
seseorang yang bersikap seolah-olah lajang (Magnific/pressfoto)
Mereka mungkin jarang menyebut pasangan dalam percakapan. Di media sosial, hampir tidak pernah terlihat sebagai seseorang yang sedang berpacaran. Ketika bertemu teman-teman, mereka berbicara dan bertindak seolah-olah kehidupan mereka sepenuhnya bebas. Bahkan dalam situasi tertentu, mereka bisa menerima perhatian dari orang lain tanpa terlihat seperti seseorang yang memiliki komitmen romantis.
Fenomena seperti ini tentu dapat menimbulkan pertanyaan: Mengapa seseorang yang sebenarnya memiliki pasangan bisa bersikap seolah-olah dirinya lajang ketika pasangannya tidak ada?
Menurut psikologi, jawabannya tidak selalu sederhana. Perilaku tersebut bisa muncul karena berbagai alasan, mulai dari kebutuhan mempertahankan identitas pribadi, gaya keterikatan, kebutuhan akan validasi, norma sosial, hingga masalah yang lebih serius dalam komitmen hubungan.
Yang penting, bersikap seperti lajang tidak selalu berarti seseorang ingin menjadi lajang atau sedang berselingkuh. Namun, dalam beberapa situasi, perilaku tersebut memang dapat menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan dalam hubungan.
l
1. Mereka Ingin Mempertahankan Identitas Diri di Luar Hubungan
Salah satu alasan paling umum adalah keinginan untuk tetap memiliki identitas pribadi.
Ketika seseorang menjalin hubungan, ada risiko bahwa identitasnya perlahan-lahan menjadi terlalu melekat pada status sebagai pasangan seseorang. Ia mulai dikenal sebagai "pacarnya si A", "suaminya si B", atau "pasangannya si C".
Padahal, secara psikologis, seseorang tetap membutuhkan rasa bahwa dirinya adalah individu yang utuh.
Ia memiliki teman, pekerjaan, hobi, impian, nilai-nilai, dan kehidupan sosial yang tidak selalu berkaitan dengan pasangannya.
Karena itu, ketika sedang bersama teman-teman atau berada di lingkungan yang berbeda, seseorang mungkin kembali menonjolkan identitas pribadinya.
Misalnya, ia tidak merasa perlu mengatakan:
"Aku dan pacarku sedang melakukan ini."
Sebaliknya, ia mungkin lebih sering berbicara menggunakan kata "aku" dan membangun kehidupan sosial yang terasa sepenuhnya miliknya sendiri.
Dalam konteks yang sehat, hal ini sebenarnya bukan masalah.
Hubungan yang sehat tidak mengharuskan dua orang kehilangan identitas masing-masing. Justru, pasangan yang sehat biasanya mampu mempertahankan keseimbangan antara kedekatan dan kemandirian.
Masalah muncul ketika kebutuhan untuk mempertahankan identitas berubah menjadi upaya untuk menghapus keberadaan pasangan dari kehidupan sosialnya.
Ada perbedaan besar antara:
"Aku tetap menjadi diriku sendiri meskipun aku punya pasangan."
dan:
"Aku tidak ingin orang lain mengetahui bahwa aku punya pasangan."
Kalimat pertama menunjukkan kemandirian. Kalimat kedua bisa menunjukkan adanya sesuatu yang lebih kompleks.
Karena itu, konteks sangat penting.
2. Mereka Sangat Menghargai Kebebasan dan Tidak Suka Merasa "Terikat"
Sebagian orang memiliki kebutuhan yang sangat kuat terhadap kebebasan pribadi.
Bagi mereka, hubungan romantis terkadang secara tidak sadar diasosiasikan dengan kehilangan ruang gerak.
Mereka mungkin berpikir bahwa memiliki pasangan berarti harus selalu memberi kabar, menjelaskan keberadaan, meminta izin, atau mempertimbangkan perasaan pasangan dalam setiap keputusan.
Akibatnya, ketika pasangan tidak berada di dekat mereka, mereka bisa merasa seperti "kembali menjadi diri sendiri".
Perasaan tersebut dapat terlihat dari cara mereka menjalani kehidupan sosial.
Ketika bersama pasangan, mereka berperilaku seperti pasangan pada umumnya. Namun ketika pasangan tidak ada, mereka kembali pada pola kehidupan yang sangat individualistis.
Dalam psikologi hubungan, kebutuhan akan otonomi sebenarnya merupakan sesuatu yang normal.
Setiap manusia membutuhkan ruang pribadi.
Seseorang dapat mencintai pasangannya sekaligus tetap ingin mempunyai waktu sendiri, bertemu teman tanpa pasangan, menjalani hobi sendiri, atau menikmati aktivitas yang tidak melibatkan hubungan romantis.
Namun, ada perbedaan antara otonomi dan penghindaran terhadap komitmen.
Orang yang sehat secara relasional dapat mengatakan:
"Aku mencintaimu, tetapi aku juga membutuhkan ruang untuk menjadi diriku sendiri."
Sementara orang yang kesulitan menghadapi komitmen mungkin secara tidak sadar berpikir:
"Aku ingin hubungan ini ketika nyaman, tetapi aku tidak ingin status hubungan ini membatasi kebebasanku."
Perbedaan tersebut menjadi penting ketika perilaku "seperti lajang" membuat pasangan merasa tidak diakui atau tidak dihargai.
3. Mereka Membutuhkan Validasi dari Orang Lain
Ada pula orang yang merasa lebih berharga ketika mendapatkan perhatian dari orang lain.
Ketika bersama pasangan, kebutuhan tersebut mungkin sudah cukup terpenuhi. Tetapi ketika pasangannya tidak ada, mereka kembali mencari pengakuan dari lingkungan sosial.
Misalnya, mereka senang ketika dianggap menarik, populer, diinginkan, atau memiliki banyak pilihan.
Dalam situasi tertentu, perilaku tersebut bisa terlihat seperti flirting, mencari perhatian, aktif menggunakan aplikasi kencan, atau sengaja membangun kesan bahwa dirinya masih tersedia.
Tidak semua pencarian validasi berarti seseorang berniat berselingkuh.
Namun, kebutuhan validasi yang sangat kuat dapat membuat seseorang kesulitan menjaga batasan dalam hubungan.
Ada orang yang merasa:
"Aku sudah punya pasangan, tetapi aku tetap ingin tahu apakah orang lain masih menginginkanku."
Secara psikologis, hal tersebut dapat berkaitan dengan harga diri yang terlalu bergantung pada respons eksternal.
Ketika seseorang tidak cukup yakin dengan nilai dirinya sendiri, perhatian dari orang lain dapat menjadi semacam "bukti" bahwa dirinya masih menarik dan berharga.
Masalahnya, validasi seperti ini biasanya hanya memberikan kepuasan sementara.
Setelah mendapatkan perhatian, kebutuhan tersebut dapat muncul lagi.
Akibatnya, seseorang mungkin terus mencari perhatian dari orang lain meskipun sebenarnya ia sudah berada dalam hubungan yang memuaskan.
Di sinilah batas antara kebutuhan sosial yang normal dan perilaku yang merusak kepercayaan menjadi penting.
4. Gaya Keterikatan Mereka Membuat Kedekatan Terasa Tidak Nyaman
Salah satu konsep yang sering digunakan dalam psikologi hubungan adalah attachment style atau gaya keterikatan.
Orang memiliki cara yang berbeda dalam merespons kedekatan emosional.
Sebagian orang merasa nyaman dengan keintiman. Sebagian lainnya justru merasa terancam ketika hubungan menjadi terlalu dekat.
Pada individu dengan kecenderungan menghindar terhadap keintiman, hubungan romantis dapat menciptakan konflik internal.
Mereka mungkin menyukai pasangan, tetapi pada saat yang sama takut kehilangan kebebasan atau merasa terlalu bergantung.
Akibatnya, mereka bisa menunjukkan pola mendekat dan menjauh.
Ketika bersama pasangan, mereka bisa sangat hangat.
Tetapi ketika berada jauh, mereka kembali membangun jarak psikologis.
Dari luar, perilaku tersebut dapat terlihat seperti:
"Kalau sedang bersama pasangannya, dia seperti orang yang sangat mencintai hubungan itu. Tetapi kalau pasangannya tidak ada, dia seperti tidak punya pasangan."
Sebenarnya, hal tersebut bisa mencerminkan konflik internal mengenai kedekatan.
Mereka mungkin belum sepenuhnya nyaman dengan gagasan bahwa hubungan romantis merupakan bagian penting dari identitas mereka.
Namun, penting untuk tidak menggunakan konsep attachment sebagai diagnosis sederhana.
Seseorang yang sesekali membutuhkan ruang pribadi belum tentu memiliki gaya keterikatan menghindar. Perilaku manusia jauh lebih kompleks daripada satu kategori psikologis.
5. Mereka Memisahkan "Kehidupan Pacaran" dan "Kehidupan Sosial"
Ada orang yang secara alami membuat batas yang sangat jelas antara kehidupan romantis dan kehidupan sosial.
Ketika bersama pasangan, mereka menjadi pasangan.
Ketika bersama teman, mereka menjadi teman.
Ketika bekerja, mereka menjadi profesional.
Bagi mereka, membawa hubungan romantis ke setiap lingkungan justru terasa tidak nyaman.
Contohnya, seseorang mungkin tidak pernah membicarakan masalah hubungan kepada teman-temannya. Ia juga tidak suka menunjukkan kemesraan di depan umum.
Dalam situasi ini, perilaku yang tampak seperti lajang belum tentu menunjukkan masalah.
Orang tersebut mungkin hanya memiliki prinsip bahwa:
"Hubunganku adalah bagian dari hidupku, bukan seluruh hidupku."
Prinsip ini bahkan dapat menjadi sesuatu yang sehat.
Hubungan yang matang tidak harus dipamerkan setiap saat.
Ada pasangan yang sangat aktif menunjukkan hubungan mereka di media sosial, sementara pasangan lain hampir tidak pernah melakukannya. Perbedaan tersebut tidak otomatis menunjukkan perbedaan tingkat cinta.
Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang bersikap terhadap komitmennya ketika berada di luar pengawasan pasangan.
Jika ia tetap menghormati batasan hubungan, menjaga kepercayaan, dan tidak menyembunyikan statusnya ketika memang relevan, maka sikap mandiri tersebut belum tentu bermasalah.
6. Mereka Menikmati Perasaan "Masih Diinginkan"
Ada alasan lain yang sedikit lebih kompleks: sebagian orang menikmati sensasi mengetahui bahwa dirinya masih memiliki "pasar".
Meskipun sudah memiliki pasangan, mereka mungkin ingin mengetahui apakah mereka masih bisa menarik perhatian orang lain.
Ini bisa muncul melalui perilaku seperti sengaja menggoda, mencari perhatian, memamerkan penampilan, atau membiarkan orang lain menganggap dirinya masih tersedia.
Mengapa seseorang melakukan hal tersebut?
Salah satunya karena perhatian dari orang lain dapat memberikan sensasi psikologis tertentu.
Ia merasa menarik.
Ia merasa berkuasa.
Ia merasa masih memiliki pilihan.
Ia merasa tidak "kehilangan kebebasan" hanya karena sudah menjalin hubungan.
Dalam dosis kecil, keinginan untuk merasa menarik merupakan bagian manusiawi.
Namun, persoalannya adalah bagaimana seseorang bertindak setelah mendapatkan perhatian tersebut.
Ada perbedaan antara:
"Aku senang ketika orang menganggapku menarik."
dan:
"Aku sengaja membuat orang lain percaya bahwa aku masih lajang agar bisa mendapatkan perhatian mereka."
Yang kedua jauh lebih problematis karena sudah melibatkan manipulasi terhadap persepsi orang lain dan berpotensi melanggar batasan hubungan.
Jika seseorang harus menyembunyikan pasangannya agar bisa mendapatkan perhatian tertentu, mungkin masalahnya bukan sekadar kebutuhan akan validasi, melainkan juga cara ia memahami komitmen.
7. Mereka Memang Belum Sepenuhnya Berkomitmen pada Hubungan
Ini adalah kemungkinan yang paling tidak nyaman, tetapi juga perlu dipertimbangkan.
Tidak semua orang yang berada dalam hubungan memiliki tingkat komitmen yang sama.
Ada orang yang benar-benar memandang hubungannya sebagai komitmen jangka panjang.
Ada pula yang menjalani hubungan selama hubungan tersebut terasa menyenangkan, tetapi secara emosional masih merasa seperti "orang bebas".
Dalam kasus seperti ini, perilaku seperti lajang ketika pasangan tidak ada dapat menjadi petunjuk bahwa hubungan tersebut belum sepenuhnya menjadi bagian dari identitas dan komitmen orang tersebut.
Misalnya, seseorang mungkin tidak keberatan mengatakan bahwa dirinya memiliki pasangan ketika ditanya secara langsung.
Namun, dalam kehidupan sosialnya, ia tetap berperilaku seperti orang yang tersedia.
Ia mungkin membuka peluang romantis, menerima rayuan, atau menyembunyikan informasi mengenai hubungannya karena ingin menjaga kemungkinan lain.
Jika pola ini konsisten, persoalannya mungkin bukan lagi sekadar kebutuhan akan kebebasan.
Pertanyaannya berubah menjadi:
"Seberapa serius sebenarnya orang tersebut memandang hubungan ini?"
Komitmen bukan hanya tentang apa yang dilakukan seseorang ketika pasangannya melihat.
Komitmen juga terlihat dari bagaimana seseorang menjaga batasan ketika tidak ada yang mengawasi.
Jangan Terlalu Cepat Menganggapnya sebagai Perselingkuhan
Meski perilaku "seperti lajang" bisa menjadi tanda masalah, kita sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa seseorang pasti berselingkuh.
Psikologi tidak bekerja dengan cara sesederhana:
Perilaku X = pasti motif Y.
Orang yang jarang menyebut pasangan bisa saja memang sangat privat.
Orang yang suka pergi sendiri bisa saja sangat mandiri.
Orang yang tidak mengunggah pasangan di media sosial bisa saja memang tidak suka mengekspos kehidupan pribadi.
Sebaliknya, seseorang yang terlihat sangat romantis di depan pasangan juga belum tentu memiliki komitmen yang kuat ketika berada di luar pengawasan.
Karena itu, yang lebih penting bukan satu perilaku terisolasi, melainkan pola perilaku secara keseluruhan.
Perhatikan apakah seseorang:
terbuka mengenai status hubungannya ketika relevan;
menghormati batasan yang telah disepakati;
konsisten antara perkataan dan tindakan;
menjaga kepercayaan ketika pasangannya tidak ada;
mampu menjelaskan kebutuhannya akan ruang pribadi;
atau justru sengaja menciptakan kesan bahwa dirinya tersedia.
Semakin banyak perilaku yang mengarah pada penyembunyian dan pelanggaran batas, semakin layak masalah tersebut dibicarakan secara serius.
Perbedaan antara Privasi dan Menyembunyikan Hubungan
Salah satu hal terpenting dalam memahami fenomena ini adalah membedakan privasi dengan kerahasiaan.
Privasi berarti:
"Aku tidak ingin semua orang mengetahui detail hubunganku."
Kerahasiaan berarti:
"Aku tidak ingin orang-orang mengetahui bahwa aku memiliki hubungan."
Keduanya terdengar mirip, tetapi secara psikologis dan relasional dapat menghasilkan dampak yang berbeda.
Seseorang berhak memiliki kehidupan pribadi.
Tetapi pasangan juga berhak mengetahui apakah dirinya sedang berada dalam hubungan yang benar-benar diakui oleh orang yang dicintainya.
Misalnya, tidak mengunggah foto pasangan bukanlah masalah dengan sendirinya.
Namun, jika seseorang secara aktif menghapus jejak hubungan, berbohong ketika ditanya tentang statusnya, dan sengaja membiarkan calon pasangan lain menganggap dirinya lajang, situasinya menjadi berbeda.
Di sinilah komunikasi dan kesepakatan hubungan menjadi penting.
Yang Lebih Penting daripada "Terlihat Lajang" adalah Batasannya
Pada akhirnya, persoalan sebenarnya bukan apakah seseorang terlihat seperti lajang.
Yang lebih penting adalah apakah perilakunya sesuai dengan kesepakatan hubungan.
Setiap pasangan dapat memiliki definisi yang berbeda mengenai batasan.
Bagi satu pasangan, berbicara akrab dengan orang lain mungkin tidak menjadi masalah.
Bagi pasangan lain, flirting dengan orang lain sudah dianggap sebagai pelanggaran kepercayaan.
Karena itu, hubungan yang sehat membutuhkan percakapan yang jelas mengenai batasan.
Pertanyaan yang lebih berguna bukan:
"Mengapa kamu terlihat seperti lajang?"
melainkan:
"Ketika kita tidak sedang bersama, menurutmu perilaku seperti apa yang masih menghormati hubungan kita?"
Pertanyaan seperti ini membuka ruang untuk memahami kebutuhan masing-masing tanpa langsung memberikan tuduhan.
Seseorang dapat bersikap seperti lajang ketika tidak bersama pasangannya karena berbagai alasan.
Ia mungkin ingin mempertahankan identitas pribadi, membutuhkan kebebasan, memiliki kebutuhan validasi, merasa tidak nyaman dengan kedekatan emosional, memisahkan kehidupan sosial dan romantis, menikmati perhatian dari orang lain, atau memang belum sepenuhnya berkomitmen.
Tidak ada satu penjelasan yang berlaku untuk semua orang.
Yang paling penting adalah melihat pola, konteks, konsistensi, dan dampaknya terhadap kepercayaan dalam hubungan.
Memiliki pasangan bukan berarti seseorang harus kehilangan kehidupan pribadinya. Setiap individu tetap berhak memiliki ruang, teman, hobi, dan identitas sendiri.
Namun, kebebasan dalam hubungan tidak sama dengan kebebasan untuk membuat pasangan merasa tidak diakui.
Pada akhirnya, hubungan yang sehat bukan hubungan di mana dua orang selalu terlihat bersama.
Hubungan yang sehat adalah hubungan di mana keduanya tetap mampu menjadi individu yang mandiri, tetapi tetap membawa rasa hormat dan komitmen terhadap hubungan tersebut bahkan ketika pasangannya sedang tidak berada di dekat mereka.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Getafe vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Napoli vs Bologna di Liga Italia: Partenopei Menang Tipis di Stadio Maradona
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Skor Racing de Santander vs Alaves di Liga Spanyol: Harapan Baba Zorros di El Sardinero
Prediksi Skor Lille vs Troyes di Liga Prancis: Kans Calvin Verdonk Cs Pesta Gol di Kandang
Kanaya Whu Vokalis MK9 Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Turut Berduka
Prediksi Skor Augsburg vs Bayer Leverkusen di Liga Jerman: Die Werkself Buru Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor RB Leipzig vs Hamburger SV di Liga Jerman: Die Roten Bullen Menang di Red Bull Arena
Prediksi Skor Celta Vigo vs Malaga di Liga Spanyol: Los Celestes Taklukkan Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Persija vs Persib di Super League 2026/2027: Macan Kemayoran Menang Dramatis!

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022