Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 13 September 2026 | 13.00 WIB

6 Situasi di Tempat Kerja yang Bisa Jadi Tanda Kamu Perlu Berganti Pekerjaan Menurut Psikologi

seseorang yang mempertimbangkan untuk berganti pekerjaan. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Tidak semua rasa lelah berarti kamu berada di pekerjaan yang salah.

Ada hari-hari ketika pekerjaan terasa berat, atasan terasa menyebalkan, rekan kerja membuat frustrasi, atau rasanya ingin segera pulang bahkan sebelum jam makan siang. Itu semua adalah pengalaman yang cukup manusiawi. Setiap pekerjaan memiliki tekanan, konflik, target, dan masa-masa membosankan.

Namun, ada perbedaan antara lelah karena pekerjaan dan terkikis oleh pekerjaan.

Yang pertama biasanya bisa pulih setelah beristirahat. Yang kedua justru terasa semakin dalam dari waktu ke waktu. Bahkan ketika sedang libur, pikiran tetap dipenuhi pekerjaan. Ketika Minggu malam tiba, kecemasan mulai muncul. Ketika Senin pagi datang, rasanya seperti kehilangan energi sebelum hari benar-benar dimulai.

Dalam psikologi kerja, kondisi seseorang di tempat kerja tidak hanya berkaitan dengan gaji atau jabatan. Lingkungan kerja dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis, motivasi, rasa kompeten, hubungan sosial, bahkan cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Karena itu, ketika pekerjaan mulai secara konsisten mengorbankan kesehatan psikologis, hubungan dengan orang lain, atau nilai-nilai pribadi, mungkin sudah waktunya untuk berhenti sekadar bertanya, “Bagaimana caranya saya bertahan?”

Pertanyaan lain yang tidak kalah penting adalah:

“Apakah saya masih ingin hidup seperti ini untuk beberapa tahun ke depan?”

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (12/9), terdapat enam situasi yang patut menjadi bahan pertimbangan.

1. Kamu Terus-Menerus Merasa Lelah, Bahkan Setelah Beristirahat

Lelah setelah bekerja adalah hal yang normal.

Tetapi jika rasa lelah tersebut sudah menjadi kondisi permanen, ada sesuatu yang perlu diperhatikan.

Misalnya, kamu sudah tidur cukup pada akhir pekan, tetapi Senin pagi tetap terasa sangat berat. Kamu mengambil cuti, tetapi setelah kembali bekerja beberapa hari kemudian, rasa terkuras itu muncul lagi. Kamu bahkan mulai kehilangan energi untuk melakukan hal-hal yang biasanya kamu sukai.

Dalam psikologi kerja, kelelahan yang berlangsung terus-menerus dapat menjadi salah satu komponen penting dari burnout.

Burnout bukan sekadar “capek bekerja”. Ia dapat melibatkan kelelahan emosional, munculnya sikap sinis atau menjaga jarak dari pekerjaan, serta perasaan bahwa kemampuan diri tidak lagi sebaik sebelumnya.

Yang sering terjadi adalah seseorang mencoba mengatasi masalah dengan cara yang sama berulang kali.

“Coba liburan dulu.”

“Coba tidur lebih banyak.”

“Coba jangan terlalu dipikirkan.”

“Coba lebih sabar.”

Semua itu memang bisa membantu jika masalahnya adalah kelelahan sementara.

Namun, jika setelah berulang kali beristirahat kamu selalu kembali ke titik yang sama, mungkin persoalannya bukan hanya kurang istirahat.

Bisa jadi sumber kelelahan tersebut masih berada di lingkungan kerjamu.

Misalnya:

beban kerja yang terus-menerus tidak realistis,
jam kerja yang tidak pernah benar-benar selesai,
tuntutan untuk selalu tersedia,
kurangnya kontrol terhadap pekerjaan,
konflik dengan atasan,
target yang terus meningkat tanpa dukungan,
atau budaya kerja yang menganggap kelelahan sebagai tanda dedikasi.

Di titik ini, berganti pekerjaan bukan berarti kamu “tidak kuat”.

Justru bisa menjadi bentuk evaluasi diri yang sehat.

Tanyakan kepada diri sendiri:

“Kalau kondisi pekerjaan ini tidak berubah selama dua tahun ke depan, apakah saya sanggup menjalaninya?”

Jawaban atas pertanyaan tersebut mungkin lebih jujur daripada sekadar bertanya apakah kamu masih bisa bertahan bulan depan.

2. Kamu Tidak Lagi Berkembang dan Mulai Merasa Stagnan

Tidak semua pekerjaan harus memberikan promosi setiap tahun.

Namun, manusia pada umumnya memiliki kebutuhan untuk merasa berkembang, belajar, dan menggunakan kemampuannya secara bermakna.

Masalah muncul ketika kamu sudah berada di sebuah pekerjaan cukup lama, tetapi tidak lagi mendapatkan tantangan yang sehat.

Setiap hari terasa seperti mengulang hal yang sama.

Datang.

Mengerjakan tugas.

Rapat.

Pulang.

Besok mengulanginya lagi.

Bulan berganti bulan, bahkan tahun berganti tahun, tetapi kamu merasa tidak menjadi lebih kompeten atau lebih dekat dengan tujuan yang kamu inginkan.

Dalam psikologi, rasa memiliki kemampuan dan kesempatan untuk berkembang merupakan bagian penting dari motivasi intrinsik. Ketika seseorang merasa tidak memiliki kesempatan untuk belajar atau menggunakan potensinya, pekerjaan dapat perlahan kehilangan makna.

Ironisnya, pekerjaan yang terlalu mudah juga bisa melelahkan.

Bukan karena terlalu banyak tugas, tetapi karena terlalu sedikit tantangan yang bermakna.

Kamu mungkin mulai berpikir:

“Kalau saya tetap di sini lima tahun lagi, apa yang sebenarnya akan berubah?”

Atau:

“Apakah pengalaman yang saya dapatkan di sini masih membuat saya lebih berharga di pasar kerja?”

Jika jawabannya terus-menerus “tidak”, mungkin sudah waktunya melihat peluang lain.

Bukan berarti kamu harus langsung mengundurkan diri.

Kamu bisa mulai dengan memperbarui CV, mempelajari keterampilan baru, berbicara dengan orang-orang di bidang yang kamu minati, atau melihat lowongan pekerjaan untuk mengetahui apakah kemampuanmu memiliki nilai di tempat lain.

Kadang-kadang, kita baru menyadari bahwa kita sedang stagnan setelah melihat betapa banyaknya kemungkinan yang sebenarnya tersedia di luar lingkungan kerja kita.

3. Nilai-Nilai Pribadimu Semakin Bertentangan dengan Pekerjaan

Ini salah satu alasan paling penting yang sering diabaikan.

Gaji bagus memang penting.

Jabatan juga penting.

Stabilitas pekerjaan tentu penting.

Tetapi ada batas tertentu ketika uang tidak lagi cukup untuk membuat seseorang merasa nyaman dengan apa yang ia lakukan setiap hari.

Misalnya, kamu bekerja di perusahaan yang menuntutmu melakukan sesuatu yang bertentangan dengan prinsip pribadi.

Atau kamu berada dalam budaya kerja yang menganggap manipulasi sebagai hal biasa.

Atau kamu diminta menyembunyikan informasi penting dari pelanggan.

Atau perusahaan terus mendorong perilaku yang menurutmu tidak etis.

Pada awalnya mungkin kamu berpikir:

“Ya sudah, ini kan cuma pekerjaan.”

Namun, manusia tidak selalu bisa memisahkan pekerjaan dari identitas pribadi secara sempurna.

Jika setiap hari kamu melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai yang kamu yakini, konflik tersebut dapat menciptakan tekanan psikologis.

Kamu mungkin mulai mengalami apa yang dalam psikologi dikenal sebagai cognitive dissonance, yaitu ketidaknyamanan ketika tindakan, keyakinan, atau nilai seseorang berada dalam konflik.

Contohnya sederhana.

Kamu percaya bahwa kejujuran adalah hal penting.

Tetapi pekerjaanmu menuntutmu menyampaikan sesuatu yang sebenarnya tidak sepenuhnya benar kepada pelanggan.

Semakin sering situasi tersebut terjadi, semakin besar kemungkinan muncul pertanyaan dalam diri:

“Apakah saya sedang menjadi orang yang sebenarnya tidak ingin saya jadi?”

Jika pertanyaan semacam itu muncul terus-menerus, masalahnya bukan lagi sekadar pekerjaan yang melelahkan.

Ini sudah menyentuh kesesuaian antara pekerjaan dan identitas pribadi.

Pekerjaan yang memiliki gaji tinggi tetapi memaksamu mengorbankan prinsip yang sangat penting bagi dirimu belum tentu merupakan pekerjaan yang benar-benar “mahal” untuk dipertahankan.

4. Kamu Selalu Merasa Takut, Cemas, atau Berjalan di Atas Kulit Telur

Ada perbedaan besar antara bekerja dengan penuh tanggung jawab dan bekerja dalam ketakutan.

Kamu mungkin pernah melakukan kesalahan di tempat kerja dan merasa gugup ketika harus melaporkannya. Itu normal.

Tetapi jika setiap hari kamu merasa takut melakukan kesalahan karena khawatir akan dipermalukan, dimarahi, diancam, atau diperlakukan tidak adil, situasinya berbeda.

Begitu pula jika kamu merasa harus selalu berhati-hati dengan apa yang kamu katakan karena tidak tahu kapan atasan akan meledak.

Atau kamu tidak berani menyampaikan pendapat karena setiap kritik dibalas dengan serangan pribadi.

Atau kamu terus-menerus merasa harus membaca suasana hati seseorang sebelum berbicara.

Lingkungan semacam ini dapat menguras energi mental yang sangat besar.

Kamu bukan hanya mengerjakan pekerjaan.

Otakmu juga terus melakukan “pemantauan bahaya”.

Apakah bos sedang marah?

Apakah saya akan disalahkan?

Apakah pesan ini akan membuat dia tersinggung?

Apakah saya akan dipermalukan dalam rapat?

Apakah saya akan kehilangan pekerjaan?

Ketika ketakutan menjadi bagian dari rutinitas kerja, kemampuan untuk bekerja secara sehat dapat ikut terganggu.

Karyawan membutuhkan ruang tertentu untuk bertanya, melakukan kesalahan, memberikan pendapat, dan belajar.

Jika tempat kerja membuatmu merasa bahwa setiap kesalahan adalah ancaman terhadap harga diri atau keamananmu, mungkin masalahnya bukan pada “mental yang kurang kuat”.

Bisa jadi lingkungan tersebut memang tidak sehat.

Dan penting untuk membedakan antara pekerjaan yang menantang dengan lingkungan kerja yang membuat seseorang terus-menerus merasa terancam.

5. Kamu Sudah Berusaha Memperbaiki Situasi, tetapi Tidak Ada Perubahan

Ini mungkin salah satu indikator paling realistis bahwa kamu perlu mulai mempertimbangkan pilihan lain.

Sebelum memutuskan untuk berganti pekerjaan, tentu masuk akal jika seseorang mencoba memperbaiki keadaan.

Berbicara dengan atasan.

Meminta perubahan beban kerja.

Mengomunikasikan batasan.

Meminta dukungan.

Mengubah cara bekerja.

Mengambil cuti.

Mencari solusi bersama tim.

Semua itu layak dicoba.

Namun, ada kondisi ketika kamu sudah mencoba berkali-kali dan masalahnya tetap sama.

Kamu sudah mengatakan bahwa beban kerjamu tidak masuk akal.

Tidak ada perubahan.

Kamu sudah meminta kejelasan mengenai tanggung jawab.

Tetap tidak ada perubahan.

Kamu sudah menyampaikan masalah dengan cara profesional.

Responsnya tetap mengabaikan.

Kamu sudah mencoba mengatur batasan.

Batasanmu terus dilanggar.

Jika pola ini berlangsung lama, kamu perlu bertanya:

“Apakah saya sedang berusaha memperbaiki sesuatu yang memang tidak ingin diperbaiki oleh organisasi?”

Ini pertanyaan yang penting.

Sebab terkadang seseorang menghabiskan bertahun-tahun mencoba mengubah lingkungan yang sebenarnya tidak memiliki insentif untuk berubah.

Akibatnya, seluruh energi digunakan untuk bertahan.

Padahal, energi tersebut mungkin bisa digunakan untuk membangun karier baru.

Berganti pekerjaan dalam kondisi seperti ini bukan berarti menyerah pada masalah.

Bisa jadi justru berarti menerima kenyataan bahwa tidak semua masalah dapat diselesaikan dari dalam.

6. Kehidupanmu di Luar Pekerjaan Mulai Rusak Karena Pekerjaan

Ini mungkin tanda yang paling mudah dikenali.

Pekerjaan seharusnya menjadi salah satu bagian dari kehidupan.

Bukan seluruh kehidupan.

Tetapi ketika pekerjaan mulai mengambil hampir semua ruang mental dan emosionalmu, keseimbangan dapat mulai runtuh.

Kamu mungkin mulai jarang bertemu keluarga.

Tidak punya energi untuk bertemu teman.

Tidak lagi berolahraga.

Hobi yang dulu disukai mulai ditinggalkan.

Makan menjadi tidak teratur.

Tidur terganggu.

Saat berada di rumah pun pikiran masih berada di kantor.

Bahkan ketika sedang bersama orang yang kamu sayangi, perhatianmu tetap tertuju pada pekerjaan.

“Besok harus presentasi.”

“Email tadi belum dibalas.”

“Kalau bos menanyakan ini bagaimana?”

“Target bulan ini belum tercapai.”

Akibatnya, secara fisik kamu berada di rumah, tetapi secara psikologis kamu masih berada di kantor.

Inilah salah satu alasan mengapa batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi sangat penting.

Pekerjaan memang memiliki konsekuensi di luar jam kantor. Tetapi jika hampir seluruh hidupmu secara konsisten dikorbankan untuk mempertahankan pekerjaan, mungkin sudah saatnya mengevaluasi ulang.

Karier adalah bagian dari kehidupan.

Karier bukan keseluruhan kehidupan.

Dan ketika sebuah pekerjaan membuatmu kehilangan hubungan, kesehatan, waktu, atau hal-hal yang sebenarnya sangat kamu hargai, kenaikan gaji atau jabatan belum tentu mampu menggantikan semua yang hilang.

Tapi Bukankah Semua Pekerjaan Memang Sulit?

Benar.

Tidak ada pekerjaan yang sempurna.

Setiap organisasi mempunyai politik internal. Setiap atasan memiliki kekurangan. Setiap pekerjaan memiliki hari buruk.

Karena itu, enam tanda di atas tidak boleh digunakan sebagai alasan untuk langsung mengundurkan diri setiap kali merasa tidak nyaman.

Yang lebih penting adalah melihat pola, durasi, dan dampaknya.

Coba tanyakan:

Apakah ini hanya terjadi sesekali atau hampir setiap minggu?

Apakah masalahnya bisa diperbaiki atau sudah berlangsung bertahun-tahun?

Apakah setelah beristirahat saya merasa lebih baik atau tetap terkuras?

Apakah saya sudah mencoba berkomunikasi dan mencari solusi?

Apakah organisasi menunjukkan keinginan untuk memperbaiki keadaan?

Apakah pekerjaan ini masih sejalan dengan kehidupan yang ingin saya bangun?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu membedakan antara fase sulit dan lingkungan yang memang tidak cocok.

Jangan Membuat Keputusan Hanya Saat Sedang Marah

Ada satu hal penting yang perlu diingat.

Jangan mengambil keputusan besar hanya berdasarkan satu hari yang buruk.

Hari ketika atasan memarahimu.

Hari ketika proyek gagal.

Hari ketika rekan kerja membuatmu kesal.

Hari ketika kamu merasa sangat lelah.

Emosi pada saat tertentu bisa membuat masalah terlihat lebih besar daripada keadaan sebenarnya.

Sebaliknya, jangan juga menggunakan satu hari yang baik untuk menyangkal masalah yang sudah berlangsung selama berbulan-bulan.

Lihat polanya.

Cobalah mencatat kondisi pekerjaanmu selama beberapa minggu.

Apa yang membuatmu stres?

Kapan kamu merasa paling berenergi?

Apa yang membuatmu ingin pergi?

Apakah masalah tersebut muncul karena pekerjaan tertentu, orang tertentu, atau budaya organisasi secara keseluruhan?

Dengan melihat pola, keputusanmu akan lebih rasional.

Berganti Pekerjaan Bukan Berarti Harus Langsung Resign

Ini juga penting.

Banyak orang mengira hanya ada dua pilihan:

bertahan atau resign.

Padahal ada banyak langkah di antaranya.

Kamu bisa mulai melakukan persiapan secara diam-diam dan profesional.

Perbarui CV.

Bangun portofolio.

Pelajari keterampilan baru.

Perluas jaringan profesional.

Cari tahu kisaran gaji di bidangmu.

Lihat lowongan yang tersedia.

Ikuti wawancara untuk memahami nilai pasarmu.

Bangun dana darurat.

Dengan begitu, kamu tidak membuat keputusan dari posisi panik.

Kamu membuat keputusan dari posisi yang lebih kuat.

Ada perbedaan besar antara:

“Saya harus keluar sekarang karena saya sudah tidak tahan.”

dan

“Saya sudah mengevaluasi situasi ini dan sedang menyiapkan pilihan yang lebih baik.”

Yang kedua biasanya jauh lebih aman.

Jangan Menganggap Bertahan Selalu Berarti Kuat

Ada budaya yang sering mengatakan bahwa orang sukses adalah orang yang mampu bertahan dalam kondisi apa pun.

Memang, ketahanan mental adalah kualitas yang berharga.

Tetapi bertahan tidak selalu berarti kuat.

Kadang-kadang, kemampuan untuk berkata:

“Situasi ini tidak lagi baik untuk saya.”

juga merupakan bentuk kekuatan.

Kamu tidak harus membuktikan nilai dirimu dengan terus bertahan dalam lingkungan yang menghancurkanmu.

Karier bukan ujian kesetiaan terhadap satu perusahaan.

Dunia kerja berubah.

Prioritas berubah.

Kemampuan berubah.

Kamu juga berubah.

Pekerjaan yang cocok untukmu lima tahun lalu belum tentu cocok untuk dirimu sekarang.

Dan itu bukan kegagalan.

Itu bagian normal dari perkembangan hidup dan karier.

Pada Akhirnya, Pertanyaan Terpenting Bukan “Haruskah Saya Resign?”

Mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah:

“Kehidupan seperti apa yang ingin saya bangun, dan apakah pekerjaan saya saat ini membantu saya menuju ke sana?”

Jika pekerjaanmu membuatmu lelah tetapi masih memberimu kesempatan untuk berkembang, memiliki hubungan kerja yang sehat, mendapatkan kompensasi yang layak, dan masih sejalan dengan nilai-nilai yang kamu pegang, mungkin yang dibutuhkan bukan resign.

Mungkin kamu membutuhkan batasan yang lebih sehat.

Mungkin kamu membutuhkan komunikasi yang lebih baik.

Mungkin kamu membutuhkan perubahan posisi atau tanggung jawab.

Tetapi jika pekerjaan secara konsisten menguras energimu, menghancurkan keseimbangan hidup, membuatmu takut, bertentangan dengan nilai-nilaimu, tidak memberikan ruang berkembang, dan tidak berubah meskipun sudah berusaha diperbaiki, maka mempertimbangkan pekerjaan lain adalah sesuatu yang masuk akal.

Bukan karena kamu lemah.

Bukan karena kamu tidak tahan tekanan.

Dan bukan karena semua masalah harus dihindari.

Melainkan karena karier seharusnya menjadi bagian dari kehidupan yang kamu bangun, bukan alasan mengapa kehidupanmu di luar pekerjaan perlahan menghilang.

Jadi, sebelum kembali bertanya, “Bagaimana saya bisa bertahan lebih lama di sini?”, mungkin sesekali ada baiknya bertanya:

“Kalau saya memiliki kesempatan untuk memilih kembali hari ini, apakah saya masih akan memilih pekerjaan ini?”

Jika jawabannya sudah lama berbeda, mungkin bukan kemampuanmu yang perlu dipertanyakan.

Mungkin sudah waktunya mempertimbangkan jalan yang berbeda.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore