seseorang yang mengurangi perilaku meniru orang berprestasi. (Magnific)
JawaPos.com - Pernahkah kamu melihat seseorang yang begitu sukses, pintar, berpenampilan menarik, produktif, atau memiliki kehidupan yang terlihat ideal, lalu tanpa sadar mulai meniru dirinya?
Awalnya mungkin sederhana.
Kamu meniru cara dia berbicara. Kemudian cara berpakaian. Cara bekerja. Cara membuat konten. Cara mengatur rutinitas. Bahkan, tanpa disadari, kamu mulai merasa bahwa cara hidup orang tersebut adalah standar yang seharusnya kamu ikuti.
Meniru orang lain sebenarnya bukan sesuatu yang selalu buruk. Dalam psikologi, manusia memang memiliki kecenderungan untuk belajar melalui pengamatan. Kita melihat seseorang melakukan sesuatu dengan berhasil, kemudian otak menangkap pola tersebut sebagai sesuatu yang layak dipelajari.
Masalahnya muncul ketika kekaguman berubah menjadi ketergantungan.
Kita tidak lagi sekadar belajar dari orang tersebut, tetapi mulai kehilangan kemampuan untuk menentukan apa yang sebenarnya cocok untuk diri sendiri.
Akibatnya, semakin sering melihat keberhasilan orang lain, semakin kuat pula dorongan untuk menjadi seperti mereka.
Padahal, orang yang kamu kagumi hanya menunjukkan satu kemungkinan kehidupan, bukan satu-satunya cara untuk hidup.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (12/9), jika kamu merasa terlalu sering meniru orang yang berprestasi, berikut enam langkah psikologis yang bisa membantu menguranginya.
1. Bedakan antara belajar dan meniru
Langkah pertama adalah menyadari bahwa belajar dari seseorang berbeda dengan meniru seseorang.
Ini terdengar sederhana, tetapi perbedaannya sangat penting.
Ketika belajar, kamu mengambil prinsip yang bermanfaat lalu menyesuaikannya dengan kondisi dirimu.
Misalnya, kamu melihat seorang pengusaha sukses bangun pagi dan langsung mengerjakan pekerjaan terpentingnya.
Kamu tidak harus berpikir:
"Kalau ingin sukses, saya harus bangun jam 5 pagi persis seperti dia."
Sebaliknya, kamu bisa bertanya:
"Apa prinsip yang sebenarnya membuat kebiasaannya efektif?"
Mungkin jawabannya bukan bangun pukul 5 pagi.
Mungkin yang membuatnya efektif adalah kemampuan menghindari distraksi, memiliki prioritas yang jelas, atau menyediakan waktu khusus untuk pekerjaan penting.
Inilah perbedaan antara meniru perilaku dan memahami prinsip di balik perilaku.
Ketika kamu hanya meniru perilaku, kamu mengambil sesuatu dari luar lalu mencoba memasukkannya begitu saja ke dalam hidupmu.
Namun ketika kamu memahami prinsipnya, kamu bisa mengadaptasinya.
Orang yang kamu kagumi mungkin bekerja 12 jam sehari karena kondisi hidupnya memungkinkan. Sementara kamu mungkin hanya memiliki waktu tiga jam sehari.
Meniru angka 12 jam tidak otomatis menghasilkan prestasi yang sama.
Yang lebih masuk akal adalah mengambil prinsipnya: konsistensi, fokus, dan kemampuan mengalokasikan waktu.
Coba gunakan pertanyaan ini
Setiap kali merasa ingin meniru seseorang, berhenti sebentar dan tanyakan:
"Apa sebenarnya yang ingin saya pelajari dari orang ini?"
Kemudian tanyakan lagi:
"Apakah saya membutuhkan perilakunya, atau sebenarnya saya hanya membutuhkan prinsip di balik perilaku tersebut?"
Pertanyaan sederhana ini dapat membuatmu lebih sadar sebelum mengikuti orang lain.
2. Kenali alasan mengapa kamu begitu ingin menjadi seperti mereka
Kadang-kadang masalahnya bukan pada orang yang kita kagumi.
Masalahnya adalah kebutuhan psikologis yang kita proyeksikan kepada mereka.
Kita mungkin melihat seseorang sukses dan berpikir:
"Kalau saya seperti dia, saya akan lebih dihargai."
"Kalau saya punya pencapaian seperti dia, saya akan lebih percaya diri."
"Kalau hidup saya seperti dia, mungkin saya akhirnya merasa cukup."
Di titik ini, keinginan meniru bukan lagi sekadar proses belajar.
Ia menjadi usaha untuk mendapatkan sesuatu yang lebih dalam: pengakuan, rasa aman, harga diri, status, atau penerimaan sosial.
Inilah mengapa seseorang bisa terus-menerus membandingkan dirinya dengan orang lain.
Masalahnya, pencapaian eksternal tidak selalu menyelesaikan kebutuhan internal.
Kamu bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus, tetapi masih merasa kurang.
Kamu bisa memiliki jumlah pengikut yang besar, tetapi masih merasa tidak cukup terkenal.
Kamu bisa memiliki penghasilan tinggi, tetapi tetap merasa kalah dibandingkan orang lain.
Karena standar yang digunakan bukan berasal dari dirimu sendiri.
Standarnya terus bergerak mengikuti orang lain.
Coba tanyakan kepada diri sendiri:
"Kalau tidak ada seorang pun yang melihat saya, apakah saya masih menginginkan hal ini?"
Pertanyaan tersebut cukup kuat untuk membongkar sebagian dorongan meniru.
Misalnya, kamu ingin membeli pakaian tertentu karena melihat seseorang yang kamu kagumi menggunakannya.
Tanyakan:
"Apakah saya benar-benar menyukai pakaian ini?"
Atau:
"Saya hanya ingin terlihat seperti dia?"
Begitu pula dengan pekerjaan, gaya hidup, pendidikan, bisnis, bahkan cara berbicara.
Semakin kamu memahami alasan di balik keinginanmu, semakin mudah membedakan antara keinginan autentik dan keinginan yang muncul karena perbandingan sosial.
3. Kurangi konsumsi konten yang membuatmu terus membandingkan diri
Salah satu lingkungan terbesar tempat perilaku meniru berkembang saat ini adalah media sosial.
Setiap hari kita bisa melihat orang yang lebih sukses, lebih kaya, lebih produktif, lebih menarik, lebih populer, atau tampak lebih bahagia.
Masalahnya, media sosial sering menampilkan hasil akhir, bukan keseluruhan proses.
Kamu melihat seseorang memiliki bisnis besar.
Kamu tidak melihat bertahun-tahun kegagalan yang mungkin terjadi sebelumnya.
Kamu melihat seseorang memiliki tubuh ideal.
Kamu tidak melihat seluruh rutinitas, kondisi biologis, waktu, sumber daya, atau faktor lain yang mendukungnya.
Kamu melihat seseorang berbicara dengan sangat percaya diri.
Kamu tidak mengetahui berapa lama ia melatih kemampuan tersebut.
Akibatnya, otak dapat membuat perbandingan yang tidak seimbang:
kehidupanmu yang lengkap dibandingkan dengan versi terbaik kehidupan orang lain.
Jika dilakukan terus-menerus, hal tersebut dapat membuatmu merasa tertinggal.
Karena itu, jika tujuanmu adalah mengurangi kebiasaan meniru, kamu mungkin perlu mengatur ulang lingkungan digitalmu.
Bukan berarti kamu harus menghapus semua orang sukses dari media sosial.
Tetapi perhatikan efek setiap akun terhadap dirimu.
Setelah melihat konten seseorang, apakah kamu merasa:
mendapatkan inspirasi?
memperoleh pengetahuan?
memiliki ide baru?
Atau justru:
merasa tidak cukup?
merasa tertinggal?
ingin segera menjadi seperti dia?
merasa kehidupanmu buruk?
terdorong mengubah identitasmu?
Jika sebuah akun terus membuatmu kehilangan rasa terhadap dirimu sendiri, mungkin masalahnya bukan bahwa orang tersebut buruk.
Mungkin kamu hanya membutuhkan jarak psikologis.
Kamu bisa mengurangi frekuensi melihat kontennya, berhenti mengikuti sementara, atau membatasi waktu konsumsi konten tersebut.
Tujuannya bukan untuk membenci orang sukses.
Tujuannya adalah memberi ruang agar suaramu sendiri terdengar kembali.
4. Bangun ukuran keberhasilan yang berasal dari dirimu sendiri
Salah satu penyebab utama perilaku meniru adalah kita tidak memiliki definisi keberhasilan yang jelas.
Jika kamu tidak tahu apa yang sebenarnya kamu inginkan, kamu akan lebih mudah menggunakan kehidupan orang lain sebagai peta.
Orang lain membeli rumah?
Kamu merasa harus membeli rumah.
Orang lain membangun bisnis?
Kamu merasa harus menjadi pengusaha.
Orang lain memiliki banyak pengikut?
Kamu merasa harus menjadi populer.
Orang lain bekerja di perusahaan besar?
Kamu mulai menganggap pekerjaanmu sendiri tidak cukup bagus.
Padahal, belum tentu semua hal tersebut memang kamu inginkan.
Karena itu, kamu perlu membuat definisi sukses versimu sendiri.
Cobalah menuliskan lima hal yang menurutmu penting dalam hidup.
Misalnya:
kesehatan,
kebebasan waktu,
hubungan keluarga,
pekerjaan yang bermakna,
stabilitas keuangan.
Kemudian tanyakan:
"Kalau lima hal ini terpenuhi, apakah saya masih merasa harus menjadi seperti orang lain?"
Pertanyaan tersebut membantu menggeser fokus dari perbandingan sosial menuju nilai pribadi.
Kamu mulai mengevaluasi kehidupan berdasarkan apa yang penting bagimu, bukan berdasarkan apa yang sedang dimiliki orang lain.
Dan ketika standar internal mulai terbentuk, kebutuhan untuk meniru biasanya menjadi lebih kecil.
Karena kamu sudah memiliki arah sendiri.
5. Ubah orang yang kamu kagumi dari "standar" menjadi "referensi"
Ini adalah perubahan pola pikir yang sangat penting.
Jangan melihat orang berprestasi sebagai:
"Beginilah saya harus menjadi."
Ubahlah menjadi:
"Beginilah salah satu cara seseorang mencapai sesuatu."
Perbedaannya sangat besar.
Ketika seseorang menjadi standar, setiap perbedaan antara kamu dan dirinya terasa seperti kekurangan.
Tetapi ketika seseorang menjadi referensi, perbedaan justru menjadi informasi.
Misalnya kamu mengagumi seseorang yang sangat produktif.
Daripada berkata:
"Saya harus seproduktif dia."
Katakan:
"Apa yang bisa saya pelajari dari sistem kerjanya?"
Kemudian pilih satu hal yang relevan.
Mungkin bukan jadwalnya.
Mungkin sistem pencatatannya.
Mungkin cara dia menentukan prioritas.
Mungkin cara dia mengatakan "tidak" terhadap hal-hal yang tidak penting.
Dengan cara ini, orang lain tetap bisa menjadi sumber pembelajaran tanpa harus menjadi cetakan untuk identitasmu.
Kamu mengambil apa yang berguna.
Sisanya kamu tinggalkan.
Inilah bentuk kekaguman yang lebih sehat.
Kamu tidak perlu menjadi salinan seseorang untuk menghargai keberhasilannya.
6. Latih toleransi terhadap menjadi berbeda
Ini mungkin bagian yang paling sulit.
Mengurangi kebiasaan meniru bukan hanya tentang berhenti mengikuti orang lain.
Kamu juga harus belajar merasa nyaman ketika pilihanmu berbeda.
Karena sering kali kita meniru bukan karena benar-benar ingin.
Kita meniru karena takut salah sendirian.
Jika semua orang mengejar karier tertentu, kita takut memilih jalan berbeda.
Jika semua orang menggunakan gaya hidup tertentu, kita takut terlihat aneh jika memilih yang sederhana.
Jika seseorang yang kita kagumi melakukan sesuatu dengan cara tertentu, kita takut cara kita sendiri tidak cukup baik.
Maka, kemampuan untuk tidak meniru membutuhkan keberanian untuk berkata:
"Cara saya mungkin berbeda, tetapi bukan berarti salah."
Kamu tidak harus bangun pada jam yang sama dengan orang sukses.
Kamu tidak harus memiliki rutinitas yang sama.
Kamu tidak harus bekerja dengan metode yang sama.
Kamu tidak harus memiliki gaya bicara yang sama.
Dan kamu tidak harus memiliki kehidupan yang sama.
Karena manusia memiliki kondisi, pengalaman, kemampuan, tujuan, kebutuhan, dan prioritas yang berbeda.
Sesuatu yang efektif bagi orang lain belum tentu efektif untukmu.
Bahkan jika orang tersebut sangat sukses.
Latihan sederhana
Sesekali, lakukan sesuatu hanya berdasarkan preferensimu sendiri.
Pilih pakaian yang benar-benar kamu sukai.
Atur jadwal sesuai ritme yang cocok untukmu.
Pilih tujuan berdasarkan nilai yang kamu anggap penting.
Buat keputusan tanpa terlebih dahulu bertanya:
"Orang sukses biasanya melakukan apa?"
Gantilah pertanyaan tersebut dengan:
"Apa yang masuk akal untuk saya?"
Semakin sering kamu membuat keputusan berdasarkan pertimbangan pribadi, semakin kuat rasa percaya terhadap penilaianmu sendiri.
Mengagumi Orang Lain Tidak Harus Berarti Kehilangan Diri Sendiri
Pada akhirnya, masalahnya bukan karena kamu mengagumi orang yang berprestasi.
Kekaguman bisa menjadi sesuatu yang sangat positif.
Orang lain dapat menjadi inspirasi. Mereka dapat menunjukkan kemungkinan baru, memberikan pengetahuan, dan memperluas cara kita melihat dunia.
Yang perlu dihindari adalah ketika kekaguman berubah menjadi keyakinan bahwa:
"Saya harus menjadi seperti dia agar saya cukup baik."
Di situlah proses belajar dapat berubah menjadi kehilangan identitas.
Kamu boleh mengagumi seseorang tanpa menjadi dirinya.
Kamu boleh belajar dari seseorang tanpa mengikuti seluruh hidupnya.
Kamu boleh mengambil strateginya tanpa mengambil identitasnya.
Dan yang paling penting, kamu boleh memiliki definisi sukses yang berbeda.
Jadi, jika kamu ingin mengurangi perilaku meniru orang yang berprestasi, ingat enam langkah ini:
1. Bedakan belajar dari meniru.
2. Kenali alasan mengapa kamu ingin menjadi seperti mereka.
3. Kurangi konsumsi konten yang membuatmu terus membandingkan diri.
4. Bangun ukuran keberhasilan yang berasal dari dirimu sendiri.
5. Jadikan orang yang kamu kagumi sebagai referensi, bukan standar.
6. Latih toleransi terhadap menjadi berbeda.
Pada akhirnya, tujuan perkembangan diri bukanlah menjadi salinan terbaik dari orang lain.
Tujuannya adalah menjadi versi dirimu yang semakin sadar, matang, dan sesuai dengan nilai yang benar-benar kamu pilih.
Karena mungkin, hidup yang paling berhasil bukanlah hidup yang terlihat paling mirip dengan orang yang kamu kagumi.
Melainkan hidup yang ketika kamu jalani, kamu bisa berkata:
"Ini memang bukan kehidupan orang lain. Ini kehidupan yang saya pilih sendiri."***