seseorang yang meningkatkan komunikasi dalam pernikahan / foto: Magnific/wavebreakmedia_micro
Persoalannya adalah bagaimana mereka berbicara satu sama lain.
Dua orang bisa tinggal serumah selama bertahun-tahun tetapi semakin sulit memahami perasaan masing-masing. Percakapan yang awalnya sederhana dapat berubah menjadi perdebatan. Pertanyaan seperti, “Kok kamu belum mengerjakannya?” bisa terdengar seperti kritik. Kalimat, “Aku cuma ingin kamu mengerti,” dapat berakhir dengan pasangan yang justru merasa disalahkan.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (19/9), dalam psikologi hubungan, kualitas komunikasi bukan sekadar kemampuan menyampaikan pesan. Komunikasi juga berkaitan dengan kemampuan mendengarkan, mengelola emosi, memahami perspektif pasangan, dan menciptakan rasa aman ketika membicarakan sesuatu yang sensitif.
Kabar baiknya, kemampuan tersebut dapat dilatih.
Jika kamu ingin meningkatkan komunikasi dalam pernikahan, berikut enam cara yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
1. Dengarkan untuk memahami, bukan untuk membalas
Salah satu masalah paling umum dalam komunikasi pasangan adalah mendengarkan sambil menyiapkan jawaban.
Ketika pasangan berkata, “Aku akhir-akhir ini merasa sendirian,” kita mungkin langsung berpikir:
“Padahal aku sudah bekerja keras.”
“Atau aku juga sedang banyak masalah.”
“Bukankah aku sudah meluangkan waktu untukmu?”
Respons seperti itu sangat manusiawi. Kita merasa perlu membela diri karena mendengar keluhan sebagai serangan terhadap diri kita.
Namun, jika tujuan percakapan adalah memperbaiki hubungan, respons defensif sering kali justru membuat pasangan merasa semakin tidak didengar.
Cobalah mengubah tujuan mendengarkan.
Jangan langsung berpikir, “Bagaimana aku menjawab ini?”
Ubahlah menjadi:
“Apa sebenarnya yang sedang dirasakan pasangan saya?”
Misalnya pasangan mengatakan:
“Aku merasa kamu sekarang lebih sibuk dengan pekerjaan daripada denganku.”
Daripada langsung menjawab, “Aku sibuk karena sedang mengejar target,” kamu bisa mengatakan:
“Kamu merasa akhir-akhir ini aku terlalu fokus pada pekerjaan dan kamu jadi merasa kurang diperhatikan, ya?”
Kalimat tersebut tidak berarti kamu mengakui bahwa pasangan sepenuhnya benar.
Kamu hanya menunjukkan bahwa kamu berusaha memahami pengalaman emosionalnya.
Ini merupakan perbedaan penting.
Memahami bukan berarti menyetujui.
Pasangan bisa memiliki perspektif yang berbeda dengan kita, tetapi tetap berhak merasa didengar.
Gunakan teknik sederhana: ulangi inti pesan
Setelah pasangan berbicara, coba rangkum dengan kalimatmu sendiri.
Misalnya:
“Jadi yang membuat kamu kecewa sebenarnya bukan soal aku pulang terlambat, tetapi karena kamu merasa aku tidak memberi tahu sebelumnya. Benar begitu?”
Cara sederhana ini dapat mengurangi salah paham karena pasangan memiliki kesempatan untuk mengoreksi jika pemahamanmu keliru.
Komunikasi yang sehat bukan perlombaan untuk menentukan siapa yang paling benar.
Tujuannya adalah memastikan bahwa dua orang benar-benar memahami apa yang sedang terjadi.
2. Bicarakan perasaan dan kebutuhan, bukan menyerang karakter pasangan
Ada perbedaan besar antara mengatakan:
“Kamu memang egois.”
dan:
“Aku merasa tidak dianggap ketika keputusan ini dibuat tanpa membicarakannya denganku.”
Kalimat pertama menyerang karakter.
Kalimat kedua menjelaskan pengalaman pribadi.
Dalam konflik, perbedaan ini sangat penting.
Ketika seseorang merasa diserang secara pribadi, otak dan tubuh dapat merespons dengan mode pertahanan. Akibatnya, pasangan mungkin berhenti mendengarkan isi pesan dan mulai fokus melindungi dirinya sendiri.
Itulah mengapa percakapan seperti:
“Kamu selalu begitu.”
“Kamu tidak pernah mengerti.”
“Kamu memang malas.”
sering berakhir buruk.
Masalahnya bukan hanya pada isi kalimat, tetapi pada pesan yang tersirat:
“Masalahnya adalah kamu sebagai manusia.”
Padahal, dalam banyak konflik rumah tangga, yang perlu dibicarakan sebenarnya adalah perilaku tertentu.
Cobalah menggunakan pola:
Ketika [perilaku tertentu] terjadi, saya merasa [perasaan], dan saya membutuhkan [kebutuhan].
Contohnya:
“Ketika kamu membatalkan rencana kita tanpa memberi tahu sebelumnya, aku merasa kecewa. Aku ingin ke depannya kita saling memberi kabar lebih awal.”
Bandingkan dengan:
“Kamu selalu seenaknya sendiri.”
Pesannya mungkin sama-sama menunjukkan kekecewaan, tetapi dampaknya sangat berbeda.
Kalimat pertama membuka ruang untuk menyelesaikan masalah.
Kalimat kedua lebih mudah memicu pertengkaran.
Hindari kata “selalu” dan “tidak pernah”
Dalam keadaan emosional, kita sering menggunakan kata-kata absolut.
“Kamu selalu terlambat.”
“Kamu tidak pernah membantu.”
“Kamu selalu memilih temanmu.”
Padahal, hampir selalu ada pengecualian.
Ketika pasangan mendengar kata “selalu” atau “tidak pernah”, ia mungkin mulai mencari bukti bahwa pernyataan tersebut salah.
Akhirnya percakapan berubah menjadi perdebatan tentang fakta:
“Tidak pernah? Minggu lalu aku membantu.”
“Selalu? Kemarin aku pulang tepat waktu.”
Masalah awal pun terlupakan.
Lebih baik membicarakan kejadian secara spesifik.
Bukan:
“Kamu tidak pernah membantu pekerjaan rumah.”
Melainkan:
“Minggu ini aku merasa kewalahan karena sebagian besar pekerjaan rumah aku kerjakan sendiri. Bisa kita bagi tugasnya?”
Komunikasi menjadi lebih konkret dan lebih mudah menghasilkan solusi.
3. Belajar melakukan validasi emosional
Banyak orang mengira bahwa ketika pasangan sedang sedih atau marah, tugas kita adalah segera memperbaiki masalahnya.
Akibatnya, kita sering memberikan solusi sebelum benar-benar memahami perasaan pasangan.
Misalnya:
“Aku juga pernah mengalami itu.”
“Jangan terlalu dipikirkan.”
“Ya sudah, lupakan saja.”
“Harusnya kamu melakukan begini.”
Maksudnya mungkin baik.
Namun, pasangan belum tentu membutuhkan solusi pada saat itu.
Terkadang mereka hanya ingin merasa bahwa emosinya dipahami.
Validasi emosional berarti mengakui bahwa perasaan pasangan masuk akal jika dilihat dari sudut pandangnya.
Misalnya:
“Aku bisa mengerti kenapa kamu kecewa.”
atau:
“Kalau aku berada di posisi kamu, mungkin aku juga akan merasa kesal.”
Atau bahkan:
“Aku mungkin melihat situasinya berbeda, tetapi aku paham kenapa hal itu membuatmu terluka.”
Perhatikan bahwa validasi tidak sama dengan mengatakan:
“Ya, kamu benar.”
Kita dapat memvalidasi perasaan tanpa menyetujui seluruh kesimpulan pasangan.
Misalnya:
“Aku mengerti kamu merasa diabaikan. Aku tidak bermaksud mengabaikanmu, tetapi aku paham kenapa tindakanku membuatmu merasa seperti itu.”
Kalimat seperti ini menciptakan ruang aman untuk melanjutkan percakapan.
Mengapa validasi begitu penting?
Karena manusia biasanya lebih mudah terbuka ketika merasa aman.
Jika setiap kali kita mengungkapkan perasaan kita justru mendapatkan kritik, ceramah, atau bantahan, lama-kelamaan kita mungkin memilih diam.
Dan diam dalam pernikahan bukan selalu berarti masalah sudah selesai.
Kadang-kadang diam hanya berarti seseorang sudah tidak merasa aman untuk berbicara.
4. Pilih waktu yang tepat untuk membicarakan masalah
Ada masalah yang sebenarnya dapat diselesaikan dengan baik jika dibicarakan pada waktu yang tepat.
Sebaliknya, masalah kecil dapat berubah menjadi pertengkaran besar ketika dibicarakan saat salah satu atau kedua pasangan sedang sangat lelah, lapar, terburu-buru, atau emosinya sedang memuncak.
Karena itu, komunikasi yang sehat juga membutuhkan pengaturan waktu dan emosi.
Bayangkan pasangan baru pulang kerja dalam keadaan sangat lelah.
Kemudian kamu berkata:
“Kita perlu membicarakan hubungan kita sekarang.”
Kemungkinan percakapannya tidak akan berjalan sebaik ketika kalian berdua sudah lebih tenang.
Ini bukan berarti masalah harus dihindari.
Justru sebaliknya.
Masalah tetap perlu dibicarakan, tetapi pilih kondisi yang memungkinkan kedua pihak berpikir dan mendengarkan dengan lebih baik.
Kamu bisa mengatakan:
“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan. Sekarang sepertinya kita sama-sama capek. Bagaimana kalau setelah makan malam kita ngobrol sekitar 20 menit?”
Perhatikan bahwa ini bukan bentuk menghindar.
Kamu memberikan kepastian bahwa percakapan akan dilakukan.
Jika emosi sudah terlalu tinggi, ambil jeda
Dalam konflik yang sangat intens, seseorang mungkin sudah tidak mampu memproses informasi dengan baik.
Pada kondisi seperti itu, memaksakan percakapan justru bisa memperburuk keadaan.
Jeda dapat digunakan untuk menenangkan diri, bukan untuk menghukum pasangan.
Misalnya:
“Aku ingin menyelesaikan masalah ini, tetapi sekarang aku terlalu emosi untuk bicara dengan baik. Aku mau menenangkan diri dulu. Kita lanjutkan malam ini setelah kita sama-sama lebih tenang.”
Yang perlu dihindari adalah menggunakan jeda sebagai bentuk hukuman:
“Sudahlah, aku tidak mau bicara denganmu lagi.”
Ada perbedaan antara mengambil waktu untuk regulasi emosi dan menghukum pasangan dengan diam.
5. Biasakan membicarakan hal-hal kecil sebelum menjadi masalah besar
Banyak pasangan baru membicarakan hubungan ketika masalahnya sudah menumpuk.
Selama berbulan-bulan seseorang mungkin menyimpan berbagai kekecewaan kecil:
“Tidak apa-apa.”
“Nanti saja.”
“Aku tidak mau memperpanjang masalah.”
“Biar saja.”
Satu kejadian mungkin memang tidak terlalu penting.
Namun, ketika puluhan kekecewaan kecil dikumpulkan tanpa pernah dibicarakan, suatu hari masalah kecil dapat menjadi pemicu ledakan emosi.
Karena itu, komunikasi yang baik bukan hanya dilakukan ketika terjadi konflik.
Justru pasangan yang ingin menjaga hubungan perlu memiliki percakapan rutin ketika keadaan sedang baik.
Tidak harus selalu percakapan panjang.
Bahkan pertanyaan sederhana dapat membantu:
“Bagaimana keadaanmu akhir-akhir ini?”
“Ada sesuatu yang membuatmu kepikiran?”
“Apa yang bisa aku lakukan supaya minggu ini lebih ringan untukmu?”
“Ada sesuatu yang kamu butuhkan dariku tetapi belum kamu sampaikan?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menciptakan kesempatan bagi pasangan untuk berbicara sebelum masalah berkembang.
Jangan hanya membicarakan masalah
Ini juga penting.
Jika sebagian besar percakapan dalam pernikahan hanya membahas tagihan, pekerjaan rumah, anak, pekerjaan, jadwal, dan konflik, hubungan dapat terasa seperti sebuah proyek yang harus dikelola.
Pasangan juga membutuhkan percakapan yang menyenangkan.
Bicarakan film yang baru ditonton.
Kenangan lucu.
Rencana liburan.
Hal-hal yang membuat kalian tertawa.
Impian masa depan.
Atau sekadar bertanya:
“Hari ini apa yang paling membuatmu senang?”
Kedekatan emosional sering kali dibangun melalui banyak interaksi kecil, bukan hanya melalui percakapan besar.
6. Belajar menghargai pasangan secara sengaja
Komunikasi pernikahan tidak hanya berbicara tentang menyelesaikan konflik.
Ia juga tentang memperkuat hal-hal yang sudah berjalan baik.
Setelah hidup bersama bertahun-tahun, kita sering mulai menganggap kebaikan pasangan sebagai sesuatu yang biasa.
Pasangan memasak.
Pasangan bekerja.
Pasangan mengurus anak.
Pasangan membersihkan rumah.
Pasangan mengingat jadwal keluarga.
Semua itu perlahan menjadi “kewajiban” dalam pikiran kita.
Akibatnya, kita lebih cepat menyadari ketika pasangan melakukan kesalahan daripada ketika pasangan melakukan sesuatu yang baik.
Padahal, apresiasi sederhana dapat memiliki arti besar.
Tidak perlu menunggu momen spesial.
Katakan:
“Terima kasih sudah mengurus ini.”
“Aku menghargai usaha kamu.”
“Aku senang kamu selalu mengingat hal-hal kecil seperti ini.”
“Aku tahu kamu sedang capek, tetapi kamu tetap berusaha. Terima kasih.”
Apresiasi yang efektif biasanya spesifik.
Daripada hanya mengatakan:
“Kamu baik.”
Cobalah:
“Terima kasih sudah menyiapkan semuanya tadi pagi. Aku jadi bisa berangkat tanpa terburu-buru.”
Pasangan menjadi tahu bahwa usahanya benar-benar diperhatikan.
Jangan menganggap apresiasi sebagai sesuatu yang berlebihan
Dalam hubungan jangka panjang, seseorang bisa berpikir:
“Dia kan sudah tahu aku menghargainya.”
Belum tentu.
Manusia tetap membutuhkan pengakuan dan penghargaan, termasuk dari orang yang paling dekat dengannya.
Satu kalimat sederhana dapat mengubah suasana interaksi:
“Aku melihat usahamu.”
Dan terkadang itulah yang ingin didengar seseorang setelah menjalani hari yang berat.
Komunikasi yang baik bukan berarti tidak pernah bertengkar
Ini bagian yang sering disalahpahami.
Pernikahan yang sehat bukan berarti dua orang tidak pernah berbeda pendapat.
Dua manusia dengan pengalaman, kebiasaan, kebutuhan, dan cara berpikir yang berbeda hampir pasti akan mengalami konflik.
Yang membedakan bukan ada atau tidak adanya konflik.
Yang penting adalah bagaimana konflik tersebut dikelola.
Pasangan dapat berbeda pendapat tanpa saling merendahkan.
Mereka dapat kecewa tanpa menyerang karakter.
Mereka dapat marah tanpa mengancam hubungan.
Mereka dapat meminta waktu untuk menenangkan diri tanpa meninggalkan masalah begitu saja.
Dan mereka dapat kembali membicarakan masalah setelah emosi mereda.
Dengan kata lain, tujuan komunikasi bukan membuat pernikahan bebas konflik.
Tujuannya adalah membuat pasangan merasa bahwa konflik dapat dibicarakan tanpa menghancurkan rasa aman dalam hubungan.
Mulailah dari satu perubahan kecil
Enam cara di atas mungkin terlihat sederhana:
Mendengarkan untuk memahami.
Membicarakan perilaku dan kebutuhan, bukan menyerang karakter.
Melakukan validasi emosional.
Memilih waktu yang tepat untuk percakapan sulit.
Membicarakan masalah kecil sebelum menumpuk.
Memberikan apresiasi secara sengaja.
Namun, jangan mencoba mengubah semuanya dalam satu hari.
Pilih satu kebiasaan terlebih dahulu.
Misalnya, selama satu minggu kamu hanya berlatih mendengarkan tanpa langsung membela diri.
Ketika pasangan menyampaikan keluhan, jangan langsung menjelaskan mengapa kamu melakukan sesuatu.
Tarik napas.
Dengarkan.
Kemudian coba katakan:
“Aku ingin memastikan aku memahami maksudmu.”
Setelah itu, ulangi inti yang kamu dengar.
Perubahan komunikasi sering kali dimulai dari hal yang sangat kecil.
Satu respons yang lebih tenang.
Satu pertanyaan yang lebih baik.
Satu permintaan maaf yang tulus.
Satu ucapan terima kasih.
Satu percakapan yang akhirnya dilakukan setelah sebelumnya selalu dihindari.
Pada akhirnya, komunikasi yang sehat bukan tentang menemukan kalimat ajaib yang dapat menyelesaikan semua masalah pernikahan.
Komunikasi adalah kebiasaan yang dibangun berulang kali.
Ketika dua orang merasa aman untuk berbicara, merasa didengar ketika membuka diri, dan bersedia memahami perspektif satu sama lain, percakapan yang sulit pun memiliki peluang lebih besar untuk menghasilkan kedekatan daripada jarak.
Dan mungkin itulah salah satu prinsip terpenting dalam komunikasi pernikahan:
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Groningen vs PEC Zwolle di Liga Belanda: Trots van het Noorden Menang Tipis di Kandang
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Everton vs Ipswich Town di Liga Inggris: The Toffees Kunci 3 Poin di Kandang
Prediksi Skor Espanyol vs Elche di Liga Spanyol: Los Franjiverdes Curi Poin di RCDE Stadium
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Aston Villa di Liga Inggris: The Lilywhites Bakal Sulit Menang!
Prediksi Susunan Pemain Persebaya vs Garudayaksa FC: Risto Mitrevski Pantang Remehkan Tim Promosi
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022