Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 28 September 2026 | 21.32 WIB

Jika Kamu Ingin Lebih Produktif Saat Bekerja dari Rumah, Lakukan 10 Tips Menurut Psikologi

seseorang yang produktif saat bekerja di rumah / foto: Magnific/suriyawutsuriya

 

JawaPos.com - Bekerja dari rumah atau work from home (WFH) terlihat sederhana. Tidak perlu menghadapi kemacetan, tidak harus terburu-buru mengejar transportasi, dan kamu bisa bekerja dari tempat yang lebih nyaman. Namun, kenyataannya, bekerja dari rumah juga memiliki tantangan tersendiri.

Di rumah, batas antara waktu bekerja dan waktu pribadi menjadi lebih kabur. Televisi, media sosial, pekerjaan rumah tangga, anggota keluarga, bahkan keinginan untuk sekadar berbaring di tempat tidur dapat mengganggu konsentrasi.

Karena itu, produktivitas saat bekerja dari rumah bukan hanya persoalan memiliki laptop yang bagus atau membuat daftar tugas. Ada faktor psikologis yang ikut menentukan bagaimana seseorang memulai pekerjaan, mempertahankan konsentrasi, mengelola energi, dan menyelesaikan tugas.

Kabar baiknya, banyak kebiasaan sederhana yang dapat membantu membuat aktivitas bekerja dari rumah menjadi lebih terstruktur.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (27/9), terdapat 10 tips menurut prinsip-prinsip psikologi yang dapat kamu terapkan agar lebih produktif saat bekerja dari rumah.

1. Buat Rutinitas Pagi yang Konsisten

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan ketika bekerja dari rumah adalah menganggap bahwa karena tidak perlu pergi ke kantor, kita tidak membutuhkan rutinitas pagi.

Padahal, rutinitas dapat membantu otak mengenali bahwa waktu untuk bekerja telah dimulai.

Ketika setiap hari kamu melakukan urutan aktivitas yang relatif sama—misalnya bangun, mandi, sarapan, berpakaian, kemudian duduk di meja kerja—aktivitas tersebut dapat menjadi semacam sinyal psikologis untuk memasuki kondisi kerja.

Kamu tidak harus membuat rutinitas yang rumit.

Misalnya:

Bangun pada waktu yang relatif sama.
Rapikan tempat tidur.
Mandi dan berpakaian.
Sarapan atau minum kopi.
Berjalan kaki sebentar.
Kemudian mulai bekerja.

Yang penting adalah konsistensi.

Bahkan jika kamu bekerja dari kamar tidur, usahakan tetap melakukan sesuatu yang menjadi pembeda antara "waktu pribadi" dan "waktu kerja".

Mengapa ini membantu?

Otak manusia sangat dipengaruhi oleh pola dan konteks. Ketika sebuah aktivitas dilakukan berulang kali dalam kondisi yang sama, lingkungan dan urutan aktivitas tersebut dapat menjadi petunjuk untuk memulai perilaku berikutnya.

Dengan kata lain, kamu tidak harus menunggu munculnya motivasi.

Bangun rutinitas terlebih dahulu, lalu biarkan rutinitas membantu memulai pekerjaan.

2. Jangan Bekerja dari Tempat yang Biasanya Digunakan untuk Bersantai

Jika memungkinkan, pisahkan tempat bekerja dari tempat beristirahat.

Misalnya, gunakan:

meja kerja,
sudut ruangan tertentu,
meja makan pada jam tertentu,
atau ruangan khusus sebagai ruang kerja.

Hindari menjadikan tempat tidur sebagai meja kerja utama.

Mengapa?

Karena otak mengasosiasikan lingkungan dengan perilaku tertentu.

Tempat tidur biasanya berkaitan dengan tidur dan relaksasi. Sofa mungkin berkaitan dengan menonton film atau bermain ponsel. Sementara meja kerja seharusnya menjadi tempat yang diasosiasikan dengan aktivitas produktif.

Prinsip ini berkaitan dengan stimulus control, yaitu bagaimana lingkungan dapat menjadi petunjuk yang memengaruhi perilaku.

Jika setiap hari kamu bekerja sambil berbaring di tempat tidur, kamu mungkin akan lebih mudah merasa mengantuk atau terdistraksi.

Sebaliknya, ketika kamu memiliki tempat khusus untuk bekerja, otak perlahan belajar:

"Ketika berada di sini, waktunya bekerja."

Tidak perlu memiliki kantor pribadi yang mahal.

Meja kecil di sudut kamar pun sudah cukup.

Yang lebih penting adalah konsistensi penggunaannya.

3. Tentukan 1–3 Prioritas Utama Setiap Hari

Salah satu penyebab produktivitas rendah adalah terlalu banyak pekerjaan yang ingin diselesaikan sekaligus.

Pagi hari kamu membuat daftar 15 tugas.

Kemudian semuanya terlihat penting.

Akibatnya, kamu menghabiskan banyak waktu untuk berpindah dari satu tugas ke tugas lain tanpa benar-benar menyelesaikan sesuatu.

Cobalah menggunakan pendekatan yang lebih sederhana.

Setiap pagi, tanyakan kepada diri sendiri:

"Jika hari ini saya hanya bisa menyelesaikan tiga hal, apa yang paling penting?"

Kemudian pilih 1–3 prioritas utama.

Contohnya:

Prioritas hari ini:

Menyelesaikan laporan penjualan.
Membalas email klien.
Membuat presentasi untuk rapat besok.

Tugas lain tetap boleh dikerjakan, tetapi tiga hal tersebut menjadi fokus utama.

Mengapa ini efektif?

Perhatian manusia memiliki kapasitas terbatas. Semakin banyak hal yang bersaing untuk mendapatkan perhatian, semakin sulit mempertahankan fokus.

Dengan mengurangi jumlah prioritas, kamu mengurangi beban mental dan membuat tujuan hari itu menjadi lebih jelas.

Produktivitas bukan selalu tentang melakukan lebih banyak hal.

Sering kali produktivitas justru berarti mengetahui hal mana yang tidak perlu dikerjakan sekarang.

4. Gunakan Teknik "Mulai 5 Menit"

Pernah mengalami situasi ketika sebenarnya tahu harus bekerja, tetapi sulit sekali untuk mulai?

Kamu membuka laptop.

Kemudian membuka media sosial.

Memeriksa pesan.

Membuat kopi.

Mengecek berita.

Lalu tiba-tiba 30 menit berlalu.

Masalahnya terkadang bukan kemampuan menyelesaikan pekerjaan, tetapi hambatan untuk memulainya.

Salah satu strategi sederhana adalah mengatakan kepada diri sendiri:

"Saya hanya akan mengerjakannya selama lima menit."

Misalnya kamu harus menulis laporan sebanyak 10 halaman.

Jangan berpikir:

"Saya harus menyelesaikan 10 halaman hari ini."

Coba ubah menjadi:

"Saya hanya akan membuka dokumen dan menulis selama lima menit."

Setelah lima menit, kamu boleh berhenti.

Namun, sering kali setelah pekerjaan dimulai, hambatan psikologis tersebut menjadi lebih kecil sehingga kamu terdorong untuk melanjutkannya.

Strategi ini berkaitan dengan konsep behavioral activation dan pengurangan hambatan awal suatu perilaku.

Intinya sederhana:

Jangan selalu menunggu motivasi untuk mulai. Mulailah sedikit agar motivasi dan momentum bisa mengikuti.

5. Matikan Notifikasi yang Tidak Penting

Salah satu musuh terbesar produktivitas saat WFH adalah notifikasi.

Ping!

Ada pesan WhatsApp.

Ping!

Ada email.

Ping!

Ada komentar di media sosial.

Meskipun hanya membutuhkan beberapa detik untuk melihat notifikasi, perhatianmu dapat terpecah dari pekerjaan utama.

Masalahnya bukan hanya durasi membuka ponsel.

Ada biaya perpindahan perhatian.

Ketika sedang membaca dokumen lalu beralih ke pesan, otak harus kembali menyesuaikan diri ketika kembali ke dokumen.

Karena itu, saat mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi:

matikan notifikasi media sosial,
aktifkan mode Do Not Disturb,
letakkan ponsel jauh dari jangkauan,
tutup tab browser yang tidak diperlukan,
dan gunakan satu perangkat atau layar untuk tugas utama jika memungkinkan.

Kamu juga bisa menentukan waktu tertentu untuk memeriksa pesan.

Misalnya:

09.00–11.00: fokus bekerja
11.00–11.15: cek pesan
11.15–13.00: kembali fokus

Dengan begitu, kamu tidak harus memeriksa ponsel setiap kali muncul notifikasi.

6. Gunakan Sistem Kerja dengan Jeda

Bekerja selama berjam-jam tanpa berhenti bukan selalu berarti lebih produktif.

Otak membutuhkan kesempatan untuk beristirahat.

Salah satu pendekatan populer adalah Pomodoro Technique, yaitu bekerja dalam interval tertentu kemudian mengambil jeda.

Contohnya:

25 menit bekerja → 5 menit istirahat

Setelah beberapa siklus, ambil istirahat yang lebih panjang.

Namun, kamu tidak harus terpaku pada 25 menit.

Untuk pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi, kamu mungkin lebih cocok menggunakan:

50 menit bekerja → 10 menit istirahat

Atau:

90 menit bekerja → 15–20 menit istirahat.

Tujuannya bukan mencari angka yang sempurna.

Tujuannya adalah menciptakan siklus:

fokus → istirahat → fokus → istirahat.

Saat istirahat, sebaiknya jangan selalu menggantinya dengan scrolling media sosial.

Lebih baik:

berdiri,
berjalan,
minum air,
melihat ke luar jendela,
melakukan peregangan,
atau sekadar menjauh dari layar.

Istirahat yang benar-benar memberikan pemulihan dapat membantu menjaga kualitas perhatian sepanjang hari.

7. Gunakan "Implementation Intention"

Ini adalah salah satu strategi psikologi yang sangat menarik.

Daripada hanya mengatakan:

"Besok saya akan bekerja lebih produktif."

Buat rencana yang lebih spesifik:

"Jika pukul 08.30, maka saya akan duduk di meja dan mulai mengerjakan laporan."

Formatnya adalah:

Jika X terjadi, maka saya akan melakukan Y.

Contoh lainnya:

"Jika saya mulai ingin membuka Instagram saat bekerja, maka saya akan menutupnya dan kembali ke dokumen."

Atau:

"Jika saya selesai sarapan, maka saya langsung membuka daftar pekerjaan."

Strategi seperti ini dikenal sebagai implementation intention.

Keuntungannya adalah kamu tidak harus mengambil keputusan baru setiap kali menghadapi situasi tertentu.

Responsnya sudah direncanakan sebelumnya.

Misalnya:

Jika ingin membuka media sosial → kembali ke tugas.

Jika merasa malas memulai → bekerja selama lima menit.

Jika selesai satu blok kerja → mengambil istirahat.

Semakin jelas aturan perilakunya, semakin mudah untuk menjalankannya secara konsisten.

8. Jangan Mengandalkan Motivasi Saja

Banyak orang berpikir:

"Kalau saya sedang termotivasi, saya bisa bekerja dengan sangat produktif."

Masalahnya, motivasi berubah-ubah.

Ada hari ketika kamu sangat bersemangat.

Ada hari ketika kamu merasa biasa saja.

Ada pula hari ketika kamu sama sekali tidak ingin bekerja.

Jika produktivitas hanya bergantung pada motivasi, performa pekerjaan juga akan sangat fluktuatif.

Karena itu, lebih baik membangun sistem.

Misalnya:

waktu mulai kerja tetap,
meja kerja selalu siap,
daftar prioritas sudah dibuat,
notifikasi sudah dimatikan,
waktu istirahat sudah ditentukan,
dan pekerjaan besar dipecah menjadi tugas kecil.

Dengan sistem tersebut, kamu tidak harus selalu merasa termotivasi.

Kamu cukup mengikuti proses yang sudah dibuat.

Ada prinsip sederhana yang bisa digunakan:

Motivasi membantu kita mulai, tetapi sistem membantu kita konsisten.

9. Tetapkan Batas antara Waktu Kerja dan Waktu Pribadi

Ini merupakan salah satu tantangan terbesar bekerja dari rumah.

Ketika kantor dan rumah berada di tempat yang sama, pekerjaan bisa terasa tidak pernah benar-benar selesai.

Laptop masih menyala.

Email masih masuk.

Pesan dari rekan kerja muncul pada malam hari.

Kemudian kamu berpikir:

"Sekalian saja saya selesaikan."

Jika terus dilakukan, waktu istirahat akan semakin berkurang.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat membuat pekerjaan terasa terus-menerus hadir dalam pikiran.

Karena itu, buat ritual untuk mengakhiri hari kerja.

Misalnya:

Periksa daftar pekerjaan.
Tandai apa yang sudah selesai.
Catat tugas yang harus dilanjutkan besok.
Tutup laptop.
Rapikan meja.
Ganti pakaian.
Keluar dari ruang kerja.

Ritual tersebut memberikan sinyal bahwa:

Hari kerja sudah selesai.

Jika memungkinkan, jangan terus memeriksa email pekerjaan setelah jam kerja kecuali memang ada kebutuhan khusus.

Produktivitas bukan berarti bekerja tanpa batas.

Kemampuan untuk berhenti juga merupakan bagian dari produktivitas.

10. Jaga Tidur, Gerak Tubuh, dan Kondisi Fisik

Tips produktivitas sering kali terlalu fokus pada aplikasi, to-do list, atau teknik manajemen waktu.

Padahal, kondisi tubuh juga sangat berpengaruh terhadap kemampuan berkonsentrasi.

Jika tidur kurang, tubuh lelah, jarang bergerak, dan terus berada di depan layar, mempertahankan fokus akan menjadi lebih sulit.

Karena itu, jangan hanya mengatur pekerjaan.

Atur juga fondasi fisiknya.

Tidur yang cukup

Usahakan memiliki jadwal tidur dan bangun yang relatif konsisten.

Bergerak secara berkala

Jika duduk selama berjam-jam, berdirilah dan bergerak secara berkala.

Kamu tidak selalu membutuhkan olahraga berat.

Berjalan kaki sebentar atau melakukan peregangan juga dapat membantu memecah periode duduk yang panjang.

Perhatikan makanan dan minuman

Jangan bekerja seharian tanpa makan dan minum dengan baik.

Berikan waktu untuk keluar rumah

Jika memungkinkan, luangkan waktu untuk berjalan di luar atau mendapatkan udara segar.

Tubuh dan pikiran bukan dua hal yang sepenuhnya terpisah.

Kondisi fisik yang lebih baik dapat mendukung kemampuan psikologis yang diperlukan untuk bekerja dengan baik.

Bonus: Gunakan Rumus Sederhana Ini untuk WFH

Jika kamu ingin menerapkan semua tips di atas tanpa merasa terlalu rumit, gunakan sistem sederhana berikut.

Sebelum bekerja

1. Tentukan 1–3 prioritas.

Tulis pekerjaan paling penting hari ini.

2. Siapkan lingkungan.

Rapikan meja, tutup tab yang tidak diperlukan, dan jauhkan ponsel.

3. Tentukan waktu mulai.

Contoh:

"Pukul 08.30 saya mulai bekerja."

Saat bekerja

4. Kerjakan satu tugas utama.

Hindari berpindah-pindah pekerjaan tanpa alasan.

5. Gunakan blok fokus.

Misalnya 50 menit fokus dan 10 menit istirahat.

6. Kurangi gangguan.

Matikan notifikasi yang tidak penting.

7. Gunakan aturan lima menit.

Jika sulit mulai, kerjakan tugas tersebut hanya selama lima menit.

Setelah bekerja

8. Evaluasi pekerjaan.

Apa yang selesai?

Apa yang belum?

9. Tentukan langkah pertama untuk besok.

Dengan begitu, kamu tidak perlu memulai dari keadaan "kosong" pada hari berikutnya.

10. Tutup hari kerja.

Tutup laptop dan beralih ke aktivitas pribadi.

Kesimpulan

Bekerja dari rumah bukan sekadar memindahkan meja kantor ke rumah. Ada perubahan lingkungan, rutinitas, interaksi sosial, dan pola perhatian yang dapat memengaruhi cara kita bekerja.

Karena itu, menjadi produktif saat WFH membutuhkan lebih dari sekadar motivasi.

Kamu perlu membangun lingkungan dan kebiasaan yang membantu otak melakukan hal yang tepat pada waktu yang tepat.

Sepuluh strategi yang bisa kamu mulai adalah:

Buat rutinitas pagi yang konsisten.
Pisahkan tempat kerja dan tempat bersantai.
Tentukan 1–3 prioritas utama.
Gunakan aturan mulai lima menit.
Matikan notifikasi yang tidak penting.
Bekerja dalam blok fokus dengan jeda.
Gunakan implementation intention.
Bangun sistem, bukan hanya mengandalkan motivasi.
Buat batas yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Jaga tidur, aktivitas fisik, dan kondisi tubuh.

Yang terpenting, jangan mencoba menerapkan semuanya sekaligus.

Pilih dua atau tiga kebiasaan yang paling mudah dilakukan. Jalankan secara konsisten selama beberapa minggu, kemudian evaluasi hasilnya.

Produktivitas yang berkelanjutan bukan tentang memaksa diri bekerja lebih lama. Produktivitas adalah tentang menciptakan kondisi yang memungkinkan kita bekerja dengan fokus, mengelola energi, menyelesaikan hal-hal penting, dan tetap memiliki kehidupan di luar pekerjaan.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore