seseorang yang memperbaiki hubungan yang telah dikhianati / foto: Magnific/Drazen Zigic
Ketika kepercayaan sudah rusak, hubungan biasanya tidak bisa kembali seperti semula hanya dengan kalimat, "Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi."
Ada luka yang membutuhkan waktu.
Ada pertanyaan yang membutuhkan jawaban.
Ada rasa takut yang mungkin muncul bahkan ketika pasangan sebenarnya sudah berusaha berubah.
Dan yang paling sulit, orang yang dikhianati sering berada dalam posisi serba salah. Di satu sisi masih mencintai pasangannya. Di sisi lain, hati sudah terlanjur terluka.
Lalu, apakah hubungan masih bisa diperbaiki setelah pengkhianatan?
Bisa, tetapi tidak selalu.
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (14/9), dalam perspektif psikologi hubungan, pemulihan kepercayaan membutuhkan lebih dari sekadar rasa cinta. Dibutuhkan kejujuran, tanggung jawab, perubahan perilaku, komunikasi yang sehat, dan kesediaan kedua belah pihak untuk menghadapi luka yang ada.
Jika kamu ingin mencoba memperbaiki hubungan setelah dikhianati, berikut tujuh langkah yang dapat membantu.
1. Akui bahwa luka itu memang nyata, jangan memaksa diri untuk segera "baik-baik saja"
Kesalahan pertama yang sering dilakukan setelah mengalami pengkhianatan adalah mencoba terlalu cepat melupakan semuanya.
Ada orang yang berkata kepada dirinya sendiri:
"Sudahlah, yang penting dia sudah minta maaf."
"Aku harus belajar memaafkan."
"Aku tidak boleh terus mengungkit masa lalu."
Padahal, memaafkan tidak sama dengan menghapus rasa sakit.
Ketika kepercayaan seseorang dihancurkan, sangat wajar jika muncul berbagai emosi: marah, sedih, kecewa, takut, bingung, bahkan mempertanyakan harga diri sendiri.
Kamu mungkin tiba-tiba menjadi lebih sensitif. Hal kecil yang sebelumnya tidak berarti bisa memicu kembali ingatan tentang pengkhianatan tersebut.
Misalnya, pasangan terlambat membalas pesan. Secara objektif, mungkin tidak ada sesuatu yang salah. Tetapi pengalaman masa lalu membuat pikiran langsung bertanya:
"Jangan-jangan dia melakukan sesuatu lagi?"
Respons seperti ini tidak otomatis berarti kamu terlalu posesif atau tidak bisa move on. Setelah mengalami pelanggaran kepercayaan, seseorang memang dapat menjadi lebih waspada terhadap tanda-tanda yang dianggap berpotensi mengancam hubungan.
Karena itu, langkah pertama bukan memaksa diri untuk berhenti merasa sakit.
Langkah pertama adalah mengakui bahwa kamu terluka.
Berikan ruang untuk memahami apa yang sebenarnya kamu rasakan.
Apakah kamu marah?
Apakah kamu takut dikhianati lagi?
Apakah kamu merasa tidak cukup baik?
Apakah kamu kehilangan rasa aman?
Atau sebenarnya kamu masih mencintai pasangan, tetapi tidak tahu bagaimana cara mempercayainya kembali?
Semakin jelas kamu memahami emosimu, semakin mudah pula kamu menentukan apa yang sebenarnya kamu butuhkan dari hubungan tersebut.
2. Jangan hanya meminta permintaan maaf, lihat apakah ada tanggung jawab
Salah satu hal penting dalam proses memperbaiki hubungan adalah membedakan antara permintaan maaf dan pertanggungjawaban.
Seseorang bisa mengatakan:
"Aku benar-benar minta maaf."
Namun, pertanyaan berikutnya adalah:
Apa yang dia lakukan setelah meminta maaf?
Permintaan maaf yang sehat biasanya tidak berhenti pada penyesalan verbal.
Orang yang benar-benar bertanggung jawab cenderung bersedia mengakui kesalahannya tanpa terus mencari alasan untuk membenarkan perilakunya.
Misalnya, dibanding mengatakan:
"Aku melakukan itu karena kamu terlalu sibuk denganku."
lebih sehat jika dia mampu mengatakan:
"Apa pun masalah yang terjadi dalam hubungan kita, keputusan untuk berbohong tetap menjadi tanggung jawabku. Aku seharusnya membicarakannya denganmu, bukan melakukan hal tersebut."
Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi sangat penting.
Ketika seseorang terus menyalahkan keadaan atau pasangannya, proses pemulihan akan menjadi jauh lebih sulit.
Sebaliknya, ketika dia mampu mengambil tanggung jawab, kamu mendapatkan sinyal bahwa dia memahami dampak dari tindakannya.
Namun, jangan hanya menilai dari kata-kata.
Perhatikan perilakunya.
Apakah dia menjadi lebih terbuka?
Apakah dia menghentikan perilaku yang menyebabkan pengkhianatan?
Apakah dia bersedia menjawab pertanyaan yang relevan?
Apakah dia berusaha memahami perasaanmu?
Apakah dia konsisten dalam perubahan tersebut?
Perubahan yang nyata biasanya terlihat melalui pola perilaku yang konsisten, bukan satu atau dua tindakan baik setelah konflik.
3. Bicarakan pengkhianatan secara jujur, tetapi hindari menjadikan setiap percakapan sebagai interogasi
Setelah dikhianati, ada dorongan kuat untuk mengetahui semuanya.
Kapan terjadi?
Dengan siapa?
Mengapa?
Sudah berapa lama?
Apa yang sebenarnya dia rasakan?
Apakah masih ada sesuatu yang disembunyikan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat muncul karena otak sedang berusaha memahami sesuatu yang sebelumnya tidak terduga.
Memahami apa yang terjadi memang penting. Namun, ada perbedaan antara mencari kejelasan dan terjebak dalam pemeriksaan tanpa akhir.
Jika setiap percakapan berubah menjadi interogasi, hubungan bisa memasuki pola yang melelahkan:
Kamu bertanya → pasangan defensif → kamu semakin curiga → pasangan semakin menjauh → kamu semakin takut → konflik kembali terjadi.
Karena itu, cobalah membicarakan masalah dengan tujuan yang lebih jelas.
Bukan:
"Aku ingin membuatmu merasa bersalah."
Melainkan:
"Aku ingin memahami apa yang terjadi supaya aku bisa menentukan apakah hubungan ini masih aman untuk dilanjutkan."
Kamu juga berhak menjelaskan dampaknya terhadap dirimu.
Daripada berkata:
"Kamu memang tidak pernah bisa dipercaya."
cobalah:
"Sejak kejadian itu, aku menjadi sulit merasa aman ketika kamu tidak memberi kabar. Aku ingin kita mencari cara agar rasa aman itu bisa dibangun kembali."
Kalimat seperti ini tidak berarti kamu harus menyembunyikan kemarahan.
Kamu tetap boleh marah.
Tetapi komunikasi yang lebih spesifik membuat pembicaraan memiliki peluang lebih besar untuk menghasilkan perubahan.
4. Tentukan batasan baru agar hubungan memiliki rasa aman
Setelah kepercayaan rusak, hubungan sering membutuhkan aturan dan batasan baru.
Batasan bukan berarti mengontrol pasangan.
Batasan adalah kejelasan mengenai perilaku apa yang dapat kamu terima dan apa yang tidak.
Misalnya, jika pengkhianatan terjadi karena kebiasaan menyembunyikan komunikasi tertentu, pasangan perlu memahami bahwa keterbukaan dalam area tersebut menjadi bagian penting dari proses pemulihan.
Jika sebelumnya kalian jarang membicarakan masalah, mungkin sekarang perlu ada waktu khusus untuk membicarakan kondisi hubungan.
Jika sebelumnya konflik selalu dihindari, kalian mungkin perlu membuat kesepakatan bahwa masalah tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.
Yang penting, batasan harus realistis dan dapat dipahami kedua pihak.
Contohnya:
"Kalau ada masalah dengan perasaanmu terhadap hubungan ini, aku ingin kamu membicarakannya secara langsung daripada menyembunyikannya."
Atau:
"Aku tidak bisa melanjutkan hubungan jika kebohongan yang sama terus terjadi."
Perhatikan bahwa batasan berbeda dari ancaman.
Ancaman berbunyi:
"Kalau kamu melakukan kesalahan sedikit saja, semuanya selesai."
Batasan lebih berfokus pada kebutuhan dan konsekuensi:
"Aku bersedia mencoba membangun kembali hubungan ini, tetapi jika kebohongan yang sama kembali terjadi, aku perlu mempertimbangkan kembali apakah hubungan ini masih sehat untukku."
Batasan memberikan struktur.
Dan setelah kepercayaan rusak, struktur sering kali membantu menciptakan kembali rasa aman.
5. Bangun kembali kepercayaan melalui tindakan kecil yang konsisten
Kepercayaan tidak biasanya kembali dalam satu percakapan.
Ia dibangun melalui pengalaman-pengalaman kecil yang berulang.
Bayangkan kepercayaan seperti sebuah rekening.
Pengkhianatan adalah penarikan dalam jumlah besar.
Sementara itu, tindakan-tindakan kecil yang konsisten adalah setoran yang dilakukan berkali-kali.
Menepati janji.
Mengatakan yang sebenarnya.
Memberi kabar ketika sudah berjanji.
Tidak menyembunyikan masalah.
Berani membicarakan sesuatu yang tidak nyaman.
Mengakui kesalahan tanpa harus dipaksa.
Menunjukkan konsistensi ketika tidak sedang diawasi.
Semua itu mungkin terlihat sederhana.
Namun, justru perilaku sederhana yang dilakukan terus-menerus dapat memberikan pesan penting:
"Aku bisa mengandalkanmu lagi."
Karena itu, jangan berharap kepercayaan pulih hanya karena pasangan sudah berkata bahwa ia berubah.
Biarkan waktu menguji perubahan tersebut.
Kamu tidak harus langsung percaya 100 persen.
Kepercayaan boleh dibangun secara bertahap.
Hari ini mungkin kamu hanya mampu memberikan sedikit kepercayaan.
Beberapa bulan kemudian, jika perilakunya konsisten, mungkin rasa aman itu bertambah.
Tidak perlu memaksa prosesnya.
6. Belajar membedakan antara intuisi, ketakutan, dan bukti nyata
Ini adalah salah satu bagian tersulit setelah dikhianati.
Ketika seseorang pernah dibohongi, pikirannya dapat menjadi sangat waspada.
Masalahnya, kewaspadaan tersebut terkadang membuat semua hal terlihat mencurigakan.
Pasangan tidak membalas pesan selama satu jam.
"Dia pasti menyembunyikan sesuatu."
Pasangan terlihat lelah.
"Jangan-jangan dia sudah tidak mencintaiku."
Pasangan menggunakan ponsel lebih lama.
"Apakah dia sedang berbicara dengan orang lain?"
Pikiran seperti ini dapat muncul secara otomatis.
Namun, penting untuk membedakan:
Apa yang aku rasakan?
dan
Apa yang benar-benar aku ketahui?
Perasaan takut itu nyata, tetapi belum tentu merupakan bukti bahwa sesuatu yang buruk sedang terjadi.
Cobalah berhenti sejenak ketika rasa curiga muncul dan tanyakan:
"Apa faktanya?"
"Apa asumsi yang sedang dibuat oleh pikiranku?"
"Apakah ada perilaku konkret yang menunjukkan masalah?"
"Atau pengalaman masa lalu sedang membuatku takut hal yang sama akan terjadi lagi?"
Ini bukan berarti kamu harus mengabaikan intuisi.
Jika memang terdapat pola kebohongan baru, manipulasi, atau perilaku yang kembali melanggar batasan, jangan menutup mata.
Namun, jika tidak ada bukti dan yang muncul terutama adalah ketakutan akibat luka lama, kamu mungkin membutuhkan waktu untuk memproses pengalaman tersebut.
Dengan kata lain:
Jangan abaikan sinyal bahaya, tetapi jangan pula membiarkan ketakutan masa lalu mengendalikan seluruh hubungan baru.
7. Terima bahwa memperbaiki hubungan membutuhkan dua orang
Ini mungkin bagian yang paling penting.
Kamu tidak bisa memperbaiki hubungan seorang diri.
Kamu bisa belajar berkomunikasi lebih baik.
Kamu bisa belajar mengelola emosi.
Kamu bisa berusaha memaafkan.
Kamu bisa memberikan kesempatan kedua.
Tetapi kamu tidak bisa membuat seseorang menjadi jujur jika dia sendiri tidak mau jujur.
Kamu tidak bisa membuat seseorang bertanggung jawab jika dia terus menyalahkanmu.
Kamu tidak bisa membangun kepercayaan jika orang tersebut terus melakukan perilaku yang sama.
Karena itu, pemulihan hubungan harus menjadi usaha bersama.
Jika hanya kamu yang terus berusaha sementara pasangan hanya berkata, "Kamu harus belajar melupakan," hubungan tersebut kemungkinan akan semakin melelahkan.
Sebaliknya, jika kedua pihak bersedia bekerja sama, peluang untuk membangun kembali hubungan menjadi lebih besar.
Dalam beberapa kasus, bantuan profesional seperti konseling pasangan juga dapat membantu. Terutama ketika percakapan selalu berakhir dengan pertengkaran, kedua pihak kesulitan memahami kebutuhan masing-masing, atau luka dari pengkhianatan sudah terlalu dalam untuk diselesaikan hanya melalui percakapan biasa.
Dan satu hal penting:
Memperbaiki hubungan tidak selalu berarti harus tetap bersama.
Terkadang, proses memperbaiki hubungan justru membantu dua orang memahami bahwa mereka masih ingin bersama dan bersedia membangun sesuatu yang lebih sehat.
Tetapi terkadang proses yang sama juga membuat seseorang menyadari bahwa meninggalkan hubungan adalah pilihan yang lebih baik untuk dirinya.
Keduanya bukan kegagalan.
Yang paling penting adalah keputusan tersebut dibuat dengan kesadaran, bukan semata-mata karena takut kehilangan.
Jadi, apakah hubungan setelah pengkhianatan masih bisa bahagia?
Jawabannya: bisa, tetapi hubungan tersebut mungkin tidak akan menjadi persis seperti sebelum pengkhianatan.
Dan mungkin memang tidak perlu.
Hubungan yang pulih bukan berarti kembali ke titik sebelum semuanya terjadi.
Hubungan yang pulih berarti menciptakan bentuk hubungan baru yang memiliki lebih banyak kejujuran, batasan yang lebih jelas, komunikasi yang lebih sehat, dan pemahaman yang lebih dalam tentang kebutuhan masing-masing.
Jika kamu adalah orang yang dikhianati, jangan merasa bahwa kamu harus segera memaafkan hanya karena pasangan meminta maaf.
Jangan pula merasa bersalah karena membutuhkan waktu.
Kepercayaan adalah sesuatu yang boleh diberikan secara bertahap.
Dan jika kamu adalah orang yang melakukan pengkhianatan, jangan menuntut pasangan untuk segera percaya lagi hanya karena kamu sudah menyesal.
Penyesalan adalah awal. Perubahan yang konsisten adalah prosesnya.
Pada akhirnya, hubungan yang sehat bukan hubungan yang tidak pernah mengalami luka.
Hubungan yang sehat adalah hubungan di mana ketika luka terjadi, kedua orang di dalamnya bersedia melihat masalah dengan jujur, mengambil tanggung jawab, memperbaiki perilaku, dan membangun kembali rasa aman bersama.
Karena cinta saja mungkin tidak cukup untuk memperbaiki pengkhianatan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Celtic vs Ferencvaros di Liga Europa: Kans The Hoops Permalukan Lawan di Celtic Park
Prediksi Skor Malaga vs Villarreal di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Siap Bombardir Tuan Rumah
Prediksi Skor Lillestrom vs Torreense di Liga Europa: Kans Kanarifuglene Menang di Arasen Stadion
Prediksi Skor Real Betis vs Getafe di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Siap Sikat Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Besiktas vs Marseille di Liga Europa: Kara Kartallar Cabik-cabik Tim Tamu di Tupras
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Prediksi Skor Viktoria Plzen vs Union SG di Liga Europa: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Susunan Pemain Manchester City vs Norwich: Maresca Rotasi Skuad
Prediksi Skor Levski Sofia vs Red Bull Salzburg di Liga Europa: Misi Die Roten Bullen Curi Poin
Prediksi Skor Real Sociedad vs Bournemouth di Liga Europa: Txuri-urdin Bakal Kesulitan Redam Lawan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022