Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 16 September 2026 | 04.20 WIB

7 Alasan Mengatakan “Lakukan yang Terbaik” Tidak Selalu Baik untuk Anak-Anak Menurut Psikologi

seseorang yang berusaha mendukung anaknya / foto: Magnific/prostooleh

 

JawaPos.com - “Lakukan yang terbaik, ya.”

Kalimat ini terdengar sederhana, hangat, bahkan penuh dukungan. Banyak orang tua mengucapkannya kepada anak sebelum ujian, pertandingan, pentas sekolah, atau ketika anak sedang menghadapi sesuatu yang sulit.

Tidak ada yang salah dengan niat di balik kalimat tersebut. Orang tua biasanya ingin mengatakan: Aku percaya padamu. Berusahalah. Jangan menyerah.

Namun, dalam psikologi perkembangan anak, niat baik tidak selalu menghasilkan dampak psikologis yang baik.

Bagi sebagian anak, kalimat “lakukan yang terbaik” justru dapat diterjemahkan menjadi: Aku harus berhasil. Aku tidak boleh mengecewakan Ayah dan Ibu. Kalau hasilku buruk, berarti aku belum melakukan yang terbaik.

Di sinilah masalahnya.

Anak-anak belum selalu memiliki kemampuan untuk membedakan antara usaha yang sehat dan tekanan untuk memenuhi ekspektasi. Mereka juga masih belajar memahami kemampuan, kegagalan, emosi, dan batas dirinya sendiri.

Akibatnya, kalimat yang dimaksudkan sebagai motivasi dapat berubah menjadi beban yang tidak terlihat.

Bukan berarti orang tua harus berhenti mendorong anak untuk berusaha. Yang lebih penting adalah bagaimana pesan tersebut disampaikan dan apa yang sebenarnya dipahami anak dari pesan itu.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (15/9), terdapat tujuh alasan mengapa mengatakan “lakukan yang terbaik” tidak selalu menjadi pilihan terbaik untuk anak.

1. “Lakukan yang terbaik” bisa terdengar seperti “Kamu harus berhasil”

Bagi orang dewasa, “lakukan yang terbaik” sering berarti kerjakan semampumu.

Tetapi bagi seorang anak, maknanya bisa berbeda.

Anak mungkin belum memiliki pemahaman yang matang tentang konsep “usaha”. Mereka dapat menghubungkan usaha dengan hasil. Jika sudah berusaha tetapi tetap mendapat nilai rendah, mereka mungkin menyimpulkan bahwa usaha mereka tidak cukup baik.

Misalnya, seorang anak akan menghadapi ujian matematika.

Orang tua berkata:

“Ibu tidak minta kamu dapat nilai 100. Pokoknya lakukan yang terbaik.”

Sekilas terdengar tidak menekan.

Namun, setelah ujian ternyata nilainya 65.

Anak mungkin berpikir:

“Berarti aku tidak melakukan yang terbaik.”

Jika pola ini berulang, anak dapat mulai melihat hasil sebagai ukuran nilai dirinya.

Dalam psikologi, salah satu hal penting dalam perkembangan anak adalah bagaimana mereka membangun self-efficacy, yaitu keyakinan bahwa dirinya mampu menghadapi dan menyelesaikan suatu tugas.

Dorongan yang terlalu berorientasi pada performa dapat membuat anak merasa bahwa kemampuan mereka selalu sedang diuji.

Alih-alih berpikir:

“Aku sedang belajar.”

Mereka mulai berpikir:

“Aku harus membuktikan bahwa aku pintar.”

Perbedaannya sangat besar.

Anak yang memandang proses sebagai kesempatan belajar cenderung memiliki ruang psikologis yang lebih besar untuk mencoba, salah, dan memperbaiki diri.

Sebaliknya, anak yang merasa harus selalu menunjukkan “yang terbaik” bisa menjadi lebih takut terhadap kegagalan.

Apa yang lebih baik dikatakan?

Daripada hanya berkata:

“Lakukan yang terbaik.”

Orang tua dapat mengatakan:

“Kerjakan sebisamu. Kalau ada yang sulit, tidak apa-apa. Kita bisa lihat bersama setelahnya.”

Pesan ini memisahkan usaha anak dari hasil akhirnya.

Anak belajar bahwa keberhasilan memang menyenangkan, tetapi kegagalan bukan bukti bahwa dirinya tidak cukup baik.

2. Anak bisa menganggap “terbaik” sebagai standar yang harus selalu dipenuhi

Masalah lain terletak pada kata “terbaik”.

Terbaik menurut siapa?

Terbaik dibandingkan apa?

Dan kapan seseorang boleh merasa bahwa dirinya sudah cukup?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana bagi orang dewasa, tetapi sangat penting bagi perkembangan psikologis anak.

Jika anak terus mendengar bahwa ia harus melakukan yang terbaik, ia dapat mulai membangun standar internal yang sangat tinggi.

Awalnya mungkin positif.

Ia belajar rajin.

Ia belajar bertanggung jawab.

Ia ingin memperbaiki dirinya.

Tetapi pada sebagian anak, standar tersebut dapat berkembang menjadi pola perfeksionisme.

Anak tidak lagi berpikir:

“Aku ingin melakukan tugas ini dengan baik.”

Melainkan:

“Aku harus melakukannya tanpa kesalahan.”

Ketika terjadi kesalahan kecil, anak merasa kecewa berlebihan.

Nilai 95 terasa seperti kegagalan.

Gambar yang tidak sempurna dianggap buruk.

Kesalahan dalam pertandingan terasa memalukan.

Bahkan pekerjaan rumah yang sebenarnya sudah sangat baik dapat terus diperiksa karena anak takut belum mencapai standar “terbaik”.

Perfeksionisme pada anak bukan sekadar keinginan untuk berprestasi tinggi. Dalam bentuk yang tidak sehat, anak dapat merasa bahwa kesalahan membuat dirinya kurang berharga.

Karena itu, orang tua perlu berhati-hati agar pesan tentang usaha tidak berubah menjadi tuntutan untuk selalu sempurna.

Alih-alih “Lakukan yang terbaik”, cobalah:

“Kerjakan dengan sungguh-sungguh, lalu berhenti ketika kamu merasa sudah cukup.”

Atau:

“Tidak harus sempurna. Yang penting kamu belajar dari apa yang kamu kerjakan.”

Pesan seperti ini membantu anak memahami bahwa “cukup baik” juga merupakan keadaan yang valid.

3. Anak dapat kehilangan kesempatan untuk belajar mengenali batas dirinya

Ada anggapan bahwa anak perlu selalu didorong keluar dari zona nyaman.

Ada benarnya.

Anak memang membutuhkan tantangan untuk berkembang.

Tetapi anak juga perlu belajar bahwa istirahat, berhenti, meminta bantuan, dan mengatakan “aku tidak sanggup sekarang” bukanlah tanda kelemahan.

Jika pesan “lakukan yang terbaik” diberikan terus-menerus, anak dapat memahami bahwa ketika merasa lelah, ia harus tetap memaksakan diri.

Misalnya, seorang anak mengikuti banyak kegiatan setelah sekolah.

Senin les matematika.

Selasa latihan olahraga.

Rabu les bahasa.

Kamis kegiatan sekolah.

Jumat latihan musik.

Ketika anak berkata:

“Aku capek.”

Respons orang tua mungkin:

“Tidak apa-apa capek. Tetap lakukan yang terbaik.”

Kalimat tersebut sebenarnya bisa mengabaikan informasi penting dari tubuh dan pikiran anak.

Anak perlu belajar mengenali:

kapan dirinya masih mampu;
kapan membutuhkan istirahat;
kapan membutuhkan bantuan;
kapan harus mencoba lagi;
dan kapan sesuatu memang tidak cocok untuk dirinya.

Kemampuan mengenali batas diri merupakan bagian penting dari regulasi diri.

Ironisnya, jika anak selalu didorong untuk memberikan “yang terbaik”, mereka justru bisa kesulitan memahami kapan “terbaik” berarti berusaha dan kapan “terbaik” berarti berhenti untuk memulihkan diri.

Pesan yang lebih sehat:

“Kalau kamu sudah lelah, kita istirahat dulu. Setelah itu kita lihat apa yang masih bisa kamu lakukan.”

Ini mengajarkan bahwa usaha dan pemulihan bukan dua hal yang bertentangan.

Keduanya diperlukan.

4. Kalimat tersebut bisa meningkatkan kecemasan performa

Tidak semua anak bereaksi terhadap tekanan dengan cara yang sama.

Ada anak yang menjadi lebih termotivasi.

Namun, ada pula yang justru mengalami kecemasan.

Kecemasan performa dapat muncul ketika anak merasa bahwa dirinya harus menunjukkan kemampuan tertentu di hadapan orang lain.

Ujian adalah contoh yang paling jelas.

Tetapi hal ini juga dapat terjadi dalam:

olahraga;
musik;
berbicara di depan kelas;
lomba;
menggambar;
bahkan interaksi sosial.

Anak yang sudah cemas mungkin mendengar:

“Lakukan yang terbaik.”

Sebagai:

“Ini penting. Jangan gagal.”

Akibatnya, sebelum melakukan sesuatu saja anak sudah memikirkan kemungkinan buruk.

Bagaimana kalau aku salah?

Bagaimana kalau teman-teman menertawakan aku?

Bagaimana kalau Ayah dan Ibu kecewa?

Dalam kondisi tertentu, kecemasan yang tinggi bahkan dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk menggunakan pengetahuan atau keterampilan yang sebenarnya sudah dimiliki.

Karena itu, terkadang anak tidak membutuhkan motivasi tambahan.

Mereka membutuhkan rasa aman.

Cobalah mengganti kalimat:

“Lakukan yang terbaik.”

dengan:

“Apa pun hasilnya, kamu tetap aman dan kami tetap menyayangimu.”

Pesan ini sangat kuat.

Anak belajar bahwa hubungan dengan orang tua tidak bergantung pada performanya.

5. Anak bisa menghubungkan harga dirinya dengan prestasi

Salah satu pesan terpenting dalam pengasuhan adalah bahwa anak adalah manusia yang berharga bahkan ketika mereka gagal.

Namun, hubungan antara kasih sayang dan prestasi dapat menjadi kabur jika komunikasi orang tua terlalu sering berfokus pada pencapaian.

Misalnya:

“Kamu hebat sekali karena dapat nilai 100.”

Kalimat tersebut memang terdengar positif.

Tetapi jika hampir semua pujian anak berkaitan dengan prestasi, anak dapat menyimpulkan:

“Aku berharga ketika aku berhasil.”

Masalahnya, prestasi tidak pernah stabil.

Hari ini anak mendapat nilai 100.

Besok mungkin 70.

Hari ini menang pertandingan.

Minggu depan kalah.

Hari ini mendapat penghargaan.

Bulan berikutnya tidak mendapat apa-apa.

Jika harga diri anak terlalu bergantung pada pencapaian, perubahan kecil dalam performa dapat mengguncang kepercayaan dirinya.

Karena itu, penting bagi orang tua untuk memberikan apresiasi yang lebih luas.

Bukan hanya:

“Kamu pintar.”

Tetapi juga:

“Aku melihat kamu tetap mencoba meskipun tadi sulit.”

Bukan hanya:

“Kamu menang!”

Tetapi:

“Kamu tetap menghargai lawanmu setelah pertandingan. Itu sikap yang bagus.”

Dengan demikian, anak belajar bahwa identitas dirinya jauh lebih luas daripada prestasi.

6. Anak mungkin belajar mengabaikan kegagalan, bukan memahaminya

Sekilas, mengatakan “lakukan yang terbaik” terlihat seperti cara untuk mengajarkan anak agar tidak menyerah.

Tetapi menghadapi kegagalan bukan hanya soal terus mencoba.

Anak juga perlu belajar memproses kegagalan.

Misalnya anak kalah dalam sebuah pertandingan.

Respons yang terlalu cepat bisa berbunyi:

“Tidak apa-apa. Besok harus lebih baik. Lakukan yang terbaik lagi.”

Padahal mungkin anak sedang sedih.

Ia mungkin kecewa.

Ia mungkin malu.

Ia mungkin marah.

Ia mungkin bahkan tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaannya.

Jika orang tua langsung mengubah semuanya menjadi motivasi, anak dapat belajar bahwa emosi negatif harus segera disingkirkan.

Padahal kesedihan setelah kalah adalah hal yang wajar.

Anak perlu belajar:

“Aku kecewa, tetapi aku bisa melewati kekecewaan ini.”

Bukan:

“Aku tidak boleh kecewa.”

Di sinilah pentingnya validasi emosi.

Orang tua dapat mengatakan:

“Kamu kelihatan kecewa sekali.”

Kemudian:

“Wajar kalau kamu sedih karena kamu berharap menang.”

Setelah emosi lebih tenang, barulah orang tua dapat bertanya:

“Menurutmu, apa yang bisa kita pelajari dari pertandingan tadi?”

Urutannya penting.

Validasi dulu, evaluasi kemudian.

7. “Lakukan yang terbaik” terlalu umum untuk membantu anak secara konkret

Ada satu masalah sederhana yang sering dilupakan: anak mungkin sebenarnya tidak tahu apa arti “melakukan yang terbaik”.

Jika seorang anak kesulitan matematika, misalnya, mengatakan:

“Lakukan yang terbaik.”

tidak memberi banyak informasi.

Apa yang harus dilakukan?

Belajar lebih lama?

Mengerjakan lebih banyak soal?

Meminta bantuan guru?

Beristirahat?

Mengulang materi?

Membuat jadwal?

Anak membutuhkan arahan yang lebih konkret.

Daripada menggunakan slogan motivasi yang umum, orang tua dapat membantu anak memecah tujuan menjadi langkah kecil.

Misalnya:

“Besok ada ujian matematika. Menurutmu bagian mana yang paling sulit?”

Kemudian:

“Bagaimana kalau malam ini kita latihan lima soal dari bagian itu?”

Dengan pendekatan seperti ini, anak tidak hanya mendapat tekanan untuk “melakukan yang terbaik”.

Ia mendapatkan strategi untuk melakukan sesuatu dengan lebih baik.

Ini jauh lebih membantu dalam perkembangan kemampuan memecahkan masalah.

Jadi, apakah orang tua harus berhenti mengatakan “lakukan yang terbaik”?

Tidak.

Kalimat tersebut bukan sesuatu yang otomatis buruk.

Yang perlu diperhatikan adalah konteks, frekuensi, kondisi emosional anak, dan pesan yang menyertainya.

Kalimat “lakukan yang terbaik” dapat menjadi dukungan jika anak memahaminya sebagai:

“Berusahalah sesuai kemampuanmu, tetapi kamu tidak harus sempurna.”

Namun, kalimat yang sama dapat menjadi tekanan jika anak memahaminya sebagai:

“Kamu harus berhasil supaya kami bangga.”

Perbedaannya bukan hanya terletak pada kata-kata.

Perbedaannya terletak pada budaya emosional yang dibangun di rumah.

Apakah anak merasa aman untuk gagal?

Apakah anak boleh meminta bantuan?

Apakah orang tua tetap hangat ketika nilai anak turun?

Apakah anak diperbolehkan beristirahat?

Apakah keberhasilan lebih sering dibicarakan daripada proses?

Apakah orang tua membandingkan anak dengan saudara atau teman?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada satu kalimat motivasi.

Kalimat Alternatif yang Lebih Sehat untuk Anak

Jika tujuan orang tua adalah memberikan semangat tanpa menambah tekanan, beberapa kalimat berikut bisa menjadi alternatif.

Sebelum ujian

Daripada:

“Lakukan yang terbaik.”

Cobalah:

“Kerjakan sebisamu. Baca soalnya pelan-pelan dan jangan panik kalau ada yang sulit.”

Sebelum pertandingan

Daripada:

“Kamu harus tampil sebaik mungkin.”

Cobalah:

“Nikmati permainannya. Fokus pada apa yang bisa kamu kendalikan.”

Ketika anak mendapat nilai rendah

Daripada:

“Kamu sebenarnya bisa lebih baik.”

Cobalah:

“Bagian mana yang menurutmu paling sulit? Mari kita cari tahu bersama.”

Ketika anak gagal

Daripada:

“Kamu harus mencoba lebih keras.”

Cobalah:

“Aku tahu kamu kecewa. Setelah kamu siap, kita pikirkan apa yang bisa dipelajari dari pengalaman ini.”

Ketika anak merasa tidak mampu

Daripada:

“Kamu harus berusaha lebih keras.”

Cobalah:

“Tidak harus bisa sekarang. Kita cari langkah kecil yang bisa kamu lakukan.”

Ketika anak merasa lelah

Daripada:

“Jangan menyerah. Lakukan yang terbaik.”

Cobalah:

“Tubuhmu mungkin sedang meminta istirahat. Kita istirahat dulu, lalu lihat lagi.”

Anak Tidak Selalu Membutuhkan Dorongan untuk Berbuat Lebih Banyak

Salah satu kesalahan dalam pengasuhan modern adalah menganggap bahwa motivasi selalu berarti mendorong anak lebih jauh.

Padahal, terkadang motivasi terbaik justru berbentuk rasa aman.

Anak yang merasa aman lebih mungkin berani mencoba.

Anak yang tahu bahwa kesalahan tidak membuatnya kehilangan kasih sayang lebih mungkin mengambil risiko belajar.

Anak yang tidak takut mengecewakan orang tuanya lebih mungkin mengatakan ketika ia membutuhkan bantuan.

Dan anak yang tahu bahwa dirinya tetap berharga ketika gagal akan memiliki kesempatan lebih besar untuk membangun hubungan yang sehat dengan prestasi.

Karena itu, mungkin kita perlu mengubah sedikit cara memandang “usaha”.

Bukan:

“Berikan yang terbaik supaya kamu berhasil.”

Tetapi:

“Berusahalah dengan sehat, belajar dari pengalaman, dan ingat bahwa hasil tidak menentukan nilai dirimu.”

Itulah pesan yang jauh lebih luas.

Pada Akhirnya, Anak Perlu Tahu bahwa Mereka Tidak Harus Selalu Menjadi yang Terbaik

Anak-anak tidak membutuhkan kehidupan tanpa tuntutan.

Mereka membutuhkan tuntutan yang proporsional, dukungan yang aman, dan ruang untuk berkembang tanpa merasa bahwa kasih sayang orang tua bergantung pada pencapaian.

Ada saatnya anak perlu berusaha lebih keras.

Ada saatnya mereka perlu mencoba sekali lagi.

Tetapi ada juga saatnya mereka perlu berhenti.

Ada saatnya mereka perlu meminta bantuan.

Ada saatnya mereka perlu menerima bahwa hasilnya tidak seperti yang diharapkan.

Dan ada saatnya mereka perlu mendengar:

“Tidak apa-apa. Kamu sudah cukup. Kita bisa belajar dari ini.”

Mungkin itulah salah satu bentuk dukungan terbaik yang bisa diberikan kepada anak.

Sebab tujuan pengasuhan bukanlah menciptakan anak yang selalu melakukan yang terbaik.

Tujuannya adalah membantu anak tumbuh menjadi manusia yang mampu berusaha tanpa menghancurkan dirinya sendiri, mampu gagal tanpa merasa tidak berharga, mampu beristirahat tanpa merasa bersalah, dan mampu bangkit karena ia tahu bahwa dirinya tetap dicintai.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore