Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 14 September 2026 | 12.28 WIB

6 Cara Membantu Si Kecil Cepat Menangkap Pelajaran di Kelas Menurut Psikologi

seseorang yang memiliki daya tangkap yang cepat. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Pernahkah kamu melihat ada anak yang seolah-olah bisa langsung memahami penjelasan guru, sementara anak lainnya membutuhkan waktu lebih lama untuk mengerti?

Saat guru menjelaskan pelajaran, ada anak yang cepat menangkap instruksi, mampu menjawab pertanyaan, dan terlihat mudah mengingat materi. Namun, ada pula anak yang tampak mudah terdistraksi, membutuhkan penjelasan berulang, atau baru memahami pelajaran setelah diberikan contoh secara perlahan.

Perbedaan seperti ini sering membuat orang tua bertanya-tanya: apakah daya tangkap anak memang sudah ditentukan sejak lahir?

Jawabannya tidak sesederhana itu.

Kemampuan anak dalam memahami informasi dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari perkembangan kognitif, perhatian, kualitas tidur, pengalaman belajar, kondisi emosional, hingga bagaimana orang tua memberikan stimulasi di rumah.

Karena itu, jika kamu ingin membantu si kecil lebih siap menerima pelajaran di sekolah, jangan hanya berfokus pada seberapa banyak materi yang harus ia hafalkan.

Yang jauh lebih penting adalah membangun kondisi yang mendukung otaknya untuk belajar.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (13/9), menurut prinsip-prinsip psikologi perkembangan dan psikologi pendidikan, berikut enam kebiasaan yang bisa diterapkan orang tua untuk membantu meningkatkan kesiapan belajar dan kemampuan anak dalam menangkap informasi.

1. Biasakan Anak Bertanya, Bukan Hanya Menjawab

Salah satu kebiasaan sederhana yang sering dianggap sepele adalah membiarkan anak bertanya.

Ketika anak bertanya, "Kenapa hujan turun?", "Kenapa bulan terlihat malam hari?", atau "Kenapa tanaman harus disiram?", mungkin bagi orang tua pertanyaan tersebut terdengar sederhana.

Namun, di balik pertanyaan itu terdapat proses kognitif yang penting.

Anak sedang mencoba menghubungkan informasi baru dengan apa yang sudah ia ketahui.

Karena itu, jangan terlalu cepat memotong pertanyaan anak dengan jawaban singkat seperti, "Memang begitu," atau "Nanti juga kamu tahu."

Sebaliknya, cobalah mengajak anak berdiskusi.

Misalnya ketika anak bertanya:

"Kenapa es bisa mencair?"

Daripada langsung menjawab, orang tua bisa balik bertanya:

"Menurut kamu, apa yang membuat es berubah jadi air?"

Pertanyaan sederhana seperti ini membuat anak belajar berpikir, membuat dugaan, dan mencari hubungan sebab-akibat.

Kemampuan tersebut sangat berguna ketika ia berada di kelas.

Anak yang terbiasa berpikir dan bertanya tidak hanya menunggu informasi dari guru, tetapi juga lebih terbiasa mengolah informasi yang diterimanya.

Bagaimana menerapkannya?

Tidak perlu membuat sesi belajar khusus.

Manfaatkan percakapan sehari-hari.

Saat makan, berjalan-jalan, memasak, atau bermain, orang tua bisa mengajukan pertanyaan seperti:

"Menurut kamu, kenapa benda ini bisa mengapung?"
"Kalau airnya tidak ada, apa yang akan terjadi pada tanaman?"
"Kenapa kita harus memakai payung saat hujan?"
"Menurut kamu, mana yang lebih berat?"
"Bagaimana kalau kita melakukan ini dengan cara berbeda?"

Tujuannya bukan membuat anak selalu memberikan jawaban yang benar.

Tujuannya adalah membiasakan anak menggunakan pikirannya.

2. Jangan Terlalu Cepat Memberikan Jawaban

Masih berkaitan dengan poin sebelumnya, salah satu kebiasaan yang dapat membantu perkembangan kemampuan berpikir anak adalah memberikan kesempatan kepada mereka untuk mencoba menemukan jawaban sendiri.

Orang tua sering kali ingin membantu anak secepat mungkin.

Ketika anak kesulitan mengerjakan sesuatu, kita spontan berkata:

"Sini, Mama bantu."

Padahal, jika dilakukan terlalu sering, anak bisa terbiasa mencari jawaban dari orang lain sebelum mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri.

Bukan berarti orang tua tidak boleh membantu.

Justru bantuan tetap penting, tetapi sebaiknya diberikan secara bertahap.

Misalnya anak sedang mengerjakan puzzle dan berkata:

"Aku nggak bisa."

Daripada langsung mengambil alih, orang tua bisa mengatakan:

"Coba lihat bagian yang ini. Menurut kamu, kira-kira cocoknya di mana?"

Jika masih kesulitan, berikan petunjuk kecil.

Dengan cara tersebut, anak belajar bahwa kesulitan bukan berarti ia harus menyerah.

Ia belajar mencoba, melakukan kesalahan, mengevaluasi, kemudian mencoba kembali.

Dalam proses belajar di kelas, kemampuan seperti ini sangat berharga.

Sebab memahami pelajaran bukan hanya soal memiliki ingatan yang baik. Anak juga membutuhkan kemampuan untuk mempertahankan perhatian, mencoba strategi, dan memecahkan masalah.

3. Bacakan Buku Secara Rutin dan Ajak Anak Berdiskusi

Membaca buku bersama anak bukan hanya aktivitas untuk memperkenalkan huruf dan kosakata.

Kegiatan membaca juga dapat menjadi kesempatan untuk melatih perhatian, pemahaman bahasa, daya ingat, imajinasi, serta kemampuan anak memahami hubungan sebab-akibat.

Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan.

Jangan menjadikan membaca sebagai kegiatan satu arah.

Misalnya orang tua membaca cerita selama 15 menit sementara anak hanya mendengarkan.

Sesekali, berhentilah dan ajak anak berbicara tentang cerita tersebut.

Misalnya:

"Menurut kamu, kenapa tokohnya melakukan itu?"

Atau:

"Kalau kamu menjadi tokoh itu, apa yang akan kamu lakukan?"

Setelah cerita selesai, kamu juga bisa bertanya:

"Tadi ceritanya tentang apa?"

Pertanyaan seperti ini membantu anak mengingat kembali informasi yang baru saja diterimanya.

Yang menarik, kamu tidak harus selalu membeli buku pendidikan atau buku yang sangat serius.

Cerita bergambar, dongeng, ensiklopedia anak, bahkan buku tentang hewan pun dapat menjadi bahan percakapan.

Yang penting adalah anak mendapatkan pengalaman memahami informasi dan menghubungkannya dengan pemikiran sendiri.

Tidak harus lama

Orang tua juga tidak perlu merasa harus membaca berjam-jam setiap hari.

Rutinitas singkat yang dilakukan secara konsisten jauh lebih realistis daripada sesi panjang yang hanya dilakukan sesekali.

Misalnya, 10–15 menit membaca bersama sebelum tidur.

Lama-kelamaan, aktivitas tersebut dapat menjadi kebiasaan yang menyenangkan bagi anak.

Dan yang tidak kalah penting, jangan membuat membaca selalu terasa seperti tugas sekolah.

Biarkan anak menikmati cerita.

Ketika anak menikmati proses belajar, ia akan lebih mudah membangun hubungan positif dengan aktivitas tersebut.

4. Pastikan Anak Mendapat Tidur yang Cukup

Kadang-kadang orang tua berusaha meningkatkan kemampuan belajar anak dengan menambah waktu belajar.

Padahal, ada satu hal mendasar yang justru sering terlupakan: tidur.

Anak yang kurang tidur dapat menjadi lebih mudah lelah, sulit berkonsentrasi, lebih mudah rewel, dan kesulitan mempertahankan perhatian.

Bayangkan otak anak seperti sebuah perangkat yang digunakan terus-menerus.

Jika tidak mendapatkan waktu untuk beristirahat, performanya tentu tidak akan optimal.

Karena itu, jangan sampai jadwal belajar anak terlalu padat hingga mengorbankan waktu tidur.

Malam hari sebaiknya tidak hanya diisi dengan pekerjaan rumah, les, atau latihan soal.

Anak juga membutuhkan waktu untuk bersantai dan mendapatkan tidur yang berkualitas.

Buat rutinitas sebelum tidur

Orang tua dapat membantu dengan membuat pola yang konsisten.

Misalnya:

Mandi → merapikan mainan → membaca buku → mematikan perangkat → tidur.

Rutinitas seperti ini membantu anak mengenali bahwa tubuhnya sedang memasuki waktu istirahat.

Perhatikan pula penggunaan gadget menjelang tidur.

Jika anak terbiasa bermain gadget hingga larut malam, cobalah membuat batasan yang konsisten.

Tujuannya bukan sekadar mengurangi waktu bermain, tetapi memastikan anak memiliki kesempatan untuk mendapatkan istirahat yang cukup sehingga lebih siap mengikuti aktivitas keesokan harinya.

5. Kurangi Tekanan dan Hindari Membandingkan Anak

Ini adalah salah satu hal yang sangat penting.

Orang tua tentu ingin anak mendapatkan hasil terbaik.

Namun, keinginan tersebut terkadang berubah menjadi tekanan.

Misalnya:

"Kakak dulu umur segini sudah bisa membaca."

"Teman kamu nilainya lebih tinggi."

"Kok kamu nggak bisa seperti dia?"

Kalimat seperti ini mungkin diucapkan dengan tujuan memotivasi.

Namun, anak bisa menangkap pesan yang berbeda.

Ia dapat merasa bahwa dirinya tidak cukup pintar atau selalu kalah dibandingkan anak lain.

Ketika anak merasa takut salah, proses belajar justru dapat menjadi pengalaman yang penuh tekanan.

Padahal, kesalahan merupakan bagian normal dari proses belajar.

Cobalah mengubah cara memberikan respons.

Daripada mengatakan:

"Kamu memang kurang teliti."

Katakan:

"Coba kita lihat lagi bagian mana yang terlewat."

Daripada:

"Masa soal seperti ini saja nggak bisa?"

Lebih baik:

"Bagian mana yang menurut kamu paling sulit?"

Perbedaannya memang terlihat kecil.

Namun, bahasa yang digunakan orang tua dapat memengaruhi bagaimana anak memandang kesalahan dan kemampuan dirinya sendiri.

Anak perlu memahami bahwa belum bisa bukan berarti tidak bisa.

Ada perbedaan besar antara keduanya.

"Belum bisa" berarti masih ada kesempatan untuk belajar.

6. Berikan Aktivitas yang Melatih Konsentrasi, Bukan Hanya Lembar Soal

Jika ingin anak lebih siap menerima pelajaran di kelas, jangan menganggap bahwa latihan akademik adalah satu-satunya cara.

Aktivitas bermain juga dapat memberikan pengalaman yang membantu perkembangan berbagai kemampuan kognitif.

Misalnya:

puzzle,
permainan mencocokkan gambar,
permainan memori,
balok,
menggambar,
permainan mencari perbedaan,
permainan menyusun pola,
permainan berhitung sederhana,
permainan papan yang sesuai usia,
kegiatan memasak sederhana bersama orang tua.

Yang terpenting bukan seberapa mahal mainannya.

Bahkan aktivitas sederhana di rumah bisa menjadi stimulasi yang menarik.

Misalnya saat memasak, ajak anak menghitung jumlah telur.

Saat membereskan mainan, minta anak mengelompokkan benda berdasarkan warna.

Saat berjalan-jalan, ajak anak mencari lima benda berwarna hijau.

Ketika melakukan aktivitas tersebut, anak sebenarnya sedang berlatih memperhatikan, mengingat instruksi, mengelompokkan informasi, dan memecahkan masalah.

Dengan demikian, belajar tidak selalu harus berarti duduk di depan buku.

Bermain pun dapat menjadi bagian dari proses belajar.

Bonus: Jangan Lupakan Kondisi Emosional Anak

Ada satu hal yang sering kali terlupakan ketika membicarakan daya tangkap anak: kondisi emosional.

Anak yang sedang cemas, takut, sangat lelah, atau mengalami masalah dengan teman maupun lingkungan sekolah mungkin akan kesulitan berkonsentrasi.

Karena itu, sebelum bertanya:

"Hari ini dapat nilai berapa?"

Sesekali tanyakan:

"Hari ini bagian paling menyenangkan di sekolah apa?"

atau:

"Ada sesuatu yang membuat kamu sedih hari ini?"

Pertanyaan sederhana seperti ini dapat membuka ruang komunikasi.

Anak jadi mengetahui bahwa orang tua bukan hanya peduli terhadap nilai, tetapi juga terhadap apa yang ia rasakan.

Jangan Menjadikan "Cepat Menangkap" sebagai Satu-Satunya Ukuran Kecerdasan

Satu hal penting yang perlu diingat orang tua adalah bahwa setiap anak berkembang dengan kecepatan yang berbeda.

Ada anak yang cepat memahami sesuatu ketika mendengarkan.

Ada yang lebih mudah memahami ketika melihat gambar.

Ada yang perlu mencoba langsung.

Ada pula yang membutuhkan pengulangan beberapa kali sebelum benar-benar memahami sebuah konsep.

Perbedaan tersebut tidak otomatis berarti salah satu anak lebih pintar daripada yang lainnya.

Oleh karena itu, jangan terlalu cepat memberikan label seperti "pemalas", "kurang pintar", atau "tidak punya konsentrasi" hanya karena anak membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami suatu materi.

Lebih baik perhatikan prosesnya.

Apakah anak menunjukkan kemajuan?

Apakah ia mulai mampu berkonsentrasi lebih lama?

Apakah ia mulai berani bertanya?

Apakah ia mampu menyelesaikan masalah yang sebelumnya sulit?

Kemajuan-kemajuan kecil tersebut juga merupakan bagian penting dari perkembangan anak.

Pada Akhirnya, Yang Dibutuhkan Anak Bukan Tekanan, tetapi Lingkungan yang Mendukung

Jika kamu ingin si kecil lebih siap menerima pelajaran di kelas, tidak perlu langsung memenuhi rumah dengan buku latihan atau membuat jadwal belajar yang sangat padat.

Mulailah dari hal-hal sederhana.

Ajak anak bertanya.

Berikan kesempatan untuk berpikir.

Bacakan buku secara rutin.

Pastikan ia mendapatkan tidur yang cukup.

Hindari membandingkannya dengan anak lain.

Dan berikan kesempatan untuk belajar melalui permainan.

Enam kebiasaan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan secara konsisten, semuanya dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih mendukung perkembangan kemampuan belajar anak.

Dan yang paling penting, jangan membuat anak merasa bahwa ia harus selalu cepat, selalu benar, atau selalu mendapatkan nilai tertinggi.

Karena tujuan utama pendidikan bukan sekadar membuat anak mampu menjawab soal dengan cepat.

Lebih dari itu, kita ingin membantu anak menjadi seseorang yang mau belajar, berani bertanya, mampu berpikir, tidak mudah menyerah, dan percaya bahwa dirinya bisa berkembang.

Sebab anak yang menikmati proses belajar hari ini akan memiliki bekal yang jauh lebih berharga untuk menghadapi proses belajar di masa depan.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore