Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 14 September 2026 | 04.55 WIB

7 Hal yang Ingin Diketahui Anak setelah Dewasa, tapi Tak Berani Ditanyakan Menurut Psikologi

seseorang yang bertanya kepada orang tuanya. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Ada pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya tumbuh bersama seorang anak.

Ketika masih kecil, pertanyaan itu mungkin terasa sederhana: “Apakah Ayah dan Ibu bangga kepadaku?” atau “Kalau aku gagal, apakah kalian masih menyayangiku?”

Namun semakin dewasa, pertanyaan-pertanyaan itu justru semakin sulit diucapkan.

Anak yang dahulu berani bertanya tentang apa saja bisa berubah menjadi orang dewasa yang memilih diam. Bukan karena mereka sudah tidak ingin tahu, melainkan karena mereka takut jawaban yang mereka dengar akan mengubah cara mereka memandang masa kecil, orang tua, atau bahkan dirinya sendiri.

Dalam psikologi, hubungan orang tua dan anak tidak hanya dibentuk oleh apa yang dikatakan, tetapi juga oleh apa yang tidak pernah dibicarakan. Anak belajar memahami dirinya melalui respons orang tua: bagaimana orang tua menanggapi kesalahan, emosi, keberhasilan, kebutuhan, dan kegagalan mereka.

Ketika dewasa, seseorang mungkin sudah memahami banyak hal secara rasional. Ia tahu bahwa orang tuanya juga manusia. Ia tahu orang tua bisa lelah, salah mengambil keputusan, memiliki luka masa lalu, dan tidak selalu tahu cara menjadi orang tua yang sempurna.

Tetapi memahami secara rasional tidak selalu berarti kebutuhan emosional itu hilang.

Ada bagian kecil dalam diri seorang anak yang mungkin masih ingin mendengar jawaban dari orang tuanya.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (13/9), terdapat tujuh hal yang mungkin ingin diketahui seorang anak setelah mereka dewasa, tetapi sering kali tidak cukup berani untuk menanyakannya.

1. “Apakah sebenarnya Ayah dan Ibu bangga kepadaku?”

Ini mungkin salah satu pertanyaan paling sederhana sekaligus paling dalam.

Anak yang sudah dewasa mungkin telah memiliki pekerjaan, pasangan, keluarga, pendidikan, atau pencapaian sendiri. Dari luar, mereka terlihat mandiri.

Namun jauh di dalam dirinya, bisa saja masih ada pertanyaan:

“Apakah semua yang kulakukan selama ini membuat kalian bangga?”

Masalahnya, semakin dewasa seseorang, pertanyaan ini semakin sulit diucapkan.

Mengapa?

Karena pertanyaan tersebut membuat seseorang berada dalam posisi yang sangat rentan.

Bayangkan seorang anak dewasa bertanya kepada orang tuanya:

“Ayah bangga sama aku?”

Jika jawabannya hangat, mungkin ia akan merasa lega.

Tetapi bagaimana jika jawabannya dingin?

Bagaimana jika orang tua justru membandingkannya dengan saudara, tetangga, atau anak orang lain?

Atau bagaimana jika jawabannya hanya, “Ya, tentu,” tanpa emosi apa pun?

Bagi sebagian orang, ketidakpastian justru terasa lebih aman daripada mendengar jawaban yang mengecewakan.

Dalam perkembangan psikologis, kebutuhan untuk merasa diterima dan dihargai oleh figur pengasuh merupakan bagian penting dari pengalaman emosional seseorang. Anak tidak hanya membutuhkan makanan, pendidikan, dan tempat tinggal. Mereka juga membutuhkan pengalaman bahwa keberadaan mereka memiliki nilai.

Karena itu, ketika seorang anak tumbuh dalam lingkungan yang jarang memberikan apresiasi secara verbal, mereka dapat belajar mencari tanda-tanda penerimaan melalui pencapaian.

Nilai harus bagus.

Karier harus berhasil.

Penghasilan harus tinggi.

Kehidupan harus terlihat baik.

Tanpa sadar, prestasi bisa menjadi cara untuk menjawab pertanyaan:

“Apakah sekarang aku sudah cukup berharga untuk dibanggakan?”

Ironisnya, seorang anak dewasa mungkin sudah mendapatkan pengakuan dari banyak orang, tetapi tetap menunggu satu kalimat dari orang tuanya.

“Kami bangga padamu.”

Bukan karena ia membutuhkan izin untuk hidup.

Melainkan karena ada bagian dari dirinya yang ingin mengetahui bahwa perjuangannya selama ini benar-benar terlihat.

2. “Kalau aku gagal, apakah kalian tetap menyayangiku?”

Pertanyaan kedua mungkin bahkan lebih dalam:

“Apakah kasih sayang kalian kepadaku bergantung pada keberhasilanku?”

Anak sering kali belajar tentang cinta bukan dari definisi, tetapi dari pengalaman sehari-hari.

Ketika ia mendapatkan nilai bagus dan dipuji, ia belajar sesuatu.

Ketika ia melakukan kesalahan lalu dimarahi, ia juga belajar sesuatu.

Ketika ia menjadi juara dan orang tuanya sangat bahagia, ia belajar sesuatu.

Ketika ia gagal dan suasana rumah berubah menjadi dingin, ia pun belajar sesuatu.

Anak sangat peka terhadap pola semacam ini.

Mereka mungkin belum mampu mengatakan, “Saya sedang mengembangkan keyakinan bahwa penerimaan orang tua saya bersifat kondisional.”

Mereka hanya merasakan:

“Kalau aku berhasil, mereka senang.”

“Kalau aku gagal, mereka kecewa.”

Seiring bertambahnya usia, pola tersebut dapat terbawa ke berbagai bidang kehidupan.

Seorang anak dewasa mungkin menjadi sangat takut melakukan kesalahan.

Ia takut mengecewakan pasangan.

Takut kehilangan pekerjaan.

Takut mengambil keputusan yang salah.

Takut dianggap tidak berguna.

Bahkan ketika tidak ada lagi orang tua yang mengawasinya, suara penilaian itu mungkin masih hidup di dalam kepalanya.

Itulah sebabnya seseorang yang terlihat sangat sukses kadang justru memiliki ketakutan besar terhadap kegagalan.

Bukan selalu karena ia ambisius.

Bisa jadi, jauh di dalam dirinya terdapat keyakinan lama:

“Aku harus berhasil supaya tetap layak dicintai.”

Tentu, tidak semua anak yang memiliki orang tua tegas akan mengalami hal tersebut. Hubungan manusia jauh lebih kompleks.

Namun anak dewasa yang diam-diam ingin mengetahui apakah dirinya tetap dicintai ketika gagal sebenarnya sedang mencari rasa aman.

Ia ingin tahu bahwa cinta bukan hadiah atas prestasi.

Ia ingin tahu bahwa menjadi manusia biasa—dengan kesalahan, kelemahan, dan kegagalan—tidak membuatnya kehilangan tempat di hati orang tuanya.

3. “Mengapa dulu Ayah dan Ibu memperlakukanku seperti itu?”

Ini adalah pertanyaan yang sering muncul ketika seseorang sudah dewasa dan mulai memahami masa lalunya dengan perspektif yang berbeda.

Saat kecil, anak hanya mengalami sesuatu.

Ketika dewasa, mereka mulai mencoba memahami mengapa sesuatu terjadi.

Mereka mungkin mengingat:

sering dimarahi;
dibandingkan dengan saudara;
jarang dipeluk;
tidak didengarkan ketika menangis;
terlalu dituntut untuk sempurna;
sering ditinggal ketika membutuhkan orang tua;
atau justru dibesarkan dengan kontrol yang sangat ketat.

Dulu, mereka mungkin hanya berpikir:

“Ayah marah.”

Sekarang mereka mungkin bertanya:

“Mengapa Ayah selalu marah kepadaku?”

Dulu:

“Ibu tidak datang ketika aku membutuhkan bantuan.”

Sekarang:

“Apakah saat itu Ibu memang tidak peduli?”

Pertanyaan seperti ini tidak selalu mudah ditanyakan karena jawabannya mungkin membuka kembali luka lama.

Ada juga konflik emosional yang sangat rumit.

Seorang anak dewasa bisa mencintai orang tuanya sekaligus terluka oleh mereka.

Dua hal tersebut dapat benar secara bersamaan.

Seseorang bisa berkata:

“Aku tahu orang tuaku menyayangiku.”

Tetapi pada saat yang sama:

“Aku juga terluka oleh cara mereka memperlakukanku.”

Psikologi modern semakin banyak membahas bagaimana pengalaman masa kanak-kanak dapat memengaruhi pola emosi, hubungan interpersonal, cara seseorang melihat dirinya, dan cara ia menghadapi konflik.

Namun memahami pengaruh masa lalu tidak berarti seseorang harus menyalahkan seluruh hidupnya kepada orang tua.

Justru kedewasaan sering kali membawa kemampuan untuk melihat orang tua sebagai manusia yang juga memiliki keterbatasan.

Mungkin orang tua dahulu juga dibesarkan oleh orang tua yang keras.

Mungkin mereka tidak pernah belajar bagaimana mengekspresikan kasih sayang.

Mungkin mereka mengalami tekanan ekonomi.

Mungkin mereka sendiri tidak memiliki contoh hubungan yang sehat.

Penjelasan tersebut dapat membantu seseorang memahami masa lalu.

Tetapi ada perbedaan antara memahami alasan seseorang melakukan sesuatu dan menganggap tindakan tersebut tidak menyakitkan.

Keduanya tidak harus dipertentangkan.

4. “Apakah sebenarnya aku anak yang kalian inginkan?”

Ini adalah pertanyaan yang jarang sekali diucapkan.

Bahkan terdengar seperti pertanyaan yang terlalu menyakitkan untuk ditanyakan.

Seorang anak dewasa mungkin pernah membayangkan:

“Kalau aku lebih pintar, apakah Ayah akan lebih menyayangiku?”

“Kalau aku lebih penurut, apakah Ibu akan lebih bahagia?”

“Kalau aku berbeda, apakah mereka akan lebih mencintaiku?”

Perasaan seperti ini dapat muncul ketika seorang anak merasa dirinya terus-menerus tidak memenuhi harapan keluarga.

Mungkin orang tua menginginkan anak yang menjadi dokter, tetapi anak memilih menjadi seniman.

Mungkin orang tua menginginkan anak yang pendiam, sementara anak memiliki kepribadian yang sangat aktif.

Mungkin keluarga mengharapkan prestasi akademik, tetapi anak justru unggul dalam bidang lain.

Masalahnya bukan semata-mata perbedaan keinginan.

Masalah muncul ketika anak menyimpulkan bahwa perbedaan dirinya berarti dirinya tidak diterima.

Seorang anak membutuhkan ruang untuk mengembangkan identitasnya sendiri.

Dalam proses menuju kedewasaan, seseorang perlu menjawab pertanyaan:

“Siapa saya?”

Bukan hanya:

“Siapa yang orang lain inginkan agar saya menjadi?”

Karena itu, anak yang sudah dewasa mungkin sebenarnya ingin mendengar sesuatu yang sangat sederhana:

“Kamu tidak harus menjadi orang lain agar kami mencintaimu.”

Kalimat tersebut dapat memberikan rasa lega yang luar biasa.

Sebab ada orang yang menghabiskan puluhan tahun hidupnya mencoba menjadi versi dirinya yang dianggap paling dapat diterima keluarga.

Ia memilih pekerjaan berdasarkan ekspektasi.

Memilih pasangan berdasarkan persetujuan.

Mengambil keputusan berdasarkan apa yang “seharusnya”.

Kemudian suatu hari ia menyadari bahwa ia sudah menjalani kehidupan yang terlihat baik di mata banyak orang, tetapi tidak benar-benar terasa sebagai miliknya.

5. “Apakah dulu Ayah dan Ibu sadar kalau aku terluka?”

Pertanyaan ini sangat penting.

Karena terkadang luka terbesar bukan hanya berasal dari apa yang dilakukan orang tua.

Tetapi dari perasaan bahwa tidak ada seorang pun yang menyadarinya.

Seorang anak bisa mengalami hari yang sangat buruk.

Ia pulang ke rumah.

Tidak ada yang bertanya.

Ia menangis diam-diam.

Tidak ada yang mengetahuinya.

Ia merasa takut.

Tetapi memilih mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.

Bertahun-tahun kemudian, pengalaman itu masih tersimpan sebagai ingatan emosional.

Lalu muncul pertanyaan:

“Apakah mereka benar-benar tidak tahu?”

Atau lebih menyakitkan:

“Apakah mereka tahu tetapi tidak peduli?”

Terkadang orang tua memang tidak menyadari apa yang dialami anaknya.

Anak tidak selalu memiliki kemampuan untuk mengungkapkan emosinya.

Sebaliknya, orang tua juga tidak selalu mampu membaca semua sinyal.

Di sinilah komunikasi menjadi sangat penting.

Anak sering berharap orang tua bisa memahami tanpa mereka harus menjelaskan.

Orang tua mungkin berharap anak berbicara ketika ada masalah.

Keduanya akhirnya menunggu.

Dan sesuatu yang sebenarnya dapat dibicarakan justru menjadi luka yang dibawa bertahun-tahun.

Ketika sudah dewasa, seorang anak mungkin tidak lagi membutuhkan orang tua untuk memperbaiki masa lalu.

Yang ia inginkan mungkin hanya pengakuan:

“Aku tidak tahu waktu itu kamu sesakit itu. Kalau aku tahu, aku berharap aku bisa lebih hadir untukmu.”

Bagi seseorang yang selama bertahun-tahun merasa tidak terlihat, pengakuan seperti itu dapat memiliki makna yang sangat besar.

Bukan untuk mengubah masa lalu.

Tetapi untuk memberikan arti baru terhadap pengalaman yang dulu terasa sendirian.

6. “Apakah Ayah dan Ibu pernah menyesali cara mereka membesarkanku?”

Ketika dewasa, seseorang mulai memahami bahwa orang tua juga bisa salah.

Tetapi ada satu hal yang sering tidak diketahui anak:

Apakah orang tua juga menyadari kesalahan mereka?

Mereka mungkin ingin bertanya:

“Kalau Ayah bisa mengulang waktu, apakah Ayah akan melakukan hal yang sama?”

“Apakah Ibu pernah menyesal terlalu keras kepadaku?”

“Apakah kalian pernah berpikir bahwa ada hal yang seharusnya dilakukan secara berbeda?”

Pertanyaan ini sulit karena mengandung harapan.

Dan harapan membuat seseorang rentan terluka.

Ada anak dewasa yang sebenarnya tidak membutuhkan permintaan maaf sempurna.

Mereka hanya ingin mengetahui bahwa pengalaman mereka diakui.

Bahwa orang tua tidak menganggap semua yang terjadi dahulu sebagai sesuatu yang normal atau tidak penting.

Dalam hubungan manusia, kemampuan untuk mengakui kesalahan memiliki peran penting dalam proses perbaikan hubungan.

Permintaan maaf yang tulus tidak menghapus masa lalu.

Tetapi dapat memberikan pesan:

“Aku sekarang melihat apa yang dulu tidak kulihat.”

Dan bagi seorang anak, pesan tersebut bisa sangat berarti.

Namun ada pula situasi ketika orang tua tidak mampu mengakui kesalahan.

Mereka mungkin defensif.

Mereka berkata:

“Kamu terlalu sensitif.”

“Dulu semua orang tua juga begitu.”

“Kami melakukan itu demi kebaikanmu.”

Respons semacam ini dapat membuat anak semakin bingung terhadap pengalamannya sendiri.

Karena itu, kedewasaan terkadang bukan hanya tentang mendapatkan jawaban dari orang tua.

Kadang-kadang seseorang juga harus belajar menerima kenyataan bahwa jawaban yang ia harapkan mungkin tidak pernah diberikan.

Dan proses menerima kenyataan tersebut dapat menjadi bagian dari perjalanan emosional seseorang.

7. “Kalau suatu hari aku tidak bisa sering datang, apakah kalian akan tetap merasa dekat denganku?”

Pertanyaan terakhir mungkin paling sering disembunyikan oleh anak yang sudah dewasa.

Ketika anak kecil, hubungan dengan orang tua terasa otomatis.

Mereka tinggal di rumah yang sama.

Makan bersama.

Bertemu setiap hari.

Tetapi ketika dewasa, kehidupan berubah.

Anak mulai bekerja.

Menikah.

Pindah kota.

Memiliki anak sendiri.

Memiliki kesibukan.

Mereka tidak lagi dapat datang setiap hari.

Dan diam-diam muncul kekhawatiran:

“Apakah kalian mengira aku sudah tidak peduli?”

Anak dewasa bisa sangat mencintai orang tuanya tetapi tidak selalu mampu hadir secara fisik.

Kadang ia terlalu sibuk.

Kadang hidupnya sedang berat.

Kadang ia hanya kelelahan.

Namun ia mungkin takut mengatakan:

“Aku sayang, tetapi aku tidak selalu punya tenaga untuk datang.”

Karena ia takut dianggap durhaka.

Takut dianggap melupakan keluarga.

Takut orang tua merasa ditinggalkan.

Di sisi lain, orang tua mungkin memiliki ketakutan yang sama.

Mereka mungkin berpikir:

“Anakku sekarang sudah punya kehidupan sendiri.”

Akhirnya kedua pihak saling menyayangi, tetapi sama-sama takut mengganggu.

Padahal hubungan yang sehat tidak selalu diukur dari seberapa sering seseorang hadir secara fisik.

Kadang kedekatan dibangun melalui percakapan sederhana.

Pesan singkat.

Telepon beberapa menit.

Makan bersama ketika ada kesempatan.

Atau sekadar mengatakan:

“Aku mungkin jarang pulang, tetapi aku tidak pernah berhenti memikirkan kalian.”

Bagi orang tua, kalimat tersebut bisa sangat berarti.

Dan bagi anak, mengetahui bahwa jarak tidak otomatis menghapus kedekatan dapat memberikan rasa tenang.

Mengapa Anak Dewasa Sering Tidak Berani Menanyakan Semua Itu?

Pertanyaannya kemudian adalah:

Jika hal-hal tersebut begitu penting, mengapa mereka tidak bertanya saja?

Jawabannya tidak sederhana.

Salah satu alasannya adalah karena hubungan orang tua dan anak memiliki sejarah yang sangat panjang.

Ketika seorang anak berusia 30 atau 40 tahun berbicara kepada orang tuanya, ia tidak datang sebagai “orang dewasa baru”.

Ia membawa seluruh sejarah hidupnya.

Ia membawa kenangan masa kecil.

Pujian.

Pertengkaran.

Pelukan.

Kekecewaan.

Kesalahan.

Harapan.

Dan pengalaman yang belum selesai dipahami.

Karena itu, percakapan kecil dapat terasa jauh lebih besar daripada kelihatannya.

Pertanyaan:

“Ayah bangga padaku?”

sebenarnya mungkin berarti:

“Selama ini apakah aku cukup?”

Pertanyaan:

“Kenapa dulu Ayah memperlakukanku seperti itu?”

mungkin berarti:

“Apakah rasa sakit yang kurasakan selama ini memang nyata?”

Pertanyaan:

“Apakah kalian sayang kepadaku?”

mungkin berarti:

“Apakah aku aman untuk menjadi diriku sendiri di hadapan kalian?”

Inilah mengapa seseorang bisa terlihat sangat kuat di luar, tetapi tetap memiliki kebutuhan emosional yang belum selesai di dalam dirinya.

Anak Dewasa Tidak Selalu Membutuhkan Orang Tua yang Sempurna

Pada akhirnya, mungkin inilah hal terpenting yang perlu dipahami.

Anak tidak selalu membutuhkan orang tua yang sempurna.

Mereka membutuhkan orang tua yang cukup mampu untuk mengatakan:

“Aku mungkin tidak selalu benar.”

“Aku mungkin pernah menyakitimu tanpa menyadarinya.”

“Aku mungkin dulu tidak memahami apa yang kamu butuhkan.”

“Tetapi aku mau mendengarkanmu sekarang.”

Hubungan orang tua dan anak tidak harus menjadi sempurna untuk menjadi lebih baik.

Bahkan hubungan yang pernah mengalami jarak dapat memiliki ruang untuk diperbaiki.

Kadang yang dibutuhkan bukan percakapan dramatis selama berjam-jam.

Bisa dimulai dari satu pertanyaan sederhana:

“Bagaimana sebenarnya perasaanmu tentang masa kecilmu?”

Kemudian orang tua perlu melakukan sesuatu yang mungkin jauh lebih sulit daripada berbicara:

mendengarkan tanpa langsung membela diri.

Sebab ketika anak akhirnya berani menceritakan sesuatu yang menyakitkan, tujuan utamanya belum tentu untuk menyalahkan.

Bisa jadi ia hanya ingin pengalaman hidupnya diakui.

Dan Mungkin, Orang Tua Juga Memiliki Pertanyaan yang Tidak Pernah Mereka Ucapkan

Menariknya, hubungan ini sebenarnya berjalan dua arah.

Anak mungkin bertanya:

“Apakah Ayah bangga kepadaku?”

Sementara orang tua diam-diam bertanya:

“Apakah anakku tahu bahwa aku sebenarnya sangat bangga kepadanya?”

Anak bertanya:

“Apakah kalian masih menyayangiku?”

Orang tua mungkin bertanya:

“Apakah anakku tahu bahwa aku selalu menyayanginya meskipun aku tidak pandai mengatakannya?”

Anak bertanya:

“Mengapa dulu kalian melakukan itu?”

Orang tua mungkin juga berharap:

“Apakah suatu hari anakku bisa memahami bahwa saat itu aku juga sedang berjuang dengan keterbatasanku?”

Di antara dua generasi tersebut sering kali ada jurang komunikasi.

Bukan karena tidak ada cinta.

Justru terkadang karena terlalu banyak cinta yang tidak pernah menemukan kata-kata yang tepat.

Penutup: Ada Pertanyaan yang Tidak Perlu Menunggu Sampai Terlambat

Menjadi dewasa sering membuat seseorang memahami orang tuanya dengan cara yang berbeda.

Dulu kita hanya melihat Ayah sebagai Ayah.

Ibu sebagai Ibu.

Tetapi setelah dewasa, kita mulai melihat mereka sebagai manusia.

Mereka pernah muda.

Pernah takut.

Pernah salah.

Pernah bingung.

Pernah memiliki impian.

Dan mungkin juga pernah membawa luka yang tidak pernah mereka ceritakan.

Pemahaman tersebut tidak berarti semua kesalahan harus dilupakan.

Tetapi ia dapat membuat kita melihat hubungan keluarga dengan lebih matang.

Jika Anda adalah orang tua, mungkin ada baiknya sesekali mengatakan sesuatu yang sebenarnya sangat ingin didengar anak, bahkan ketika mereka sudah dewasa:

“Aku bangga padamu.”

“Kamu tidak harus sempurna agar kami menyayangimu.”

“Kalau dulu ada hal yang membuatmu terluka, aku mau mendengarkannya.”

“Kamu boleh menjadi dirimu sendiri.”

“Walaupun hidupmu sekarang berbeda dan kamu tidak selalu bisa pulang, kamu tetap punya tempat di rumah ini.”

Dan jika Anda adalah seorang anak yang sudah dewasa, mungkin ada hal yang juga perlu Anda ingat:

Anda tidak harus menunggu orang tua menjadi sempurna sebelum mengakui perasaan Anda sendiri.

Anda boleh mencintai orang tua dan tetap mengakui bahwa ada bagian dari masa kecil yang menyakitkan.

Anda boleh memahami mereka tanpa membenarkan semua tindakan mereka.

Dan Anda boleh membangun kehidupan yang berbeda dari apa yang pernah dibayangkan keluarga Anda.

Sebab pada akhirnya, menjadi dewasa bukan hanya tentang meninggalkan masa kanak-kanak.

Menjadi dewasa juga berarti belajar memahami anak kecil yang dulu pernah hidup di dalam diri kita—anak yang mungkin masih menunggu jawaban atas beberapa pertanyaan yang tidak pernah berani ia ajukan.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore