Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 13 September 2026 | 03.34 WIB

6 Pertanyaan yang Seharusnya Bisa Dijawab oleh Pasangan Tentang Satu Sama Lain Menurut Psikologi

seseorang yang mengenal pasangannya satu sama lain (Magnific/Bizon) - Image

seseorang yang mengenal pasangannya satu sama lain (Magnific/Bizon)

JawaPos.com - Hubungan yang sehat bukan hanya tentang seberapa sering dua orang mengatakan “aku cinta kamu”. Kedekatan emosional justru sering terlihat dari hal-hal yang lebih sederhana: seberapa baik seseorang memahami pasangannya, apakah ia tahu apa yang membuat pasangannya merasa aman, apa yang sedang diperjuangkan, hingga bagaimana cara pasangannya menghadapi masalah.


Dalam psikologi hubungan, mengenal pasangan secara mendalam merupakan salah satu bagian penting dari keintiman. Dua orang bisa sudah berpacaran atau menikah selama bertahun-tahun, tetapi tetap belum tentu benar-benar memahami dunia internal satu sama lain.

Pertanyaannya kemudian: seberapa baik Anda sebenarnya mengenal pasangan?

Ada beberapa pertanyaan sederhana yang bisa menjadi semacam “cermin” untuk melihat kedekatan tersebut. Bukan untuk menentukan apakah sebuah hubungan baik atau buruk, melainkan untuk melihat apakah pasangan benar-benar memperhatikan, mendengarkan, dan memahami satu sama lain.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (12/9), terdapat enam pertanyaan yang menarik untuk dicoba.

1. Apa yang paling membuat pasangan saya merasa dicintai?

Pertanyaan pertama mungkin terdengar sederhana, tetapi jawabannya sering kali tidak sesederhana itu.

Setiap orang memiliki cara berbeda dalam merasakan kasih sayang. Ada seseorang yang merasa dicintai ketika pasangannya memberikan perhatian penuh. Ada yang merasa lebih dihargai melalui bantuan konkret. Ada pula yang sangat membutuhkan kata-kata penghargaan, sentuhan fisik, waktu berkualitas, atau sekadar kehadiran ketika sedang mengalami masa sulit.

Masalahnya, seseorang sering memberikan cinta dengan cara yang menurut dirinya sendiri berarti, bukan dengan cara yang paling bermakna bagi pasangannya.

Misalnya, seorang suami mungkin berpikir bahwa bekerja keras dan memenuhi kebutuhan rumah tangga adalah bentuk cinta yang paling jelas. Namun, istrinya mungkin justru merasa lebih dicintai ketika suaminya meluangkan waktu untuk mendengarkan ceritanya tanpa memainkan ponsel.

Sebaliknya, seorang istri mungkin sering memberikan hadiah atau menyiapkan makanan sebagai bentuk perhatian. Namun, pasangannya mungkin lebih membutuhkan apresiasi verbal dan pelukan.

Di sinilah pentingnya memahami pasangan secara spesifik.

Coba tanyakan:

“Menurutmu, hal apa yang paling membuatmu merasa dicintai olehku?”

Jawabannya bisa membuka percakapan yang jauh lebih dalam daripada sekadar bertanya, “Kamu masih sayang aku, kan?”

Yang menarik, jawaban pasangan mungkin berubah seiring waktu. Kebutuhan emosional seseorang ketika masih berpacaran bisa berbeda ketika sudah menikah, memiliki anak, menghadapi tekanan pekerjaan, atau melewati masa sulit.

Karena itu, mengenal pasangan bukan sesuatu yang selesai sekali. Kedekatan membutuhkan pembaruan pemahaman.

2. Apa yang paling membuat pasangan saya merasa tidak aman atau terluka?

Mengetahui apa yang disukai pasangan memang penting. Tetapi mengetahui apa yang melukai pasangan sering kali jauh lebih penting.

Dalam hubungan dekat, seseorang biasanya memiliki titik-titik sensitif tertentu. Ada yang sangat sensitif terhadap kritik. Ada yang takut diabaikan. Ada yang merasa sangat terluka ketika dibandingkan dengan orang lain. Ada pula yang memiliki kebutuhan besar terhadap kepastian karena pengalaman masa lalu membuat ketidakjelasan terasa menakutkan.

Pasangan yang benar-benar mengenal satu sama lain biasanya secara perlahan memahami “peta emosional” tersebut.

Ia tahu kapan sebuah candaan sudah melewati batas.

Ia tahu topik tertentu yang sebaiknya dibicarakan dengan lebih lembut.

Ia tahu bahwa ketika pasangannya sedang diam, belum tentu berarti sedang marah—mungkin justru sedang kewalahan.

Dalam psikologi hubungan, kemampuan untuk memahami keadaan internal pasangan berkaitan dengan emotional attunement, yaitu kemampuan untuk menangkap dan merespons keadaan emosional orang yang dekat dengan kita.

Bukan berarti pasangan harus bisa membaca pikiran.

Justru sebaliknya.

Pasangan yang sehat tidak dituntut untuk selalu tahu tanpa diberi tahu. Namun, ia diharapkan memiliki rasa ingin tahu terhadap dunia emosional pasangannya.

Pertanyaan yang bisa digunakan:

“Apa hal yang biasanya aku lakukan yang tanpa sadar bisa membuatmu merasa terluka atau tidak aman?”

Pertanyaan ini membutuhkan keberanian untuk mendengarkan tanpa langsung defensif.

Jika pasangan menjawab sesuatu yang tidak menyenangkan, tujuan percakapan bukan mencari siapa yang benar. Tujuannya adalah memahami.

Karena terkadang kalimat yang paling menyelamatkan hubungan bukan:

“Aku tidak bermaksud begitu.”

Melainkan:

“Aku baru sadar kalau itu membuatmu merasa seperti itu.”

3. Apa yang sedang paling diperjuangkan oleh pasangan saya dalam hidupnya?

Ini adalah salah satu pertanyaan yang sering luput dalam hubungan jangka panjang.

Kita mungkin tahu pasangan kita bekerja di mana, makan apa, pergi ke mana, dan siapa teman-temannya. Tetapi apakah kita tahu apa yang sebenarnya sedang ia perjuangkan?

Mungkin pasangan sedang berusaha mendapatkan promosi.

Mungkin ia sedang berusaha menjadi orang tua yang lebih baik.

Mungkin ia sedang mencoba membangun kepercayaan dirinya.

Mungkin ia sedang menabung untuk sesuatu.

Atau mungkin perjuangannya tidak terlihat sama sekali.

Bisa jadi ia sedang berusaha mengatasi rasa gagal, keraguan terhadap diri sendiri, atau ketakutan bahwa dirinya tidak cukup baik.

Inilah perbedaan antara mengetahui fakta tentang seseorang dan memahami kehidupan batinnya.

Anda bisa mengetahui pekerjaan pasangan tanpa mengetahui ambisi terbesarnya.

Anda bisa mengetahui rutinitasnya tanpa mengetahui apa yang membuatnya cemas ketika malam tiba.

Anda bisa tinggal serumah dengannya tanpa benar-benar mengetahui apa yang sedang ia kejar dalam hidup.

Karena itu, cobalah bertanya:

“Menurutmu, apa yang sedang paling kamu perjuangkan dalam hidupmu saat ini?”

Kemudian dengarkan jawabannya.

Tidak selalu perlu memberikan solusi.

Kadang-kadang, pasangan tidak membutuhkan seseorang untuk memperbaiki masalahnya. Ia hanya membutuhkan seseorang yang memahami bahwa masalah itu memang sedang berat baginya.

4. Ketika sedang menghadapi masalah, sebenarnya pasangan saya ingin diperlakukan seperti apa?

Ini sangat penting, terutama ketika pasangan sedang stres atau mengalami konflik.

Tidak semua orang membutuhkan respons yang sama ketika menghadapi masalah.

Ada orang yang ingin langsung membicarakannya.

Ada yang membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.

Ada yang ingin didengarkan tanpa diberi nasihat.

Ada yang justru ingin dibantu mencari solusi.

Masalah muncul ketika kita menganggap cara kita menghadapi stres adalah cara yang seharusnya digunakan pasangan.

Misalnya:

“Kalau aku punya masalah, aku biasanya langsung mencari solusi. Jadi kenapa kamu malah diam?”

Padahal, diam mungkin merupakan cara pasangan mengatur emosinya sebelum siap berbicara.

Sebaliknya, seseorang yang membutuhkan ruang mungkin berhadapan dengan pasangan yang menganggap jarak sebagai tanda penolakan.

Tanpa memahami pola masing-masing, situasi sederhana bisa berubah menjadi konflik.

Karena itu, tanyakan:

“Kalau kamu sedang sangat stres atau punya masalah, apa yang paling kamu butuhkan dariku?”

Jawabannya bisa sangat spesifik.

“Mendengarkan.”

“Jangan langsung kasih nasihat.”

“Peluk aku.”

“Kasih aku waktu satu jam.”

“Temani aku, tapi jangan paksa aku bicara.”

“Bantu aku mencari solusi.”

Tidak ada satu jawaban yang berlaku untuk semua pasangan.

Yang penting adalah mengetahui kebutuhan orang yang sedang kita cintai.

Dan bahkan setelah mengetahuinya, tetap perlu diingat bahwa kebutuhan tersebut bisa berubah tergantung situasi.

5. Apa impian atau kehidupan yang sebenarnya ingin dibangun oleh pasangan saya?

Banyak pasangan membicarakan masa depan secara umum.

“Nanti kita mau tinggal di mana?”

“Mau punya anak berapa?”

“Mau beli rumah kapan?”

Namun, pembicaraan tentang masa depan sebenarnya bisa jauh lebih dalam.

Apa yang dimaksud pasangan ketika ia mengatakan ingin “hidup bahagia”?

Apakah ia menginginkan karier yang sukses?

Kehidupan yang tenang?

Keluarga besar?

Kebebasan finansial?

Banyak waktu bersama keluarga?

Kesempatan untuk bepergian?

Atau kehidupan sederhana yang jauh dari tekanan sosial?

Dua orang bisa saling mencintai tetapi memiliki gambaran masa depan yang sangat berbeda.

Karena itu, penting bukan hanya mengetahui rencana pasangan, tetapi juga memahami makna di balik rencana tersebut.

Misalnya, seseorang ingin memiliki rumah besar. Bagi pasangannya, itu mungkin terdengar seperti keinginan materialistis. Tetapi setelah dibicarakan, ternyata rumah besar tersebut melambangkan keinginannya untuk memberikan tempat yang nyaman bagi orang tua dan anak-anaknya.

Atau seseorang sangat mengejar karier. Bukan karena ia ingin meninggalkan keluarga, tetapi karena kesuksesan profesional memberikan rasa aman dan harga diri baginya.

Cobalah bertanya:

“Kalau tidak ada tekanan dari orang lain, seperti apa kehidupan yang sebenarnya ingin kamu bangun?”

Pertanyaan ini dapat membuka pembicaraan mengenai nilai, prioritas, impian, dan identitas.

Dan pasangan yang mengenal satu sama lain tidak hanya tahu ke mana pasangannya ingin pergi, tetapi juga memahami mengapa ia ingin pergi ke sana.

6. Apa yang paling dibutuhkan pasangan saya dari hubungan ini agar merasa aman, dihargai, dan bahagia?

Ini mungkin pertanyaan paling penting dari semuanya.

Hubungan romantis bukan hanya tempat untuk mendapatkan cinta. Hubungan juga menjadi tempat seseorang berharap bisa merasa diterima, dihargai, aman, dan memiliki seseorang yang dapat diandalkan.

Tetapi kebutuhan tersebut berbeda-beda.

Seseorang mungkin membutuhkan komunikasi yang konsisten.

Orang lain membutuhkan kebebasan dan ruang pribadi.

Ada yang membutuhkan banyak ekspresi kasih sayang.

Ada yang merasa aman ketika hubungan memiliki rencana dan komitmen yang jelas.

Ada pula yang paling membutuhkan rasa bahwa pendapatnya dihargai.

Karena itu, pertanyaannya bukan:

“Apa yang salah dengan hubungan kita?”

Tetapi:

“Apa yang kamu butuhkan dari hubungan ini agar kamu merasa benar-benar aman dan dihargai?”

Pertanyaan semacam ini mengubah percakapan dari mencari kesalahan menjadi mencari pemahaman.

Namun, ada satu hal penting.

Kebutuhan bukan berarti tuntutan tanpa batas.

Hubungan yang sehat tetap membutuhkan kompromi. Tidak semua kebutuhan dapat dipenuhi secara sempurna oleh pasangan. Dan tidak semua hal yang diinginkan seseorang otomatis menjadi kewajiban pasangannya.

Tujuannya adalah memahami kebutuhan satu sama lain, lalu mencari cara yang realistis untuk saling memenuhi kebutuhan tersebut tanpa kehilangan batas pribadi.

Mengapa Enam Pertanyaan Ini Penting?

Jika diperhatikan, keenam pertanyaan tersebut sebenarnya memiliki tema yang sama.

Semuanya berusaha menjawab:

“Seberapa baik saya memahami dunia batin pasangan saya?”

Bukan hanya:

makanan kesukaannya,
film favoritnya,
tempat liburannya,
warna favoritnya,
atau nama teman-temannya.

Tetapi hal-hal yang lebih dalam:

Apa yang membuatnya merasa dicintai?
Apa yang membuatnya terluka?
Apa yang sedang diperjuangkannya?
Bagaimana ia menghadapi tekanan?
Kehidupan seperti apa yang ia inginkan?
Apa yang ia butuhkan dari hubungan?

Dalam hubungan dekat, pengetahuan semacam ini membantu seseorang memberikan respons yang lebih tepat terhadap pasangannya.

Bayangkan seseorang sedang mengalami hari yang sangat buruk.

Jika Anda hanya mengenal fakta-fakta tentang dirinya, Anda mungkin berkata:

“Jangan dipikirkan.”

Tetapi jika Anda memahami dirinya, Anda mungkin tahu bahwa yang ia butuhkan adalah didengarkan selama sepuluh menit tanpa dihakimi.

Perbedaannya terlihat kecil.

Namun, dalam hubungan jangka panjang, hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten dapat memiliki arti yang sangat besar.

Bukan Tes untuk Menentukan Apakah Hubungan Anda Sehat

Enam pertanyaan ini sebaiknya tidak digunakan sebagai ujian.

Misalnya:

“Kalau kamu tidak tahu jawabannya, berarti kamu tidak mencintaiku.”

Itu justru dapat membuat percakapan menjadi defensif.

Seseorang bisa sangat mencintai pasangannya tetapi tetap tidak mengetahui sesuatu karena mereka belum pernah membicarakannya.

Begitu pula, pasangan yang mampu menjawab keenam pertanyaan ini bukan berarti otomatis memiliki hubungan yang sempurna.

Hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa kesalahpahaman.

Hubungan yang sehat lebih berkaitan dengan kemampuan untuk memperbaiki kesalahpahaman.

Jadi, jika pasangan tidak tahu jawabannya, jangan langsung menyimpulkan bahwa hubungan tersebut gagal.

Anggaplah sebagai kesempatan untuk mengenal satu sama lain lagi.

Bahkan jawaban:

“Aku sebenarnya belum pernah memikirkan itu.”

bisa menjadi awal percakapan yang sangat berarti.

Yang Lebih Penting daripada Mengetahui Jawabannya

Ada satu hal yang bahkan lebih penting daripada kemampuan menjawab enam pertanyaan tersebut.

Yaitu kemauan untuk terus memperbarui pengetahuan tentang pasangan.

Manusia berubah.

Prioritas berubah.

Pengalaman hidup berubah.

Pekerjaan berubah.

Kondisi keluarga berubah.

Cara seseorang memandang dirinya sendiri juga dapat berubah.

Orang yang Anda kenal lima tahun lalu mungkin tidak persis sama dengan orang yang ada di depan Anda sekarang.

Karena itu, kedekatan dalam hubungan bukan sekadar proses “mengenal pasangan”.

Lebih tepatnya, hubungan adalah proses mengenal kembali seseorang yang terus berkembang.

Hari ini Anda mungkin tahu bahwa pasangan ingin mengejar karier.

Beberapa tahun kemudian, mungkin ia justru ingin menjalani kehidupan yang lebih tenang.

Dulu ia mungkin ingin selalu ditemani ketika sedang stres.

Sekarang ia mungkin membutuhkan ruang terlebih dahulu.

Dulu ia mungkin merasa dicintai melalui kata-kata.

Sekarang mungkin ia lebih menghargai bantuan konkret.

Itulah mengapa komunikasi dalam hubungan tidak seharusnya hanya muncul ketika ada masalah.

Percakapan yang intim juga perlu dilakukan ketika semuanya baik-baik saja.

Cobalah Menjawabnya Secara Bergantian

Jika ingin menjadikan enam pertanyaan ini sebagai aktivitas bersama pasangan, jangan hanya meminta pasangan menjawab.

Keduanya harus menjawab.

Anda bisa membuat aturan sederhana:

Pertama, salah satu pasangan mencoba menjawab tentang dirinya sendiri.

Kedua, pasangannya mencoba menebak jawabannya.

Ketiga, bandingkan.

Misalnya:

“Menurutku, hal yang paling membuat kamu merasa dicintai adalah ketika aku memberikan perhatian penuh.”

Kemudian pasangan menjawab:

“Sebenarnya iya, tapi yang paling penting buatku justru ketika kamu menunjukkan bahwa kamu menghargai usahaku.”

Perbedaan kecil seperti itu justru sangat berharga.

Karena di situlah seseorang mendapatkan informasi baru tentang orang yang dicintainya.

Jangan langsung berdebat tentang jawaban.

Jangan mengatakan:

“Tapi selama ini aku sudah melakukan itu.”

Cukup katakan:

“Aku baru tahu.”

Dan kemudian tanyakan:

“Bisa ceritakan lebih banyak?”

Kalimat sederhana tersebut dapat membuat percakapan jauh lebih dalam.

Kesimpulan

Hubungan yang dekat bukan hanya tentang berapa lama dua orang bersama, tetapi juga tentang seberapa dalam mereka memahami satu sama lain.

Pasangan yang sudah bertahun-tahun bersama belum tentu otomatis mengetahui dunia emosional satu sama lain. Sebaliknya, pasangan yang terus bertanya, mendengarkan, dan memperbarui pemahamannya dapat membangun kedekatan yang lebih kuat dari waktu ke waktu.

Enam pertanyaan yang bisa menjadi titik awal adalah:

Apa yang paling membuat pasangan saya merasa dicintai?
Apa yang paling membuat pasangan saya merasa tidak aman atau terluka?
Apa yang sedang paling diperjuangkan pasangan saya dalam hidupnya?
Ketika menghadapi masalah, sebenarnya apa yang pasangan saya butuhkan dari saya?
Kehidupan seperti apa yang sebenarnya ingin dibangun oleh pasangan saya?
Apa yang paling dibutuhkan pasangan saya dari hubungan ini agar merasa aman, dihargai, dan bahagia?

Jika Anda dan pasangan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan cukup akurat, itu bukan berarti hubungan Anda sempurna.

Namun, mungkin itu menunjukkan sesuatu yang lebih penting:

Anda tidak hanya hidup bersama pasangan, tetapi juga berusaha memahami dunia yang ada di dalam dirinya.

Dan dalam hubungan jangka panjang, rasa ingin tahu terhadap pasangan mungkin merupakan salah satu bentuk cinta yang paling sederhana—sekaligus paling sering dilupakan.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore