertanyaan Terbuka dan Jangan Memaksa Mereka Bercerita

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan ketika mengkhawatirkan seseorang adalah terlalu banyak bertanya dalam waktu singkat.

“Kamu kenapa?”

“Masalah kerja?”

“Masalah keluarga?”

“Bertengkar sama pasangan?”

“Kenapa nggak cerita dari kemarin?”

Pertanyaan bertubi-tubi dapat membuat seseorang merasa seperti sedang diinterogasi.

Daripada menggunakan pertanyaan yang jawabannya hanya “iya” atau “tidak”, cobalah pertanyaan terbuka.

Contohnya:

“Apa yang akhir-akhir ini paling berat buat kamu?”

“Gimana keadaanmu belakangan ini?”

“Ada sesuatu yang sedang memenuhi pikiranmu?”

“Apa yang sedang kamu hadapi sekarang?”

Pertanyaan terbuka memberikan seseorang ruang untuk menentukan seberapa banyak mereka ingin bercerita.

Dan penting untuk diingat: seseorang tidak selalu siap bercerita saat kita siap mendengarkan.

Jika mereka mengatakan:

“Aku belum mau cerita.”

Jangan langsung menganggap mereka tidak mempercayai kamu.

Kamu bisa menjawab:

“Nggak apa-apa. Kamu nggak harus cerita sekarang. Kalau suatu saat kamu ingin bicara, aku ada.”

Respons seperti ini menunjukkan bahwa hubungan tersebut aman dan tidak bergantung pada seberapa banyak informasi yang mereka berikan.

Memberi ruang bukan berarti tidak peduli

Justru sebaliknya.

Dalam hubungan yang sehat, seseorang seharusnya memiliki kebebasan untuk menentukan kapan dan bagaimana mereka membuka diri.

Kamu bisa membuka pintu.

Tetapi kamu tidak perlu memaksa mereka masuk.

3. Dengarkan untuk Memahami, Bukan untuk Segera Memberikan Solusi

Ketika seseorang bercerita tentang masalahnya, naluri kita sering langsung mencari solusi.

Mereka mengatakan:

“Aku capek banget sama pekerjaan.”

Kita langsung menjawab:

“Kalau begitu, resign aja.”

Mereka mengatakan:

“Aku merasa gagal.”

Kita menjawab:

“Jangan berpikir begitu. Kamu sebenarnya hebat.”

Maksud kita mungkin baik.

Namun, tidak semua orang yang bercerita sedang meminta solusi.

Terkadang mereka hanya ingin didengarkan dan dipahami.

Dalam psikologi komunikasi, kemampuan untuk mendengarkan dengan penuh perhatian merupakan bagian penting dari komunikasi yang suportif. Kita berusaha memahami pengalaman orang lain sebelum terburu-buru memperbaikinya.

Cobalah memberikan respons seperti:

“Kedengarannya itu memang melelahkan.”

“Aku bisa mengerti kenapa kamu merasa tertekan setelah mengalami hal seperti itu.”

“Jadi selama ini kamu merasa harus menghadapi semuanya sendirian?”

Respons seperti ini tidak berarti kita harus setuju dengan semua pemikiran mereka.

Kita hanya menunjukkan bahwa kita berusaha memahami pengalaman emosional mereka.

Bedakan validasi dan persetujuan

Ini merupakan hal yang sangat penting.

Memvalidasi perasaan seseorang bukan berarti mengatakan bahwa semua tindakan atau pemikirannya benar.

Misalnya, seseorang berkata:

“Aku merasa semua orang membenciku.”

Kamu tidak harus menjawab:

“Iya, semua orang memang membencimu.”

Kamu bisa mengatakan:

“Aku bisa memahami kenapa kamu merasa seperti itu setelah kejadian yang kamu alami.”

Kita mengakui perasaannya, bukan memperkuat kesimpulan yang mungkin belum tentu benar.

4. Jangan Mengecilkan Perasaan Mereka dengan Kalimat “Ada yang Lebih Susah”

Ketika seseorang sedang mengalami masalah, kita terkadang mencoba membuat mereka merasa lebih baik dengan membandingkan masalahnya dengan masalah orang lain.

Misalnya:

“Kamu masih beruntung.”

“Banyak orang yang masalahnya jauh lebih berat.”

“Jangan terlalu dipikirkan.”

“Kamu harus bersyukur.”

“Ah, itu sebenarnya masalah kecil.”

Kalimat tersebut mungkin dimaksudkan untuk memberikan perspektif.

Namun, bagi seseorang yang sedang kesulitan, respons seperti itu dapat membuat pengalaman emosional mereka terasa tidak valid.

Bayangkan seseorang mengatakan:

“Aku benar-benar kewalahan.”

Lalu kita menjawab:

“Kamu harusnya bersyukur. Banyak orang yang ingin punya hidup seperti kamu.”

Masalahnya tidak menjadi lebih ringan hanya karena ada orang lain yang mengalami sesuatu yang lebih berat.

Lebih baik akui terlebih dahulu apa yang mereka rasakan

Misalnya:

“Aku tahu mungkin masalah ini terlihat kecil dari luar, tapi aku bisa melihat bahwa ini benar-benar berat buat kamu.”

Setelah mereka merasa didengar, barulah kita dapat membantu mereka melihat pilihan atau perspektif lain.

Prinsip sederhananya adalah:

Dengarkan dulu, arahkan kemudian.

Jangan buru-buru memperbaiki emosi seseorang yang sebenarnya sedang membutuhkan teman untuk melewati emosinya.

5. Tanyakan Apa yang Mereka Butuhkan, Jangan Berasumsi

Setiap orang menghadapi masalah dengan cara berbeda.

Ada orang yang ingin diberi nasihat.

Ada yang hanya ingin didengarkan.

Ada yang membutuhkan bantuan praktis.

Ada pula yang sebenarnya hanya ingin ditemani.

Karena itu, daripada menebak-nebak, kamu bisa bertanya langsung:

“Kamu mau aku dengarkan saja, atau kamu ingin kita cari solusinya bersama?”

Pertanyaan sederhana ini dapat mengubah kualitas percakapan.

Misalnya, seseorang baru kehilangan pekerjaan.

Kamu mungkin berpikir bahwa mereka membutuhkan bantuan mencari lowongan.

Namun, mungkin saat itu mereka belum siap memikirkan pekerjaan baru. Mereka masih berusaha memahami perasaan kecewa dan takut yang sedang mereka alami.

Dengan bertanya terlebih dahulu, kita memberikan mereka kontrol terhadap percakapan.

Bentuk dukungan tidak selalu berupa nasihat

Kadang bantuan terbaik justru sangat sederhana.

Misalnya:

“Mau aku temani?”

“Mau kita jalan sebentar?”

“Aku bisa bantu bagian yang mana?”

“Mau makan dulu?”

Dukungan emosional dan dukungan praktis sama-sama memiliki nilai.

Yang penting adalah menyesuaikannya dengan kebutuhan orang tersebut.

6. Jika Kekhawatiranmu Serius, Bicarakan dengan Jujur dan Ajak Mencari Bantuan

Ada kondisi ketika kekhawatiran kita tidak lagi sekadar melihat seseorang sedang mengalami hari yang buruk.

Misalnya, seseorang terlihat sangat tertekan dalam waktu lama, menarik diri secara ekstrem, kehilangan fungsi sehari-hari, atau mengatakan sesuatu yang membuat kita khawatir tentang keselamatannya.

Dalam situasi seperti ini, jangan merasa bahwa kamu harus menangani semuanya sendirian.

Kamu dapat mengatakan:

“Aku benar-benar peduli sama kamu, dan aku merasa masalah ini mungkin terlalu berat kalau kamu hadapi sendirian.”

Kemudian tawarkan bantuan untuk mencari dukungan yang lebih tepat.

Misalnya:

“Kalau kamu mau, kita bisa cari psikolog bersama.”

atau:

“Aku bisa menemani kamu mencari bantuan profesional.”

Yang perlu diingat, mengajak seseorang mencari bantuan profesional bukan berarti mengatakan bahwa mereka “gila” atau “lemah”.

Justru mencari bantuan ketika masalah terasa terlalu berat merupakan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.

Bagaimana jika seseorang mengatakan tidak ingin mencari bantuan?

Selama tidak ada ancaman keselamatan yang mendesak, kita dapat menghormati keputusan mereka sambil tetap menjaga hubungan.

Misalnya:

“Aku menghargai kalau kamu belum siap. Tapi aku tetap di sini, dan kalau suatu saat kamu berubah pikiran, aku bisa menemanimu.”

Namun, apabila seseorang menyampaikan keinginan untuk menyakiti diri, mengakhiri hidup, atau berada dalam bahaya langsung, situasinya berbeda.

Dalam kondisi tersebut, jangan hanya mengandalkan percakapan pribadi.

Prioritaskan keselamatan. Tetap bersama mereka bila memungkinkan, libatkan orang yang dapat membantu secara langsung, dan hubungi layanan darurat atau layanan krisis setempat sesuai situasinya.

Hal yang Sebaiknya Dihindari Saat Berbicara dengan Seseorang yang Kamu Khawatirkan

Selain mengetahui apa yang sebaiknya dilakukan, penting juga memahami beberapa respons yang dapat membuat seseorang semakin tertutup.

1. “Kamu terlalu banyak berpikir.”

Kalimat ini dapat membuat seseorang merasa bahwa emosinya merupakan masalah.

Lebih baik:

“Apa yang membuat pikiran itu terus muncul?”

2. “Sudahlah, jangan dipikirkan.”

Bagi orang yang sedang mengalami masalah, berhenti memikirkan sesuatu tidak selalu semudah memberikan perintah.

Lebih baik:

“Aku tahu mungkin sulit untuk berhenti memikirkannya. Mau cerita apa yang paling mengganggu?”

3. “Kalau aku jadi kamu, aku akan…”

Hati-hati dengan kalimat ini.

Kamu tidak berada dalam posisi yang sama persis dengan mereka, sehingga solusi yang berhasil untukmu belum tentu cocok untuk mereka.

Lebih baik:

“Menurutmu, apa pilihan yang paling mungkin dilakukan sekarang?”

4. “Kamu harus kuat.”

Kalimat ini terdengar positif, tetapi terkadang dapat membuat seseorang merasa tidak diperbolehkan merasa lelah atau rapuh.

Lebih baik:

“Kamu nggak harus terlihat kuat setiap saat. Kalau kamu butuh seseorang, aku ada.”

Percakapan yang Baik Tidak Harus Sempurna

Banyak orang takut berbicara dengan seseorang yang sedang mengalami masalah karena takut mengatakan sesuatu yang salah.

Padahal, percakapan suportif tidak harus sempurna.

Kamu mungkin salah memilih kata.

Mungkin kamu tidak tahu harus menjawab apa.

Mungkin orang tersebut menangis dan kamu merasa canggung.

Tidak apa-apa.

Kamu bisa mengatakan:

“Aku sebenarnya nggak tahu harus bilang apa, tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku peduli.”

Kalimat seperti itu sering kali jauh lebih berarti daripada memberikan nasihat panjang yang tidak diminta.

Yang paling penting bukan menjadi orang yang memiliki semua jawaban.

Yang penting adalah menjadi orang yang bersedia hadir, mendengarkan, dan tidak menghakimi.

Enam Prinsip yang Bisa Kamu Ingat

Jika kamu ingin mengingatnya dengan sederhana, gunakan enam prinsip berikut:

1. Peduli, bukan menuduh.
Mulai percakapan dengan perhatian, bukan kritik.

2. Tanyakan, jangan menginterogasi.
Gunakan pertanyaan terbuka dan berikan ruang.

3. Dengarkan, jangan buru-buru memperbaiki.
Tidak semua cerita membutuhkan solusi.

4. Validasi, jangan mengecilkan.
Perasaan seseorang tetap nyata meskipun masalahnya terlihat berbeda dari sudut pandang kita.

5. Tanyakan kebutuhannya.
Jangan berasumsi bahwa semua orang membutuhkan jenis bantuan yang sama.

6. Ketahui kapan harus mencari bantuan.
Jika masalah terlihat serius atau menyangkut keselamatan, jangan mencoba menangani semuanya sendirian.

Penutup

Kekhawatiran terhadap seseorang sering kali muncul karena kita peduli.

Tetapi kepedulian saja belum tentu cukup. Cara kita menyampaikan kepedulian juga penting.

Seseorang yang sedang mengalami masa sulit mungkin tidak membutuhkan orang yang langsung memberikan jawaban. Mereka mungkin membutuhkan seseorang yang bersedia duduk di samping mereka, mendengarkan tanpa menghakimi, dan mengatakan:

“Kamu nggak harus menghadapi ini sendirian.”

Dalam banyak situasi, percakapan yang paling membantu bukanlah percakapan yang memberikan solusi tercepat.

Melainkan percakapan yang membuat seseorang merasa aman untuk menjadi jujur.

Dan terkadang, menjadi tempat yang aman bagi seseorang untuk berbicara merupakan bentuk bantuan yang jauh lebih besar daripada yang kita sadari.
***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore