Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 12 September 2026 | 07.25 WIB

6 Perilaku Sederhana yang Kerap Mengancam Pernikahan Menurut Psikologi

seseorang yang mengalami masalah dalam pernikahannya (Magnific/drobotdean) - Image

seseorang yang mengalami masalah dalam pernikahannya (Magnific/drobotdean)

JawaPos.com - Pernikahan jarang runtuh hanya karena satu pertengkaran besar. Dalam banyak kasus, keretakan justru tumbuh perlahan dari hal-hal kecil yang dilakukan berulang kali.

Kalimat yang terdengar sepele, kebiasaan menghindari pembicaraan, terlalu sibuk dengan ponsel, atau sekadar menganggap pasangan "pasti mengerti" mungkin tampak tidak berbahaya. Namun ketika perilaku-perilaku tersebut menjadi pola, hubungan dapat kehilangan rasa aman, kedekatan, dan kepercayaan.

Psikologi hubungan menunjukkan bahwa kualitas pernikahan bukan hanya ditentukan oleh seberapa besar cinta yang dimiliki pasangan, tetapi juga oleh bagaimana keduanya memperlakukan satu sama lain dalam kehidupan sehari-hari.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (11/9), terdapat enam perilaku sederhana yang kerap dianggap biasa, tetapi jika dibiarkan dapat mengancam kesehatan sebuah pernikahan.

1. Terlalu Sering Mengkritik Pasangan

Memberikan masukan kepada pasangan sebenarnya bukan sesuatu yang buruk. Dalam hubungan yang sehat, pasangan tentu perlu saling menyampaikan ketika ada sesuatu yang perlu diperbaiki.

Masalah muncul ketika kritik tidak lagi diarahkan pada perilaku tertentu, melainkan menyerang karakter atau kepribadian pasangan.

Misalnya, berbeda antara mengatakan:

"Aku kurang nyaman kalau kamu pulang tanpa memberi kabar."

dengan:

"Kamu memang nggak pernah peduli sama keluarga."

Kalimat pertama membicarakan sebuah perilaku. Kalimat kedua memberikan label terhadap pribadi pasangan.

Jika pola seperti ini berlangsung terus-menerus, pasangan dapat merasa dirinya tidak pernah cukup baik. Ia bukan lagi merasa sedang diajak menyelesaikan masalah, tetapi merasa sedang diadili.

Dalam jangka panjang, kritik yang berlebihan dapat membuat komunikasi menjadi defensif. Pasangan mulai sibuk membela diri daripada memahami persoalan.

Lebih buruk lagi, seseorang yang terus-menerus menerima kritik dapat mulai berpikir bahwa apa pun yang dilakukannya pasti salah.

Bagaimana memperbaikinya?

Cobalah mengubah kritik terhadap pribadi menjadi pembicaraan mengenai perilaku.

Alih-alih mengatakan, "Kamu egois," katakan:

"Ketika keputusan dibuat tanpa membicarakannya denganku, aku merasa pendapatku tidak dianggap."

Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar. Pasangan lebih mudah memahami masalah tanpa merasa identitasnya diserang.

2. Menganggap Pasangan Akan Selalu Memahami Tanpa Perlu Diberi Tahu

Salah satu jebakan yang cukup umum dalam pernikahan adalah keyakinan bahwa pasangan seharusnya bisa memahami perasaan kita tanpa harus dijelaskan.

"Dia kan sudah lama menikah denganku."

"Harusnya dia tahu aku lagi kecewa."

"Kalau memang sayang, pasti mengerti."

Pikiran semacam ini terdengar romantis, tetapi dalam praktiknya dapat menciptakan banyak kesalahpahaman.

Tidak peduli sudah berapa lama seseorang menikah, pasangan tetap bukan pembaca pikiran. Dua orang yang hidup bersama tetap memiliki pengalaman, kebutuhan, cara berpikir, dan cara mengekspresikan emosi yang berbeda.

Ketika seseorang berharap pasangannya otomatis memahami kebutuhannya, tetapi tidak pernah mengungkapkannya secara jelas, kekecewaan mudah muncul.

Contohnya, seseorang berharap pasangannya membantu pekerjaan rumah. Namun bukannya meminta bantuan, ia memilih diam sambil menunggu pasangannya menyadari sendiri. Ketika hal itu tidak terjadi, rasa kecewa semakin besar.

Akhirnya muncul kalimat:

"Kamu tuh harusnya peka."

Masalah sebenarnya bukan sekadar pekerjaan rumah. Masalahnya adalah kebutuhan yang tidak dikomunikasikan berubah menjadi ekspektasi, kemudian berubah menjadi kekecewaan.

Bagaimana memperbaikinya?

Belajar mengatakan kebutuhan secara langsung.

Bukan:

"Kamu nggak pernah perhatian."

Melainkan:

"Aku sedang capek hari ini. Bisa bantu membereskan rumah malam ini?"

Komunikasi yang jelas bukan berarti hubungan menjadi kurang romantis. Justru komunikasi yang jelas membantu pasangan memiliki kesempatan untuk memenuhi kebutuhan satu sama lain.

3. Menghindari Percakapan Sulit

Tidak semua pasangan nyaman membicarakan masalah. Sebagian memilih diam karena tidak ingin bertengkar.

Pada awalnya, menghindari konflik mungkin terasa seperti cara menjaga kedamaian. Namun ada perbedaan antara menunda pembicaraan karena membutuhkan waktu untuk menenangkan diri dan menghindari masalah secara terus-menerus.

Ketika setiap persoalan sulit selalu disimpan, masalah tidak benar-benar hilang. Ia hanya ditunda.

Persoalan kecil yang tidak dibicarakan dapat menumpuk menjadi rasa kesal. Setelah berbulan-bulan atau bertahun-tahun, ledakan emosi yang muncul mungkin jauh lebih besar daripada masalah awalnya.

Misalnya, pasangan sering terlambat pulang. Awalnya hal itu membuat seseorang kecewa, tetapi ia memilih diam.

Lain waktu terjadi lagi. Ia kembali diam.

Kemudian terjadi untuk kesekian kalinya.

Semua kekecewaan sebelumnya tersimpan. Akhirnya suatu hari ia meledak hanya karena keterlambatan beberapa menit.

Pasangan mungkin bingung:

"Kenapa reaksimu sebesar ini?"

Padahal ledakan tersebut bukan hanya tentang kejadian hari itu. Ia merupakan akumulasi dari berbagai persoalan yang tidak pernah diselesaikan.

Bagaimana memperbaikinya?

Tidak semua masalah harus diselesaikan saat emosi sedang tinggi.

Jika sedang marah, seseorang dapat mengatakan:

"Aku sedang terlalu emosi untuk membicarakannya dengan baik. Kita bahas nanti malam setelah aku lebih tenang."

Yang penting, "nanti" benar-benar memiliki tindak lanjut.

Menunda percakapan untuk menenangkan diri berbeda dengan mengubur masalah.

4. Lebih Sering Memperhatikan Ponsel daripada Pasangan

Ponsel telah menjadi bagian penting dari kehidupan modern. Kita menggunakannya untuk bekerja, berkomunikasi, mencari informasi, hiburan, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Namun ada kebiasaan sederhana yang sering tidak disadari: tetap menggunakan ponsel ketika pasangan sedang berbicara.

Pasangan mungkin sedang bercerita tentang pekerjaannya, pengalaman hari itu, atau sesuatu yang membuatnya khawatir. Kita menjawab sambil tetap melihat layar.

"Ya."

"Oh, gitu."

"Terus?"

Secara fisik kita memang berada di sana. Namun secara emosional, perhatian kita tidak sepenuhnya hadir.

Jika berlangsung berulang kali, pasangan dapat menangkap pesan bahwa dirinya bukan prioritas.

Ini bukan berarti setiap penggunaan ponsel ketika bersama pasangan adalah masalah. Yang menjadi persoalan adalah pola ketika perhatian terhadap layar secara konsisten mengalahkan perhatian terhadap pasangan.

Kedekatan emosional dibangun dari momen-momen kecil: mendengarkan, menatap, merespons, bertanya, dan menunjukkan bahwa cerita pasangan penting bagi kita.

Bagaimana memperbaikinya?

Tidak perlu membuat aturan ekstrem seperti sama sekali tidak menggunakan ponsel.

Cukup ciptakan beberapa momen bebas gangguan.

Misalnya saat makan malam, sebelum tidur, atau ketika pasangan sedang membicarakan sesuatu yang penting.

Letakkan ponsel sebentar dan berikan perhatian penuh.

Tindakan sederhana tersebut dapat menyampaikan pesan yang kuat:

"Aku mendengarkanmu. Kamu penting bagiku."

5. Menganggap Kebaikan Pasangan sebagai Sesuatu yang Sudah Sewajarnya

Pada awal hubungan, perhatian kecil biasanya terasa sangat berarti.

Pasangan membuatkan kopi, kita mengucapkan terima kasih.

Pasangan menjemput, kita merasa dihargai.

Pasangan membantu pekerjaan rumah, kita mengapresiasinya.

Namun setelah bertahun-tahun menikah, banyak hal yang sebelumnya dianggap istimewa mulai terasa biasa.

Pasangan memasak? "Memang tugasnya."

Pasangan bekerja keras? "Ya memang tanggung jawabnya."

Pasangan mengurus anak? "Kan orang tua."

Masalahnya, ketika penghargaan menghilang, hubungan dapat kehilangan salah satu sumber emosi positif yang penting.

Manusia cenderung membutuhkan pengakuan bahwa usaha mereka dilihat dan dihargai. Dalam pernikahan, ucapan sederhana seperti "terima kasih", "aku menghargai bantuanmu", atau "aku senang kamu melakukan itu" dapat memiliki arti besar.

Sebaliknya, ketika kontribusi pasangan terus dianggap sebagai kewajiban yang tidak perlu dihargai, ia bisa mulai merasa tidak terlihat.

Bagaimana memperbaikinya?

Jangan menunggu pasangan melakukan sesuatu yang luar biasa untuk memberikan apresiasi.

Hargai hal-hal sederhana.

"Terima kasih sudah menjemput."

"Aku tahu kamu capek, tapi kamu tetap membantu di rumah. Aku menghargainya."

"Terima kasih sudah mendengarkan ceritaku."

Ucapan tersebut mungkin hanya membutuhkan beberapa detik. Namun kebiasaan menghargai pasangan dapat membantu menjaga suasana emosional dalam hubungan.

6. Membandingkan Pasangan dengan Orang Lain

Perbandingan sering dilakukan tanpa disadari.

"Lihat suami temanmu, dia lebih perhatian."

"Istri si A bisa mengatur rumah jauh lebih baik."

"Kenapa kamu nggak bisa seperti pasangan orang lain?"

Sekilas, kalimat tersebut mungkin dimaksudkan sebagai motivasi. Tetapi bagi pasangan yang mendengarnya, pesan yang diterima bisa sangat berbeda.

Ia mungkin merasa bahwa dirinya tidak pernah cukup.

Perbandingan juga membuat masalah hubungan bergeser. Alih-alih membahas kebutuhan sebenarnya, percakapan berubah menjadi kompetisi dengan orang lain.

Padahal setiap pasangan memiliki kondisi yang berbeda. Kita sering melihat sisi terbaik dari hubungan orang lain tanpa mengetahui seluruh dinamika yang terjadi di baliknya.

Di media sosial, persoalan ini bahkan semakin kuat. Foto pasangan lain yang tampak romantis dapat membuat seseorang membandingkan kehidupannya sendiri dengan gambaran yang sudah dipilih dan disaring oleh orang lain.

Bagaimana memperbaikinya?

Jika ada sesuatu yang diinginkan dari pasangan, sampaikan kebutuhan tersebut tanpa menggunakan orang lain sebagai alat pembanding.

Bukan:

"Suami temanku saja bisa lebih perhatian."

Melainkan:

"Aku ingin kita punya waktu berdua lebih sering. Aku merasa akhir-akhir ini kita terlalu sibuk."

Dengan cara tersebut, fokus tetap berada pada hubungan, bukan pada kekurangan pasangan dibandingkan orang lain.

Mengapa Hal-Hal Kecil Bisa Menjadi Serius?

Pernikahan adalah hubungan yang dibangun dari pola.

Satu kali lupa mengucapkan terima kasih mungkin tidak akan menghancurkan hubungan. Satu kali menggunakan ponsel ketika pasangan berbicara juga bukan berarti pernikahan sedang bermasalah.

Yang perlu diperhatikan adalah pengulangan.

Perilaku kecil yang dilakukan berkali-kali dapat membentuk pengalaman emosional pasangan.

Jika setiap kali berbicara selalu dipotong, seseorang dapat mulai merasa tidak didengarkan.

Jika setiap kesalahan selalu dikritik, ia dapat mulai merasa tidak diterima.

Jika setiap konflik selalu dihindari, pasangan dapat mulai merasa masalah mereka tidak pernah benar-benar diselesaikan.

Jika setiap usaha tidak pernah dihargai, seseorang dapat berhenti merasa bahwa kontribusinya berarti.

Dengan kata lain, ancaman terbesar bagi sebuah pernikahan tidak selalu berupa satu masalah besar. Kadang-kadang justru berupa pola kecil yang dibiarkan terlalu lama.

Pernikahan Tidak Menuntut Kesempurnaan

Penting untuk diingat bahwa hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa konflik.

Pasangan tetap bisa bertengkar. Mereka bisa kecewa, salah memahami perkataan, lupa memberikan perhatian, atau mengatakan sesuatu yang kemudian disesali.

Yang membedakan hubungan yang lebih sehat adalah kemampuan untuk memperbaiki keadaan.

Pasangan dapat mengatakan:

"Maaf, tadi caraku bicara terlalu keras."

"Aku seharusnya mendengarkanmu."

"Aku sebenarnya kecewa, tapi aku menyampaikannya dengan cara yang salah."

"Ayo kita bicarakan lagi dengan lebih tenang."

Kemampuan memperbaiki hubungan setelah terjadi gesekan sering kali lebih penting daripada usaha untuk tidak pernah melakukan kesalahan sama sekali.

Sebab dua manusia yang hidup bersama selama bertahun-tahun hampir pasti akan saling mengecewakan pada suatu titik.

Pernikahan yang sehat bukan tentang tidak pernah terluka. Ia tentang bagaimana dua orang berusaha kembali membangun rasa aman setelah terluka.

Penutup

Enam perilaku di atas mungkin terlihat terlalu sederhana untuk dianggap sebagai ancaman bagi pernikahan.

Namun justru karena sederhana, perilaku tersebut sering luput dari perhatian.

Kita mungkin sibuk mencari penyebab besar ketika hubungan mulai terasa jauh, padahal jawabannya bisa berada dalam rutinitas sehari-hari: bagaimana kita berbicara, bagaimana kita mendengarkan, bagaimana kita merespons kebutuhan pasangan, dan apakah kita masih menghargai usaha yang ia lakukan.

Jika ingin memperbaiki pernikahan, tidak selalu harus dimulai dengan perubahan besar.

Kadang-kadang cukup dengan mendengarkan tanpa memegang ponsel, mengucapkan terima kasih, berhenti membandingkan, menyampaikan kebutuhan dengan jelas, dan berani membicarakan masalah sebelum menjadi terlalu besar.

Karena pada akhirnya, kualitas sebuah pernikahan tidak hanya dibentuk oleh momen-momen besar, tetapi juga oleh ribuan interaksi kecil yang terjadi setiap hari.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore