seseorang yang berusaha membuat tempat kerja terasa hangat. (Magnific)
Meja-meja terisi. Orang-orang datang setiap pagi. Grup chat kantor terus berbunyi. Rapat berlangsung hampir setiap hari. Namun, anehnya, suasananya terasa dingin. Orang bekerja sendiri-sendiri, makan siang sendiri, berbicara seperlunya, lalu pulang tanpa benar-benar merasa terhubung dengan siapa pun.
Sebaliknya, ada tempat kerja yang mungkin tidak terlalu ramai, tetapi terasa hidup.
Orang-orang saling menyapa. Ada percakapan kecil di sela pekerjaan. Ketika seseorang mengalami kesulitan, ada yang bertanya, "Kamu baik-baik saja?" Ketika seseorang berhasil menyelesaikan sesuatu, ada yang ikut mengapresiasi.
Perbedaannya bukan sekadar jumlah orang.
Yang membuat tempat kerja terasa hidup adalah kualitas hubungan di dalamnya.
Dilansir dari Psychology Today pada (11/9), dalam psikologi, manusia memiliki kebutuhan dasar untuk merasa diterima, terhubung, dan menjadi bagian dari suatu kelompok. Karena itu, menciptakan tempat kerja yang tidak terasa sepi bukan berarti membuat semua orang harus terus berbicara, mengadakan acara setiap minggu, atau memaksa karyawan menjadi dekat.
Justru, lingkungan kerja yang sehat biasanya dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang membuat seseorang merasa, "Saya tidak sendirian di sini."
Jika kamu ingin menciptakan tempat kerja seperti itu, berikut enam cara yang bisa diterapkan.
1. Mulailah dari Kebiasaan Sederhana: Saling Menyapa
Kelihatannya sepele.
Bahkan terlalu sederhana sampai banyak orang menganggapnya tidak penting.
Padahal, sapaan kecil seperti "Pagi", "Apa kabar?", atau "Sudah makan?" dapat memiliki dampak sosial yang jauh lebih besar daripada yang kita sadari.
Ketika seseorang datang ke kantor dan tidak ada satu pun orang yang menyapanya, ia bisa merasa seperti keberadaannya tidak terlalu diperhatikan. Sebaliknya, sapaan sederhana memberikan sinyal sosial bahwa kehadirannya dikenali.
"Kamu terlihat. Kamu bagian dari kelompok ini."
Inilah salah satu alasan mengapa ritual kecil di tempat kerja penting.
Tidak harus berupa percakapan panjang. Bahkan kontak mata, senyum, anggukan, atau menyebut nama seseorang sudah bisa menjadi bentuk pengakuan sosial.
Cobalah membangun kebiasaan sederhana:
menyapa ketika datang;
menyebut nama rekan kerja;
bertanya kabar tanpa langsung membicarakan pekerjaan;
menyapa ketika berpapasan;
mengucapkan terima kasih secara langsung;
mengucapkan selamat ketika seseorang menyelesaikan sesuatu.
Jangan meremehkan interaksi kecil.
Hubungan yang kuat jarang terbentuk dari satu percakapan besar. Biasanya, hubungan dibangun dari ratusan interaksi kecil yang konsisten.
Misalnya, seorang karyawan baru mungkin merasa canggung selama beberapa minggu pertama.
Jika setiap pagi ada seseorang yang berkata, "Pagi, Rina," lalu sesekali bertanya, "Sudah mulai terbiasa dengan tim ini?", rasa asing itu perlahan berkurang.
Tidak ada sesi team building yang spektakuler.
Tidak ada acara mahal.
Hanya ada seseorang yang membuat orang lain merasa keberadaannya dihargai.
Dan terkadang, itu sudah cukup untuk mengubah suasana sebuah ruangan.
Jangan membuat sapaan terasa seperti kewajiban
Namun, ada satu hal penting.
Tujuannya bukan membuat semua orang dipaksa menjadi ramah.
Sapaan yang terlalu formal atau dibuat-buat justru bisa terasa tidak tulus.
Budayanya harus dibangun secara alami.
Pemimpin dapat memberi contoh terlebih dahulu. Ketika atasan terbiasa menyapa petugas kebersihan, staf administrasi, karyawan baru, maupun anggota tim tanpa membedakan status, pesan sosial yang muncul sangat kuat:
Setiap orang di sini layak dianggap ada.
2. Ciptakan Ruang untuk Percakapan yang Tidak Selalu Berhubungan dengan Pekerjaan
Salah satu alasan tempat kerja terasa sepi adalah karena semua percakapan hanya memiliki satu topik:
pekerjaan.
"Deadline-nya kapan?"
"File-nya sudah dikirim?"
"Meeting jam berapa?"
"Ini harus direvisi."
"Target bulan ini bagaimana?"
Tentu saja, pekerjaan memang harus dibicarakan.
Namun manusia tidak hanya membutuhkan koordinasi tugas. Kita juga membutuhkan hubungan sosial.
Coba bayangkan dua kantor.
Di kantor pertama, setiap percakapan hanya berkaitan dengan pekerjaan.
Di kantor kedua, orang juga sesekali berbicara tentang film yang baru ditonton, makanan favorit, pertandingan olahraga, perjalanan akhir pekan, hobi, atau hal lucu yang terjadi pagi itu.
Kantor kedua kemungkinan besar terasa lebih hidup.
Bukan karena orang-orangnya bekerja lebih sedikit.
Melainkan karena mereka memiliki kesempatan untuk mengenal satu sama lain sebagai manusia, bukan hanya sebagai jabatan.
Inilah mengapa percakapan kecil atau small talk memiliki fungsi sosial.
Small talk bukan selalu percakapan yang tidak penting.
Ia sering menjadi jembatan menuju kedekatan yang lebih dalam.
Seseorang tidak mungkin langsung menceritakan masalah pribadinya kepada rekan kerja yang hampir tidak pernah berbicara dengannya.
Biasanya, kedekatan dimulai dari hal-hal sederhana.
"Weekend kemarin ke mana?"
"Oh, kamu suka kopi juga?"
"Anakmu sudah masuk sekolah?"
"Kamu biasanya makan siang di mana?"
Dari sana, hubungan bisa berkembang secara natural.
Buat ruang, bukan paksaan
Kamu tidak perlu membuat aturan bahwa setiap orang harus mengobrol selama 15 menit setiap pagi.
Itu justru bisa menjadi kontraproduktif.
Berikan ruang yang memungkinkan percakapan muncul secara alami.
Misalnya:
menyediakan area makan bersama;
membuat ruang istirahat yang nyaman;
sesekali makan siang bersama;
menyediakan kopi atau teh di area bersama;
membuat aktivitas ringan yang tidak selalu berorientasi pada pekerjaan.
Yang penting adalah kesempatan untuk bertemu dan berbicara.
Karena hubungan sosial sulit tumbuh jika semua orang selalu bekerja sendirian dengan pintu tertutup.
3. Bangun Budaya "Saling Membantu", Bukan Budaya "Masing-Masing"
Tempat kerja terasa sangat sepi ketika semua orang merasa harus menghadapi masalahnya sendiri.
Bayangkan seorang karyawan mengalami kesulitan mengerjakan sebuah proyek.
Dalam budaya kerja yang buruk, ia mungkin berpikir:
"Kalau saya bertanya, nanti dianggap tidak kompeten."
Akhirnya ia diam.
Ia mencoba menyelesaikan semuanya sendiri.
Stres meningkat.
Dan secara perlahan, ia merasa semakin terisolasi.
Sebaliknya, dalam budaya yang sehat, bertanya bukan dianggap sebagai kelemahan.
Bertanya dianggap sebagai bagian dari bekerja bersama.
Kalimat sederhana seperti:
"Kalau kamu kesulitan, bilang saja."
dapat mengubah pengalaman seseorang secara signifikan.
Namun, jangan berhenti pada kalimat tersebut.
Buat perilaku saling membantu menjadi bagian dari budaya sehari-hari.
Misalnya:
rekan senior membantu anggota baru;
anggota tim berbagi pengetahuan;
orang boleh meminta pendapat sebelum mengambil keputusan;
keberhasilan tim lebih dihargai daripada sekadar keberhasilan individu;
kesalahan dibahas untuk mencari solusi, bukan untuk mencari kambing hitam.
Ketika seseorang tahu bahwa ia dapat meminta bantuan tanpa dipermalukan, rasa aman psikologis akan meningkat.
Dan ketika rasa aman meningkat, orang cenderung lebih mudah berkomunikasi.
Jangan hanya bertanya, "Ada yang bisa saya bantu?"
Pertanyaan itu bagus, tetapi terkadang terlalu umum.
Coba gunakan pertanyaan yang lebih spesifik.
"Bagian mana yang paling membuatmu kesulitan?"
"Kalau kamu mau, saya bisa lihat bagian ini."
"Apakah kamu butuh bantuan menyelesaikan yang ini?"
Pertanyaan spesifik membuat bantuan terasa lebih nyata.
Karena terkadang orang tidak menolak bantuan.
Mereka hanya tidak tahu bagaimana cara memintanya.
4. Biasakan Memberikan Apresiasi yang Spesifik
Salah satu pengalaman paling sepi di tempat kerja adalah ketika seseorang sudah berusaha keras, tetapi tidak ada yang menyadarinya.
Ia menyelesaikan proyek.
Tidak ada yang berkata apa-apa.
Ia membantu rekan kerja.
Tidak ada yang mengingat.
Ia bekerja melewati masalah yang sulit.
Semua dianggap sebagai sesuatu yang memang seharusnya dilakukan.
Dalam jangka panjang, kondisi seperti ini bisa membuat seseorang merasa tidak terlihat.
Karena itu, apresiasi bukan sekadar alat untuk meningkatkan motivasi.
Apresiasi juga merupakan sinyal bahwa kontribusi seseorang diperhatikan.
Namun, ada perbedaan besar antara apresiasi yang terasa tulus dan apresiasi yang terdengar seperti formalitas.
"Good job."
"Bagus."
"Terima kasih atas kerja samanya."
Kalimat-kalimat tersebut tidak salah.
Tetapi akan jauh lebih bermakna jika dibuat spesifik.
Contohnya:
"Terima kasih sudah membantu menyelesaikan laporan tadi. Saya tahu waktunya cukup sempit, dan bantuanmu membuat tim bisa menyelesaikannya tepat waktu."
Atau:
"Presentasimu tadi sangat membantu karena kamu menjelaskan bagian yang rumit dengan sederhana."
Apresiasi spesifik menunjukkan bahwa kita benar-benar memperhatikan usaha seseorang.
Dan itu penting.
Karena manusia tidak hanya ingin diberi penghargaan.
Mereka juga ingin merasa dilihat.
Apresiasi tidak harus selalu datang dari atasan
Ini bagian yang sering dilupakan.
Budaya apresiasi tidak seharusnya hanya bergerak dari manajer kepada bawahan.
Rekan kerja juga perlu belajar mengapresiasi satu sama lain.
"Terima kasih sudah cover saya tadi."
"Penjelasanmu membantu banget."
"Untung kamu ingat bagian itu."
Kalimat-kalimat kecil seperti ini membuat tempat kerja terasa lebih manusiawi.
5. Jangan Hanya Merayakan Pencapaian Besar, Rayakan Kemajuan Kecil
Banyak organisasi hanya memberikan perhatian ketika sesuatu yang besar terjadi.
Promosi.
Proyek selesai.
Target tercapai.
Penjualan meningkat.
Bonus diberikan.
Padahal, kehidupan kerja sehari-hari sebagian besar terdiri dari kemajuan-kemajuan kecil.
Seseorang akhirnya memahami sistem baru.
Karyawan baru mulai percaya diri melakukan presentasi.
Tim berhasil menyelesaikan masalah yang sebelumnya membuat mereka frustrasi.
Seseorang berani menyampaikan ide dalam rapat untuk pertama kalinya.
Semua itu layak diperhatikan.
Mengapa?
Karena jika tempat kerja hanya memberikan penghargaan pada hasil akhir, perjalanan menuju hasil tersebut bisa terasa sangat sepi.
Orang bekerja keras selama berminggu-minggu tanpa mendapatkan umpan balik sosial apa pun.
Kemudian ketika target tercapai, barulah semua orang bertepuk tangan.
Padahal manusia juga membutuhkan penguatan sepanjang perjalanan.
Ciptakan ritual kecil
Tidak harus rumit.
Misalnya, dalam rapat mingguan, luangkan beberapa menit untuk menjawab:
"Apa satu hal kecil yang berhasil kita lakukan minggu ini?"
Bukan hanya pencapaian besar.
Satu hal kecil.
Hasilnya bisa mengejutkan.
Seseorang mungkin berkata:
"Proses onboarding anggota baru sekarang lebih cepat."
Yang lain mengatakan:
"Kita akhirnya menyelesaikan masalah yang muncul bulan lalu."
Yang lain lagi berkata:
"Saya belajar menggunakan software baru."
Percakapan seperti ini membuat orang menyadari bahwa mereka sedang bergerak maju bersama.
Dan rasa "kita" inilah yang sering hilang dari tempat kerja yang terasa sepi.
6. Bangun Budaya di Mana Orang Boleh Menjadi Dirinya Sendiri
Ini mungkin bagian yang paling penting.
Tempat kerja akan tetap terasa sepi jika orang merasa harus terus memainkan peran.
Mereka harus terlihat kuat.
Harus selalu produktif.
Harus selalu serius.
Tidak boleh terlihat bingung.
Tidak boleh mengakui bahwa mereka sedang lelah.
Tidak boleh mengatakan bahwa mereka membutuhkan bantuan.
Akibatnya, semua orang terlihat baik-baik saja.
Tetapi sebenarnya tidak ada yang benar-benar merasa dekat.
Kedekatan membutuhkan tingkat keterbukaan tertentu.
Bukan berarti tempat kerja harus berubah menjadi ruang curhat pribadi.
Bukan juga berarti semua orang harus menceritakan kehidupan pribadinya.
Tetapi orang perlu merasa aman untuk menjadi manusia.
Misalnya, seorang manajer dapat mengatakan:
"Saya juga sempat bingung ketika pertama kali menggunakan sistem ini."
Kalimat sederhana tersebut memberikan pesan:
Tidak apa-apa jika kamu belum tahu semuanya.
Seorang pemimpin juga bisa mengatakan:
"Kalau minggu ini terasa berat, mari kita lihat prioritasnya bersama."
Bukan:
"Kamu harus lebih kuat."
Perbedaannya sangat besar.
Lingkungan yang manusiawi tidak menghilangkan tuntutan kerja.
Ia hanya memastikan bahwa tuntutan tersebut tidak membuat seseorang merasa sendirian dalam menghadapinya.
Berikan ruang untuk perbedaan
Tidak semua orang menunjukkan keakraban dengan cara yang sama.
Ada orang yang suka berbicara panjang.
Ada yang lebih pendiam.
Ada yang senang makan siang bersama.
Ada yang lebih nyaman berinteraksi satu lawan satu.
Ada yang cepat akrab.
Ada yang membutuhkan waktu lebih lama.
Tempat kerja yang sehat tidak memaksa semua orang memiliki kepribadian yang sama.
Tujuannya bukan membuat semua orang menjadi teman dekat.
Tujuannya adalah menciptakan lingkungan di mana setiap orang merasa diterima.
Yang Sebenarnya Membuat Tempat Kerja Terasa Sepi
Jika kita melihat keenam cara di atas, ada satu benang merah yang sama.
Tempat kerja terasa sepi bukan hanya karena orang-orang jarang berbicara.
Tempat kerja terasa sepi ketika orang merasa:
tidak diperhatikan;
tidak dihargai;
tidak didengarkan;
tidak punya tempat untuk meminta bantuan;
tidak dianggap sebagai bagian dari kelompok;
atau merasa harus menghadapi semuanya sendirian.
Karena itu, solusi terhadap kesepian di tempat kerja bukan sekadar menambah aktivitas sosial.
Kamu bisa mengadakan makan bersama setiap Jumat.
Bisa membuat acara team building.
Bisa mengadakan outing.
Bisa membuat grup chat yang sangat aktif.
Tetapi jika budaya sehari-harinya tetap dingin, semua itu mungkin hanya menjadi kegiatan sementara.
Koneksi sosial tidak dibangun dari acara besar. Ia dibangun dari pengalaman kecil yang berulang.
Seseorang menyapamu.
Seseorang mengingat namamu.
Seseorang bertanya bagaimana kabarmu.
Seseorang menawarkan bantuan.
Seseorang mengapresiasi pekerjaanmu.
Seseorang mendengarkan ketika kamu berbicara.
Dari hal-hal kecil itulah rasa memiliki mulai tumbuh.
Tidak Semua Tempat Kerja Harus Ramai
Ada satu kesalahpahaman yang juga perlu diluruskan.
Tempat kerja yang sehat tidak harus selalu berisik.
Orang yang pendiam bukan berarti tidak bahagia.
Orang yang lebih suka bekerja sendiri bukan berarti tidak membutuhkan hubungan sosial.
Bahkan, lingkungan kerja yang terlalu ramai dapat melelahkan bagi sebagian orang.
Jadi, tujuan sebenarnya bukan membuat kantor menjadi tempat yang penuh percakapan sepanjang hari.
Tujuannya adalah menciptakan keseimbangan:
cukup ruang untuk fokus, tetapi juga cukup ruang untuk terhubung.
Orang boleh bekerja dalam keheningan.
Tetapi mereka juga tahu bahwa ketika membutuhkan bantuan, ada seseorang yang bisa dihubungi.
Mereka boleh makan siang sendiri.
Tetapi mereka juga tahu bahwa mereka akan diterima jika suatu hari ingin bergabung dengan rekan-rekannya.
Mereka tidak harus berbicara setiap saat.
Tetapi mereka tidak merasa tidak terlihat.
Itulah perbedaan antara kesendirian yang dipilih dan kesepian yang dirasakan.
Mulailah dari Hal yang Paling Kecil
Jika kamu seorang pemimpin, jangan berpikir bahwa kamu harus langsung mengubah seluruh budaya perusahaan.
Mulailah dari sesuatu yang sederhana.
Besok pagi, datanglah sedikit lebih awal.
Sapa orang-orang yang kamu temui.
Tanyakan kabarnya.
Dengarkan jawabannya.
Dalam rapat, berikan kesempatan kepada orang yang biasanya diam untuk berbicara.
Ketika seseorang melakukan sesuatu dengan baik, katakan secara spesifik bahwa kamu menyadarinya.
Ketika seorang anggota tim terlihat kesulitan, jangan hanya bertanya apakah semuanya baik-baik saja. Tawarkan bantuan yang konkret.
Dan ketika seseorang melakukan kesalahan, jangan buru-buru membuatnya merasa sendirian menghadapi masalah tersebut.
Katakan:
"Mari kita cari tahu bersama apa yang terjadi."
Kalimat seperti itu sederhana.
Tetapi budaya organisasi sebenarnya dibangun dari kalimat-kalimat sederhana yang diulang setiap hari.
Pada Akhirnya, Tempat Kerja yang Hangat Bukan Dibangun dari Dekorasi
Kantor bisa memiliki desain yang indah.
Ada tanaman di setiap sudut.
Ada sofa nyaman.
Ada pantry dengan kopi gratis.
Ada ruang bermain.
Tetapi semua itu tidak otomatis membuat orang merasa nyaman.
Karena suasana sebuah tempat bukan hanya ditentukan oleh benda-benda di dalamnya.
Suasana juga ditentukan oleh bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya.
Tempat kerja yang tidak terasa sepi adalah tempat di mana orang merasa keberadaannya memiliki arti.
Mereka tahu bahwa mereka bukan sekadar nomor dalam daftar karyawan.
Mereka bukan hanya jabatan.
Bukan hanya target.
Bukan hanya angka produktivitas.
Mereka adalah manusia yang bekerja bersama manusia lainnya.
Dan ketika seseorang pulang dari kantor dengan perasaan,
"Hari ini memang melelahkan, tetapi saya tidak merasa sendirian,"
mungkin saat itulah sebuah tempat kerja berhasil menciptakan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar produktivitas:
rasa memiliki.
Enam cara itu sebenarnya sederhana:
Biasakan saling menyapa.
Berikan ruang untuk percakapan di luar pekerjaan.
Bangun budaya saling membantu.
Berikan apresiasi yang spesifik.
Rayakan kemajuan kecil, bukan hanya pencapaian besar.
Ciptakan lingkungan di mana orang boleh menjadi dirinya sendiri.
Tidak perlu mengubah semuanya sekaligus.
Pilih satu.
Lakukan secara konsisten.
Karena tempat kerja yang terasa hangat biasanya tidak lahir dari satu program besar.
Ia tumbuh perlahan, dari kebiasaan kecil yang membuat orang merasa:
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Skor Getafe vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Napoli vs Bologna di Liga Italia: Partenopei Menang Tipis di Stadio Maradona
Prediksi Skor Lille vs Troyes di Liga Prancis: Kans Calvin Verdonk Cs Pesta Gol di Kandang
Prediksi Skor RB Leipzig vs Hamburger SV di Liga Jerman: Die Roten Bullen Menang di Red Bull Arena
Profil Anthony Xie, Suami Audi Marissa yang Digugat Cerai: Beberapa Tahun Berkarier di Taiwan-China
Kanaya Whu Vokalis MK9 Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Turut Berduka
Prediksi Skor Celta Vigo vs Malaga di Liga Spanyol: Los Celestes Taklukkan Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Lecce vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Imbang di Via del Mare

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022