seseorang yang terjebak dalam toxic positivity. (Magnific)
Namun, bagaimana jika hubungan pertemanan yang selama ini dianggap sehat justru membuatmu merasa tidak punya ruang untuk sedih, kecewa, marah, atau mengeluh?
Mungkin setiap kali kamu bercerita tentang masalah, respons yang datang selalu terdengar positif.
"Sudahlah, jangan dipikirkan."
"Kamu harus bersyukur."
"Pasti ada hikmahnya."
"Jangan terlalu negatif."
Sekilas, kalimat-kalimat tersebut terdengar seperti bentuk dukungan. Akan tetapi, dalam kondisi tertentu, kebiasaan terus-menerus mengarahkan seseorang untuk "berpikir positif" justru dapat menjadi sesuatu yang tidak sehat.
Dalam psikologi populer, kondisi ini sering disebut toxic positivity.
Toxic positivity bukan berarti seseorang tidak boleh memberikan semangat. Dukungan positif tetap dapat menjadi hal yang sangat berarti dalam sebuah pertemanan. Masalahnya muncul ketika optimisme digunakan untuk mengabaikan, mengecilkan, atau menolak emosi yang sebenarnya sedang dirasakan seseorang.
Yang lebih menarik, toxic positivity tidak selalu muncul dalam bentuk yang kasar.
Kadang-kadang justru hadir melalui kalimat yang terdengar sangat baik.
Dan tanpa disadari, kamu mungkin sudah terbiasa mengalaminya.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (12/9), terdapat enam tanda yang patut diperhatikan.
1. Setiap kali kamu bercerita, emosimu selalu buru-buru "diperbaiki"
Bayangkan kamu sedang mengalami hari yang buruk.
Kamu akhirnya memberanikan diri bercerita kepada seorang teman karena membutuhkan tempat untuk mengeluarkan isi kepala.
Kamu mengatakan bahwa pekerjaan membuatmu stres, hubunganmu sedang bermasalah, atau kamu merasa kecewa terhadap sesuatu.
Namun, sebelum kamu selesai bercerita, temanmu langsung mengatakan:
"Jangan sedih."
"Pikir positif saja."
"Kamu sebenarnya beruntung."
"Masih banyak orang yang masalahnya lebih berat."
Mungkin temanmu memang bermaksud baik.
Tetapi ada perbedaan besar antara memberikan dukungan dan terburu-buru menghapus emosi seseorang.
Ketika seseorang sedang sedih, terkadang hal pertama yang mereka butuhkan bukan solusi.
Mereka hanya ingin didengarkan.
Dalam hubungan pertemanan yang sehat, seseorang seharusnya memiliki ruang untuk mengatakan, "Aku sedang tidak baik-baik saja," tanpa langsung merasa harus mengubah perasaannya menjadi sesuatu yang positif.
Sebab, merasa sedih bukan berarti seseorang tidak bersyukur.
Merasa kecewa bukan berarti seseorang pesimistis.
Dan mengakui bahwa hidup sedang berat bukan berarti seseorang tidak kuat.
Justru kemampuan untuk mengenali dan menerima emosi yang tidak menyenangkan merupakan bagian penting dari regulasi emosi.
Jika setiap kali kamu menunjukkan kesedihan temanmu selalu berusaha membuatmu segera kembali terlihat bahagia, mungkin ada pola toxic positivity yang perlu diperhatikan.
2. Kamu merasa bersalah ketika sedang mengeluh
Tanda berikutnya bisa terasa jauh lebih halus.
Kamu mulai berpikir bahwa kamu tidak boleh terlalu banyak bercerita tentang masalahmu.
Bukan karena temanmu secara langsung melarang.
Namun, respons yang berulang membuatmu merasa bahwa keluhanmu adalah sesuatu yang merepotkan.
Akhirnya, setiap kali ingin bercerita, kamu mulai menyensor diri sendiri.
"Jangan-jangan aku terlalu negatif."
"Nanti dia bilang aku kurang bersyukur."
"Mungkin aku memang terlalu sensitif."
"Sebaiknya aku diam saja."
Lama-kelamaan, kamu belajar menyembunyikan perasaan hanya agar hubungan tetap terasa nyaman.
Ini merupakan salah satu aspek yang membuat toxic positivity berpotensi merugikan.
Sebab, pertemanan yang sehat seharusnya tidak mengharuskan seseorang untuk selalu berada dalam kondisi emosional yang menyenangkan.
Teman bukan hanya orang yang tertawa bersama ketika keadaan baik.
Teman juga seharusnya bisa menjadi seseorang yang bersedia menemani ketika keadaan sedang berantakan.
Tentu saja, bukan berarti hubungan pertemanan harus berubah menjadi tempat untuk mengeluh tanpa batas.
Setiap orang memiliki kapasitas emosional yang berbeda.
Namun, terdapat perbedaan antara mengatakan:
"Aku sedang tidak punya energi untuk membahas ini sekarang, tapi aku tetap peduli."
dengan:
"Kamu terlalu banyak mengeluh. Sudah, pikir positif saja."
Yang pertama menunjukkan batasan yang sehat.
Yang kedua berpotensi membuat seseorang merasa bersalah karena memiliki emosi.
3. Masalahmu sering dibandingkan dengan masalah orang lain
"Kamu masih mending."
"Coba lihat orang lain, masalah mereka lebih berat."
"Kamu harusnya bersyukur karena masih punya banyak hal."
Pernyataan seperti ini mungkin dimaksudkan untuk membantu seseorang melihat sisi lain dari situasi.
Namun, jika terus-menerus digunakan untuk merespons emosi, dampaknya bisa berbeda.
Perasaan manusia tidak bekerja seperti kompetisi.
Kesulitan seseorang tidak otomatis menjadi tidak valid hanya karena ada orang lain yang mengalami masalah lebih besar.
Ketika kamu kehilangan sesuatu yang penting bagimu, misalnya, fakta bahwa orang lain kehilangan sesuatu yang lebih besar tidak serta-merta menghapus rasa sedihmu.
Begitu pula ketika kamu merasa lelah.
Mengetahui bahwa orang lain bekerja lebih keras tidak otomatis membuat kelelahanmu menjadi tidak nyata.
Inilah mengapa validasi emosional sangat penting dalam hubungan interpersonal.
Seseorang tidak selalu membutuhkan orang lain untuk mengatakan bahwa masalahnya besar.
Mereka hanya membutuhkan pengakuan sederhana:
"Aku bisa mengerti kenapa itu membuatmu sedih."
Kalimat seperti ini tidak memperbesar masalah.
Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa emosi seseorang boleh hadir tanpa harus dibandingkan.
Jika kamu sering merasa harus membuktikan bahwa masalahmu "cukup berat" sebelum temanmu menganggap emosimu valid, hubungan tersebut patut dievaluasi.
4. Kamu merasa harus selalu terlihat bahagia di depan teman
Toxic positivity tidak selalu berasal dari perkataan teman.
Kadang-kadang, tekanan tersebut muncul dari ekspektasi emosional dalam hubungan.
Misalnya, kamu merasa bahwa ketika berkumpul dengan kelompok pertemanan, kamu harus selalu ceria.
Ketika sedang murung, kamu takut dianggap merusak suasana.
Ketika sedang kecewa, kamu memilih tersenyum.
Ketika sebenarnya membutuhkan waktu untuk sendiri, kamu tetap datang karena khawatir dianggap berubah.
Akhirnya, kamu mengenakan semacam "topeng" setiap kali bersama mereka.
Di luar terlihat baik-baik saja.
Di dalam sebenarnya sedang kelelahan.
Jika ini berlangsung terus-menerus, pertemanan yang seharusnya menjadi tempat nyaman justru bisa menjadi ruang tempat kamu merasa harus memainkan peran tertentu.
Padahal manusia memiliki berbagai macam emosi.
Hari ini seseorang bisa bahagia.
Besok bisa kecewa.
Lusa bisa marah.
Kemudian merasa tenang lagi.
Semua itu merupakan bagian normal dari pengalaman manusia.
Hubungan yang sehat tidak menuntut kita untuk menjadi ceria setiap saat.
Justru salah satu ciri kedekatan emosional adalah ketika seseorang merasa cukup aman untuk menunjukkan sisi dirinya yang tidak sempurna.
5. Ketika kamu mencoba membicarakan sesuatu yang menyakitkan, kamu malah dianggap terlalu sensitif
Ini adalah tanda yang cukup penting.
Misalnya kamu mengatakan:
"Aku sebenarnya merasa terluka ketika kamu mengatakan itu."
Namun respons yang datang:
"Ah, kamu terlalu sensitif."
"Aku kan cuma bercanda."
"Jangan baper."
"Kamu terlalu memikirkan sesuatu."
Jika respons semacam ini terjadi sesekali, belum tentu berarti hubungan tersebut toxic.
Orang bisa salah memahami situasi.
Teman juga bisa melakukan kesalahan.
Namun, jika pola tersebut terjadi berulang kali, setiap upayamu untuk membicarakan perasaan justru selalu dibalikkan menjadi kesalahanmu, hubungan tersebut mungkin tidak memberikan ruang yang cukup aman untuk komunikasi emosional.
Dalam pertemanan yang sehat, kedua pihak seharusnya bisa membicarakan dampak dari sebuah tindakan.
Temanmu tidak harus selalu setuju dengan interpretasimu.
Tetapi setidaknya mereka dapat mendengarkan.
Misalnya:
"Aku sebenarnya tidak bermaksud menyakitimu, tetapi aku mengerti kalau perkataanku membuatmu merasa seperti itu."
Respons semacam ini menunjukkan adanya ruang untuk memahami perspektif satu sama lain.
Sebaliknya, jika setiap perasaanmu selalu diberi label sebagai "berlebihan", lama-kelamaan kamu bisa mulai meragukan penilaianmu sendiri.
Kamu bahkan mungkin bertanya:
"Jangan-jangan memang aku yang bermasalah?"
Padahal, memiliki perasaan tidak otomatis membuat seseorang terlalu sensitif.
6. Kamu merasa lebih lelah setelah berbicara dengan mereka daripada sebelumnya
Ini mungkin menjadi tanda yang paling mudah dirasakan, meskipun sulit dijelaskan.
Setelah berbicara dengan teman, kamu seharusnya tidak selalu merasa lebih baik.
Terkadang masalah memang tetap ada.
Namun, idealnya kamu setidaknya merasa didengar dan diterima.
Sebaliknya, dalam hubungan yang dipenuhi toxic positivity, kamu mungkin justru merasa semakin lelah.
Kamu datang dengan perasaan sedih.
Kemudian kamu dipaksa melihat sisi positif.
Kamu datang dengan rasa kecewa.
Kemudian dianggap tidak bersyukur.
Kamu datang karena membutuhkan ruang untuk menangis.
Namun akhirnya justru merasa bersalah karena menangis.
Lama-kelamaan, kamu berhenti bercerita.
Bukan karena masalahmu sudah selesai.
Tetapi karena kamu sudah tidak merasa aman untuk membicarakannya.
Dan pada titik tertentu, kamu mungkin menyadari bahwa kamu lebih nyaman menyimpan semuanya sendiri daripada berbicara dengan teman yang seharusnya bisa dipercaya.
Toxic positivity berbeda dengan dukungan positif
Penting untuk tidak salah memahami konsep ini.
Tidak semua kalimat positif merupakan toxic positivity.
Mengatakan:
"Aku percaya kamu bisa melewati ini."
atau
"Aku tahu sekarang memang berat, tapi aku akan menemanimu."
bukanlah sesuatu yang buruk.
Begitu pula mengajak seseorang mencari solusi setelah mereka merasa cukup didengar.
Perbedaannya terletak pada bagaimana emosi negatif diperlakukan.
Dukungan sehat biasanya mengikuti pola:
mengakui perasaan → mendengarkan → memahami → kemudian, jika diperlukan, membantu mencari jalan keluar.
Sementara toxic positivity cenderung melakukan:
mengabaikan perasaan → langsung mencari sisi positif → meminta seseorang berhenti merasa negatif.
Masalahnya bukan pada kata "positif".
Masalahnya adalah ketika kata tersebut digunakan untuk membungkam emosi.
Mengapa toxic positivity bisa membuat seseorang merasa sendirian?
Ironisnya, seseorang bisa memiliki banyak teman tetapi tetap merasa kesepian.
Salah satu alasannya adalah kurangnya koneksi emosional.
Koneksi emosional tidak hanya dibangun melalui tertawa bersama, pergi bersama, atau melakukan berbagai aktivitas.
Ia juga terbentuk ketika seseorang merasa:
"Aku bisa menunjukkan sisi burukku di sini tanpa takut dihakimi."
Ketika seseorang hanya diterima saat bahagia, mereka mungkin akhirnya belajar bahwa kesedihan adalah sesuatu yang harus disembunyikan.
Mereka mulai menunjukkan versi dirinya yang "mudah disukai".
Selalu tersenyum.
Selalu santai.
Selalu mengatakan tidak apa-apa.
Padahal sebenarnya tidak.
Dan semakin lama seseorang melakukan hal tersebut, semakin besar jarak antara apa yang mereka rasakan dan apa yang mereka tunjukkan.
Itulah sebabnya pertemanan yang terlihat sangat positif dari luar belum tentu memberikan rasa aman secara emosional.
Jadi, apakah kamu harus menjauhi teman yang sering berkata positif?
Tidak selalu.
Satu atau dua kalimat seperti "pikir positif" tidak cukup untuk menyimpulkan seseorang toxic.
Bisa jadi temanmu memang tidak tahu harus merespons bagaimana.
Bisa jadi mereka bermaksud menghibur.
Bisa jadi mereka sendiri terbiasa menghadapi masalah dengan cara tersebut.
Yang lebih penting adalah melihat pola.
Tanyakan kepada dirimu sendiri:
Apakah aku merasa aman ketika membicarakan emosi negatif?
Apakah perasaanku didengarkan atau langsung dibantah?
Apakah aku sering merasa bersalah setelah bercerita?
Apakah aku bisa mengatakan bahwa aku sedang tidak baik-baik saja?
Apakah temanku mampu menerima bahwa aku sedang sedih tanpa memaksaku segera bahagia?
Apakah aku merasa menjadi diriku sendiri dalam hubungan ini?
Jika sebagian besar jawabannya adalah "tidak", mungkin ada dinamika hubungan yang perlu diperhatikan.
Pertemanan yang sehat tidak selalu membuatmu bahagia
Ini mungkin terdengar paradoks.
Tetapi teman yang baik tidak selalu membuat kita merasa senang.
Kadang mereka membuat kita menangis karena membantu kita menghadapi kenyataan.
Kadang mereka mengatakan sesuatu yang tidak ingin kita dengar.
Kadang mereka hanya duduk diam ketika kita sedang sedih.
Dan terkadang, mereka tidak mengatakan apa-apa selain:
"Aku ada di sini."
Itu sudah cukup.
Sebab, tidak semua masalah membutuhkan solusi.
Tidak semua kesedihan membutuhkan nasihat.
Dan tidak setiap emosi negatif harus segera diubah menjadi sesuatu yang positif.
Ada kalanya seseorang hanya membutuhkan ruang untuk merasakan apa yang sedang mereka rasakan.
Sedih tidak selalu berarti lemah.
Marah tidak selalu berarti buruk.
Kecewa tidak selalu berarti tidak bersyukur.
Dan mengeluh sesekali tidak membuat seseorang menjadi pribadi negatif.
Kita adalah manusia, bukan mesin yang harus selalu berada dalam mode bahagia.
Pada akhirnya, pertemanan yang sehat bukanlah hubungan yang membuatmu selalu tersenyum.
Melainkan hubungan yang membuatmu merasa aman untuk tersenyum ketika bahagia dan menangis ketika sedang terluka.
Karena dukungan yang benar bukan selalu berkata, "Lihat sisi positifnya."
Terkadang dukungan terbaik justru berbunyi sederhana:
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Getafe vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Napoli vs Bologna di Liga Italia: Partenopei Menang Tipis di Stadio Maradona
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Skor Racing de Santander vs Alaves di Liga Spanyol: Harapan Baba Zorros di El Sardinero
Prediksi Skor Lille vs Troyes di Liga Prancis: Kans Calvin Verdonk Cs Pesta Gol di Kandang
Kanaya Whu Vokalis MK9 Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Turut Berduka
Prediksi Skor Augsburg vs Bayer Leverkusen di Liga Jerman: Die Werkself Buru Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor RB Leipzig vs Hamburger SV di Liga Jerman: Die Roten Bullen Menang di Red Bull Arena
Prediksi Skor Celta Vigo vs Malaga di Liga Spanyol: Los Celestes Taklukkan Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Persija vs Persib di Super League 2026/2027: Macan Kemayoran Menang Dramatis!

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022